<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bloglodak.com &#187; capoeira</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/category/capoeira-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>i love blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Jul 2010 04:50:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>bloglodak.com</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>Pijat Plus Plus ala Mbah Gondho</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 02:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Mbah Gondho]]></category>
		<category><![CDATA[pijat plus plus]]></category>
		<category><![CDATA[pijat urat]]></category>
		<category><![CDATA[salah urat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Blog ini adalah lanjutan dari blog sebelumnya: Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran yang mendalam…boong banget, padahal hanya perlu waktu setengah jam buatku mutusin untuk memijatkan kakiku yang cedera ke tukang pijat urat. Nggak peduli deh sama sakitnya daripada cederaku ini ntar malah jadi tambah parah.
Nama tukang pijat urat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog ini adalah lanjutan dari blog sebelumnya: <a href="http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/">Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat.</a></p>
<p>Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran yang mendalam…boong banget, padahal hanya perlu waktu setengah jam buatku mutusin untuk memijatkan kakiku yang cedera ke tukang pijat urat. Nggak peduli deh sama sakitnya daripada cederaku ini ntar malah jadi tambah parah.</p>
<p>Nama tukang pijat urat itu adalah Mbah Gondho. Wuiiiih namanya horor banget yak? Ngingetin sama tokoh-tokoh antagonis di sandiwara radio 80an, seperti Mak Lampir, Grandong dan kawan-kawan.<br />
Aku sama Bibi berangkat ke rumahnya Mbah Gondho sehabis Isya, ya sekitar jam tujuhan lah. Kami sempat kesasar karena Bibiku udah agak lupa letak rumahnya.<br />
Ketika sampai di rumahnya kami disambut istrinya Mbah Gondho, orangnya udah paruh baya gitu deh. Kami lalu dipersilahkan duduk sambil menunggu Mbah Gondho yang masih ada di dalam.</p>
<p>Mbah Gondho orangnya berperawakan sedang dengan tubuh lumayan berisi untuk ukuran orang setua beliau. Kulit agak gelap, suaranya dalam dan berwibawa. Nggak tahu kenapa aku serem aja liatnya, mungkin karena terpengaruh sugestiku sendiri.<br />
Beliau lalu menanyakan keluhanku apa, udah berapa lama dideritanya. Aku ceritain deh kronologis kejadiannya, mulai dari A sampe A lagi he he he mbulet dunk ya?<br />
Mbah Gondho lalu memintaku menjulurkan <del datetime="2009-11-15T02:50:21+00:00">lidah</del> kaki kananku, lalu dipegang dan dirabanya kakiku.<br />
“Wah, nanti sakit ini mijatnya…” ujar Mbah Gondho sambil terkekeh-kekeh padaku. Aku mendengarnya langsung down gitu, si Mbah jujur banget sih jadi orang. Kenapa aku nggak dibohongin aja sih biar nggak keder duluan.</p>
<p>Kukira aku bakalan di pijat di dalam kamarnya atau ada tempat khusus tapi ternyata ya di ruang tamu itu. Karena mijatnya nanti sampe di bagian paha juga sementara aku pake pencil jeans which is hanya bisa dinaikkan sampe betis maka aku disuruh ganti dengan sarung.<br />
Dengan hati deg-degan aku duduk berselonjor di kursi panjang, sementara Mbah Gondho berada di ujung kakiku.<br />
“Ini sakit nggak?” tanya Mbah Gondho sambil mijet ujung jari telunjuk kakiku.<br />
“Aah…aah…sakit Mbah…” rintihku. Aku sendiri heran, padahal si Mbah mijetnya nggak keras tapi ujung jariku rasanya kayak dijepit besi gitu.<br />
“Masa sih diginikan aja sakit…?” tanya Mbah Gondho sambil mijat lagi, kali ini gantian jari tengahku.<br />
“Aduh Mbah, sakit beneran…” Si Mbah lagi-lagi hanya terkekeh melihatku meringis kesakitan.<br />
Sumpah, bukannya aku lebay atau apa, aksi Mbah Gondho yang seenaknya mijet-mijet jariku sambil terkekeh-kekeh tanpa peduli rasa sakit yang kurasakan, membuatku serasa ngadepin psycho sejenis Hanibal Lecter.</p>
