<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bloglodak.com &#187; curhatku</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/category/curhatku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>i love blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Jul 2010 04:50:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>bloglodak.com</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>Kenapa Aku Memilih Indie?</title>
		<link>http://bloglodak.com/2010/05/kenapa-aku-memilih-indie/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2010/05/kenapa-aku-memilih-indie/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 06:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[PARTISI HATI]]></category>
		<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[karyaku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Blog ini aku tulis untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman tentang pilihanku untuk menerbitkan Partisi Hati secara indie. Awalnya sih pengin sedikit ‘jaim’ dengan bilang pengin nyoba sesuatu yang baru, pengin yang lebih menantang gitu. Tapi kadang juga ngeles dengan bilang: biarlah aku dan Tuhan saja yang tahu alasannya.
Nah, sekarang aku akan beberkan semua kenapa aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog ini aku tulis untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman tentang pilihanku untuk menerbitkan <strong><a href="http://partisihati.multiply.com">Partisi Hati</a></strong> secara indie. Awalnya sih pengin sedikit ‘jaim’ dengan bilang pengin nyoba sesuatu yang baru, pengin yang lebih menantang gitu. Tapi kadang juga ngeles dengan bilang: biarlah aku dan Tuhan saja yang tahu alasannya.<br />
Nah, sekarang aku akan beberkan semua kenapa aku akhirnya membulatkan tekad untuk menerbitkan novel melalui jalur indie.</p>
<p><strong>AKU MASIH INGIN MENULIS</strong></p>
<p>Yupe bener banget, aku masih ingin menulis. Lebih spesifik lagi adalah menulis novel. Jujur aja, aku sudah mengalami beberapa penolakan dari penerbit-penerbit. Ada yang alasannya yang bisa kuterima tapi ada juga yang sedikit membuat ‘sakit hati’ karena aku sudah menuruti keinginan mereka untuk mengedit bahkan merombak total draftku tapi tetep aja nggak diterima. Bahkan aku pernah mengalami draftku hilang entah kemana setelah hampir empat bulan aku mengirimkannya, aku nggak tahu siapa yang salah. Mau komplain ke kantor pos juga udah terlambat banget. Penolakan yang terakhir kemarin nggak seberapa sih, tapi lamanya waktu yang udah aku korbankan untuk menunggu jawaban dari penerbit itu membuatku bener-bener udah nggak tahan lagi.</p>
<p>Aku mikir gini, kalau kelamaan kayak gini aku takutnya bisa putus asa beneran dan akhirnya mogok nggak mau nulis lagi. Oh No, aku nggak mau hal itu terjadi pada diriku. Menulis buatku udah panggilan jiwa dan aku nggak akan menyia-nyiakan karunia yang udah diberikan Allah padaku. Ya udah lah, kalau penerbit-penerbit itu nggak mau nerbitin novelku, aku akan terbitin sendiri!</p>
<p>Dulu saat menerbitkan <a href="http://xerografer.blogspot.com">Xerografer</a>, selain pure ingin nerbitin buku ada ‘motivasi sampingan’ ingin mendapatkan materi yang banyak dari bukuku. Siapa sih yang nggak pengin bukunya best seller?<br />
Alhamdulillah, dari Xerografer aku mendapatkan materi yang bisa dibilang lumayan. Yaa kalau dibandingkan dengan penulis-penulis yang best seller nggak ada apa-apanya sih. Makanya aku mencoba berpikir realistis bahwa aku nggak bisa menggantungkan hidupku sepenuhnya pada menulis. Di Indonesia hanya segelintir penulis aja yang bisa benar-benar hidup dari menulis.</p>
<p>Alhamdulillah lagi, sejak tahun lalu statusku di perpustakaan sudah diakui oleh negara dan hal itu diikutin dengan kesejahteraan yang mulai meningkat. Jika aku telaten dan bekerja dengan baik, aku percaya bisa menggantungkan hidupku pada kerjaanku di perpus ini. So, untuk menulis buku aku anggap sebagai aktualisasi diri. Untuk urusan royaltinya, aku anggap sebagai bonus yang akan mengikuti dengan sendirinya. </p>
<p><strong>AKU KANGEN PEMBACAKU</strong></p>
<p>Aku emang nggak punya fans seperti Dee, Andrea Hirata, Raditya Dika dan penulis ngetop lainnya. Tapi ada orang-orang (pembaca Xerografer) yang concern dan nggak pernah berhenti bertanya kapan aku mengeluarkan buku lagi. Bahkan baru-baru ini ada seorang cewek SMA yang nge-add fesbukku dan dia bilang baru aja meresensi Xerografer untuk tugas di sekolahnya. Waw, itu bener-bener suntikan semangat buatku. Nggak nyangka aja masih ada yang mau baca Xerografer sampai saat ini. Merekalah yang membuatku sampai saat ini masih tetap semangat dan tak pernah berhenti untuk menulis.</p>
<p>Tiga tahun bukan waktu yang pendek untuk menahan kerinduan. Aku kangen untuk menyapa lagi para pembacaku lagi dengan sebuah karya baru. Aku ingin berinteraksi lagi dengan mereka meskipun tidak secara langsung. </p>
<p><strong>JANGAN ADA YANG SIA-SIA DALAM HIDUPKU</strong></p>
<p>Kalimat di atas udah menjadi harga mati buatku, setiap melakukan apapun aku selalu berusaha agar memberi arti bagi orang lain. Aku sudah mencurahkan segenap jiwa, hati dan pikiranku saat menulis novel-novelku. Aku gembira, sedih, tertawa dan menangis bersama tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Nah, aku ingin membagi pengalaman itu bersama orang lain agar apa yang sudah kutulis tidak sia-sia belaka. Karena bagaimana pun juga sebuah karya baru akan berarti bila ada yang membacanya.</p>
<p>Nah, saat ini jalan yang paling cepat dan efisien menurutku adalah dengan menerbitkan secara indie. Aku tahu jalan yang aku ambil ini tidaklah mudah, ada banyak tantangan dan rintangan yang harus aku hadapi agar buku ini sukses. Tapi aku yakin, Allah tidak akan membiarkanku seorang diri di jalan yang sudah Dia tentukan ini. Semoga di jalur indie ini ada pengalaman baru yang aku dapatkan dan bisa membuatku lebih baik lagi. Amin.</p>
<p><strong>NB</strong></p>
<p>Oh iya, aku baru ingat, ternyata aku punya satu fans di akun Goodreadsku. Kalau nggak salah, tiga hari kemarin ada seorang cewek yang nge-add dan meng-klik icon became fans yang ada di bawah fotoku. Tapi anehnya, dia tuh belum pernah baca novelku dan kebanyakan buku-buku yang sudah dia baca adalah novel-novel Islami. Mungkin doi salah nge-klik aja kali ya he he he.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2010/05/kenapa-aku-memilih-indie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>buat kamu yang udah curi hatiku</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/buat-kamu-yang-udah-curi-hatiku/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/buat-kamu-yang-udah-curi-hatiku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 10:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[karyaku]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya tak ada yang istimewa di antara kita, aku menyukaimu sebatas teman saja.
