Farewell Fotokopi

December 28, 2007, Posted by Ihwan at 04:34

Hari ini adalah hari terakhirku di bagian fotokopi sebab mulai tahun depan aku dipindahkan ke bagian loker. Kenangan saat pertama kali aku menyentuh mesin fotokopi seperti hadir kembali lagi di depan mataku. Dulu tak pernah terbayangkan sedikitpun kalau kelak aku akan menjadi seorang tukang fotokopi. Ya iyalah, mana ada sih anak yang punya cita-cita sebagai tukang fotokopi? Bahkan meski kelak nama tukang fotokopi diganti menjadi xerografer sekalipun, aku yakin profesi itu nggak akan muncul di benak seorang anak saat ditanya apa cita-citanya kalau besar nanti. Kebetulan bulan-bulan ini ada siswi2 SMEA yang melakukan PKL di perpus. Nah, seminggu yang lalu salah seorang dari mereka ditugaskan magang di bagian fotokopi. Duh, keliatan banget dari air mukanya saat pertama kali datang, kalau dia tuh nggak rela dunia-akhirat jika magang di fotokopian ha ha ha.

Jujur, pertama kali pegang mesin fotokopi dulu aku sempat grogi karena ternyata mesin fotokopi nggak sekedar pencet-pencet tombol doang. Masih ingat ketika Mas Andik, seniorku dulu (sekarang udah pindah ke Surabaya) mengajariku mengoperasikan mesin itu. Dengan sabar dia mengajariku bagaimana memprogram mesin dengan making areas, memilih kertas hingga membersihkan bagian-bagian mesin. Di hari pertama aku bekerja lumayan banyak hasil fotokopian yang salah, kira-kira…lha kok jadi kayak nulis novel Xerografer gini seeeh?

Sekitar tiga bulan setelah bekerja, aku membaca sebuah pengumuman beasiswa di sebuah koran yang diadakan Universitas Hangtuah Surabaya. Waktu itu aku tertarik banget untuk mencobanya apalagi nilai rata2 NEM-ku memenuhi syarat yang diajukan. Secara dulu pengin banget ngelanjutin kuliah jadi kesempatan beasiswa itu seperti anugerah dari Allah. Tapi nggak tahu kenapa, ketika sampai di rumah aku pikirkan lagi niatku itu. Aku melihat pengumuman itu lagi, kubaca nama-nama jurusannya. Melihat sebagian bidang ilmunya yang berhubungan dengan dunia kelautan aku jadi pesimis apa aku nanti bisa berhasil. Selain itu juga aku masih nggak tega ninggalin Malang, dulu aja pernah ada kesempatan kerja di Bandung tapi nggak aku ambil. Aku termasuk orang yang mengidap homesickness jadi aku takut kalau nanti aku nggak kerasan di Surabaya. Ya udah, aku nggak ambil kesempatan emas itu. Dan aku tetap bertahan di kerjaanku sebagai tukang fotokopi.

Aku nggak pernah menyesali keputusanku itu karena aku yakin bahwa apapun yang terjadi memang sudah ditentukan oleh Allah. Biarpun aku ngebet pengin masuk ke Hangtuah tapi kalau emang itu bukan jalanku pasti juga tidak akan berhasil. Syukurlah karena ternyata Allah menggantinya dengan sebuah anugerah yang indah, mimpiku untuk menerbitkan novel dikabulkan oleh-Nya. Aku nggak tahu jika seumpamanya aku kuliah apakah aku tetap bisa menulis novel. Bisa jadi bukan aku yang menulis Xerografer, orang lain atau teman kerjaku mungkin. Yang unik adalah ketika aku menulis Xerografer, teman-teman SMA-ku juga sedang sibuk menulis skripsi. Jadi aku anggap itu sudah impaslah.

Kini saatnya mengucapkan perpisahan, kepada Mas Ipin (koordinator fotokopi), mesin Canon NP650 II (bukan Xerox lho), kertas-kertas dan staples. Begitu banyak kenangan yang kualami di sana, mulai dari capek setengah mati melayani pelanggan, memfotokopi buku2 setebal bantal, lembur hingga tengah malam. Bahkan aku pernah memfotokopi dengan jari telunjuk berdarah-darah (ini beneran) hingga mengotori buku yang sedang kufotokopi. Itu semua tidak akan pernah kulupakan hingga akhir hayatku nanti, Glodak! Maafkan, jika hanya sebuah novel yang bisa kupersembahkan untuk mengenang kebersamaan kita selama ini, hiks hiks. Tetapi jangan khawatir, kita masih bisa ketemu lagi kan? Kalau saat istirahat aku akan sempatkan mampir. Apalagi jika nanti ada lembur fotokopi, pasti aku orang pertama yang dicalling-secara rumahku paling deket ama perpus. Kayaknya aku harus mulai mencari rumah yang agak jauh dari tempat kerjaku…*just kidding.

Mungkin yang membuatku agak enggan adalah bagian baru yang akan kutempati. Walaupun secara fisik job description yang kujalani berubah namun sccara kualitas aku merasa stag alias jalan di tempat. Atau mungkin juga menurun, secara kalau jaga loker itu hanya tangan saja yang bekerja. Bukannya aku gengsi atau apa untuk menjaga loker. Aku hanya berharap ada sebuah peningkatan dari pekerjaan yang kulakukan, aku ingin bukan hanya ototku saja yang dinilai tapi juga kemampuanku dalam berpikir. Atau mungkin, lagi-lagi ini adalah jalan dari Allah. Bisa jadi Allah memberiku pekerjaan yang berhubungan dengan fisik doang agar aku bisa menggunakan pikiranku secara maksimal untuk menulis novel. Yaaa, untuk saat ini kesimpulan itu yang bisa kuambil. Setidaknya agar aku nanti enjoy menjalani pekerjaanku di bagian loker.


Share and Enjoy:
  • Twitter
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Currently have 4 Comments

  1. anisiloch says:

    bagus….bagus… itu berarti usaha menaikkan berat bada bisa sukses soalnya peredaran udara yang segar bisa menambah kegemukan he he ehe ngaco ah….
    yang bener itu berarti sekarang ada kemajuan soalnya tigasnya jadi dipan (bag loker) kan?

  2. diLa says:

    critanya itu beneran t?
    masak c jarinya bisa sampek berdarah2???
    pantesan kok biasanya mas2 FC itu tangannya pake kayak isolasi!!!

    aku setuju kok!!!
    untuk jangan pernah menyesal!!
    semua keputusan yang telah kita ambil adalah yang terbaik!!!
    ya nggak!!!

    belum tentu sekarang kita bisa jadi kayak gini kalo dulu kita ngambil jalan yang beda!!!

    ^_^

  3. ihwan says:

    annsiloch:
    sebenarnya ada benarnya juga, secara di fotokopi kami rentan kena residu tinta yang katanya bisa menghambat kenaikan berat badan.
    maju tempatnya doang, dogoool..!!

  4. ihwan says:

    diLa:
    sueer beneran, tapi biarlah sebab musababnya hanya aku dan Tuhan yang tahu,Glodak!
    kami pake isolasi itu untuk memudahkan memilah kertas Dil, bukan karena jarinya luka he he

    tapi memang dibutuhkan kebesaran hati dan waktu yang lama untuk bisa mengambil hikmah dari itu semua, halaah sok bijak.

Leave a Reply








Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

Ihwan Hryant | Create Your Badge
Widget_logo