Rectoverso

| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Dewi Dee Lestari |
Salah satu alasan kenapa aku sangat mengidolakan Dee dan menjadikannya guru menulisku (walaupun nggak secara langsung) adalah cara Dee bercerita yang unik, simple dan to the point. Dee tahu benar bagaimana cara mengaduk-aduk emosi pembaca tanpa harus jatuh ke dalam cerita yang bertele-tele dan cenderung lebay dalam penceritaan.
Nah, di dalam Rectoverso inilah Dee membuktikan lagi kehebatannya itu. Sebelas kisah yang disajikan dalam buku berkemasan luks ini boleh dibilang temanya sederhana, bahkan mungkin sudah sering diangkat oleh penulis lain. Namun cara Dee mengemas dan menyajikannya beda banget, liat saja cerita tentang kedahsyatan cinta seseorang yang terbelakang secara mental dalam Malaikat Juga Tahu, cinta yang terpendam dalam Cicak di Dinding, perpisahan dalam Aku Ada, Peluk dan Firasat, wanita karier yang kehilangan quality time dengan keluarganya dalam Tidur.
Dari semua kisah itu yang menjadi favoritku adalah Curhat Buat Sahabat soalnya nasib sang tokoh dalam cerita itu agak-agak mirip denganku he3. Aku suka banget kalimat penutupnya: “Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.” Ciee curhat colongan neh ceritanya.
Buat pembaca yang menyenangi deskripsi yang begitu detail dan panjang mungkin akan kecewa karena cerpen-cerpen dalam Rectoverso ini ceritanya singkat-singkat, bahkan ada yang hanya dua halaman saja. Jujur , awalnya aku sempat ‘ngambek’ karena ada salah satu cerita yang menurutku bisa lebih di-explore tapi Dee hanya menuliskannya ‘gitu aja’. Sehingga aku nggak dapet feel-nya. Tapi aku lalu sadar bahwa gaya bercerita Dee memang seperti itu. Nggak ada deh, dalam novel-novel Dee, seorang tokoh digambarkan menangis termehek-mehek saat dilanda kesedihan, atau deskripsi tentang suatu tempat yang begitu panjang lebar seperti dalam novel-novel penulis lain (dan menurutku itu malah jadi membosankan.) Dalam salah satu blognya, Dee pernah mengatakan gini: We’re writers, but don’t write’em all down. Trust our readers’ ability to imagine things. And give them some inspiring and convincing description, bukan sekadar deskripsi harfiah akibat malas mikir. Setuju banget tuh!
Dari segi kemasan, Rectoverso tampil begitu lux dan nge-pop banget. Kertasnya aja sama kayak kertas-kertas di buku dongeng terjemahan. Udah gitu, di setiap cerpen disertai foto dan gambar yang mendukung jalan cerita. Bahkan beberapa malah ada yang satu halaman full tuh berupa foto atau gambar. Sumpah, aku iri banget tau nggak sih. Aku berharap someday bukuku ada yang bisa kayak gitu, amiiin.
For the last, dengan sebelas cerita yang singkat namun penuh makna dan kemasannya yang lux itu (ada bonus stikernya lagi), menurutku worth it lah dengan harganya yang buatku cukup menguras kantong agak dalam he3. Konsekuensinya, dengan berat hati aku katakan pada temen-temenku di dunia nyata, kalau aku nggak bakalan minjemin neh novel. Bukannya pelit sih, agak trauma aja soalnya dua novelku baru aja ilang dan aku lupa siapa yang terakhir kali minjem.






