Malang Surabaya So Tired
talkshow n bedah buku Xerografer
3 desember 2007 @ Gedung Pemuda Surbaya
Bedah buku kali ini benar-benar perjuangan banget buatku, baik itu fisik dan mental, Glodak! Itu semua disebabkan oleh kenekatanku untuk menempuh perjalanan Malang-Surabaya dengan naik motor. Padahal selama ini rute perjalanan yang tiap hari kutempuh hanyalah dari rumah-perpus tempatku kerja, mungkin sekitar 5 kilometeran lah.
Awalnya sih aku penginnya menempuh perjalanan yang aman-aman aja dengan bus tapi orang yang kuminta untuk menemaniku ke Surabaya yaitu kakakku-namanya Zainal tapi akrab dipanggil Mas Jinul-menyarankan untuk naik motor dengan beberapa pertimbangan. Yang pertama untuk menghindari macet di Porong, trus juga agar mobilitas di Surabaya nanti lebih mudah. Kalau harus naik bus kota agak ribet katanya. Akupun tetap bersikeras kalau fisikku nanti tidak kuat menempuh pejalanan PP Malang-Surabaya dengan motor tapi Mas Jinul juga nggak kalah ngototnya bilang kalau perjalanannya nggak seberat yang kubayangkan. Toh nanti nyetirnya bisa gantian katanya. Ya udah wis aku nurut aja, secara Mas Jinul udah terbiasa ke Surabaya naik motor aku percaya aja.
Kami berangkat dari rumah pukul setengah sebelas siang. Ada rasa tertantang juga saat mengemudikan motor karena ini adalah pertama kalinya aku menempuh perjalanan jauh dengan naik motor. Dengan semangat Valentino Rossi kukemudikan motor membelah jalan raya kota Malang. Ketika kami sampai di Singosari, Mas Jinul mengambil alih kemudi karena kayaknya dia nggak telaten or ga sabar dengan kecepatan motorku yang mentok di kilometer 60. Benar aja, begitu Mas Jinul pegang kemudi, motor melaju lebih kencang dengan kecepatan antara 80-100 km di spidometer.
Menempuh perjalanan dengan motor memang banyak tantangannya, kita bisa merasakan langsung atmosfer yang ada di jalan raya. Mulai dari teriknya sinar matahari, hembusan angin yang kencang saat ngebut, bunyi klakson truk yang suka bikin kaget hingga guyuran air hujan. Kelebihannya adalah bisa berhenti kapanpun dan di manapun kita mau. Kebelet pipis or bensin habis tinggal cari pom bensin, minuman habis tinggal beli di toko pinggiran jalan atau seperti kami, ketika lewat Porong bisa berhenti sejenak untuk liat-liat Lumpur Lapindo. Ironis sekali, bencana alam terkadang malah menjadi ‘wisata gratisan’ bagi orang yang tidak ikut terkena dampaknya.
Sekitar jam satu siang kami berhenti di sebuah masjid di Sidoarjo, namanya Masjid Besar Al Karomah. Untungnya ada rumah makan tak jauh dari masjid sehingga kami bisa ngisi perut sekalian. Rumah makannya bernama Sederhana, namun sayangnya harga makanannya tidak sesederhana namanya. Sehabis makan kamipun sholat dan istirahat sebentar. Rupanya masjid ini memang menjadi tempat jujukan para pelancong untuk ishoma, ketika kami datang sudah banyak orang-orang yang tiduran di teras masjid. Lagi enak-enaknya tidur, hujan turun secara tiba-tiba dengan derasnya. Kata penjual buah yang juga berteduh di masjid, ini adalah hujan pertama yang turun di Sidoarjo.
Dengan sabar aku menunggu hujan reda tapi yang terjadi malah sebaliknya, hujan makin gila-gilaan derasnya bahkan disertai dengan petir dan angin kencang segala. Rasanya pengin ‘nangis’ ketika jam menunjukkan pukul setengah tiga tapi hujan belum juga reda. Padahal jadwal acaraku tuh jam setengah empat, mana mungkin bisa sampai tepat waktu di Surabaya. Aku lalu mengirim sms ke Mas Rudy-Kacab Agro Surabaya-untuk kasih tahu kalau aku datangnya telat.
Sehabis sholat ashar kamipun nekat melanjutkan perjalanan karena Mas TP yang merupakan panitia Soerabaya Book Festival (SBF) menelpon dan menanyakan keberadaanku. Untungnya sebelum berangkat Mas Jinul berinisiatif membelikanku sandal. Thanks broo, nggak kebayang deh kalau aku nanti harus tampil dengan sepatu basah oleh air hujan. Dengan memakai jas hujan kamipun berangkat menuju Surabaya, untunglah tak beberapa lama hujan mulai reda.
Tapi sialnya, ketika sudah sampai di Surabaya langit nampak hitam oleh kabut dan tak lama hujan turun lagi dengan derasnya. Sumpah, ini adalah perjalanan terseru yang pernah kualami. Guyuran air hujan seakan nggak ada habis-habisnya disertai angin yang kencang, belum lagi motor dan mobil yang nggak kalah gilanya untuk saling mendahului.