<p>Pijatan di ujung jari itu hanyalah pemanasan, pijatan selanjutnya adalah menu utama yang mau nggak mau harus aku nikmatin. Rasanya sakit banget ketika Mbah Gondho memijat ruas jari manisku yang cedera itu, kata beliau sih salah satu uratku ada yang salah posisinya, yaitu menumpuk di urat sebelahnya. Whatever lah, yang penting kakiku sembuh dan bisa main capoeira lagi dengan nyaman. Sambil mijatin kakiku, Mbah Gondho ngajakin aku ngobrol. Mungkin tema obrolan disesuaikan sama usia pasiennya kali ya, berhubung aku cowok, masih muda dan cakep tentunya (yang baca nggak boleh protes) maka yang diobrolin ya masalah cewek. Beliau nanya sama aku definisi cewek cantik itu dinilai dari apanya. Berhubung aku manusia biasa, punya dua mata minus dan silinder, aku jawab aja dinilai dari wajahnya. Aku tahu sih, jawabanku tuh dangkal banget bin nggak berkualitas. Tapi masa bodoh deh ya, rasa sakit akibat pijatan Mbah Gondho membuat otakku males berpikir berat-berat. Lain ceritanya kalau aku lagi jadi juri Miss Universe, tentu dengan mantap akan kujawab bahwa seorang cewek cantik itu dinilai dari 3B-nya, yaitu Br**st, B*tt*ck and B*k*n*. Ha ha ha dasar juri nggak bermoral.</p>
<p>Mungkin Mbah Gondho ini nggak mau kalah sama panti-panti pijat yang kasih layanan plus-lus pada konsumennya, maka selain pijatan aku pun dikasih bonus berupa petuah dan nasihat menurut Falsafah Jawa. Mulai dari kasih jawaban yang bener bout definisi cewek cantik, gimana kita harus berbhakti sama orang tua hingga how to be a gentle man. Sayangnya, Mbah Gondho ngomongnya sering pake Bahasa Jawa Krama Inggil yang aluuus banget. Kadang karena nggak ngerti apa maksudnya, aku hanya manggut-manggut aja hi hi hi.</p>
<p>Seperti yang dibilang Mbah Gondho tadi, walaupun yang sakit itu hanya ruas jari manisku aja tapi yang dipijat itu harus keseluruhan karena urat-urat di kaki berhubungan sama urat-urat di atas. Maka dipijatlah aku mulai dari ujung kaki sampai pangkal paha, serius nggak bohong aku! Aku sendiri sebenarnya agak heran, yang biasa kudengar itu kalau pijat urat hanya titik-titik tertentu aja yang dipijat tapi kok ini sampe pangkal paha bagian dalam segala. Kalau pijatan di telapak kaki, betis dan paha bawah sukses bikin aku meringis sampai hampir menangis kesakitan maka pijatan di pangkal paha bagian dalam bikin aku ketawa-tawa kegelian bin keenakan ha ha ha mesum banget.</p>
<p>Habis kaki kanan dipijat, giliran kaki kananku. Karena nggak cedera maka mijatnya nggak banyak-banyak. Lalu naik ke kedua tangan, punggung dan pundak. Waktu di pijat bagian pundak tuh rasanya rileks banget, otot-otot yang tadinya kaku jadi lemes. Oh iya, aku sempet nanya sama Mbah Gondho dari mana beliau belajar mijat urat tapi sayangnya nggak dijawab. Malah dialihkan ke topik yang lain. Mungkin Mbah Gondho takut aku ikutan belajar dan nyaingin dese kali ya bo? (idiiih sok-sok pake dese segala)</p>
<p>Pemijatan baru berakhir sekitar pukul setengah sembilan, gilaaa pijat urat sampe satu setengah jam sendiri. Padahal aku dulu pernah pijat di tuna netra hanya sekitar satu jam. Karena Mbah Gondho ini termasuk pemijat indie alias nggak ikutan di panti-panti maka untuk tarifnya terserah kita mau bayar berapa. Yaa yang sepantasnya lah, kita harus bisa menyesuaikan sendiri sama tingkat keparahan sakit yang kita derita Kalau emang ngerasa puas nggak ada salahnya kasih bonus dan dipromoin ke temen. Itung-itung membalas budi sama orang yang sudah menolong kita sembuh dari sakit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[pijat urat]]></category>
		<category><![CDATA[salah urat]]></category>
		<category><![CDATA[senzala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Saat latihan capoeira sebulan yang lalu, aku mengalami sedikit cedera kaki ketika latihan Jumping. Latihan ini dilakukan berpasangan dimana kami harus bergantian melompati satu sama lain. Untuk yang beginner cukup melompat setinggi pinggang aja, jadi teman yang dilompati membungkuk membelakangi kita. Sedangkan yang medium dan expert harus melompat setinggi badan pasangannya. Karena aku udah 6 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat latihan capoeira sebulan yang lalu, aku mengalami sedikit cedera kaki ketika latihan Jumping. Latihan ini dilakukan berpasangan dimana kami harus bergantian melompati satu sama lain. Untuk yang beginner cukup melompat setinggi pinggang aja, jadi teman yang dilompati membungkuk membelakangi kita. Sedangkan yang medium dan expert harus melompat setinggi badan pasangannya. Karena aku udah 6 bulan latihan maka aku harus melakukan latihan Jumping yang kedua. Dulu aku sudah pernah mencobanya tapi gagal soalnya mentalku belum siap alias nggak berani he3. Ketika sudah sampai di dekat temanku, bukannya langsung melompat eh malah kakiku langsung ngerem cakram.</p>
<p>Nah, berhubung sore itu ada junior-junior malu dong ya kalau sampai nggak bisa melakukannya. Maka aku pun berusaha mengsugesti diriku sendiri bahwa aku pasti bisa melompati temenku. Kebetulan aku berpasangan sama Nazhary, tinggi badannya sama dengan sekitar 160 cm.</p>