Walau tak pungkiri aku mengagumi dirimu, pribadimu dan semua yang ada pada dirimu.
Seiring berjalannya waktu kita semakin dekat saja, ibarat dua kutub yang berlawanan kita saling tarik menarik.
Namun aku sadar daya tarikmu jauh lebih besar menarikku.  
Ibarat planet yang berotasi pada matahari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya tak ada yang istimewa di antara kita, aku menyukaimu sebatas teman saja.<br />
Walau tak pungkiri aku mengagumi dirimu, pribadimu dan semua yang ada pada dirimu.<br />
Seiring berjalannya waktu kita semakin dekat saja, ibarat dua kutub yang berlawanan kita saling tarik menarik.<br />
Namun aku sadar daya tarikmu jauh lebih besar menarikku.  </p>
<p>Ibarat planet yang berotasi pada matahari seperti itulah aku berusaha ingin mengenalmu lebih dekat.<br />
Tapi tentu saja di orbit rotasi itu bukan hanya ada diriku seorang, banyak yang datang di hidupmu sebelum aku.<br />
Aku tidak tahu dimana aku berada, di Merkurius, Venus, Bumi ataukah Pluto yang begitu jauh darimu.</p>
<p>Aku sudah keluar dari zona amanku demi dekat dengan dirimu, tak ku pedulikan bahaya yang mungkin akan mengancamku.<br />
Tapi entah kenapa kamu seperti semakin jauh dariku.</p>
<p>Sikapmu yang tak menentu membuatku bertanya-tanya, mungkinkah kau merasakan hal yang sama dengan apa yang ada di hatiku ini.<br />
Atau jangan-jangan kau hanya ingin mempermainkanku saja?<br />
Mungkin kah kau sengaja menjeratku hanya untuk sekedar menjadikan salah satu pemujamu saja?</p>
<p>Aku tahu kau kini tak sendiri, namun rasa ini tak bisa kuingkari lebih lama lagi.<br />
Meski aku hanya menjadi yang kedua…atau bahkan mungkin yang kesekian buatmu, namun aku begitu bahagia saat bersamamu.</p>
<p>Aku tidak tahu sampai kapan aku mampu bertahan.<br />
Jika memang aku tak pernah bisa memilikimu aku takkan menyesal pernah mengenalmu.<br />
Tapi aku mohon jangan kau ambil lagi apa yang sudah kau berikan padaku.<br />
Biarlah itu kusimpan sebagai kenangan dan penawar di kala ku merindukanmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/buat-kamu-yang-udah-curi-hatiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[pijat urat]]></category>
		<category><![CDATA[salah urat]]></category>
		<category><![CDATA[senzala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Saat latihan capoeira sebulan yang lalu, aku mengalami sedikit cedera kaki ketika latihan Jumping. Latihan ini dilakukan berpasangan dimana kami harus bergantian melompati satu sama lain. Untuk yang beginner cukup melompat setinggi pinggang aja, jadi teman yang dilompati membungkuk membelakangi kita. Sedangkan yang medium dan expert harus melompat setinggi badan pasangannya. Karena aku udah 6 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat latihan capoeira sebulan yang lalu, aku mengalami sedikit cedera kaki ketika latihan Jumping. Latihan ini dilakukan berpasangan dimana kami harus bergantian melompati satu sama lain. Untuk yang beginner cukup melompat setinggi pinggang aja, jadi teman yang dilompati membungkuk membelakangi kita. Sedangkan yang medium dan expert harus melompat setinggi badan pasangannya. Karena aku udah 6 bulan latihan maka aku harus melakukan latihan Jumping yang kedua. Dulu aku sudah pernah mencobanya tapi gagal soalnya mentalku belum siap alias nggak berani he3. Ketika sudah sampai di dekat temanku, bukannya langsung melompat eh malah kakiku langsung ngerem cakram.</p>
<p>Nah, berhubung sore itu ada junior-junior malu dong ya kalau sampai nggak bisa melakukannya. Maka aku pun berusaha mengsugesti diriku sendiri bahwa aku pasti bisa melompati temenku. Kebetulan aku berpasangan sama Nazhary, tinggi badannya sama dengan sekitar 160 cm.</p>
<p>Kalo nggak salah waktu itu Nazhary duluan  yang melompati aku tapi nggak bisa. Kayak aku dulu, rupanya dia belum siap atau nggak yakin bisa melompatiku. Pas giliranku, sengaja aku cari tempat ancang-ancang yang agak jauh supaya bisa mendapatkan tenaga tolakan yang besar sehingga bisa melompat setinggi mungkin.</p>
<p>Aku lihat Nazhary yang berdiri membelakangiku dengan pandangan penuh focus. Kuulang-ulangi sugesti di dalam diriku bahwa aku pasti bisa melompati badan Nazhary.  Bisa bisa bisaaa…!!</p>
<p>Aku mulai berlari kea rah Nazhary, semakin lama semakin cepat dan ketika sudah mendekatinya kutumpukan kedua tanganku di pundak Nazhary dan langsung kuangkat kedua kakiku saat itu juga. Ajaib! Tiba-tiba saja aku merasa kayak ada yang mendorong badanku ke atas, kayak memantul gitu. Rasanya bener-bener lepas banget ketika badanku melayang di atas kepala Nazhary. Berasa kayak harimau yang melompat hendak menerkam mangsanya, halaah lebay.</p>
<p>Yess!! Pekikku dalam hati begitu kedua kakiku menginjak tanha lagi. Iam really-really feel great dan masih nggak percaya kalau aku ternyata bisa melompat setinggi itu. </p>
