Waktunya Mengisi Teko

September 27, 2009, Posted by Ihwan at 2:38 am

Sudah hampir setengah jam aku duduk di depan komputer namun aku belum bisa memutuskan mau nulis apa kali ini. Beberapa kalimat tadi udah aku tulis tapi kemudian aku delete lagi, ngerasa nggak pas aja gitu. Nggak tahu kenapa, mungkin aku lagi dalam masa paceklik ide buat ditulis di blogku. Ada sih beberapa kejadian yang aku alami dan itu sebenarnya bisa dituliskan tapi kayaknya terlalu personal untuk dibagi sama temen-temen. Ehm…yakin, masih mau sok jaga privacy? Bukannya belakangan ini status dan quicknote-ku dipenuhi dengan update kisah cinta terlarangku ha ha ha. Ah nggak tahu deh, mungkin ntar aku bisa berubah pikiran dan menuliskannya di blog selanjutnya.

Oh iya, beberapa waktu yang lalu aku dapet kiriman imel dari seorang cewek yang habis baca Xerografer. Cukup surprise juga ya karena ternyata masih ada yang mau baca novelku yang udah tiga tahun lebih terbit itu. Nama cewek itu…..dia bilang kalau suka banget sama Xero, trus juga nanya-nanya dikit gitu deh tentang isi novelku itu. Buat seorang penulis yang udah tiga tahun nggak nerbitin novel karena ditolakin mulu sama penerbit, kiriman imel itu cukup ngasih suntikan semangat buatku.

Oke, aku nggak akan sok jaim lagi. Akan aku kasih sedikit bocoran gimana nasib draft novel2ku selama ini. Draft novel keduaku, yang mana merupakan kelanjutan dari Xerografer, sukses ditolak oleh dua penerbit. Nggak tahu kenapa nasib draftku yang satu ini malang banget. Sama penerbit pertama dulu ditolak dua kali padahal aku udah edit dan rombak habis-habisan tapi masih aja nggak masuk kriteria. Trus sama penerbit kedua lebih tragis lagi. Tiga bulan setelah aku mengirimkannya, aku harus menghadapi kenyataan pahit kalau draft-ku itu ternyata nggak pernah sampe di meja redaksi. Aku nggak tahu siapa yang salah dalam hal ini, mau marah juga kayaknya nggak ada gunanya walopun sebenarnya aku berhak untuk melakukannya. Bayangin aja, yang aku kirimin itu DRAFT ASLI dan itu ngeprintnya nggak pake daun bayarnya. Mungkin juga itu salahku sendiri, ngapain ngirimin yang asli. Yaa, waktu itu keuanganku emang lagi seret jadi musti lebih berhemat. Untungnya penerbit kedua itu masih mau berbaik hati dengan nyuruh aku ngirimin soft copy-nya. Tapi yaa, tetep aja nasibnya nggak berubah. Saat ini aku putusin untuk mengendapkan dulu draft itu, ntar deh kapan-kapan aku edit lagi.

Saat ini aku menaruh harapan besar pada draft yang ketiga, nggak berhenti-hentinya aku berdoa memohon sama Allah agar menerbitkan draft itu tahun ini, Amin. Sambil menunggu jawaban dari penerbit, aku bakalan aktif membaca lagi. Belakangan ini emang sudah juarang atau bisa dibilang nggak pernah lagi membaca buku. Paling-paling yang aku baca itu koran atau tabloid-tabloid infotainment wkwkwkwk, forgive me God. Aku tahu ini nggak bisa dibiarin terus-terusan kayak gini, aku harus segera merubahnya kalau masih mau ingin bertahan di dunia tulis-menulis ini. Ibarat sebuah teko, nggak bisa terus-terusan ngisi gelas di luar sana. Sekarang waktunya untuk mengisi teko itu dengan membaca dan menyerap inspirasi sebanyak mungkin.

Share and Enjoy:
  • Twitter
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

No comment yet.

Leave a Reply








Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

Ihwan Hryant | Create Your Badge
Widget_logo