Rokok
Aku heran sama perokok-perokok itu. Apa sih yang mereka dapatkan dari duo cengkeh dan tembakau itu. Setahuku hanya kepulan asap pembawa penyakit saja yang mereka peroleh. Tapi herannya para perokok itu begitu menikmatinya. Seperti di kampungku, mulai dari yang masih bau kencur sampai yang sudah bau tanah pada kecanduan sama yang namanya rokok. Dan mereka juga tidak punya rasa sungkan sedikitpun untuk merokok di tempat umum. Mereka sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya. 
Terkadang aku merasa dunia ini tidak adil. Mereka yang enak-enakan merokok hanya kebagian 25 persen dari segala resiko penyakit yang timbul karena benda sialan itu. Sedangkan kami para perokok pasif, yang tidak tahu apa-apa malah dapat “jatah” lebih banyak dari mereka. Sudah terganggu oleh asapnya, ikut kena penyakitnya pula. Mungkin ini yang membuat jumlah perokok aktif semakin bertambah saja dari hari ke hari.
Mungkin kamu heran, kenapa aku begitu sentimen sama rokok. Coba bayangkan, di kampung, di angkot, di jalan, di semua tempat yang aku datangi tak ada yang namanya bebas dari asap rokok. Paling parah di tempatku bekerja, hampir semua pegawai (yang laki-laki tentunya) di sana merokok. Tak terkecuali Mas Anton, atasan kami.
Padahal salah satu alasanku dulu senang kerja di warnet adalah bisa terbebas dari asap rokok, di samping bisa mengakses internet gratis tiap hari. Entah mendapat “wangsit” darimana, kira-kira mulai sebulan yang lalu Mas Anton membuat aturan baru dengan memberi kebebasan kepada para pengguna yang ingin browsing sambil merokok. Awalnya sih cuma di lantai tiga, tapi sejak tiga hari yang lalu suda merembet ke lantai dua.
“Ded, besok kamu masuk pagi atau malam?” tanyaku pada Dedi ketika hendak bersiap pulang. Kami memang biasanya suka tukar-menukar shift.
“Malam,” jawabnya pendek tanpa menoleh padaku. Dia sedang asyik chatting.
“Tukar sama punyaku ya, besok aku masuk pagi.”
“Sorry, aku nggak bisa. Besok aku mau nganterin pacarku ke rumah pamannya.”
“Tolong dong, aku malas kalau harus jaga di lantai dua.”
“Kenapa? Di sana kan nggak boleh merokok.”
“Siapa bilang? Mulai senin kemarin sudah bebas merokok. Udah ruangannya sempit, penuh asap rokok lagi. Mana harus ngambilin asbak yang penuh abu. Huh…jorok banget.”
“Yo wis, dijalani saja. Lagian kamu itu jadi cowok kok sok anti rokok gitu sih?” tanya Dedi sambil tersenyum mengejek.
“Ya iyalah, rokok kan nggak baik buat kesehatan,” jawabku basi.
“Semua juga tahu, Man.”
“Kalau sudah tahu kenapa kamu nggak berhenti merokok?” aku ganti bertanya.
“Kamu bisa bertanya seperti itu karena kamu nggak merokok. Coba deh sekali-kali merokok, kamu pasti tahu jawabannya.”
“Alaah…nggak usah merokok, aku juga sudah tahu jawabannya. Karena kalian itu bodoh, mau-maunya disuruh “membakar” uang. Sudah uangnya jadi abu, eh malah dapat penyakit.”
“Eeh…hati-hati ya kalau ngomong. Sebagai perokok sejati aku merasa tersinggung nih dengarnya!” tukas Dedi sambil pura-pura mengancamku. “Merokok tuh banyak manfaatnya tahu. Salah satunya bisa menenangkan pikiran, apalagi kalau lagi stress atau ada masalah. Kalau udah merokok tuh, rasanya rileks. Trus juga, kalau lagi musim hujan gini bisa menghangatkan badan. Yang paling simpel tuh, kalau habis makan rasanya nggak afdol kalau nggak merokok. Ibaratnya kayak orang habis buang air besar tapi nggak cawik.”
“Ngawur, kalau itu namanya jorok tahu!” kataku seraya meninju lengannya.
“Ada apa ini kok pakai tinju-tinjuan segala?” tiba-tiba saja Mas Anton muncul di depan kami. Tumben, jam segini belum pulang.