<p>Pas aku mengulanginya untuk kedua kali aku bisa melakukannya lagi, Nazhary yang tadinya nggak bisa ikut termotivasi dan akhirnya bisa juga melakukannya. Namun sayangnya pas ketiga kalinya aku melakukan kesalahan saat landing, kaki kananku terpeleset oleh rerumputan yang basah oleh hujan.  Akibatnya kaki kananku tertarik ke belakang dengan jari manis yang tertekuk.  Rasanya sih nggak begitu sakit waktu itu makanya aku hanya menganggapnya sepele.</p>
<p>Kesleo di kaki kananku itu hanya aku obatin dengan mengoleskan salep penghilang rasa nyeri, terutama di ruas jari manis karena di bagian itulah yang paling nyeri. Kalau dipakai buat jalan atau tertekuk gitu rasanya sakit.  Aku baru tahu ternyata mata kakiku sampe menghitam gara-gara salah landing itu, tapi anehnya malah nggak sakit. Aku masih punya kok fotonya, ntar deh aku pasang sekalian he3.</p>
<p>Sebulan sudah berlalu, tapi sakit di ruas jari manis kakiku nggak kunjung sembuh.  Apalagi kalau sehabis latihan gitu sakitnya nambah dan kalau raba-raba telapak kakiku kayak agak bengkak di ruas jari manisnya.  Aku mulai mikir (lha sebelumnya nggak mikir dunk) cedera ini nggak bisa dibiarin neh. </p>
<p>Ketika aku ceritain cederaku ke Budi, temen kerjaku, dia bilang mungkin tulang jari manisku itu kurang bener letaknya gara-gara salah landing itu. Lalu dia memintaku untuk duduk dengan kaki terbujur lurus dan kemudian dengan sotoy-nya dia manarik jari manisku.  Pas ditarik sih rasanya biasa aja tapi efeknya setelah itu malah jadi makin parah.  Nggak cuma tambah nyeri pas dipakai jalan tapi juga panas. Wah, malpraktik neh ceritanya.</p>
<p>Pas di rumah aku coba merendam kakiku itu dengan air hangat (cenderung panas sih) untuk meredakan nyerinya, siapa tahu manjur. Bibiku yang tahu hal itu menyarankan aku untuk pijat urat, kebetulan beliau dulu pernah ngalamin cedera yang sama kayak aku. Tapi beliau juga bilang kalau pijat urat itu agak sakit, beliau aja pas dipijat dulu katanya sampai kesakitan banget. Mendengar hal itu aku jadi agak keder.  Juju aja, aku tuh termasuk orang yang kurang tahan sama rasa sakit.</p>
<p>“Gimana neh pijat apa enggak ya?”, batinku dalam hati. </p>
<p>“Kalau nggak dipijat ntar nggak sembuh-sembuh…”</p>
<p>Hmmm….</p>
<p>Nantikan lanjutannya di blog berikutnya, okey?</p>
<p>*sengaja dibikin bersambung karena dulu ada yang ngeluh blogku kepanjangan ceritanya, jadi nggak ada maksud untuk menyaingi sinetron stripping yang semakin menggila di teve-teve kita itu <img src='http://bloglodak.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dikeroyok Sakit Pinggang dan Gabagen</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/dikeroyok-sakit-pinggang-dan-gabagen/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/dikeroyok-sakit-pinggang-dan-gabagen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 09:37:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[gabagen_campak]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[sakit pinggang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu kondisi badanku sempat ngedrop, yang diawali dengan pinggang yang sedikit sakit. Keadaan ini cukup mengangguku mengingat pekerjaanku yang lebih banyak duduk dan sedikit sekali bergerak. Rasanya tuh panas dan agak nyeri gitu kalau dipake duduk dalam waktu yang agak lama, makanya aku sesekali berdiri atau mampir-mampir ke meja temenku untuk sekedar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu kondisi badanku sempat ngedrop, yang diawali dengan pinggang yang sedikit sakit. Keadaan ini cukup mengangguku mengingat pekerjaanku yang lebih banyak duduk dan sedikit sekali bergerak. Rasanya tuh panas dan agak nyeri gitu kalau dipake duduk dalam waktu yang agak lama, makanya aku sesekali berdiri atau mampir-mampir ke meja temenku untuk sekedar menghilangkan rasa panas dan nyeri tersebut.</p>
<p>Aku sih udah tahu penyebabnya karena dulu juga pernah mengalaminya, dua kali kalo nggak salah. Yupe bener sekali, kurangnya konsumsi air putih lah yang menjadi biang kerok sakit pinggangku itu. Supaya nggak berkepanjangan dan takutnya menghantam ke ginjal (moga-moga sih enggak ya) aku segera minum obat khusus sakit pinggang yang selama ini udah terbukti khasiatnya (marketing banget bahasanya). Selain itu tentunya juga menambah konsumsi air putih, nggak masalah deh walopun efek sampingnya adalah aku jadi sering ke belakang. Yang penting kan sembuh, tul nggak?</p>
<p>Belum sembuh bener sakit pinggangku, eh tahu-tahu badanku kena demam.  Mau nggak mau aku terpaksa ijin nggak masuk kerja…ha ha ha gaya banget ngomongnya, kayak pegawai teladan aja padahal di kantor memegang ranking nomer dua sebagai pegawai yang sering (bukan suka lho ya) datang mepet jam masuk kantor.</p>
<p>Meski sudah habis satu strip obat flu namun demamku tetep nggak mau minggat dari badanku, malahan muncul ruam (kemerahan di kulit) yang agak gatal, awalnya sih hanya di wajah trus lama-kelamaan menyebar ke seluruh tubuh.  Orang rumah langsung nge-judge kalau aku sakit Gabagen aka Campak, atau istilah medisnya tuh Morbili.  Tentu saja aku heran karena selama ini Gabagen tuh identik dengan penyakitnya anak kecil, lha kok aku bisa kena ya?</p>
