A Tribute to Amin
Hari Minggu kemarin dapat kabar yang cukup mengejutkan buatku, salah seorang guru di SD tempatku sekolah dulu meninggal dunia. Walaupun yang meninggal bukan guru yang pernah mengajarku dulu, tapi hal itu tetap mengejutkan karena usianya yang masih tergolong muda. Masih di bawahku malahan.
His name is Amin. Aku nggak tahu nama lengkapnya siapa. Aku emang nggak mengenal dia secara personal, hanya sekedar tahu aja. Kebetulan kalau pas bulan Ramadhan gitu, kami sering tadarus bareng. Caranya membaca Al-Quran bagus dan tartil, suaranya juga merdu. Jujur aku suka dengernya walau kadang sering ngantuk kalau nunggu giliran baca soalnya kalau baca tartil gitu suka lama. Selain kelebihannya dalam membaca Al Quran, aku juga bersimpati pada sikapnya yang lebih dewasa daripada umurnya. Mungkin karena terbawa tuntutan profesinya sebagai guru olahraga kali ya, harus bersikap tegas dan penuh wibawa.
Menurut kabar dari temen yang bisa kupercaya, Amin meninggal karena serangan jantung. Semua orang nggak menyangka kalau orang semuda Amin bisa terkena pembunuh paling mematikan di Indonesia tersebut. Apalagi selama ini Amin keliatan segar bugar, bahkan pagi harinya dia masih mengajar olahraga murid-muridnya.
Yaa, kematian memang tidak pandang bulu. Dia bisa datang pada siapa aja, mau tua atau muda, kaya maupun miskin, kalau emang sudah saatnya dipanggil Sang Kuasa nggak akan bisa ditunda barang sedetikpun. Tapi tetap disayangkan juga, aku yakin kalau orang seperti Amin masih bisa membawa banyak kebaikan jika dia diberi umur yang lebih panjang oleh Allah. Memang sih ada ungkapan bahwa orang baik itu biasanya wafat lebih cepat, tapi buatku mending para koruptor itu aja yang dipanggil supaya mereka nggak semakin merugikan bangsa dan negara ini.
Yang makin menambah ironi adalah pada bulan Maret tahun ini, Amin rencananya akan menikah dengan tunangannya. Hmm…manusia emang hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan. Semoga gadis itu diberi ketabahan dalam menerima cobaan berat ini.
Aku masih inget, dulu pas aku datang ke sekolah untuk meminta legalisir buat keperluan di kantor, Aminlah yang nganterin map berisi fotocopy ijazahku ke ruang Kepala Sekolah.
“Selamat ya Mas, udah diangkat jadi PNS,” begitu ucapnya saat memberikan map itu padaku.
“Terimakasih, samean sendiri gimana? Udah terdata juga kan?”
“Sudah kok Mas, doain saya biar cepet nyusul.”
Kalau inget percakapan kami yang hanya sebentar itu aku jadi makin trenyuh. Dia jauh-jauh merantau dari Probolinggo untuk kuliah setelah lulus dari pondok, trus akhirnya diterima mengajar di sekolah tempat dia KKN. Meski hanya sebagai GTT, tapi aku liat dia berdedikasi tinggi pada profesinya. Aah, lagi-lagi aku merasa hidup ini kadang nggak adil.
Amin, Semoga Allah menerima semua amal ibadah dan kebaikanmu dan mengampuni semua dosa dan kesalahanmu. Aku yakin kamu sekarang sudah berada di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin.







ikut berduka cita ya…