Kutukan atau Kebetulan Semata

October 23, 2009, Posted by Ihwan at 4:17 am

Sudah pada tahu dong ya tentang prahara yang menimpa rumah tangga KD dan Anang? Banyak pihak yang menyayangkan perceraian mereka, secara rumah tangga mereka udah berjalan lebih dari 13 tahun dan dikarunai dua orang anak. Trus mereka juga sudah ditasbihkan sebagai duet paling romantis yang belum ada tandingannya. Pokoknya nggak lengkap bin nggak afdol deh kalau menyebut nama KD tanpa menyebut nama Anang, begitupun juga sebaliknya.

Jangan kuatir, di sini aku bukannya mau membahas lebih jauh tentang perceraian mereka, apakah benar KD selingkuh sama Rahul Lemos? lalu bagaimana pembagian harta gono-gininya? Biarlah itu menjadi tugasnya Feny Rose dan kawan-kawan.

 

anang-kd

 

Tapi yang mau kubahas adalah pernyataan KD di majalah infotainment yang baru menyadari kalau ternyata kisah hidupnya sekarang ini mirip dengan salah satu lagu hitsnya yang berjudul Menghitung Hari. Kurang lebih begini katanya Mbak Yanti: “Dulu lagu ini mengantarkan saya menjadi diva tapi sekarang lagu ini seperti berbalik ‘menyerang’ saya. Ternyata lagu ini ditujukan buat saya sendiri.”

Setelah itu dibahaslah lirik lagu yang dimaksud dan memang benar adanya, liriknya seperti menggambarkan keadaan KD saat ini.

Pergi saja, cintamu pergi
Bilang saja pada semua
Biar semua tahu adanya
Diriku kini sendiri.

Di hampir semua tayangan infotainment, Ananglah yang lebih banyak ‘berkicau’ kesana kemari, seperti ingin menarik simpati dari publik atas nasibnya sebagai suami yang diselingkuhin istrinya. Nggak cukup hanya itu, saat perayaan Idul Fitri kemarin dia sengaja membawa serta wartawan infotainment untuk meliput acara liburannya ke Bali bersama Auriel dan Azril. Seolah ingin menunjukkan pada public kalau anak-anaknya lebih bahagia ikut bersamanya. Sedangkan KD? Dia lebih banyak diam dan menghindari publikasi, bicara hanya sekali aja pas ngumumin perceraian mereka sama wartawan. Dia tidak mau menerima telepon dari siapa pun, bahkan dari sahabat-sahabatnya sekalipun.

Oke, sampai di situ aja ngomongin mereka berdua sebelum aku ntar kebablasan jadi wartawan infotainment. Bukan hanya KD aja yang merasa mendapat kutukan dari lagunya sendiri, Reza Artamevia, Irianti Eningpraja, Andika Kangen Band dan The Rain juga merasa mengalami hal yang serupa. Lalu hubungan semuanya itu dengan diriku apa?

 

Sabar ya, akan aku jelasin sekarang. Di novel Xerografer ada kisah cinta segitiga antara Budi, Mira dan Nina. Dalam suatu adegan diceritain kalau Budi pergi ke acara Festival Malang Kembali (buat yang belum tahu apa itu FMK, silahkan baca aja novelnya) bersama Ipin dan Reni. Di sana mereka janjian sama Nina, Mira dan Sony. Budi yang sebenarnya menyukai Mira, cemburu berat melihat dia bersama Sony. Akhirnya Budi ‘pelarian’ ke Nina yang memang menyukainya. Aku gambarin si Budi menggandeng tangan Nina dengan mesra di sepanjang acara.

Nah, beberapa waktu yang lalu aku dikenalin sama sobatku, Anam (which is jadi salah satu inspirasiku untuk tokoh Ipin) dengan seorang cewek, sebut aja namanya Tika. Mungkin emang salahku sendiri yang berekspektasi terlalu berlebihan dengan namanya yang terdengar imut dan menarik itu, ketika kami akhirnya ketemuan ternyata dia nggak seperti dalam bayanganku. Tapi karena udah terlanjur ngajak blind date, ya udahlah aku mencoba untuk bersikap gentle dan memperlakukannya dengan baik. Kalian tahu nggak, kemana kami blind date-nya?

Benar sekali tebakan sodara-sodara, kami berdua pergi ke FMK. Dan itu bukan usulku tapi Tika sendiri yang mengajakku ke sana. Karena aku emang belum ke sana, aku sih mau-mau aja. Pas nyampe di sana suasananya ramai oleh para pengunjung, crowded banget lah pokoknya. Awalnya sih kami berjalan beriringan aja, nggak ada sentuhan fisik sama sekali. Trus pas semakin ke tengah otomatis pengunjung juga makin banyak dan berdesak-desakan. Aku mikir, ini kalau nggak hati-hati kami berdua bisa terpisah. Nggak lucu dunk, kalau Tika sampe hilang di tengah-tengah FMK. Akhirnya aku minta ijin untuk menggandeng tangannya, untungnya sih Tika mau. Sumpah, aku sama sekali nggak berniat ambil kesempatan dalam kesempitan, niatku hanya untuk melindunginya saja. Lagian kalau boleh jujur, aku sama sekali nggak menikmati gandengan tangan kami malam itu karena emang aku nggak ada feeling sama Tika. Uppss…sadis banget aku yak. Malahan doi yang nggandengnya tuh erat banget sampe tanganku agak pegel2 gimana gitu setelahnya Di situ aku langsung nyadar, kok kejadiannya mirip ya sama adegannya Budi dan Nina.