<p>Akhirnya aku nyerah dan pergi ke dokter deket rumah, namanya Dokter Husnul.  Ternyata emang bener aku terkena Gabagen. Menurut Dokter Husnul, Gabagen bukan hanya diderita anak kecil, orang dewasa juga bisa kena penyakit itu. Campak menular melalui melalui droplet dan kontak, yakni karena menghirup percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita morbili/campak.<br />
Artinya, seseorang dapat tertular Campak bila menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan atau di mana saja.  Aku sempat nebak-nebak, kira-kira aku ketularan Campak di mana ya? Waktuku kan lebih banyak aku habisin di tempat kerja, pasti ketularan dari salah satu mahasiswa yang datang ke perpus.  Awas ya, tunggu pembalasanku he3</p>
<p>Selain minum obat dari dokter, atas saran Rini, aku juga minum degan (kelapa muda) hijau agar ruam di badanku keluar semua . Trus sama orang rumah aku juga dibelikan  jamu kunir madu. Aku  sih nurut aja, yang penting sakit Gabagennya lekas sembuh.</p>
<p>Nggak enak banget soalnya sakit Gabagen itu, badan rasanya gatal dan gerah tapi badan kita sama sekali nggak boleh kena air. Karena kalau terkena air maka ruam-ruam yang udah keluar itu bakalan ‘masuk’ lagi sehingga Gabagennya nggak sembuh-sembuh.  Jadi selama dua hari nggak masuk kerja itu, aku sama sekali nggak mandi. Huuuh, gerah abies deh rasanya. Tapi nggak sampe bau kambing lho soalnya kan untuk menghilangkan gatelnya itu aku menaburi badanku dengan bedak.</p>
<p>Ya udah gitu aja sih, sharingku tentang dropnya badanku kemarin.  Hikmah yang bisa diambil, rajin-rajin minum air putih biar nggak sampai kena sakit pinggang lagi. Trus juga jaga kondisi badan dan cukup istirahat biar kondisi badan tetap fit sehingga nggak gampang drop n ketularan virus.</p>
<p>info lengkap tentang Gabagen bisa dilihat di <a href="http://ampun-aux.blogspot.com/2009/04/campak.html">sini.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/dikeroyok-sakit-pinggang-dan-gabagen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iam Introvert&#8230;so what?</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/10/iam-introvert-so-what/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/10/iam-introvert-so-what/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 08:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin aku membaca artikel dari sebuah majalah terbitan ibukota yang membahas tentang sifat pendiam atau dalam dunia psikologi disebut Introvert.
Sebagai orang yang merasa dan sering dijulukin Si Pendiam baik sama keluarga, sahabat maupun teman-teman kerja, aku merasa &#8216;lega&#8217; karena dalam artikel itu disebutkan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan sifat pendiam. Namun sering kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin aku membaca artikel dari sebuah majalah terbitan ibukota yang membahas tentang sifat pendiam atau dalam dunia psikologi disebut Introvert.<br />
Sebagai orang yang merasa dan sering dijulukin Si Pendiam baik sama keluarga, sahabat maupun teman-teman kerja, aku merasa &#8216;lega&#8217; karena dalam artikel itu disebutkan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan sifat pendiam. Namun sering kali orang kebanyakan memandangnya sebagai suatu hal yang nggak wajar, aneh dan berbagai pandangan negatif lainnya.</p>
<p>Di dalam Ilmu Psikologi sendiri dikenal konsep Introvert dan Ekstrovert. Perbedaan yang paling menyolok <span style="text-decoration: line-through;">mata</span> dari kedua sifat itu adalah orang Introvert lebih suka menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri dibandingkan dengan orang banyak. Tapi bukan berarti mereka anti sosial lho, mereka juga bisa bersosialisasi namun jika disuruh memilih, maka mereka akan jauh lebih nyaman jika tidak berlama-lama berada di tengah-tengah banyak orang.<br />
Sifat di atas bener-bener gue banget. Pas jaman sekolah dulu, aku lebih suka menghabiskan waktu istirahat dengan membaca buku di perpustakaaan dari pada bercengkrama atau nongkrong-nongkrong nggak jelas di kantin/warung depan sekolah. Kebiasaan ini terus terbawa hingga di lingkungan kerja. Ironisnya pekerjaan yang kugeluti mengharuskanku berhadapan dengan orang banyak dan menuntutku untuk lebih aktif berbicara.</p>
<p>Seringkali aku heran, meskipun sudah beristirahat dengan cukup sehabis pulang kerja namun aku masih saja merasa &#8216;capek&#8217; dan bawaannya pengin berlama-lama di dalam kamar. Nggak jarang orang rumah sampai nanyain apakah aku lagi ada masalah kok sampai nggak keluar-keluar dari kamar. Paling males dan ogah-ogahan jika ada yang menginterupsi waktu sendiriku (me time) itu, entah itu orang rumah yang pengin ngajak ngobrol atau ponakan-ponakan yang suka ngikutin aku mulai dari pintu masuk hingga ke kamar.</p>