<p>Kalo nggak salah waktu itu Nazhary duluan  yang melompati aku tapi nggak bisa. Kayak aku dulu, rupanya dia belum siap atau nggak yakin bisa melompatiku. Pas giliranku, sengaja aku cari tempat ancang-ancang yang agak jauh supaya bisa mendapatkan tenaga tolakan yang besar sehingga bisa melompat setinggi mungkin.</p>
<p>Aku lihat Nazhary yang berdiri membelakangiku dengan pandangan penuh focus. Kuulang-ulangi sugesti di dalam diriku bahwa aku pasti bisa melompati badan Nazhary.  Bisa bisa bisaaa…!!</p>
<p>Aku mulai berlari kea rah Nazhary, semakin lama semakin cepat dan ketika sudah mendekatinya kutumpukan kedua tanganku di pundak Nazhary dan langsung kuangkat kedua kakiku saat itu juga. Ajaib! Tiba-tiba saja aku merasa kayak ada yang mendorong badanku ke atas, kayak memantul gitu. Rasanya bener-bener lepas banget ketika badanku melayang di atas kepala Nazhary. Berasa kayak harimau yang melompat hendak menerkam mangsanya, halaah lebay.</p>
<p>Yess!! Pekikku dalam hati begitu kedua kakiku menginjak tanha lagi. Iam really-really feel great dan masih nggak percaya kalau aku ternyata bisa melompat setinggi itu. </p>
<p>Pas aku mengulanginya untuk kedua kali aku bisa melakukannya lagi, Nazhary yang tadinya nggak bisa ikut termotivasi dan akhirnya bisa juga melakukannya. Namun sayangnya pas ketiga kalinya aku melakukan kesalahan saat landing, kaki kananku terpeleset oleh rerumputan yang basah oleh hujan.  Akibatnya kaki kananku tertarik ke belakang dengan jari manis yang tertekuk.  Rasanya sih nggak begitu sakit waktu itu makanya aku hanya menganggapnya sepele.</p>
<p>Kesleo di kaki kananku itu hanya aku obatin dengan mengoleskan salep penghilang rasa nyeri, terutama di ruas jari manis karena di bagian itulah yang paling nyeri. Kalau dipakai buat jalan atau tertekuk gitu rasanya sakit.  Aku baru tahu ternyata mata kakiku sampe menghitam gara-gara salah landing itu, tapi anehnya malah nggak sakit. Aku masih punya kok fotonya, ntar deh aku pasang sekalian he3.</p>
<p>Sebulan sudah berlalu, tapi sakit di ruas jari manis kakiku nggak kunjung sembuh.  Apalagi kalau sehabis latihan gitu sakitnya nambah dan kalau raba-raba telapak kakiku kayak agak bengkak di ruas jari manisnya.  Aku mulai mikir (lha sebelumnya nggak mikir dunk) cedera ini nggak bisa dibiarin neh. </p>
<p>Ketika aku ceritain cederaku ke Budi, temen kerjaku, dia bilang mungkin tulang jari manisku itu kurang bener letaknya gara-gara salah landing itu. Lalu dia memintaku untuk duduk dengan kaki terbujur lurus dan kemudian dengan sotoy-nya dia manarik jari manisku.  Pas ditarik sih rasanya biasa aja tapi efeknya setelah itu malah jadi makin parah.  Nggak cuma tambah nyeri pas dipakai jalan tapi juga panas. Wah, malpraktik neh ceritanya.</p>
<p>Pas di rumah aku coba merendam kakiku itu dengan air hangat (cenderung panas sih) untuk meredakan nyerinya, siapa tahu manjur. Bibiku yang tahu hal itu menyarankan aku untuk pijat urat, kebetulan beliau dulu pernah ngalamin cedera yang sama kayak aku. Tapi beliau juga bilang kalau pijat urat itu agak sakit, beliau aja pas dipijat dulu katanya sampai kesakitan banget. Mendengar hal itu aku jadi agak keder.  Juju aja, aku tuh termasuk orang yang kurang tahan sama rasa sakit.</p>
<p>“Gimana neh pijat apa enggak ya?”, batinku dalam hati. </p>
<p>“Kalau nggak dipijat ntar nggak sembuh-sembuh…”</p>
<p>Hmmm….</p>
<p>Nantikan lanjutannya di blog berikutnya, okey?</p>
<p>*sengaja dibikin bersambung karena dulu ada yang ngeluh blogku kepanjangan ceritanya, jadi nggak ada maksud untuk menyaingi sinetron stripping yang semakin menggila di teve-teve kita itu <img src='http://bloglodak.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>becoming white</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/07/becoming-white/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/07/becoming-white/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 09:46:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[senzala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dulu aku kurang suka sama warna putih, terutama dalam hal pemilihan pakaian. Kalau di iklan shampo biasanya orang parno pake warna hitam maka aku parno pake warna putih. Alasan pertama karena aku ngerasa nggak cocok aja pake warna putih. Menurut Ki Joko Bodo Amit2, aura ‘kegantengan’ku nggak akan keluar maximal kalau pake warna putih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak dulu aku kurang suka sama warna putih, terutama dalam hal pemilihan pakaian. Kalau di iklan shampo biasanya orang parno pake warna hitam maka aku parno pake warna putih. Alasan pertama karena aku ngerasa nggak cocok aja pake warna putih. Menurut Ki Joko Bodo Amit2, aura ‘kegantengan’ku nggak akan keluar maximal kalau pake warna putih he3 (yang protes berarti sirik tanda ga mampu). Trus alasan yang kedua karena putih tuh gampang banget keliatan kotor walau hanya kena kotoran sedikit. Apalagi kalau udah lama gitu, pasti putihnya udah nggak cemerlang lagi.</p>