 

Pasti kalian bilang itu hanya kebetulan semata. Tunggu dulu, masih ada cerita yang lain lagi. Di novel lanjutannya Xero (yang sampe sekarang masih bingung mau aku edit lagi atau kubiarkan saja memfosil di komputerku), aku ceritain si Budi ketemu sama someone yang sangat berarti dari masa lalunya. Nah, si someone dalam novel ini terinspirasi dari someone dalam kehidupan masa laluku. Kami udah luama banget nggak ketemu dan aku nggak tahu lagi gimana kabarnya saat ini

Nah pas awal-awalnya gabung di fesbuk, secara iseng aku mengetik namanya lengkap di kotak search. And you know what? Aku berhasil menemukannya! Tapi sayangnya doi udah luama nggak aktif, terlihat dari waktu last loginnya yang udah sebulanan lebih. Pikirku, kalau orang udah sebulanan nggak buka fesbuknya pasti bikinnya hanya untuk sekadar punya aja. Apalagi dia hanya memasang dua foto aja, nggak ada album atau pun foto-fotonya yang di-tag sama orang lain. Walaupun begitu aku tetep meng-add dia namun nggak berani berharap banyak, mungkin keinginanku untuk bertemu atau sekedar komunikasi lagi dengannya hanya kesampaian di novel aja.

Kira-kira sebulan kemudian ada notifikasi di fesbukku, yang kasih tahu kalau add-ku diterima sama dia. Yang jelas aku seneng banget, apalagi ketika kami akhirnya bisa saling bertukar kabar meski hanya lewat dunia maya. Ramadhan kemarin kami sempat ketemuan pas dia balik bentar ke Malang sebelum akhirnya dia pergi ke luar Jawa sana untuk meniti karier.

 

Dari dua peristiwa yang kualami dan di alami oleh para selebritis di atas (jadi nggak enak neh, kok kesannya kayak menyamakan diri dengan mereka gitu hi hi hi), aku di hadapkan pada satu pertanyaan yang juga menghampiri para selebritis itu, apakah benar ini suatu ‘kutukan’ atau kah hanya kebetulan semata?
Reza sendiri berpendapat, kadang lagu yang dibawakan dengan penuh perasaan dan penghayatan ibarat sebuah doa yang ditujukan pada Tuhan. Makanya dia sekarang berusaha menghindari lagu-lagu yang mellow karena nggak mau kena ‘kutukan’ untuk kedua kalinya. Dia sendiri mengibaratkan perceraiannya dengan Adjie Massaid seperti kisah dalam lagu Berharap Tak Berpisah.

Aku sih berusaha bijak aja dalam menyikapi hal ini, jika memang ada kejadian dalam novel-novelku selanjutnya yang menjadi kenyataan itu pasti emang udah digariskan sama yang Di Atas, nggak ada yang namanya kebetulan dalam hidup ini. Kalau kejadian yang baik disyukuri dan kalau buruk dianggap sebagai ujian dari Tuhan. Aku nggak mau aja jadi parno untuk bikin cerita yang sad atau dark, nggak tahu kenapa belakangan keinginan itu begitu kuat dalam diriku. Apakah itu representasi dari kebencian dan kekecewaan yang sempat kualami beberapa waktu yang lalu, aku juga nggak tahu. Kalaupun kejadian buruk itu dalam novel itu akhirnya terjadi, setidaknya aku sudah tahu bagaimana cara mengatasinya dari cerita yang sudah kubuat. Betul nggak?

Inilah perbedaannya menulis novel dengan menulis lagu, kalau di dalam lagu mellow kebanyakan hanya berupa ungkapan kekecewaan dan kesedihan atas masalah yang dihadapi, tapi kalau di dalam novel kita dituntut untuk bisa mencari penyelesaiannya juga sekalian. Tapi tolong jangan salah persepsi dan menarik kesimpulan kalau aku menganggap menulis novel lebih baik dari menulis lagu. Karena tiap karya seni mempunyai tingkat kesulitannya sendiri-sendiri dan cara penyampaian pesan yang berbeda-beda satu sama lain.

*gambar diambil dari rujakmanis.com

Share and Enjoy:
  • Twitter
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Currently have 8 Comments

  1. ijin menyimak gan … :)

  2. ehone says:

    Monggo, silahkan…anggep aja di rumah sendiri he3

  3. Bang Aswi says:

    Inilah sulitnya menjalankan profesi yang basic-nya menulis, pada akhirnya harus mengalami hal-hal yang bikin deja vu dan bahkan cenderung ke arah selingkuh. inilah yang harus kita jaga. bismillah….

  4. ehone says:

    Terimakasih Bang atas kunjungannya, moga-moga nggak kapok main di rumah saya yang masih baru ini :)

  5. achoey says:

    katanya
    kata2 itu doa
    jd beneran cerai deh :)

    Lam kenal jua

  6. DV says:

    Hehehe tulisannya menarik… Terlepas dari percaya atau nggak, aku sih berpikir karya seni itu bernyawa.. jadi sebisa mungkin kita sebagai penciptanya (baik lagu, puisi maupun artikel blog) menularkan energi positif instead of energi negatif biar menjadi berkat bagi sesama … dan menghindarkan kutuk:)

    Salam kenal, blog Anda juga keren!

  7. ehone says:

    @ Mas Achoey : makanya kita harus hati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Thanx atas kunjungan baliknya.

    @ Mas Dony: thanx udah berkunjung balik n kasih komen. Tapi desainnya masih bikinan WP Mas he3

  8. Hoyt Hillier says:

    This is a good piece of writing, I discovered your blog page checking yahoo for a similar subject matter and arrived to this. I couldnt get to much alternative information on this blog post, so it was good to find this one. I will probably be returning to look at some other posts that you have another time.

Leave a Reply








Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

Ihwan Hryant | Create Your Badge
Widget_logo