<p>Nah aku akhirnya menemukan jawaban kenapa dulu aku sampai kayak gitu, di artikel itu diterangkan bahwa setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kaum Introvert merasa perlu untuk off sejenak dan &#8216;mengisi baterai&#8217; kembali. Bayangin aja, setiap hari selama 8 jam aku &#8216;menghadapi&#8217;ratusan mahasiswa yang datang ke perpus. Saat masih di bagian fotokopian dulu, yang bekerja tuh bukan cuma tangan tapi juga mulut. Mulai dari nanyain buku apa yang mau difokopi hingga fotokopiannya selesai. Yang namanya pengunjung tuh maunya macem-macem, ada yang penginnya cepet, minta hasilnya yang bagus, nggak sabar ngantri dan masih banyak lagi tingkah laku yag seringkali memancing emosi. Jadi wajar rasanya jika sehabis kerja aku pengin menyendiri tanpa diganggu oleh siapapun, termasuk keluargaku sendiri sekalipun.</p>
<p>Tanpa kusadari, situasi kerja seperti itu berdampak positif bagi perkembangan diriku, Sifat pemaluku sedikit demi sedikit berkurang. Aku tidak lagi canggung bila berhadapan dengan orang banyak. Tapi anehnya, sifat pendiamku nggak banyak berkurang. Tapi untungnya aku bukan tipe pendiam akut yang bener-bener irit bicara dan terkesan sombong gitu. Aku masih butuh berkomunikasi dengan orang lain, tapi ya itu tadi, aku lebih nyaman ngobrol model one to one aja. Nggak heran jika saat ngumpul bersama keluarga, teman kerja ataupun dengan teman dari dunia maya, aku lebih banyak diam mendengarkan atau bicara seperlunya saja.</p>
<p>Tapi sekarang, kayaknya aku kena &#8216;karma&#8217; karena sifat pendiamku itu. Di bagianku yang sekarang, yaitu di bagian sirkulasi tepatnya di pintu keluar, job descriptionku hanyalah &#8216;duduk ganteng&#8217; mengawasi mahasiswa yang keluar masuk membawa buku. Jarang banget ngomongnya, paling-paling kalau ada mahasiswa yang nanya ini-itu baru deh mulutku yang bekerja.<br />
Sumpah, kadang kalau lagi bosan gitu perasaan &#8216;merasa sendiri di tengah keramaian&#8217; itu bener-bener menyiksa. Makanya jangan heran jika setiap hari aku nggak pernah absent dari yang namanya onlen di berbagai jejaring sosial yang ada di internet. Mulai dari Multiply, Facebook hingga Twitter. Walaupun hanya dalam bentuk interaksi dunia maya, tapi hal itu cukup ampuh untuk melewatkan waktu kerjaku yang terasa lama dan membosankan.</p>
<p>So, aku minta maaf ya buat temen-temen yang mungkin merasa &#8216;terganggu&#8217; dengan update-an status, quicknote dan twit-ku yang hampir tiap menit itu ha ha ha. Mohon dimaklumi karena ternyata orang pendiam pun bisa mati gaya juga dengan kesendiriannya.</p>
<p>*buat yang pengin merubah sifat Introvert-nya menjadi Ekstrovert bisa liat tipsnya <a title="Intro_Ekstro" href="http://webkonseling.blogspot.com/2009/05/introvert-vs-ekstrovert.html" target="_blank">di sini.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/10/iam-introvert-so-what/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktunya Mengisi Teko</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/09/waktunya-mengisi-teko/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/09/waktunya-mengisi-teko/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 02:38:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Sudah hampir setengah jam aku duduk di depan komputer namun aku belum bisa memutuskan mau nulis apa kali ini. Beberapa kalimat tadi udah aku tulis tapi kemudian aku delete lagi, ngerasa nggak pas aja gitu. Nggak tahu kenapa, mungkin aku lagi dalam masa paceklik ide buat ditulis di blogku. Ada sih beberapa kejadian yang aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah hampir setengah jam aku duduk di depan komputer namun aku belum bisa memutuskan mau nulis apa kali ini. Beberapa kalimat tadi udah aku tulis tapi kemudian aku delete lagi, ngerasa nggak pas aja gitu. Nggak tahu kenapa, mungkin aku lagi dalam masa paceklik ide buat ditulis di blogku. Ada sih beberapa kejadian yang aku alami dan itu sebenarnya bisa dituliskan tapi kayaknya terlalu personal untuk dibagi sama temen-temen. Ehm…yakin, masih mau sok jaga privacy? Bukannya belakangan ini status dan quicknote-ku dipenuhi dengan update kisah cinta terlarangku ha ha ha. Ah nggak tahu deh, mungkin ntar aku bisa berubah pikiran dan menuliskannya di blog selanjutnya.</p>
<p>Oh iya, beberapa waktu yang lalu aku dapet kiriman imel dari seorang cewek yang habis baca Xerografer. Cukup surprise juga ya karena ternyata masih ada yang mau baca novelku yang udah tiga tahun lebih terbit itu. Nama cewek itu…..dia bilang kalau suka banget sama Xero, trus juga nanya-nanya dikit gitu deh tentang isi novelku itu. Buat seorang penulis yang udah tiga tahun nggak nerbitin novel karena ditolakin mulu sama penerbit, kiriman imel itu cukup ngasih suntikan semangat buatku.</p>
