Desta dan Venita
Desta dan Venita berdiri berdampingan di depan jendela apartemen mereka yang terbuka. Angin berhembus pelan malam itu, membelai halus wajah mereka berdua.
“Ven, aku rasa kita perlu bicara malam ini.”
Venita meoleh kea rah Desta dengan pandangan yang aneh. “Kamu kayak mau ngomong sama siapa aja sih, serius banget deh.”
“Ini emang masalah yang serius, ini tentang kita!” ucap Desta sambil menekankan nada bicaranya pada kata terakhirnya.
“Tentang kita? Apalagi sih yang mau kamu bicarain…pasti kamu mau ngelanjutin yang kemarin-kemarin itu kan? Dah ah, capek tahu nggak ngebahasnya?”
“Aku juga udah capek dan muak dengan semua ini!!” tukas Desta setengah membentak. “Aku capek ngomong sampe berbusa-busa tapi nggak pernah kamu dengerin sama sekali. Aku muak melihat tingkah lakumu yang udah kayak perek itu!”
Venita hanya tersenyum mendengarnya, Desta sudah sering menyebutnya perek, pelacur dan sebutan-sebutan yang menghinakan dirinya.
“Terserah kamu mau ngatain aku apa, perek, pelacur, wanita murahan, I don’t give a damn. Its my life, terserah aku mau ngejalaninya kayak apa! Sekali lagi aku bilang sama kamu untuk terakhir kalinya, kamu nggak berhak ngatur-ngatur aku!!”
“Oke, kalau emang kamu nggak mau menghentikannya, jangan salahin jika aku sampai berbuat nekat Ven,” ancam Desta dengan bersungguh-sungguh.
“Emang kamu mau ngelakuin apa? Aku nggak pernah takut dengan semua ancamanmu itu Des.”
“Aku akan buka semua kedokmu, aku akan kasih tahu Kevin, Hasan, Andre dan semua lelaki yang udah kamu tipu itu tentang siapa kamu sebenarnya.”
“Silahkan, itu sama aja kamu mempermalukan dirimu sendiri.”
“Aku nggak peduli, selama ini semua tingkah lakumu itu udah bikin aku malu sama diriku sendiri. Jadi udah nggak ada pengaruhnya lagi buatku.”
Venita terdiam sejenak, dia merasa Desta tidak main-main dengan ucapannya barusan. Egonya yang semula begitu tinggi perlahan mulai menurun.
“Desta, pliss aku mohon jangan lakuin itu. Apalagi sama Kevin, aku cinta beneran sama dia. Cintaku tulus sama tuh anak, bukan hanya nafsu sesaat. Aku nggak mau melukai hatinya. Kamu tahu sendiri kan, hubungan kami udah terlampu jauh.”
“Maka dari itu Ven, sebaiknya kamu tinggalin dia sekarang. Kamu tuh hanya kasih mimpi dan harapan kosong sama dia, kalau dia sampe tahu yang sebenarnya, itu akan lebih menyakitkan buatnya.”
“Nggak! Aku nggak mau Desta! Kamu jangan pernah maksa aku untuk melakukan hal yang nggak mau aku lakukan.”
“Ya udah, aku kan kasih tahu mereka semua sekarang juga,” ucap Desta seraya mengambil hape di saku jeansnya dan mulai mengetikkan sesuatu.
Venita menatap tajam ke arah Desta, tanpa menunggu lebih lama dia langsung merebut paksa hape Desta dan melemparkannya ke luar jendela. Tak lama kemudian terdengar bunyi alarm mobil yang meraung-raung di bawah sana. Rupanya hape Desta jatuh di atas salah satu mobil yang diparkir di sana.
Kemarahan di dalam diri Desta kini benar-benar sudah tak tertahankan lagi. Dia sudah tidak tahan dengan semua kekacauan yang terjadi dalam hidupnya selama ini, dan itu semua disebabkan oleh Venita. Begitu kuat keinginan dalam diri Desta untuk mengenyahkan Venita dari hidupnya namun dia tidak pernah sanggup untuk melakukannya. Ada ikatan emosional antara dia dan Venita yang dia sendiri tidak bisa menjelaskannya.
“Aku tadi hanya kasih kamu dua pilihan, aku kasih tahu mereka siapa kamu yang sebenarnya atau kamu tinggalin mereka semua. Kamu udah menyia-nyiakan pilihan yang pertama, maka sekarang tinggal pilihan yang kedua.” Nampak benar emosi di dalam diri Desta dari raut wajahnya yang tegang dan sorot matanya yang tajam.
“Kamu bayar berapa pun aku nggak akan melakukannya!” tolak Venita tak kalah emosinya.
“Bagaimana kalau aku membayarnya dengan sebuah nyawa?” tanya Desta dengan senyum licik yang mengembang di wajahnya.
“Apa maksudmu?” Venita balik bertanya dengan paniknya.
“Kamu nggak mau kan sesuatu yang buruk menimpa Kevin?”
Venita menampar pipi Desta dengan kerasnya, “Awas kamu, kalau sampai terjadi apa-apa sama Kevin, aku nggak akan pernah memaafkanmu. Inget itu!!”
“Kalau gitu kamu bayar dengan nyawamu sendiri, Ven.”
Belum sempat Venita mencerna maksud perkataan Desta, tiba-tiba saja dia merasakan tubuhnya di tarik dengan kuat oleh Desta keluar jendela. Kedua tangannya berusaha mencari pegangan namun sayangnya sudah terlambat. Hanya dalam hitungan detik, tubuh semampainya langsung terjun ke bawah tertarik oleh gaya gravitasi bumi yang begitu kuat. Kedua matanya melihat deretan mobil-mobil yang diparkir dengan rapinya di bawah sana seakan menyambut tubuhnya yang sebentar lagi akan patah dan hancur tak karuan.
***
Alarm mobil sedan metalik itu berbunyi kembali setelah sebelumnya terdengar suara berdebum akibat sebuah benda berat yang jatuh menimpa tepat di atasnya.. Suaranya yang meraung-raung sangat mengganggu siapa saja yang mendengarnya. Seorang satpam nampak berjalan tergesa-gesa ke parkiran sambil menggerutu sendirian.
“Pasti ini kerjaan anak-anak jalanan itu, dasar sialan! Ganggu tidur gue aja!!”
Umpatan-umpatan yang keluar dari mulut pria paruh baya itu langsung berubah menjadi kalimat istighfar manakala dia mengetahui apa yang menyebabkan mobil milik salah penghuni apartemen itu berbunyi lagi. Satpam itu begitu terperanjat ketika melihat tubuh seorang pria terkapar di atas mobil sedan metalik yang tadi sempat berbunyi oleh sebuah hape yang dijatuhkan dari atas. Melihat kondisi badannya yang mengenaskan dan bagian depan mobil yang lumayan penyok pasti pria itu terjatuh dari lantai apartemen yang yang paling atas. Dengan kaki gemetaran satpam itu langsung balik lagi menuju apartemen untuk mencari bantuan.







pertamax ga ya??