The Power of Words

February 18, 2009, Posted by Ihwan at 09:21

Berkomunikasi lewat tulisan, entah itu di dunia nyata maupun maya boleh dibilang gampang-gampang susah. Gampangnya apa? Kita tinggal menulis atau mengetik huruf demi huruf menjadi sebuah kata untuk kemudian menjadi kalimat. Biasanya orang menjadi lebih ekspresif dan ‘berani’ mengungkapkan pemikiran maupun isi hatinya jika lewat tulisan. Karena memang ada sebagian orang (termasuk aku hi hi hi) yang mengalami kesulitan berkomunikasi secara verbal.

Nah susahnya adalah karena media tulisan itu hanya satu dimensi (satu apa dua ya, mohon koreksinya jika salah) seringkali terjadi kesalah pahaman atau miskomunikasi. Hal ini terjadi karena kita memang tidak bisa melihat bagaimana ekspresi sesungguhnya dari lawan ‘bicara’ kita.

Sebagai contoh kejadian yang kualami tadi pagi, ceritanya aku lagi sms-an sama salah satu MP’ers mbahas salah seorang teman SMA-ku yang ternyata ada di list contact-nya di fesbuk (lagi-lagi fesbuk). Awalnya dia nggak ngaku kalau temenku itu sepupunya, karena ngerasa dikibulin aku kirim sms balik: Ow sialan! Tapi kok nggak mirip yak :P
Eh nggak tahunya, dia membalas smsku gini: kalo sms aku, nggak usah misuh2 ya, jadi biasa aja… Tentu saja aku kaget bacanya, rupanya dia nggak suka dengan kata ‘sialan’ itu. Emang sialan udah termasuk misuh2 ya? Padahal pas nulis kata sialan itu aku sambil senyum2, maksudnya hanya bercanda gitu. Tapi untunglah kesalah pahaman itu bisa clear kembali.

Di buku Creative Writing yang ditulis oleh Dra. Naning Pranoto (Primamedia Pustaka, 2004) di halaman 74 ditulis: Ada kata-kata yang menyatakan kekuatan, ada pula yang menyiratkan kelembutan. Dalam keadaan normal, seseorang cukup bilang: “Matikan radio itu.” Tapi dalam keadaan marah, seseorang bisa bilang: “Bunuh radio itu!”.
Bukan hanya dalam menulis novel, dalam berkomunikasi melalui tulisan aku juga menerapkan prinsip ini. Jadi sebisa mungkin aku menghindari kata-kata yang kasar yang bisa menyinggung perasaan orang lain.

Tapi tiap orang memang mempunyai patokan sendiri-sendiri dalam menilai suatu kata, hal ini berkaitan pula dengan nilai-nilai hidup yang dianutnya. Seperti ‘kasusku’ diatas, bagi temenku kata sialan udah termasuk misuh2 tapi tidak bagiku. Misuh ya misuh, misalnya aja: JA***K, F***. Tapi aku juga nggak mungkin lah ngatain sialan pada orang yang baru kukenal. Mungkin, temenku itu lagi sensi atau PMS kali yak, maklum cewek he3.

Share and Enjoy:
  • Twitter
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Currently have 1 Comment

  1. Maren Kitatau says:

    THE POWER OF WORDS:

    In the begining was the Word,
    And the Word was with God,
    And the Word was God!

    Salam Pikirtiga!

Leave a Reply








Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

Ihwan Hryant | Create Your Badge
Widget_logo