<p>Oke, aku nggak akan sok jaim lagi. Akan aku kasih sedikit bocoran gimana nasib draft novel2ku selama ini. Draft novel keduaku, yang mana merupakan kelanjutan dari Xerografer, sukses ditolak oleh dua penerbit. Nggak tahu kenapa nasib draftku yang satu ini malang banget. Sama penerbit pertama dulu ditolak dua kali padahal aku udah edit dan rombak habis-habisan tapi masih aja nggak masuk kriteria. Trus sama penerbit kedua lebih tragis lagi. Tiga bulan setelah aku mengirimkannya, aku harus menghadapi kenyataan pahit kalau draft-ku itu ternyata nggak pernah sampe di meja redaksi. Aku nggak tahu siapa yang salah dalam hal ini, mau marah juga kayaknya nggak ada gunanya walopun sebenarnya aku berhak untuk melakukannya. Bayangin aja, yang aku kirimin itu DRAFT ASLI dan itu ngeprintnya nggak pake daun bayarnya. Mungkin juga itu salahku sendiri, ngapain ngirimin yang asli. Yaa, waktu itu keuanganku emang lagi seret jadi musti lebih berhemat. Untungnya penerbit kedua itu masih mau berbaik hati dengan nyuruh aku ngirimin soft copy-nya. Tapi yaa, tetep aja nasibnya nggak berubah. Saat ini aku putusin untuk mengendapkan dulu draft itu, ntar deh kapan-kapan aku edit lagi.</p>
<p>Saat ini aku menaruh harapan besar pada draft yang ketiga, nggak berhenti-hentinya aku berdoa memohon sama Allah agar menerbitkan draft itu tahun ini, Amin. Sambil menunggu jawaban dari penerbit, aku bakalan aktif membaca lagi. Belakangan ini emang sudah juarang atau bisa dibilang nggak pernah lagi membaca buku. Paling-paling yang aku baca itu koran atau tabloid-tabloid infotainment wkwkwkwk, forgive me God. Aku tahu ini nggak bisa dibiarin terus-terusan kayak gini, aku harus segera merubahnya kalau masih mau ingin bertahan di dunia tulis-menulis ini. Ibarat sebuah teko, nggak bisa terus-terusan ngisi gelas di luar sana. Sekarang waktunya untuk mengisi teko itu dengan membaca dan menyerap inspirasi sebanyak mungkin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/09/waktunya-mengisi-teko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(bukan) Lajang Desperado</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/07/bukan-lajang-desperado/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/07/bukan-lajang-desperado/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 10:10:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[lajang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2009/07/29/bukan-lajang-desperado/</guid>
		<description><![CDATA[Hal paling nggak nyaman yang sering aku alami kalau salah seorang teman di kantor menikah adalah pertanyaan kapan aku bakal menyusul naik ke ranjang ups salah, pelaminan maksudnya.
Sumpah itu nggak nyaman banget buatku mengingat statusku yang emang masih lajang dan masih seorangan wae ini. Kadang kalau mood lagi nggak enak malah levelnya meningkat menjadi menyebalkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hal paling nggak nyaman yang sering aku alami kalau salah seorang teman di kantor menikah adalah pertanyaan kapan aku bakal menyusul naik ke ranjang ups salah, pelaminan maksudnya.</p>
<p>Sumpah itu nggak nyaman banget buatku mengingat statusku yang emang masih lajang dan masih seorangan wae ini. Kadang kalau mood lagi nggak enak malah levelnya meningkat menjadi menyebalkan, apalagi kalau temen-temenku yang lidahnya setajam silet itu ikut-ikutan mbacot.</p>
<p>Tau sendirilah, namanya cowok kalau udah bercanda tuh sadis banget, nggak mikirin perasaan orang yang dibencandain. Aku sih tahu niat mereka hanya guyon tapi tetep aja yang namanya manusia punya hati punya perasaan, kalau terus-terusan diganggu juga sakit hati dan pengin marah . Hanya orang nggak normal aja yang nggak pernah marah.</p>
<p>Beberapa temen yang aku curhatin seringkali heran kenapa aku keliatan resah banget dengan statusku yang masih melajang ini.</p>
<p>“Tenang aja Mas. Sampeyan kan cowok, mau nikah umur berapa pun nggak masalah. Beda sama cewek yang punya beberapa kendala kalau nikah terlalu tua.”</p>
<p>Emang bener sih yang mereka katakan itu tapi aku juga nggak mau dunk menikah terlalu tua, kesian anak-anakku ntar. Aku pun sebenarnya juga nggak resah gelisah ampe nggak bisa boker ya, aku masih bisa menikmati hidup kok meski lagi jomblo. Keluargaku juga nyante aja, mereka belum menuntutku untuk segera menikah. Masalahnya ya cuma sama lingkungan kerjaku itu.</p>
<p>Kalau tahun-tahun sebelumnya, yang sering jadi korban Pertanyaan Setan itu adalah Mas Ipin, kebetulan umurnya di atasku dan masih jomblo. Nah, berhubung sekarang dia udah punya cewek maka Pertanyaan Setan itu lebih sering ditujukan buatku. Apalagi kemarin-kemarin tuh, Nova sama Putro menikah udah kayak balapan aja soalnya waktunya yang berdekatan.</p>
<p>Aku nggak perlu nyeritain gimana mereka mojokin aku dengan Pertanyaan Setan itu, atau guyonan dan becandaan mereka yang sadis bin nggak ‘bermoral’ karena nyeritainnya sama aja dengan membuka luka di hatiku….halaaah lebay banget. Yang jelas, aku sekarang lagi belajar untuk nerapin ungkapan ‘Masuk Telinga Kanan Keluar Telinga Kiri’ atau kalau bisa kayak usul Johan Arista di status fesbukku yaitu “ Masuk Telinga Kanan Keluar Telinga Kanan’, jadi omongan-omongan yang BrengShit itu nggak perlu mampir di hati.</p>
