One Night at Segara Anakan
Perjalanan menjelajahi Pulau Sempu boleh dibilang medannya cukup berat karena begitu turun dari perahu yang menyeberangkan kami dari Sendang Biru, kami disambut dengan lebatnya belantara hutan yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan. Tak cukup hanya itu, jalan setapak yang harus kami lalui keadaannya lumayan becek. Jika tidak berhati-hati melangkah salah-salah bisa jatuh terpeleset. Aku saranin buat kalian yang mau ke Sempu, jangan pake sandal biasa karena resiko kepeleset makin gede atau kalau nggak gitu sandal kalian bakalan putus dan ujung-ujungnya harus jalan dengan kaki tanpa pelindung alias nyeker. Temenku aja yang pake sandal gunung masih aja kepeleset-peleset, paling aman tuh ya pake sepatu.
Sepanjang perjalanan menuju Segara Anakan, aku hitung-hitung ada tiga pohon tumbang yang menghalangi jalan kami. Kalau pohonnya hanya segede jambu sih nggak masalah, tinggal lompat aja. Ini nggak, pohonnya tuh besarnya tiga kali badan manusia jadi cukup merepotkan juga untuk melaluinya. Kebetulan saat itu ada rombongan dari Jakarta yang balik dari Segara Anakan, kalau nggak salah mereka dari grup jalan-jalan.multiply.com. Tiap kali berpapasan kami saling sapa dan memberi jalan.
Oh iya, mendekati lokasi Segara Anakan ada medan yang cukup berat yaitu berupa sungai kecil yang nggak ada airnya tapi dipenuhi karang-karang yang tajam. Untuk melaluinya kami harus melewati jembatan yang terbuat seadanya dari empat batang pohon berlumpur yang licin banget. Sambil antri melewati jembatan, kami sempat ngobrol sama bapak2 dari dinas pariwisita atau kehutanan aku kurang paham, beliau memuji grup dari Jakarta yang membawa pulang sampah-sampah mereka. Emang sih, kalau lagi di alam bebas gitu seringkali kita berbuat semaunya dan nggak mau repot2. Contohnya habis minum air mineral botolnya dibuang sembarangan, sandal putus ditinggalin gitu aja, nebang-nebang pohon buat api unggun dan masih banyak perbuatan kita yang berpotensi merusak alam. Aku bukannya mau sok-sokan peduli lingkungan sih, hanya pengin berpartisipasi aja menjaga keindahan dan kelestarian alam kita. Coba bayangin, gimana rupa Pulau Sempu lima tahun yang akan datang jika tiap orang yang ke sana pada ninggalin sampah2 mereka, bisa-bisa namanya ganti jadi Pulau Sampah.
Akhirnya setelah melalui berbagai rintangan kami sampai juga di Segara Anakan, rasa lelah dan capek yang kami rasakan terbayarkan sudah saat mata kami disuguhi pemadangan yang sangat indah. Di hadapan kami terbentang sebuah laguna berwarna biru kehijauan (atau hijau kebiruan…) dengan karang-karang yang indah, sebagian diantaranya nampak menyembul ke permukaan karena saat itu laut lagi surut. Bukit-bukit yang mengelilingi Segara Anakan ditumbuhi pepohonan yang lebat banget semakin menambah dramatis aja. Trus ya, di bawah kami terasa pasir putih yang begitu lembut di kaki. Subhanallah, nggak berlebihan rasanya jika ada yang bilang Segara Anakan itu The Beach-nya Indonesia. Aku aja masih nggak percaya akhirnya berada di tempat yang sangat indah itu. Tanpa membuang waktu kami segera mendirikan tenda karena hari sudah mulai senja dan keadaan cuaca juga kayaknya mau hujan.
Malam harinya, setelah makan dengan ikan bakar yang yummy banget kami berfoto rame-rame. Lalu sebagian jalan-jalan menyusuri pantai, ngobrol ngalur-ngidul yang ujung-ujungnya malah pada bikin bola dari pasir (di Jawa disebut Bandempo) trus diadu. Mas Ridho malam itu keluar sebagai juara bertahan, gimana nggak, lha wong dari SD udah jago bikin Bandempo. Yang kesian tuh Mas Cobain yang terpaksa harus nyebur laut malem-malem karena kalah taruhan. Syukurlah, malam itu aku bisa tidur cukup nyenyak dan nggak digigit nyamuk. Sempet kebangun sebentar sih karena di semak-semak terdengar suara binatang, nggak tahu apaan, tapi setelah itu ngorok lagi. Oh iya, sekitar jam satu dini hari Alam yang hoby mancing akhirnya dapet ikan kakap merah setelah sebelumnya umpannya bolak-balik digondol gitu aja sama ikan-ikan di laut. Aku salut banget sama tuh anak karena berani banget mancing sendirian di tepi lautan yang gelap gulita itu.
Pagi harinya, kami naik ke bukit karang tempat Alam mancing dan nyoba keberuntungan dengan gantian mancing tapi ampe siang nggak ada yang dapet apa-apa, hanya dapet tengsin doang. Kalau di Segara Anakan kita dibikin terkagum-kagum akan keindahan lagunanya, maka di bukit karang ini gantian jantung kita dibikin berdebar-debar menyaksikan Samudera Indonesia yang begitu biru dan luas seperti tak berujung. Udah gitu, bukit tempat kami berdiri tuh curam banget dengan sudut kemiringan hampir 90 derajat. Untuk melihat ke bawah aja, kami sampe harus merangkak di tanah karena takut nanti jatuh ke lautan lepas.
Kami cabut dari Segara Anakan jam sebelas siang. Walaupun sudah pernah melalui jalan setapak kemarinnya, tapi perjalanan pulang ini buatku agak berat karena sinar matahari udah terik banget. Kaus yang kukenakan aja sampe basah oleh keringatku sendiri dan tenggorokan bawaannya kering mulu. Ironisnya, jalan yang kami lalui masih aja bechek dan tetep nggak ada ojhek yang lewat. Rasanya legaaa bangeeettt ketika akhirnya nyampe di jalan ‘masuk’ yang kemarin kami lalui, berasa lolos dari pulau berhantu gitu. Hmmm…lebay-nya kumat deh.
Walaupun nggak sempet mengeksplore tempat2 yang lain di Pulau Sempu, kayak Karang Bolong, Telaga Lele, Goa Macan dan lain-laine (medoknya kumat) tapi nggak mengurangi kepuasanku berpetualang kali ini. Aku nggak tahu ya, apakah kelak bisa (atau mau…hi hi hi, nggak kuat juga sama capeknya) balik lagi ke Pulau Sempu, kalaupun ternyata hanya bisa sekali aja juga nggak apa-apa. Yang penting udah pernah mendatangi salah satu tempat terindah (menurutku lho ya…) yang ada di muka bumi ini. Gimana, apakah kalian tertarik untuk berpetualang ke Pulau Sempu?
UNTUK FOTO2, silahkan liat DI SINI







anterin donk kesana
Ihwan: boleh2 aja, asalkan saya sedang libur.
bloglodak.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading bloglodak.com every day.
Thanks for visiting and apreciating my blog, its honor for me.
By the way, have you came to Sempu Island?