Untunglah kami sampai dengan selamat sampai di Gedung Pemuda, tempat diadakannya SBF. Meski sudah pakai jas hujan, kaos yang kupakai tetap basah. Kalau celananya sih nggak basah karena tadi sudah kulipat hingga ke lutut. Aku memilih berteduh di bangunan-ga tahu namanya apa-yang ada di depan Gedung Pemuda agar bisa ganti pakaian dulu. Aku celingukan kesana-kemari tapi nggak menemukan toilet atau tempat yang bisa kupakai buat ganti kaos. Akhirnya aku nekat, setelah kulihat nggak ada orang di situ, aku copot kaos dan memakai baju yang sudah kusiapkan dari rumah. Karena jalan menuju Gedung Pemuda banjir terpaksa aku nggak pakai dulu sepatuku dan berlari menembus hujan yang belum reda juga. Karena pakaiannya basah, Mas Jinul memilih untuk menunggu di bangunan tempat kami berteduh tadi.
Setelah memakai sepatu, akupun masuk ke area SBF dengan serileks mungkin seolah-olah aku nyampe ke situ dengan memakai BMW, Glodak! Segera aku mencari orang yang namanya Mas Rudy or Mas TP, untunglah aku bertanya pada orang yang tepat yang dengan baik hati mengantarkanku ke stan Buka Buku Production-penyelenggara SBF. Saat aku nyampai di sana, Mas TP sedang duduk dengan memegang novelku. Aku menyapanya dengan ramah dan meminta maaf karena terlambat satu jam dari jadwal. Kamipun lalu ngobrol santai dan mbahas konsep acaranya. Ternyata nama TP itu kependekan dari namanya yaitu Tri Prasetyo. Mas TP ini adalah General Manager dari Buka Buku Production.
Aku agak pesimis apakah bedah bukunya bisa sukses karena kulihat pengunjung pamerannya sedikit. Tepat setengah lima acara dimulai dan berkat cuap-cuap Mbak Dini-host SBF-beberapa orang tertarik untuk mengikuti bedah bukuku. Kalo nggak salah, sekitar sepuluh orang yang hadir di situ. Ya udah wis nggak apa-apa, the show must go on. Dengan dimoderatori Mas TP sendiri, acara dapat berlangsung lancar dan mengalir. Seperti bedah buku pada umumnya, setelah acara pembahasan novel selesai lalu dilanjutkan dengan tanya-jawab dengan penonton. Nggak disangka-sangka yang mengajukan pertanyaan pertama adalah salah satu rekan di Multiply yaitu Lalu aka Lafata. Dia ini MP’ers Malang juga dulunya tapi sekarang lagi kuliah di Unair ngambil jurusan Fisip. Jujur saja, kehadiran Lalu secara tidak langsung telah memberiku support. Aku jadi merasa nggak ‘sendirian’ karena setidaknya ada yang kukenal meski itu hanya lewat internet. Thanks ya broor. Walaupun penontonnya sedikit tapi hampir semuanya mengajukan pertanyaan dan itu cukup membuatku senang karena itu artinya mereka tertarik dan pengin tahu lebih banyak tentang Xero.
Setelah acara usai, aku sempatin ngobrol2 sama Lalu. Sekitar jam enam lebih sepuluh aku pamitan pulang sama Mas TP. Aku feel guilty juga saat melihat Mas Jinul yang menungguku di luar dengan pakaian yang basah. Kasihan banget karena dia sampai bela-belain nggak masuk kerja demi menemaniku bedah buku. Walaupun kami sering berbeda pendapat dan kadang ampe berantem tapi di saat-saat penting seperti ini dia menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya sebagai seorang kakak pada adiknya. Thanks a lot broor.
Untuk menebus rasa bersalahku, maka ketika sudah sampai di pinggiran Surabaya aku gantikan Mas Jinul mengemudikan motor. Kutarik gas sekencang mungkin agar kami nggak malam-malam banget sampai di Malang. Hujan seakan tiada henti menguji, saat kami melintas di Sidoarjo hujan turun lagi. Agar tidak bosan menempuh perjalanan yang jauh, aku pun dengerin lagu melalui flashdisk. Mungkin karena terlalu berambisi untuk bisa pulang cepat, beberapa kali aku nekat menyalip truk-truk yang berjalan dengan kencangnya itu. Mas Jinul nggak bosen-bosennya memperingatkanku agar tidak terburu-buru dan lebih berhati-hati. Perjalanan yang kami tempuh seakan nggak ada akhirnya, aku melihat jalan di depanku seperti tak berujung. Entah tak terhitung berapa kali aku bertanya pada diriku sendiri, ini kapan nyampainya sih…?!
Alhamdulillah, jam setengah sepuluh kami tiba di rumah dengan selamat. Tubuhku sudah amat sangat lelah, kakiku kedinginan karena sepatuku basah oleh air hujan, jari-jemariku rasanya seperti kaku karena terlalu lama mencengkram gas, jas hujan yang kukenakan juga kotor apalagi motorku. Aku belum pernah melihat motorku sekotor itu. Setelah sekian lama aku mengalami insomnia-akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak malam itu.