<p>Satu-satunya pakaianku yang berwarna putih ya seragam sekolah itu, untuk pakaian lainnya lebih banyak didominasi warna biru. Yupe, warna fave-ku emang biru. Apalagi yang biru2 laut geto, sukaaa bangeeed. Ups sorry, baju kokoku ada sih yang warna putih tapi ya gitu, jaraang banget aku pakai.</p>
<p>Oke kembali ke warna putih, setelah sekian tahun lamanya bertahan nggak make pakaian warna putih akhirnya aku ‘terpaksa’ beli kaus putih demi bisa menyaksikan konser D’masiv di DOM UnMuh beberapa waktu yang lalu. Secara dresscode-nya Masiver tuh kaus putih rasanya kurang afdol aja kalau nggak pake kaus warna putih juga.</p>
<p>Eh nggak tahunya setelah konser D’masiv itu kok aku jadi ketagihan gitu ya pake tuh kaus, aku liat-liat di cermin ternyata oke juga kok pake kaus putih he3….narsisnya keluar deh. Dan akhirnya aku jadi sayaang banget ama tuh kaus, kalau nyuci aku pisahin dari pakaian berwarna biar nggak kelunturan. Tapi ya namanya juga nasib, someday aku kelupaan nyuci kaus itu barengan ama jeans itemku yang suka luntur kalau dicuci. Bisa ditebak deh, kaus putih itu pun dengan suksesnya ternoda hix3. Sumpah aku sampe senewen ama tuh jeans sialan, kalau aja nggak inget ama modelnya yang pencil itu sudah aku deportasi ke Comboran kali…duh segitunya seeh.</p>
<p>Seakan belum cukup, kaus putih itu harus ternoda lagi ketika aku pake mBolang ke Pulau Sempu bersama temen2 alumni PasQ. Aku tahu kalau medan yang akan kami hadapi tuh berat dan alamat bakal kotor-kotor semua. Tapi siapa yang menduga ketika kami ke sana hujan sempat turun dan bikin jalan menuju Segara Anakan yang emang dari sononya udah bechek nggak ada ojek makin parah aja. Yang namanya lumpur tuh belopotan nggak karuan di kaus putihku, tapi saat itu udah nggak senewen lagi malah bangga karena bekas noda lumpur itu menjadi bukti bahwa aku udah pernah ke Sempu, gubraak.</p>
<p>Nah, di capoeira yang udah dua bulan ini aku geluti, dresscodenya juga putih-putih. Makin nggak bisa lepas aja deh aku dari kaus putihku itu. Kalau udah latian/main capo yang namanya kotor tuh udah bonus sehingga kausku itu pun makin kusam aja warnanya karena keseringan dicuci. Tapi buatku sih nggak masalah, namanya aja udah jatuh cinta sama capoeira ceilaah.</p>
<p>Dari pengalamanku bersinggungan dengan warna putih di atas, ada satu pelajaran berharga yang bisa kupetik yaitu Tuhan telah menghilangkan keparnoan-ku akan warna putih he3…dangkal banget ya. Oke-oke, sekarang agak serius.</p>
<p>Sebagaimana kita tahu, dalam roda warna, warna putih merupakan gabungan dari berbagai warna. Boleh dibilang derajat warna putih itu yang paling tinggi diantara warna-warna lainnya tapi ironisnya dia gampang banget keliatan kotornya meski hanya sedikit. Demikian juga halnya manusia, ketika kedudukan kita makin tinggi maka angin ujian akan semakin kencang berhembus. Sekali aja kita melakukan kesalahan, meski itu hal sepele akan tetap diingat banyak orang dan bisa dipakai untuk menjatuhkan kita. Oleh karena itu, kita harus pandai2 bersikap dan membawa diri, apalagi jika kita menjadi panutan bagi orang lain.</p>
<p>Namun kita juga harus ingat, yang namanya pemimpin itu juga manusia yang nggak luput dari salah dan dosa, janganlah kita terlalu mengagung-agungkan mereka bahkan sampai mengkultuskannya. Ekspektasi yang berlebihan biasanya lebih banyak menghasilkan kekecewaan. Warna putih memang identik dengan kesucian namun sampai kapan pun putih tetaplah warna yang juga bisa ternoda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/07/becoming-white/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Welcome to Malang, Mas Noko</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/07/welcome-to-malang-mas-noko/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/07/welcome-to-malang-mas-noko/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 01:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[senzala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2009/07/01/welcome-to-malang-mas-noko/</guid>
		<description><![CDATA[Senin malam itu adalah jadwal latihan rutin capo di Gedung Sakri UB. Pas aku datang hanya ada Reza, Sayu, Mas Sandy, tiga orang yang aku lupa namanya siapa, trus juga Jindan yang lagi meluk Attabaque (gendang) baru dengan mesranya di tengah-tengah arena latihan he3.
