Syuting hari 2 & 3
Syuting hari ke-2 dilakukan di rumahku tercinta yang ada di daerah Mergan. Rombongan anak2 Komunikasi 06 datang ke rumah kira2 pukul 9 pagi. Terdiri dari Ratna (Ass. Sutradara), Rero (editor), Rindra (script writer), Hadi (DOP-director of photograph), Habib (cameraman), Sheila (Korlap) dan Raka (clapper, transport dan perlengkapan), sedangkan Oji sang sutradara, nggak bisa datang karena lagi pulkam.
Adegan yang diambil hari itu adalah semua aktivitasku selama berada di rumah, mulai dari bangun tidur hingga berangkat kerja. Lalu ditambah dengan kegiatan lainnya seperti membaca, mengetik, interaksiku dengan keluarga dan pulang kerja. Paling nggak banget pas adegan tidur, gimana nggak? Udah urutannya yang pertama (belum ada persiapan mental tuh) trus merupakan hal yang paling privasi lagi. Tapi mau gimana lagi? Udah terlanjur basah, aku pun lalu memperagakan posisi tidur andalan gue: memeluk guling ha ha ha.
Ternyata bikin film itu emang nggak mudah ya, yang namanya mempersiapkan kamera aja dibutuhkan waktu kira2 hingga 20 menitan. Soalnya emang harus dapat angel yang bagus, cahaya yang pas, ditambah lagi peralatannya masih terbatas jadi harus pinter2nya mereka untuk mengakalinya. Trus juga untuk satu scene nggak cukup diambil hanya satu kali, ada aja yang kurang atau salah he3. Entah itu dari aku ataupun krunya, aku sih fine2 aja cos emang kita maunya yang terbaik. Paling banyak sih take sampai tiga kali :p
Yang lucu pas bibiku dimintai testimoni tentang diriku, karena suaranya kurang keras sampai harus disuruh ngulang berulang kali. Eh nggak tahunya pas mengulanginya malah lupa apa yang tadi diucapkannya, terpaksa deh dikasih tulisan di sebelah kameranya.
Syuting baru berakhir pukul 4 sore, Gosh lama banget. Padahal durasi dari features ini sebenarnya hanya 15 menit tapi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya kira2 seminggu.
Hari ke-3 terpaksa aku nggak diambil gambarnya karena aku nggak memakai seragam seperti saat syuting hari pertama. Soalnya ceritanya tuh aku diliput hanya sehari aja, kan aneh kalau pas berangkat dan pulangnya pake seragam eh ketika kerja kok pake pakaian bebas. Rencananya scene-ku tuh nyeritain awal mula kerja di perpus dan tentang novel Xerografer.
Ya udah, giliran teman2 kerjaku yang dimintai testimoni. Jangan bayangin kalau mereka mau gitu aja disyuting, semuanya pada nggak mauu tahu nggak? Ada yang katanya malu dan grogi speak depan kamera, nggak tahu harus komen apa tapi ada yang sok jual muahal :p. Untunglah setelah aku dan kru membujuk, merayu, sedikit maksa (tapi nggak pake ngancam loh) dapat dua testimoni, dari Dedik dan Putro. Nggak tahu deh mereka ngomong apa aja tentang gue, soalnya aku emang nggak boleh tahu, sialan! Awas ya kalau sampe mereka mbongkar2 rahasia gue, bakal aku racunin pake obat cuci perut wakakakaka.
untuk foto2na bisa liat disini.






