Pijat Plus Plus ala Mbah Gondho
Blog ini adalah lanjutan dari blog sebelumnya: Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran yang mendalam…boong banget, padahal hanya perlu waktu setengah jam buatku mutusin untuk memijatkan kakiku yang cedera ke tukang pijat urat. Nggak peduli deh sama sakitnya daripada cederaku ini ntar malah jadi tambah parah.
Nama tukang pijat urat itu adalah Mbah Gondho. Wuiiiih namanya horor banget yak? Ngingetin sama tokoh-tokoh antagonis di sandiwara radio 80an, seperti Mak Lampir, Grandong dan kawan-kawan.
Aku sama Bibi berangkat ke rumahnya Mbah Gondho sehabis Isya, ya sekitar jam tujuhan lah. Kami sempat kesasar karena Bibiku udah agak lupa letak rumahnya.
Ketika sampai di rumahnya kami disambut istrinya Mbah Gondho, orangnya udah paruh baya gitu deh. Kami lalu dipersilahkan duduk sambil menunggu Mbah Gondho yang masih ada di dalam.
Mbah Gondho orangnya berperawakan sedang dengan tubuh lumayan berisi untuk ukuran orang setua beliau. Kulit agak gelap, suaranya dalam dan berwibawa. Nggak tahu kenapa aku serem aja liatnya, mungkin karena terpengaruh sugestiku sendiri.
Beliau lalu menanyakan keluhanku apa, udah berapa lama dideritanya. Aku ceritain deh kronologis kejadiannya, mulai dari A sampe A lagi he he he mbulet dunk ya?
Mbah Gondho lalu memintaku menjulurkan lidah kaki kananku, lalu dipegang dan dirabanya kakiku.
“Wah, nanti sakit ini mijatnya…” ujar Mbah Gondho sambil terkekeh-kekeh padaku. Aku mendengarnya langsung down gitu, si Mbah jujur banget sih jadi orang. Kenapa aku nggak dibohongin aja sih biar nggak keder duluan.
Kukira aku bakalan di pijat di dalam kamarnya atau ada tempat khusus tapi ternyata ya di ruang tamu itu. Karena mijatnya nanti sampe di bagian paha juga sementara aku pake pencil jeans which is hanya bisa dinaikkan sampe betis maka aku disuruh ganti dengan sarung.
Dengan hati deg-degan aku duduk berselonjor di kursi panjang, sementara Mbah Gondho berada di ujung kakiku.
“Ini sakit nggak?” tanya Mbah Gondho sambil mijet ujung jari telunjuk kakiku.
“Aah…aah…sakit Mbah…” rintihku. Aku sendiri heran, padahal si Mbah mijetnya nggak keras tapi ujung jariku rasanya kayak dijepit besi gitu.
“Masa sih diginikan aja sakit…?” tanya Mbah Gondho sambil mijat lagi, kali ini gantian jari tengahku.
“Aduh Mbah, sakit beneran…” Si Mbah lagi-lagi hanya terkekeh melihatku meringis kesakitan.
Sumpah, bukannya aku lebay atau apa, aksi Mbah Gondho yang seenaknya mijet-mijet jariku sambil terkekeh-kekeh tanpa peduli rasa sakit yang kurasakan, membuatku serasa ngadepin psycho sejenis Hanibal Lecter.
Pijatan di ujung jari itu hanyalah pemanasan, pijatan selanjutnya adalah menu utama yang mau nggak mau harus aku nikmatin. Rasanya sakit banget ketika Mbah Gondho memijat ruas jari manisku yang cedera itu, kata beliau sih salah satu uratku ada yang salah posisinya, yaitu menumpuk di urat sebelahnya. Whatever lah, yang penting kakiku sembuh dan bisa main capoeira lagi dengan nyaman. Sambil mijatin kakiku, Mbah Gondho ngajakin aku ngobrol. Mungkin tema obrolan disesuaikan sama usia pasiennya kali ya, berhubung aku cowok, masih muda dan cakep tentunya (yang baca nggak boleh protes) maka yang diobrolin ya masalah cewek. Beliau nanya sama aku definisi cewek cantik itu dinilai dari apanya. Berhubung aku manusia biasa, punya dua mata minus dan silinder, aku jawab aja dinilai dari wajahnya. Aku tahu sih, jawabanku tuh dangkal banget bin nggak berkualitas. Tapi masa bodoh deh ya, rasa sakit akibat pijatan Mbah Gondho membuat otakku males berpikir berat-berat. Lain ceritanya kalau aku lagi jadi juri Miss Universe, tentu dengan mantap akan kujawab bahwa seorang cewek cantik itu dinilai dari 3B-nya, yaitu Br**st, B*tt*ck and B*k*n*. Ha ha ha dasar juri nggak bermoral.