Tak beberapa lama latihan dibuka sama Jindan walaupun jumlah anak yang hadir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin malam itu adalah jadwal latihan rutin capo di Gedung Sakri UB. Pas aku datang hanya ada Reza, Sayu, Mas Sandy, tiga orang yang aku lupa namanya siapa, trus juga Jindan yang lagi meluk Attabaque (gendang) baru dengan mesranya di tengah-tengah arena latihan he3.</p>
<p>Tak beberapa lama latihan dibuka sama Jindan walaupun jumlah anak yang hadir nggak bertambah sama sekali. Setelah berdoa kami lalu melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi arena latihan. Baru setelah beberapa putaran, satu persatu datanglah teman-teman yang lainnya. Maklumlah, namanya juga orang Indonesia yang terkenal dengan jam karetnya.</p>
<p>Selesai melakukan pemanasan, latihan pun langsung dimulai oleh instruktur yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku sempat bertanya-tanya apa beliau ini instruktur baru atau tamu dari luar kota. Secara fisik tingginya mungkin sama denganku, cuman bedanya badannya keliatan kekar dan lumayan berotot. Melihat dari pembawaannya yang keliatan tenang dan berwibawa, serta sikap para senior yang respect banget sama beliau, aku menebak pasti levelnya udah tinggi banget neh.</p>
<p>Nggak seperti latihan biasanya yang dimulai dengan melakukan gerakan Ginga, Mas Instruktur Baru ini (selanjutnya kita sebut aja MIB ya karena aku juga lum tahu namanya siapa he3) malah mengajak kami bermain tangkap-tangkapan dan kejar-kejaran. Tapi tentu saja bukan sekedar bermain, di dalamnya tetap ada gerakan capoeira yang harus dilakukan. Yang paling melelahkan itu pas kejar-kejaran dimana kami pada berlarian kesana kemari menghindari para instruktur yang mengejar kami. Barang siapa yang ketangkep, harus mematung dengan pose Negativa. Barang siapa yang ingin membebaskan temannya harus terlebih dahulu melakukan gerakan Ginga dan Melialua Defrente (ehm…bener nggak ya namanya itu, masih lupa-lupa inget sih). Pokoknya kami malam itu back to masa kanak-kanak yang indah deh.</p>
<p>Puas bermain-main, MIB (aku baru inget, ternyata beliau malam itu memakai kaus hitam kalau nggak salah) lalu membagi kami dalam empat kelompok dan diadakan semacam adu balap dengan melakukan gerakan capoeira yang lainnya. Pokoknya seru banget deh, antara senang, capek tapi anehnya malah makin semangat latihannya. Saat dikasih jeda waktu untuk istirahat, aku sempatin nanya sama salah satu seniorku siapa gerangan nama MIB. Ternyata oh ternyata beliau ini adalah Mas Noko. Selama ini aku udah sering denger namanya dari para senior tapi belum tahu orangnya kayak apa. Beliau ini selain sudah keliling Indonesia, juga udah pernah memperdalam ilmu Capoeira di negeri asalnya sana yaitu Brasil. TOP BGT deh pokoknya.</p>
<p>Latihan malam itu makin special aja karena untuk pertama kalinya aku diajarin Angola. Asal tahu aja, yang namanya Angola tuh di dalam jogo hanya dimainkan oleh para senior yang notabene sudah advance gitu loh. Gerakannya cukup sulit dan menguras banyak tenaga karena dimainkan secara perlahan, trus banyak main di bawah dan bener-bener mengandalkan kekuatan tangan. Udah gitu, otak kita juga ikutan main karena di Angola dituntut untuk menyusun strategi agar bisa menghentikan gerakan lawan. Ehm…kok aku makin terdengar sotoy ya he3, udah ah cukup itu aja ceritanya tentang Angola, ntar takut salah.</p>
<p>Oh iya, aku juga seneng banget pas turun di Roda sempet dicompra dan main sama Mas Noko. Rasa grogi pastinya ada, tapi aku berusaha mengeluarkan kemampuan terbaikku…biuuuh kemampuan terbaik apanya Wan, lha wong sering terdesak gitu mainnya dan ditake-down mpe kebanting di lantai ha ha ha.</p>
<p>Walaupun gitu, sebagai seorang (calon) capoeirista nggak boleh ada rasa kapok apalagi menyerah dalam berlatih. Buktinya aku tetep ikut latihan esok harinya di Unmer.</p>
<p>Mas Noko emang rencananya  bakal semingguan di Malang, ya iyalah kan beliau yang ngajar di Workshop 5 Juli nanti. Makanya Mas Widha menghimbau kami agar bisa memanfaatkan Mas Noko…ups maksudnya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari Mas Noko.</p>
<p>So…dalam seminggu ini aku mungkin bakalan tiap hari latihan. Buat yang pengin ngajak kencan atau sekadar jalan dipending dulu ya wakakakakaka. Vou dizer minha mulher, Paranà Capoeira me venceu, Paranà*.</p>
<p>* I&#8217;m going to tell my woman, Paranà (that) Capoeira conquered me</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/07/welcome-to-malang-mas-noko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Street Roda @ Idjen Boulevard</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/06/street-roda-idjen-boulevard/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/06/street-roda-idjen-boulevard/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 09:23:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[senzala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2009/06/22/street-roda-idjen-boulevard/</guid>
		<description><![CDATA[Malam Minggu kemarin Capoeira Senzala Malang ngadain yang namanya Street Roda di sebelah utara Gereja Ijen. Sebelum aku cerita lebih lanjut, baiknya aku kasih tau dulu apa itu Street Roda biar kalian yang bukan anak Capo bisa teteup nyambung baca blogku nanti he3.
