Menyelami Dunia Gambir (Pintu Terlarang)

November 27, 2009, Posted by Ihwan at 12:44 pm

akoer_pintu-terlarang

Sebenarnya aku sudah lama tertarik pengin melihat film dan membaca novelnya sekaligus. Yang pertama bikin tertarik sih karena filmnya disutradarai Joko Anwar, siapa sih yang nggak kenal dia. Kemampuannya sebagai seorang sutradara nggak perlu diragukan lagi, aktingnya juga oke (di film Babi Buta yang Ingin Terbang) trus..masih inget dong ya dengan aksi gilanya bertelenji ria dia Circle K. Trus yang kedua, pemeran utamanya adalah pasangan Fachri Albar dan Marsha Timoty. Suka aja liatnya, sama-sama cakep dan serasi. Otomatis saat membaca novel ini aku membayangkan mereka berdua.

Oke, mari kita mulai memasuki sketsa yang pertama, yaitu dunia Gambir. Gambir adalah seorang pematung yang baru saja mengadakan pameran perdananya yang bertajuk Maternal Moods. Pameran Gambir sukses besar, patung-patung wanita hamil ciptaannya mendapat apresiasi yang tinggi dan dibeli dengan harga yang mahal. Kesuksesan Gambir tak lepas dari dukungan dan sumber inspirasi sang istri, Talyda. Talyda sendiri seorang wanita cantik, cerdas dan perfeksionis, dia mewarisi sebuah perusahaan periklanan Admagic dari mendiang papanya. Sayangnya ada yang kurang dari rumah tangga Gambir-Talyda, yaitu belum hadirnya seorang anak. Talyda memang tidak ingin mempunyai anak, karena baginya mengandung dan merawat bayi hanya akan menyusahkan dan menghalangi laju karirnya. Padahal ibu Gambir sudah lama ingin menimang cucu darinya.

Di sketsa kehidupan kedua, ada seorang anak umur sembilan tahun yang menjadi korban domestic violence yang dilakukan kedua orang tua kandungnya sendiri. Tiap akhir pekan dia selalu mendapat penyiksaan baik fisik maupun mental.

Sketsa yang terakhir menghadirkan Pusparanti, wartawati majalah Em, sebuah majalah terbitan ibukota yang mempunyai oplah cukup tinggi. Dia sedang melakukan penelitian tentang seorang lelaki yang di masa kecilnya menjadi korban domestic violence juga. Jalinan asmaranya dengan Dion, seorang fotografer yang duda beranak satu tak mendapat persetujuan dari ibu tercintanya.

Ketiga sketsa ini dihadirkan secara bergantian, yang paling menarik adalah sketsa Gambir karena terasa lebih hidup dan menantang, apalagi di sana terkuak apa gerangan yang membuat patung-patung buatan Gambir nampak hidup dan bernyawa. Aku agak malas jika gilirannya sketsa si anak umur sembilan tahun, soalnya nggak habis pikir aja kok ada sih orang tua yang sekejam itu sama anak kandungnya. Sketsa Ranti, pada awalnya terasa datar dan sedikit membosankan tapi memberikan twist yang cukup mengejutkan di akhir cerita.

Dari semua novel Sekar Ayu Asmara yang pernah kubaca, kayaknya ini yang paling bagus. Beliau tetap dengan ciri khasnya tersendiri, yaitu menggarap tema penyakit-peyakit jiwa yang sangat menarik namun agak kurang komersil. Gaya penulisannya yang puitis dan suka memakai kata-kata yang tak lazim digunakan tidak terlalu banyak di sini. Yang paling menonjol adalah pengulangan beberapa paragraf yang secara tidak langsung seperti memberikan sugesti pada pembacanya. Sugesti yang paling ngena adalah miliknya Talyda: Kesempurnaan bukanlah bintang yang niscaya gemintang di pundak malam. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.

Hmmm…jadi makin pengin neh liat filmnya, pasti nggak kalah menarik. Tadi sempet gugling resensinya, tentu aja ada perbedaan jalan cerita karena memang Sekar Ayu Asmara sendiri memberikan kebebasan sepenuhnya pada Joko Anwar dalam menginterprestasikan novelnya ke dalam film.

Share and Enjoy:
  • Twitter
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Currently have 6 Comments

  1. sinta says:

    udah baca novelnya, tapi pas nyari filmnya gak dapet. endingnya keren banget…waktu dia bunuh Talyda dan masukin bayi ke dalam perutnya. pas rasanya

  2. Ihwan says:

    Kalo nyari ya ga dapat-dapat, kalo beli pasti dapat he3

    Upzt, Sinta kok nyopoiler…
    Tapi emang mantap, bener-bener klimaks yang memuaskan !!

  3. Bang Aswi says:

    saya menggemari kata-kata puitis yang mengandung sebuah nilai yang bernas. kesempurnaan … di pundak malam, adalah kata-kata yang bernas. luar biasa! sama halnya dengan kesempurnaan bulan meski cahayanya hanya pinjaman sang matahari….

  4. Ihwan says:

    Bang Aswi: kalo saya milih yang sedang-sedang aja Mas, soalnya nggak ngerti kalo yang dalam bahasanya he3

  5. demoffy says:

    Wah..jadiu teringat ama Harry Potter and The Chamber of Secret tuh..

  6. Ihwan says:

    Hmmm…Harpot Mania ya?

    Salam kenal dan thanx udah mampir di blog saya.

Leave a Reply








Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

Ihwan Hryant | Create Your Badge
Widget_logo