<p>Aku tahu itu semua nggak mudah dan aku juga tahu mereka bakalan berhenti ngajuin Pertanyaan Setan itu kalau aku udah nikah. Tapi aku juga nggak mau buru-buru nikah hanya karena pengin lepas dari gangguan orang-orang usil itu. Aku nggak se-desperado itu kaliii. Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, di mana kita berjanji untuk sehidup semati-suka dan duka ditanggung bersama bukan hanya pada pasangan kita tapi juga pada Sang Pencipta. Terlalu bodoh dan nekat banget kalau aku nikah dengan alasan sedangkal itu.</p>
<p>Yang aku lakukan sekarang adalah berusaha memperbaiki diri dulu karena beberapa kali aku telah mencoba menjalin hubungan namun belum berhasil. Emang susah-susah gampang nyari orang yang bener-bener cocok sama kita. Dulu pernah dapet yang aku suka tapi kami nggak nyambung kalau ngobrol, hubungan jadinya terasa hambar. Trus ketemu sama yang ngobrolnya nyambung tapi nggak ada feeling apa-apa, kayaknya lebih nyaman jadi sahabat. Trus ada juga yang menyukai (akhirnya he3) tapi sayangnya bukan tipeku. Bukannya mau sok jual mahal ya, tapi urusan hati dan perasaan nggak bisa dipaksain dunk. Yang terakhir kemarin, aku udah nemuin yang nyambung ngobrolnya tapi doi ternyata belum mau berkomitmen…boleh dibilang penolakan secara halus geto deh hix3.</p>
<p>Sometimes, ada rasa lelah kalau melihat begitu banyak kegagalan yang aku alamin. Munak banget kalau aku bilang nggak pernah merasa putus asa dan down. Apalagi kalau lagi ngadepin suatu masalah, pengin deh ada someone yang bisa diajak curhat dan sharing gitu. Tapi aku sebisa mungkin untuk segera bangkit dan nggak jatuh dalam jurang ke-mellow-an hiks hiks hiks. Dan aku akan tetap menjaga keyakinanku bahwa sudah ada someone entah di mana yang telah ditakdirkan Allah sebagai jodohku, hanya masalah waktu dan tempat aja yang memisahkan kami saat ini. Minjem lirik lagunya Opie, Kuyakin akan datang pasangan jiwaku pada waktu dan cara yang indah, Amin.</p>
<p>*desperado = putus asa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/07/bukan-lajang-desperado/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanya Luka Sesaat</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/06/hanya-luka-sesaat/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/06/hanya-luka-sesaat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 09:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2009/06/19/hanya-luka-sesaat/</guid>
		<description><![CDATA[Kupikir rasa itu sudah berhasil kuenyahkan dari hatiku
Kupikir dengan memutuskan kontak dengannya, rasa itu bisa hilang dengan sendirinya
Tapi nyatanya tidak…
Saat dia menghubungiku lagi, rasa itu muncul kembali.
Dan memberikan semangat bagiku untuk mendapatkannya kembali
Tapi lagi-lagi, rasa itu hanya milikku sendiri.
Dia telah bersama yang lain.
Lelaki itu datang tak lama setelah aku pergi dari hidupmu
Andai dia tahu…
Saat dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kupikir rasa itu sudah berhasil kuenyahkan dari hatiku<br />
Kupikir dengan memutuskan kontak dengannya, rasa itu bisa hilang dengan sendirinya<br />
Tapi nyatanya tidak…</p>
<p>Saat dia menghubungiku lagi, rasa itu muncul kembali.<br />
Dan memberikan semangat bagiku untuk mendapatkannya kembali<br />
Tapi lagi-lagi, rasa itu hanya milikku sendiri.</p>
<p>Dia telah bersama yang lain.<br />
Lelaki itu datang tak lama setelah aku pergi dari hidupmu</p>
<p>Andai dia tahu…<br />
Saat dia bercerita tentang kekasih hatinya<br />
Hati ini pelan tapi pasti telah dia lukai dengan senyumannya itu<br />
Namun aku tak berdaya melawannya<br />
Bahkan untuk sekedar merintih pun aku tak bisa</p>
<p>Wahai gadis…<br />
Meski begitu kamu nggak perlu merasa bersalah<br />
Atau mungkin merasa dirimu begitu digilai olehku</p>
<p>Hati ini memang terluka<br />
Tapi jangan kuatir, itu semua nggak seberapa buatku<br />
Aku pernah merasakan yang lebih dari itu</p>
<p>Dan lihatlah…<br />
Sekarang aku masih bisa tersenyum kembali<br />
Meski aku tak bisa memilikimu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/06/hanya-luka-sesaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Yang Pergi Dariku</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/06/sahabat-yang-pergi-dariku/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/06/sahabat-yang-pergi-dariku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 10:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[sobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2009/06/05/sahabat-yang-pergi-dariku/</guid>
		<description><![CDATA[Baru kali ini aq mengalami yg namanya dijauhi dan ditinggal oleh seorang sahabat. Sungguh, sakit banget rasanya. Apalagi dia bilang aq ga ada salah apa-apa sama dia. Dia bilang hanya ga ingin hubungan kami terlalu dekat.
Ah aq bener2 ga ngerti n ga habis pikir dengan alasannya itu.