Street Roda adalah atraksi capoeira yang dilakukan di pinggir jalan, jangan sampe deh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam Minggu kemarin Capoeira Senzala Malang ngadain yang namanya Street Roda di sebelah utara Gereja Ijen. Sebelum aku cerita lebih lanjut, baiknya aku kasih tau dulu apa itu Street Roda biar kalian yang bukan anak Capo bisa teteup nyambung baca blogku nanti he3.</p>
<p>Street Roda adalah atraksi capoeira yang dilakukan di pinggir jalan, jangan sampe deh di tengah2 jalan. Ntar yang ada malah dilindas truk sapi rabies he3. Di dalam Roda (bacanya Hoda ya guys), semua anggota capo membentuk sebuah lingkaran dimana dua orang bermain jurus2 capo di tengahnya dengan diiringi permainan alat musik dan lagu2 capo. Biasanya sih kami melakukan Roda di Lapangan Rekrorat UB tiap Sabtu sore.</p>
<p>Sehubungan dengan akan diadakannya workshop pada tanggal 5 Juli 2009 nanti, maka sehabis roda rutin, acara sabtu itu dilanjutin dengan Street Roda di Ijen. Tujuannya so pasti buat promosiin capo dan workshop yang akan kami adakan tersebut pada khalayak ramai. Ciee, gaya nulisku udah kayak panitianya workshop aja, sotoy banget he3.</p>
<p>Buatku sendiri, ini adalah kali keduanya aku ikutan Roda di hadapan umum, yang pertama dulu di acara bazaar anak2 Bastra UB. Yang jelas auranya beda banget, campur aduk antara seneng dan grogi diliat orang banyak. Apalagi aku sendiri masih tergolong baru, takut salah gerakan dan keliatan konyol. Beneran deh, kalau pas latian itu kayak dah gape aja gerakannya tapi begitu turun di roda, jurus2 yang sudah hafal di luar kepala tuh seringkali hilang dan akhirnya jadi binun sendiri mau ngelakuin apa. Jujur sampai saat ini aku masih belum bisa ngatasin hal itu, wahai para seniorku bagi2 tipsnya dunk biar nggak grogi pas roda.</p>
<p>Street Roda malam itu dimulai pukul setengah delapan, pada awal-awalnya sih masih belum ada orang yang tertarik untuk melihat aksi kami. Kalaupun ada yang melihat, itu hanya berhenti sejenak trus jalan lagi. Aku sempat mikir kayaknya para senior salah milih tempat neh, secara tempat yang kami pada roda tuh berada di perempatan jalan yang lalu lintasnya rame sehingga orang mungkin agak segan untuk berhenti lama-lama. Kenapa nggak roda di depan Musemum Brawijaya aja, kalau malam minggu banyak muda-mudi yang nongkrong di sana. Atau di Alun-Alun Kota aja sekalian, pasti sukses promonya.</p>
<p>Sekitar setengah jam permainan roda semakin seru aja, saking semangatnya para anggota capo untuk turun di roda antriannya sampai tiga orang lebih. Udah gitu para seniornya juga nggak mau kalah sama juniornya, pengin turun roda sebanyak-banyaknya. Paling ogah kalau udah jongkok antri lama, eh tiba-tiba ada senior yang main nyelonong aja. Tapi walopun gitu tetep asyik kok, karena basicly suasana roda tuh seru, menantang dan ceria. Jadi walaupun antrian diserobot senior, kena tendang atau jatuh sekalipun tetep aja kami semua smile-smile.</p>
<p>Bukan hanya itu, jumlah penonton yang melihat roda kami juga makin malam makin banyak aja sehingga kami pun makin semangat aja mainnya. Banyak yang pengendara motor yang berhenti untuk melihat kami, mulai dari sepasang muda-mudi, bapak-ibu sama anak2nya, cowok2 dan cewek2 kesepian di malam minggu yang dingin, bapak2 yang lagi jalan2 sama WIL-nya he3.</p>
<p>Untunglah ada bapak2 polisi yang baik hati ikut mengatur dan mengawasi sehingga roda kami berjalan dengan sukses dan lancar. Padahal awalnya kukira kehadiran bapak2 polisi itu mau mengusir kami, secara acara roda kami membuat arus lalu lintas di depan gereja sedikit terhambat.</p>
<p>Street Roda diakhiri tepat jam 9 malam, setelah itu kami semua membubarkan diri. Ada yang memilih langsung pulang (termasuk aku) ada juga yang melanjutkan nongkrong sambil hotspotan di Circle Corner. Yang pasti malam itu aku seneng banget bisa turun dua kali, emang sih masih termasuk sedikit itu. Tapi masih mendingan lah, secara antriannya panjang banget. Semoga next time bisa turun lebih banyak lagi.</p>
