The Right Jobs
Jika sedang tidak lembur, hari sabtu adalah hari dimana aku bisa bersantai dan melakukan apa aja yang kusuka sepanjang hari. Nggak ada ceritanya berangkat kerja terburu-buru karena bangun kesiangan, mau bangun jam 8 kek, jam 9 nggak masalah. Paling-paling keluarga aja yang ngomelin: perjaka kok bangunnya molor. Uhm…itu masalah juga sih, aku kan udah kerja keras selama lima hari masa nggak boleh nyane sehari aja.
Standar aja sih kegiatan yang aku lakuin kalau nyante di hari sabtu, habis mandi biasanya liat teve sambil makan. Kalau acaranya bagus biasanya bisa bertahan ampe siang, lalu njemput bibi pulang dari kerja. Habis itu sholat, makan siang trus cetingan atau ngenet pake hape. Aku jarang, atau boleh dibilang hampir nggak pernah tidur siang. Nggak biasa aja, padahal aslinya pengiiin banget bisa ngerasain tidur siang yang nyenyak untuk nebus tidur malam yang sering aku korupsi untuk ngetik.
Tapi kalau lagi ada proyek nulis yang digarap biasanya aku manfaatin hari sabtu itu untuk mengetik seharian. Iam really-really enjoy its. Seringkali waktu berjalan begitu cepat ketika aku tenggelam dalam cerita yang kutulis. Kadang aku berpikir, betapa bahagianya kalau setiap hari bisa kayak gitu.
Jujur aja, aku emang udah bosen bin jenuh sama kerjaanku sebagai penjaga loker di perpus tempatku berkerja selama ini. Mungkin orang yang udah kenal lama sama aku, bosen denger keluhanku itu. Habis gimana, udah nggak ada lagi tantangan yang kudapatkan dari kerjaanku itu. Tiap hari ya hanya gitu-gitu mulu, standby di tempat loker menunggu pengunjung yang datang.
Emang salahku sendiri sih yang kurang berani take a risk cari kerjaan yang lain yang lebih baik. Tapi mau gimana lagi, dengan hanya ngandelin ijasah SMA pekerjaan yang bisa kudapatkan tentu terbatas banget. Paling-paling kerjaannya juga nggak jauh beda, kerja pake fisik. Trus kebanyakan sekarang perusahaan nerapin sistem kontrak, kalau di PHK nggak dapet apa-apa.
Sebenarnya aku udah seneng kerja di perpus dan sayang buat ninggalin tapi ya gitu nggak ada perkembangannya. Yang bikin aku nggak bisa cabut lumayan banyak. Pertama dari segi pendapatan, meski nggak besar2 amat tapi rutin. Trus walopun sistem kontrak tapi kalau someday keluar atau di-PHK masih dapet semacam pensiunan. Dan yang paling utama, kesetiaanku bertahan hampir sembilan taun ini nggak sia-sia karena beberapa waktu yang lalu aku lolos seleksi menjadi CPNS. Jadi bego banget kalau sekarang aku ninggalin gitu aja. Karier menulisku juga belum bisa aku jadikan sandaran untuk hidup sepenuhnya. Mana mungkin aku menggantungkan hidup dari royalti yang dikirim enam bulan sekali itu.
Mungkin aku kedengarannya nggak bersyukur banget karena di luar sana masih banyak penggangguran, masih banyak orang yang harus kerja mati-matian dengan gaji yang nggak sepadan, masih banyak orang yang juga jenuh sama kerjaannya tapi nggak bisa cari side job atau pelarian kayak aku. Tapi aku juga nggak mungkin lempeng-lempeng aja kayak gini. Di atas sana banyak orang-orang yang jauh lebih sukses dan jujur aja aku iriii banget liatnya. Iri di sini dalam artian yang positif bukan iri-iri sirik tanda tak mampu.
Aku tahu harus do something tapi nggak tahu itu apa. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah tetep menjalani kerjaan di perpus dengan baik dan berharap para atasanku meliat ‘potensi’ yang kumiliki cieee bahasanya narsis banget. Keinginanku nggak muluk-muluk kok, aku ingin mereka ngasih aku kerjaan yang nggak hanya ngandelin fisik.
Yang pasti aku juga akan tetep akan menulis sampai kapan pun karena aku masih yakin (semoga nggak akan pernah luntur keyakinan itu) bahwa becoming writer is the right jobs for me. Aku mencintai pekerjaan ini, aku merasa lebih hidup dan mempunyai arti karenanya. Ketika ada orang yang tertawa, gembira atau sedih karena membaca tulisanku rasanya sangat…uhm nggak bisa digambarin deh. Dan pastinya nggak bisa digantikan oleh apapun.
So…what about you? Apakah pekerjaan yang kalian jalani saat ini is the right jobs atau masih pengin cari yang lain? Terpaksa hanya karena alasan materi ataukah kalian menjalaninya dengan penuh kepuasan batin?