Jujur aja, aq ampe makan ati dibuatnya. Aq ngerasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru kali ini aq mengalami yg namanya dijauhi dan ditinggal oleh seorang sahabat. Sungguh, sakit banget rasanya. Apalagi dia bilang aq ga ada salah apa-apa sama dia. Dia bilang hanya ga ingin hubungan kami terlalu dekat.<br />
Ah aq bener2 ga ngerti n ga habis pikir dengan alasannya itu.</p>
<p>Jujur aja, aq ampe makan ati dibuatnya. Aq ngerasa kayak sampah yg dicampakkan gitu aja.</p>
<p>Waktu terus berjalan, pelan tapi pasti aq mulai bisa menerimanya.<br />
Duniaku ga boleh berhenti berputar meski dia ga ada di sampingku lagi.</p>
<p>Dan kini, aq baru menyadari hikmah di balik semua itu.<br />
Tanpa kusadari selama ini aq begitu tergantung padanya. Aq berada di bawah bayang-bayang dirinya.</p>
<p>Aah, sahabat&#8230;maafin aq ya jika selama ini udah membebanimu.<br />
Maafkan jika aq udah terlalu banyak menyita waktu n hatimu untuk mendengar keluh kesahku.</p>
<p>Terimakasih kamu udah membuatku lebih kuat, walo dengan cara yg sedikit menyakitkan.<br />
Tapi asal kamu tau, terkadang aq merindukan keakraban n kedekatan kita dulu&#8230;<br />
Tapi aq tau, segalanya tidak akan sama lagi di antara kita berdua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/06/sahabat-yang-pergi-dariku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Right Jobs</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 11:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Jika sedang tidak lembur, hari sabtu adalah hari dimana aku bisa bersantai dan melakukan apa aja yang kusuka sepanjang hari. Nggak ada ceritanya berangkat kerja terburu-buru karena bangun kesiangan, mau bangun jam 8 kek, jam 9 nggak masalah. Paling-paling keluarga aja yang ngomelin: perjaka kok bangunnya molor. Uhm…itu masalah juga sih, aku kan udah kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Jika sedang tidak lembur, hari sabtu adalah hari dimana aku bisa bersantai dan melakukan apa aja yang kusuka sepanjang hari. Nggak ada ceritanya berangkat kerja terburu-buru karena bangun kesiangan, mau bangun jam 8 kek, jam 9 nggak masalah. Paling-paling keluarga aja yang ngomelin: perjaka kok bangunnya molor. Uhm…itu masalah juga sih, aku kan udah kerja keras selama lima hari masa nggak boleh nyane sehari aja.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Standar aja sih kegiatan yang aku lakuin kalau nyante di hari sabtu, habis mandi biasanya liat teve sambil makan. Kalau acaranya bagus biasanya bisa bertahan ampe siang, lalu njemput bibi pulang dari kerja. Habis itu sholat, makan siang trus cetingan atau ngenet pake hape. Aku jarang, atau boleh dibilang hampir nggak pernah tidur siang. Nggak biasa aja, padahal aslinya pengiiin banget bisa ngerasain tidur siang yang nyenyak untuk nebus tidur malam yang sering aku korupsi untuk ngetik.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Tapi kalau lagi ada proyek nulis yang digarap biasanya aku manfaatin hari sabtu itu untuk mengetik seharian. Iam really-really enjoy its. Seringkali waktu berjalan begitu cepat ketika aku tenggelam dalam cerita yang kutulis. Kadang aku berpikir, betapa bahagianya kalau setiap hari bisa kayak gitu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Jujur aja, aku emang udah bosen bin jenuh sama kerjaanku sebagai penjaga loker di perpus tempatku berkerja selama ini. Mungkin orang yang udah kenal lama sama aku, bosen denger keluhanku itu. Habis gimana, udah nggak ada lagi tantangan yang kudapatkan dari kerjaanku itu. Tiap hari ya hanya gitu-gitu mulu, standby di tempat loker menunggu pengunjung yang datang.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Emang salahku sendiri sih yang kurang berani take a risk cari kerjaan yang lain yang lebih baik. Tapi mau gimana lagi, dengan hanya ngandelin ijasah SMA pekerjaan yang bisa kudapatkan tentu terbatas banget. Paling-paling kerjaannya juga nggak jauh beda, kerja pake fisik. Trus kebanyakan sekarang perusahaan nerapin sistem kontrak, kalau di PHK nggak dapet apa-apa.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Sebenarnya aku udah seneng kerja di perpus dan sayang buat ninggalin tapi ya gitu nggak ada perkembangannya. Yang bikin aku nggak bisa cabut lumayan banyak. Pertama dari segi pendapatan, meski nggak besar2 amat tapi rutin. Trus walopun sistem kontrak tapi kalau someday keluar atau di-PHK masih dapet semacam pensiunan. Dan yang paling utama, kesetiaanku bertahan hampir sembilan taun ini nggak sia-sia karena beberapa waktu yang lalu aku lolos seleksi menjadi CPNS. Jadi bego banget kalau sekarang aku ninggalin gitu aja. Karier menulisku juga belum bisa aku jadikan sandaran untuk hidup sepenuhnya. Mana mungkin aku menggantungkan hidup dari royalti yang dikirim enam bulan sekali itu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Mungkin aku kedengarannya nggak bersyukur banget karena di luar sana masih banyak penggangguran, masih banyak orang yang harus kerja mati-matian dengan gaji yang nggak sepadan, masih banyak orang yang juga jenuh sama kerjaannya tapi nggak bisa cari side job atau pelarian kayak aku. Tapi aku juga nggak mungkin lempeng-lempeng aja kayak gini. Di atas sana banyak orang-orang yang jauh lebih sukses dan jujur aja aku iriii banget liatnya. Iri di sini dalam artian yang positif bukan iri-iri sirik tanda tak mampu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Aku tahu harus do something tapi nggak tahu itu apa. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah tetep menjalani kerjaan di perpus dengan baik dan berharap para atasanku meliat ‘potensi’ yang kumiliki cieee bahasanya narsis banget. Keinginanku nggak muluk-muluk kok, aku ingin mereka ngasih aku kerjaan yang nggak hanya ngandelin fisik.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Yang pasti aku juga akan tetep akan menulis sampai kapan pun karena aku masih yakin (semoga nggak akan pernah luntur keyakinan itu) bahwa becoming writer is the right jobs for me. Aku mencintai pekerjaan ini, aku merasa lebih hidup dan mempunyai arti karenanya. Ketika ada orang yang tertawa, gembira atau sedih karena membaca tulisanku rasanya sangat…uhm nggak bisa digambarin deh. Dan pastinya nggak bisa digantikan oleh apapun.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">So…what about you? Apakah pekerjaan yang kalian jalani saat ini is the right jobs atau masih pengin cari yang lain? Terpaksa hanya karena alasan materi ataukah kalian menjalaninya dengan penuh kepuasan batin?</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