<p>Buat kalian yang belum sempat lihat aksi kami kemarin, nggak usah sedih apalagi sampe nekat bunuh diri di Suramadu (lebay bangeedz), karena Minggu depan, tepatnya tanggal 28 Juni kami mau Street Roda lagi di area Pasar Minggu jam 5 pagi. Trus buat yang pengin belajar atau sekedar ingin tahu apa itu Capoeira ikutan aja workshopnya tanggal 5 Juli nanti. Murah kok, hanya 30 ribu rupiah. Ditunggu yaa…!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/06/street-roda-idjen-boulevard/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Badminton vs Capoeira</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/04/badminton-vs-capoeira/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/04/badminton-vs-capoeira/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 09:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[sports]]></category>
		<category><![CDATA[senzala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Olahraga, boleh dibilang aktivitas yang satu itu hampir tidak pernah kulakukan sejak aku lulus SMA dulu. Paling-paling olahraganya hanya gerak2 nggak jelas pas aku bangun pagi. Ya nggak ngaco2 amat sih gerakannya, biasanya yang kulakuin tuh gerakan2 pemanasan, kayak meregangkan otot2 tangan, kaki dan seluruh badan. Udah gitu ya wis he he he.
Baru dua tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Olahraga, boleh dibilang aktivitas yang satu itu hampir tidak pernah kulakukan sejak aku lulus SMA dulu. Paling-paling olahraganya hanya gerak2 nggak jelas pas aku bangun pagi. Ya nggak ngaco2 amat sih gerakannya, biasanya yang kulakuin tuh gerakan2 pemanasan, kayak meregangkan otot2 tangan, kaki dan seluruh badan. Udah gitu ya wis he he he.</p>
<p>Baru dua tahun belakangan ini tiap jumat pagi aku ikutan senam pagi yang biasa diadakan di lapangan rektorat UB. Itupun bukan atas inisiatif sendiri, hanya untuk memenuhi kewajiban absent doang. Nggak heran kalau pas senam hanya sekedarnya aja ngikutin gerakan instruturnya. Sebenarnya sih aku pengin menggerakkan badan yang energik gitu tapi gerakan senamnya tuh ibu2 banget, ntar yang ada malah keliatan konyol (atau lebih parah lagi malah melambai) kalau terlalu niat ngikutin gerakan instrukturnya. Tapi walaupun gitu tetep ada segi positif yang bisa diambil dari kegiatan senam pagi itu, lumayan lah dapet sarapan pagi gretongan he3.</p>
<p>Aku sih bukannya nggak seneng olahraga, pengin banget malahan secara perut udah agak nduts. Untung nggak sampe dicurigain hamil 3 bulan. Trus juga kalau ngerjain apa2 tuh gampang banget capek, pokoknya payah banget deh staminanya. Kadang suka iri juga sih kalau denger temen2 yang crita serunya mereka bermain futsal, pengin gitu ya bisa olahraga terarur tiap minggu kayak mereka. Tapi masalahnya, sejak dulu aku tuh nggak bakat main bola. Pas jaman sekolah aja dulu paling2 hanya jadi back doang, itupun mainnya juga nggak becus. Ujung-ujungnya aku malah ilfeel beneran sama olahraga yang satu itu. Ironis banget ya, secara aku ini cowok yang lahir dan tumbuh besar di kota Malang yang terkenal dengan Singo Edannya. Tapi walopun gitu aku tetep bangga kok dengan kesebelasan Arema. Beneran deh, dari hati aku itu ngomongnya! ciee ampe segitunya.</p>
<p>Pernah juga aku sama temen2 kerja punya rencana untuk ikutan fitness di INBIS, kebetulan di sana ada fitness centrenya. Pas mau daftar ke sana ternyata lagi tutup trus akhirnya rencana itu tinggallah rencana yang nggak pernah kesampean.<br />
Sebenarnya ada satu olahraga yang pengin banget aku ikutin sejak dulu. Olahraga ini asalnya dari negeri Samba dan pernah diangkat dalam sebuah film yang dibintangi oleh Mark Dacascos, judulnya kalau nggak salah adalah Only The Top. Ada yang tahu olahraga apakah itu? Buat yang tahu jawabannya silahkan acungkan tangan, nanti dapet hadiah permen lolipop dari sponsor. Kok aku jadi kayak guru play grup ini yak?</p>
<p>Oke, back to the topic. Nama olahraga itu adalah Capoeira. Yang membuatku tertarik adalah gerakannya yang unik banget, menggabungkan antara beladiri dan tarian. Dan emang bener banget, ketika aku brosing di net, disebutin kalau Capoeira tuh diciptakan oleh para budak di Brasil untuk membela diri dari kekejaman tuannya. Agar nggak dilarang oleh tuannya, dalam berlatih mereka memakai kedok seni tari dan musik.<br />