Mungkin Mbah Gondho ini nggak mau kalah sama panti-panti pijat yang kasih layanan plus-lus pada konsumennya, maka selain pijatan aku pun dikasih bonus berupa petuah dan nasihat menurut Falsafah Jawa. Mulai dari kasih jawaban yang bener bout definisi cewek cantik, gimana kita harus berbhakti sama orang tua hingga how to be a gentle man. Sayangnya, Mbah Gondho ngomongnya sering pake Bahasa Jawa Krama Inggil yang aluuus banget. Kadang karena nggak ngerti apa maksudnya, aku hanya manggut-manggut aja hi hi hi.
Seperti yang dibilang Mbah Gondho tadi, walaupun yang sakit itu hanya ruas jari manisku aja tapi yang dipijat itu harus keseluruhan karena urat-urat di kaki berhubungan sama urat-urat di atas. Maka dipijatlah aku mulai dari ujung kaki sampai pangkal paha, serius nggak bohong aku! Aku sendiri sebenarnya agak heran, yang biasa kudengar itu kalau pijat urat hanya titik-titik tertentu aja yang dipijat tapi kok ini sampe pangkal paha bagian dalam segala. Kalau pijatan di telapak kaki, betis dan paha bawah sukses bikin aku meringis sampai hampir menangis kesakitan maka pijatan di pangkal paha bagian dalam bikin aku ketawa-tawa kegelian bin keenakan ha ha ha mesum banget.
Habis kaki kanan dipijat, giliran kaki kananku. Karena nggak cedera maka mijatnya nggak banyak-banyak. Lalu naik ke kedua tangan, punggung dan pundak. Waktu di pijat bagian pundak tuh rasanya rileks banget, otot-otot yang tadinya kaku jadi lemes. Oh iya, aku sempet nanya sama Mbah Gondho dari mana beliau belajar mijat urat tapi sayangnya nggak dijawab. Malah dialihkan ke topik yang lain. Mungkin Mbah Gondho takut aku ikutan belajar dan nyaingin dese kali ya bo? (idiiih sok-sok pake dese segala)
Pemijatan baru berakhir sekitar pukul setengah sembilan, gilaaa pijat urat sampe satu setengah jam sendiri. Padahal aku dulu pernah pijat di tuna netra hanya sekitar satu jam. Karena Mbah Gondho ini termasuk pemijat indie alias nggak ikutan di panti-panti maka untuk tarifnya terserah kita mau bayar berapa. Yaa yang sepantasnya lah, kita harus bisa menyesuaikan sendiri sama tingkat keparahan sakit yang kita derita Kalau emang ngerasa puas nggak ada salahnya kasih bonus dan dipromoin ke temen. Itung-itung membalas budi sama orang yang sudah menolong kita sembuh dari sakit.







Wah pijat tradisional begini menyenangkan ya, Mas.
Saya waktu masih di Indonesia dulu sangat gemar pijat refleksi yang merebak dimana-mana, tapi setelah pindah kemari, cuma nemuin pijat-pijat chinna yang susah diukur enak-tidaknya dibanding yang kita punya.
Apalagi pijat tradisional begini.. secara teknis dan penyajian mereka barangkali kalah dibanding yang modern, tapi petuah-petuahnya itu yang tetap bikin asri dan ngangeni!
Nice posting, Mas!
Coba ya ada investor yang mau menampung para pemijat tradisional itu, pasti pijat tradisional indonesia ga kalah sama pemijatan ala china.
Saya sendiri sudah terbiasa dipijat, mulai dari Emak2 sampai Mbah2. Dan memang, pemijat yang profesional adalah mereka yang mampu memijat minimal 1 jam dan itupun tidak terasa karena begitu dinikmati. Dan biasaya, mereka juga kecapekan sehingga harus disiapin wejangan seperti kopi/teh dan penganan lainnya. Uenak kan?
mgkin bagi smw orang pijat itu baik….tapi sugessti di otak ku mengatakan…bahwa pijat kurang baik….bagi kesehatan…jd dari dlu sangat” jrg skali dpijat….
pijat…………….hmm aku sukabanget di pijat
salam hangat selalu
@ Bang Aswi: Kalo menurut Mbah Gondho sendiri lama cepatnya waktu memijat tergantung parah tidaknya sakit yang diderita. Beliau pernah memijat penderita stroke selama hampir 3 jam! dan katanya ada hasilnya lho.
Wah, berhubung saya pijatnya di rumah Mbah Gondho maka saya yang malah dikasih suguhan air teh hangat he3
@ Popo: kenapa kok bisa punya sugesti kayak gitu? apa punya pengalaman buruk gara-gara pijat?
@ Dobleh: kalo aku sih biasa aja sebenarnya, soalnya suka nggak tahan sakitnya sih he3