1000 books for them

February 18, 2008, Posted by Ihwan at 9:26 am

Seminggu yang lalu aku pergi ke panti pijat tuna netra Nuansa yang terletak di depan Rumah Sakit Soepraon untuk memijatkan tubuhku yang terasa pegal-pegal semua. Ya iyalah, kalau bukan untuk pijat trus mau ngapain? Masa mau ngeceng?

Sebenarnya kalau lagi capek atau pegal2, aku lebih memilih untuk memijat sendiri karena rasanya risih membiarkan orang lain ‘menggerayangi’ tubuhku yang kerempeng ini. Tapi berhubung yang pegal tuh seluruh badan maka akupun menyerah dan mutusin pergi ke Nuansa. Dulu udah pernah satu kali pijat di sana tapi anehnya ada beberapa bagian yang semula nggak pegal malah jadi pegal setelah dipijat. Mungkin karena dulu masih pertama kali ya atau mijatnya terlalu keras. Yang merekomendasikan untuk pijat di Nuansa adalah bibiku, beliau lumayan sering pijat di sana dan katanya enak pijatannya.

Yang memijatku kali ini namanya Andreas (keren banget namanya bo). Setiap pemijat emang biasa ngajak kenalan dulu sebelum ‘beraksi’, mungkin maksudnya jika kita cocok dengan pijatannya dan lain kali datang lagi bisa langsung request untuk dipijat sama dia.

Sambil mulai memijat kaki kiriku, Andreas ngajak aku ngobrol ngalor-ngidul. Ternyata dia dulu sering main ke Radio MFM yang ada di Perpus tempatku kerja. Cuman tuh radio sekarang udah nggak ada lagi, nggak tahu kenapa. Agak tengsin juga sama si Andreas karena seumur-umur aku tuh nggak pernah main ke MFM, padahal tinggal masuk dan melangkahkan kaki aja. Yaa…harap maklum, gue kan aslinya pemalu Glodak!

Kalau dibandingkan dengan pemijatku yang dulu, sebenarnya pijatan Andreas kurang enak he3 soalnya dia baru lulus dari tahun kemarin. Pantesan aja dia sering nampak kecapean saat memijatku, mungkin karena belum terbiasa. Aku agak nggak enak hati dan kasihan setiap kali dia berhenti dan menyeka keringat di dahinya.

Aku nggak bisa ngebayangin kalau berada di posisi Andreas, menjalani hidup di dalam kegelapan tanpa bisa menikmati keindahan alam semesta dan seisinya. Apalagi dengan keterbatasannya itu dia tidak mempunyai banyak pilihan di dalam memilih pekerjaan. Mungkin kalau boleh memilih, Andreas atau para pemijat di Nuansa yang lainnya ingin bekerja pada bidang lain yang mereka sukai.

Mimijat bukanlah pekerjaan yang ringan, coba bayangkan selama satu setengah jam mereka harus memijat dari ujung kaki hingga kepala. Tak peduli meski jari-jemari atau tangan mereka sendiri sedang capek atau pegal, yang paling penting adalah konsumen puas dengan pijatan mereka.

Kenyataan itu membuatku bertanya pada diriku sendiri, sudahkah aku mensyukuri nikmat kedua mata ini..? Dan apakah yang bisa kulakukan untuk sekedar membantu saudaraku yang tunanetra tersebut…?

Hari Sabtu kemarin aku pergi ke Toga Mas (sebuah toko buku yang terkenal dengan diskonnya) untuk sekedar refreshing dan cari2 buku baru. Ketika menghampiri rak yang menyediakan buku2 baru, perhatianku tertuju pada sebuah novel songlit (song literatur) terbitan Gagas dengan judul Sebelum Cahaya. Novel ini ditulis oleh Karla M Nashar berdasarkan lagunya Letto yang liriknya menyentuh itu. Untungnya ada satu novel yang tidak dibungkus plastik sehingga aku bisa membaca sedikit isinya, salah satu tokoh utama di dalam novel tersebut diceritakan mengalami kecelakaan hingga harus kehilangan penglihatannya. Ketika membuka bagian belakang, aku membaca sebuah pengumuman yang mengajak pembaca untuk bergabung di dalam Gerakan 1000 Buku. Gerakan ini diadakan oleh Mitra Netra untuk membantu saudara kita yang tuna netra agar bisa ikut menikmati buku2 seperti halnya orang yang bisa melihat. Untuk keterangan selanjutnya bisa MP’ers baca di sini.

Dalam hati aku langsung menduga kalau ini pasti jawaban dari Allah atas pertanyaanku saat dipijat oleh Andreas dulu. Sebagai seorang penulis, Glodak! yang bisa kulakukan tentu adalah menghibur mereka melalui karyaku. Sebetulnya aku dulu pernah membaca Gerakan ini di sebuah majalah tapi nggak tahu gimana caranya untuk ikut berpartisipasi. Aku lalu mengingat-ingat salah satu alamat email yang disediakan Mitra Netra untuk mengirimkan soft copy novel yang akan diterjemahkan ke dalam huruf Braile.

Buat MP’ers, baik itu yang penulis atau bukan, mari kita bergabung dalam Gerakan 1000 buku ini. Caranya sangat mudah sekali, kita tinggal mengetik kembali novel2 koleksi kita dan mengirimkannya ke Mitra Netra. Dont worry, jari kita ga bakalan keriting kok (di-rebonding kali) karena mengetik satu buku penuh. Lagian apalah artinya bila dibandingkan dengan kegelapan yang harus dialami oleh saudara kita seumur hidupnya itu? Yakinlah bahwa jerih payah kita tidak akan sia-sia karena setiap huruf yang kita ketikkan ibarat setitik cahaya yang sangat berarti bagi mereka.

 

Share and Enjoy:
  • Twitter
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Currently have 1 Comment

  1. balqiz says:

    salam kenal dari bunda dan balqiz.. senang sekali anda mempunyai perhatian terhadap teman teman tunanetra. tetap semangat dan sukses untuk anda.

Leave a Reply








Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

Ihwan Hryant | Create Your Badge
Widget_logo