Pertama kali aku tahu Capoeira tuh dari sebuah iklan shampo di teve, trus beberapa kali aku juga melihat para mahasiswa UB berlatih capoeira di lapangan rektorat tiap sore hari. Tapi waktu itu aku nggak pede untuk ikutan karena kupikir hanya diperuntukkan bagi para mahasiswa. Apalagi aku juga nggak punya basic beladiri sama sekali, aku agak pesimis apa bisa melakukan gerakan2nya yang energik dan penuh akrobatik itu. Akhirnya aku hanya bisa memendam keinginan itu dalam hati saja, cieee melankolis banget bahasanya. Dan lu tau nggak? Mungkin karena saking terobsesinya aku sama olahraga itu, ketika aku menulis novelku beberapa waktu yang lalu (doain ya biar bisa terbit taun ini, Amin) salah satu tokoh pendukungnya aku plot sebagai seorang Mestre (pelatih) Capoeira. Pernah sih kepikiran untuk survey kecil2an dengan anak Capoeira tapi nggak jadi karena di novel itu aku hanya mbahas dikit aja, nggak terlalu mendetail.</p>
<p>Keinginan untuk berolahraga baru kesampaian ketika gedung baru Perpus UB selesai dibangun, kebetulan lantai 3-5 belum dipergunakan karena belum selesai finishingnya. Nah, dari pada gedung sebesar itu mubazir akhirnya para staf yang hoby main badminton berinisiatif memakai lantai 5 untuk latihan. Aku yang sejak dulu suka banget sama badminton tentu saja ikutan juga dan bersama temen2 yang seumuran punya jadwal latihan sendiri tiap hari Rabu dan Jumat. Awal2 main sih, baru main satu set kami semua udah pada ngos-ngosan. Tapi lama-kelamaan kami mulai terbiasa dan semakin ketagihan aja mainnya.</p>
<p>Ternyata menurut Allah, main badminton aja nggak cukup buatku. Someday, ketika membuang bungkus makan siangku, secara nggak sengaja aku melihat sebuah kertas biru kecil di lantai teras Perpus. Waktu itu keadaannya udah lecek banget dan posisinya kebalik jadi aku nggak tahu selebaran apa itu. Tapi nggak tahu kenapa, naluri pemulungku tiba2 aja kambuh dan iseng aku ambil kertas itu. Tau nggak apa isi selebaran itu? Ternyata oh ternyata…Grupo Senzala Capoeira Indonesia lagi open recruitment untuk umum!</p>
<p>Aku kemudian mikir, dulu aku pengin banget ikutan Capoeira tapi nggak bisa karena ketidak pedeanku yang nggak beralasan itu. Trus keinginan yang nggak kesampaian itu udah aku ‘lampiasin’ di novel. Aku juga udah punya aktivitas olahraga di badminton, yang bisa menyalurkan hasrat berolahragaku secara maksimal . Tapi kenapa sekarang tiba2 aku nemuin selebaran dari Senzala? Apakah ini hanya kebetulan saja…ataukah ini jalan dari-Nya buatku?</p>
<p>Akhirnya, dengan modal semangat dan obsesi yang masih membara (halaaah) aku putusin untuk join di Senzala. Alhamdulillah, sekarang udah 2 mingguan aku mengikuti latihan di sana. Walaupun di awal latihan badanku pegal2 semua tapi itu nggak menyurutkan semangatku buat terus ikutan latihan. Dari hari ke hari aku merasa makin suka aja sama olahraga yang satu ini, nggak hanya kebugaran fisik yang kudapatkan namun juga pengetahuan budaya, bahasa Brasil/Portugal (baru satu dua kata sih yang aku tahu) dan teman2 baru. Kadang ada sih sedikit rasa sesal kenapa nggak dari dulu2 aja aku join di Senzala, mungkin sekarang aku udah dapet sabuk putih kali yaa he3. Tapi aku positif thinking aja, mungkin menurut Allah waktu itu aku belum siap untuk ikutan Capoeira. Mengutip kamut yang cukup populer banget : Indah Pada Waktunya.</p>
<p>Tapi jujur aja, sekarang badanku masih suka kedodoran menyesuaikan diri dengan aktivitas olahragaku yang meningkat drastis belakangan ini. Bayangin aja, aku latihan Capoeira tuh hari Senin, Kamis dan Sabtu sedangkan Badminton Rabu dan Jumat. Dalam seminggu hanya tersisa 2 hari aja! Ini aja kena masup angin udah semingguan nggak sembuh2. Kata Mas Mikow (instrukturku di Senzala) itu sebenarnya nggak masalah, yang penting aku bisa ngatur waktu dan jaga kondisi badanku agar jangan sampai drop. Yaa, doain aja agar aku bisa langgeng melakukan kedua olahraga ini secara berbarengan dengan baik dan dapet manfaatnya yang maksimal. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/04/badminton-vs-capoeira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
