Mimpi-Mimpi Anak Belitong

Akhirnya kesampaian juga nonton Sang Pemimpi setelah sebelumnya tertunda pas acara ultah adik sepupuku kemarin. Masuk ke studio agak terlambat dikarenakan urusan teknis yaitu hujan yang belakangan ini mulai sering mengguyur kota Malang. Itu aja udah bersyukur banget karena sebenarnya hampir batal karena temen yang kuajak nonton masih disibukkan dengan kerjaannya.
Oke, udah cukup intermezonya. lets talk about the movie.
Pas aku masuk studio, filmnya udah nyampe di adegan Ikal dewasa yang lagi ngomongin sepupunya, Arai, yang tiba-tiba hilang entah ke mana. Ikal merasa sudah ‘ditipu’ oleh Arai dengan impian tinggi mereka untuk bisa kuliah di Sorbone. Penonton kemudian dibawa mundur ke tahun 1985,masa di mana Ikal menempuh pendidikan SMA bersama Arai dan Jimbron di Manggar.
Arai sendiri sebenarnya hanyalah sepupu jauh Ikal. Di usianya yang masih belia harus menerima takdir untuk hidup sebatang kara,dalam budaya Melayu disebut sebagai Simpai Keramat. Meskipun begitu, Arai tidak pernah kehilangan semangat hidupnya. Malahan Ikal yang sebelumnya masih dirundung kesedihan karena kehilangan Lintang, sahabat sekaligus sumber inspirasinya,menjadi terhibur dan ceriakembali semenjak kehadiran Arai. Jimbron sendiri setalitiga uang dengan Arai. Ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung di depan mata kepalanya sendiri dan sejak saat itu dia menjadi gagap.Untungnya ada Pendeta Geovanny yang merawat dan membesarkannya.
Karena di Belitong belum ada sekolah setingkat SMA, maka Ikal, Arai dan Jimbron un harus melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 1 Manggar. Walaupun lepas dari pengawasan orangtua, namun mereka tetap belajar dengan rajin. Tak hanya itu, demi mewujudkan impian mereka untuk kuliah di Jakarta, mereka bekerja serabutan sehabispulang sekolah.
Layaknya para remaja yang masih labil dan mencari jati diri,ada kalanya mereka melakukan kenakalan yang membuat Pak Mustar, sang kepala sekolah berang setengah mati. Ada saja ulah mereka,mulai kabur dari sekolah hingga nekat menonton film panas di bioskop. Pak Mustar memang dikenal galak dan keras dalammendidik para murid.
Untunglah ada Pak Ichsan Balia, guru muda yang menjadi idola para murid karena cara mengajarnya yang menyenangkan dan selalu memberi semangat untuk menggantungkan mimpi setinggi mungkin.
![sang-pemimpin05[1] sang-pemimpin05[1]](http://bloglodak.com/wp-content/uploads/2010/01/sang-pemimpin051.jpg)
Seperti halnya Laskar Pelangi, film ini memberikan begitu banyak inspirasi dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Aku salut banget sama Ikal, Arai dan Jimbron yang tetap semangat belajar walau hidup dalam keterbatasan. Aku nggak bisa bayangin apakah bisa survive kalau harus mengalami nasib seperti mereka. Mereka bahkan ‘berani’ bermimpi untuk menuntut ilmu hingga ke Sorbone. Sebuah mimpi yang mungkin terdengat sangat naif dan nggak realitis banget. Pelajaran tentang toleransi antar umat beragama ditunjukkan oleh Pendeta Geovanny yang tetap menyuruh Jimbron taat menjalan agama Islam.
Kalau dari segi kualitas akting para pemainnya cukup memuaskan, terutama Achmad Saifullah. Dia nampak natural banget ngebawain karakter Arai yang penuh mimpi, cerdas tapi juga sedikit tengil. Vikri Setiawan juga oke, dia bisa nampilin emosi seorang Ikal yang masih bimbang antara menggapai mimpi yang begitu tinggi dan realistis dengan keadaannya yang serba terbatas. Kalau Azwir Fitrianto masih kurang culun dan lepas aja meranin si Jimbron. Gagapnya kurang natural. Ya nggak harus segagap si Azis Gagap sih he3, coba naikkin dikit gagapnya pasti lebih oke.
Lukman Sardi, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka masih dengan kualitas akting yang cukup prima. Tapi kalo boleh jujur, sejak Laskar Pelangi menurutku kurang pas aja kalau Ikal dewasa diperankan sama Lukman Sardi. Face-nya nggak sesuai bayanganku, agak ketuaan dan kurang Melayu. Ariel dan Nugie tampil cukup meyakinkan di debut akting pertamanya. Mereka bisa melepas sejenak kharisma sebagai anak band.
Minus yang cukup disayangkan adalah soundtrack yang kurang greget. Jujur, aku nggak bisa dapet feel dan semangat seperti yang berhasi ditularin sama Nidji di Laskar Pelangi. Untungnya ada aksi yang cukup menghibur dari Jay Widjayanto sebagai Bang Zaitun, penyanyi Melayu beristri empat dan Arai saat menyanyi di depan kamar gadis pujaannya Zakiah Nurmala.














just say : blum nonton …..
@ mas afwan: wah cepetan mas nonton, bagus kok filmnya. Ntar keburu hilang lho dari bioskop he3
sang pemimpi yang selalu bermimpi, he