“Tidak ada apa-apa kok Mas, cuma bercanda,” jawabku sambil mengelus-elus lengan Dedi.
“Ya sudah, aku kira kalian rebutan cewek.”
“Kok belum pulang Mas?” tanya Dedi sambil menyingkirkan tanganku dari lengannya.
“Iya, aku tadi masih posting. Ya udah, aku pulang dulu,” pamitnya kemudian.
“Silahkan Mas,” balas kami berdua bersamaan.
Bosku itu memang bloggermania, tiap hari ada aja yang diposting. Waktu aku lihat-lihat ternyata banyak juga lho yang ngunjungi dan ngasih coment.
Baru beberapa langkah dari pintu keluar, tiba-tiba saja Mas Anton terhuyung-huyung sambil memegangi dadanya. Untung, aku dan Dedi dengan sigap menyusul keluar. Kalau tidak, mungkin dia sudah jatuh duluan.
Kami berdua lalu segera membawanya ke rumah sakit. Ternyata Mas Anton terkena serangan jantung. Mbak Lia, isterinya yang datang belakangan nampak sangat terkejut dan menangis tersedu-sedu di sampingnya. Tapi bukan itu pointnya, point terpenting adalah serangan jantung itu disebabkan oleh tingginya kadar nikotin di dalam tubuh Mas Anton.
“Gimana, masih mau bilang kalo merokok itu banyak manfaatnya?” tanyaku pada Dedi saat pulang dari rumah sakit.
Dedi tak menjawab, dia hanya tersenyum kecut padaku.
Tak lama, ada angkot yang lewat dan kami menyetopnya. Saat kami naik, ternyata mikrolet itu dipenuhi oleh ibu-ibu paroh baya dengan seragam kuning menyala. Ada juga yang masih muda, mungkin seumuran denganku. Dari kaos yang mereka kenakan plus bau tembakau yang menyengat di dalam mikrolet, pasti mereka ini buruh pabrik rokok.
Aku dan Dedi terpaksa duduk di pinggir pintu, merangkap jadi kernet.
“Minggu-minggu ini kok sepi ya?” ucap salah satu dari mereka.
“Iya, masa minggu kemarin aku hanya dapat dua puluh lima ribu,” sahut yang lainnya menanggapi.
“Sama kayak aku. Kalau begini terus, bisa-bisa hari raya nanti THR-nya menurun,” tambah ibu yang di sampingku tak mau kalah. Aku dan Dedi hanya tersenyum-senyum mendengarnya.
“Rokok juga bawa rejeki lho Man,” ujar Dedi yang sepertinya dapat kartu As untuk mengalahkan argumenku yang tadi.
“Iya-iya tahu,” balasku tak mau kalah. “Udah nyampai tuh, kamu nggak turun?” tambahku saat angkot yang kami naiki hampir sampai di warnet.
“Kiri, Pak!” seru Dedi kemudian. “Kamu nggak ikut balik?”
“Ngapain, mending tidur di rumah,” jawabku cuek.
Setelah angkot berhenti, Dedipun kemudian turun. Meninggalkan aku bersama ibu-ibu yang menggantungkan hidupnya pada sebatang rokok. 







pakai masker aja mas kalau pas dapet giliran jaga warnet dan sekalian aja jualan rokok di warnet biar ada tambahan penghasilan
cerpen ini saya tulis jauh sebelum saya dapet tugas lembur di warnet baru tempat saya kerja. dan untungnya hal itu ga terjadi, secara warnet saya di lingkungan kampus jadi nggak ada smoke areanya.
yup tul bgt q jg g suka ma perokok padahal rokok tu da dicap haram tapi tetep aja ga da yg berhnti ngrokok palagi mas2 yg di perpus kayak ma putro,nova,giantoro(maap kalo hrs nyebut nama)ih…nyebelin bgt bau asapnya tuh bikin sesak napas yg kenakan g cuma perokok aktif tp perokok pasif jg kena getahnya… malah lebih parah ya kan!!! kalo bs sih… q pengen usul ke SBY ,”suruh nutup tu pabrik rokok yg da diindonesia”
wah, kalo pabrik rokok ditutup ntar gimana nasib para buruhnya. trus juga pajak terbesar negara tuh katanya paling besar sumbangannya dari pabrik rokok.