<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bloglodak.com &#187; freaky</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/category/freaky-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>i love blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Jul 2010 04:50:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>bloglodak.com</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>softdrink feat susu</title>
		<link>http://bloglodak.com/2010/02/softdrink-feat-susu/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2010/02/softdrink-feat-susu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 09:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini lagi demen minum softdrink campur sama susu. Awalnya sih ikut-ikutan temen yang suka bikin Mega Mendung, udah pada tahu kan minuman apa yang aku maksud?
Beneran nggak tahu? Duh, kemana aja sih lo selama ini he3
Itu tuh, Co..ups nggak boleh sebutin merk yak? Aah biarin wes. Mega Mendung itu campuran Coca Cola sama susu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini lagi demen minum softdrink campur sama susu. Awalnya sih ikut-ikutan temen yang suka bikin Mega Mendung, udah pada tahu kan minuman apa yang aku maksud?</p>
<p>Beneran nggak tahu? Duh, kemana aja sih lo selama ini he3</p>
<p>Itu tuh, Co..ups nggak boleh sebutin merk yak? Aah biarin wes. Mega Mendung itu campuran Coca Cola sama susu. Tentu saja susu yang dipake adalah susu putih yang kental dan manis. Kalau pake susu coklat ntar bukan Mega Mendung namanya, tapi Mega Mustika ha ha ha itu mah nama penyanyi dangdut era 80an. Trus kenapa kok yang dipake susu kental yang manis? Tentu saja biar rasanya manis he he he jawaban yang ga berkualitas banget.</p>
<p>Cara bikinnya gampang banget. Yang pertama-tama adalah beli dulu Coke sama Susunya. Dianjurkan membeli pake uang ndiri, jangan minjem apalagi ngutil karena itu akan berpengaruh pada hasil akhir.</p>
<p>Yang kedua, ambil gelas ukuran besar dan sendok untuk mengaduk. Tuangin dulu susu ke dalam gelas, untuk takarannya tergantung selera. Tapi kalau punya bakat tulang keropos, mending  dibanyakkin aja susunya. Setelah itu, tuangin Coca-nya dan aduk pelan-pelan biar mencampur dengan sempurna dan busanya nggak sampe meluber keluar gelas.</p>
<p>Aku sendiri nggak tahu kenapa kok dinamain Mega Mendung, padahal kan mendung tuh warnanya abu-abu bukan coklat muda. Mungkin karena tampilan atau hasil akhir dari campuran dua jenis minuman itu yang akhirnya menginspirasi orang untuk memberi nama Mega Mendung. Sayang aku nggak sempat motret, pokoknya kalau campurannya sempurna maka di gelas itu nanti yang bagian bawah nampak campuran Coca dan Susunya yang berwarna coklat muda dan di atasnya ada busa yang banyak mirip awan gitu.</p>
<p>Nah, kemarin aku nyoba berkreasi dengan mengganti Coca sama Fanta warna Pink. Tentu aja, hasilnya nggak ada busa-busanya. Kenapa aku jadi suka sama minuman softdrink campur susu ini? Soalnya selama ini kalau minum softdrink tuh selalu ada sedikit feel guilty gitu sama my body, aku dulu udah pernah nulis di blog (hasil copas sih) kalau minum softdrink tuh sebenarnya nggak menghilangkan rasa haus tapi malah mengurangi jumlah kadar air dalam tubuh kita. Makanya aku udah lama mengurangi konsumsi softdrink, walaupun kadang suka ngiler sih kalau liat orang minum di sampingku. Nah dengan mencampurnya dengan susu, setidaknya kan tubuhku juga dapet efek samping yang positif yaitu dapet asupan kalsium he3.</p>
<p>Kalau MP&#8217;ers sendiri, punya minuman favorit apa? Bagi -bagi di sini dunk, siapa tahu ada yang unik kan bisa dicoba tuh di rumah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2010/02/softdrink-feat-susu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ouch&#8230;Infection of The Alay</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/12/ouch-infection-of-the-alay/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/12/ouch-infection-of-the-alay/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 19:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[alay]]></category>
		<category><![CDATA[lebay]]></category>
		<category><![CDATA[personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Aku pertama kali mengetahui kata Alay dari sebuah tabloid ibukota yang waktu itu membahas tentang fenomena jasa penonton bayaran yang banyak digunakan oleh stasiun televisi swasta dalam acara-acara mereka. Paling banyak sih di acara musik, tujuannya tentu saja untuk memberi kesan ‘ramai dan heboh’ sehingga penonton yang melihatnya di rumah tertarik dan menganggap acara itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku pertama kali mengetahui kata Alay dari sebuah tabloid ibukota yang waktu itu membahas tentang fenomena jasa penonton bayaran yang banyak digunakan oleh stasiun televisi swasta dalam acara-acara mereka. Paling banyak sih di acara musik, tujuannya tentu saja untuk memberi kesan ‘ramai dan heboh’ sehingga penonton yang melihatnya di rumah tertarik dan menganggap acara itu bagus karena banyak orang yang sampe bela-belain untuk nonton langsung di studio atau lokasi acara.</p>
<p><strong>Trus hubungannya sama Alay apa?</strong></p>
<p>Penonton bayaran yang ‘dipake’ stasiun swasta itu rata-rata adalah para Alay-er, bisa dilihat dari tampilan dan style yang menurut mereka gaul dan modis padahal aslinya sih keliatan norak dan nggak jelas banget kiblat fashionnya kemana. Trus juga aksi dan tingkah polah mereka yang heboh banget di televisi, misalnya aja melakukan gerakan-gerakan tangan secara bersamaan, joget-joget heboh sampai ngalah-ngalahin penyanyi sama dancer-nya. Tapi mereka juga nggak bisa disalahin sih karena mereka memang dibayar untuk seperti itu. </p>
<p><strong>Lalu hubungan Alay sama aku apa?</strong></p>
<p>Perlu aku kasih tahu bahwa selama ini jika sedang chatting menggunakan hape aku selalu menyingkat-nyingkat kata yang kutuliskan, tujuannya adalah untuk menghemat tenaga sehingga jari-jemariku nggak sampai keriting karena kebanyakan chatting.<br />
Selama ini sih fine-fine aja dan tidak ada yang protes dengan kebiasaanku itu, biasanya sih teman-temanku udah maklum jika aku mengetiknya disingkat-singkat gitu pasti lagi onlen pake hape.</p>
<p>Sampai kemudian ada temen chatting baru yang seringkali nggak ngerti dengan singkatan yang aku pakai, uhm…sebenarnya sih singkatan yang kupakai masih standart dan umum dipakai di bahasa SMS. Misalnya aja ‘yang’ aku singkat jadi yg, ‘dapat’ jadi dpt, trus ‘nya’ nulisnya X aja.</p>
<p>Tapi temenku ini tetep saja kekeuh nggak mau kalau chattingan dengan gaya tulisan yang menurutnya nyebelin. Trus pernah juga aku ngirimin SMS Selamat Pagi, eh malah dibalasin dengan sebutan Alay. Aku sih nggak ngefek ya dengan balasan SMS-nya itu because for me its not Alay. Dalam persepsiku Alay itu hanya merujuk pada style dan tingkah laku yang kampungan.</p>
<p><strong>And then…</strong></p>
<p>Ada salah satu temen yang memposting sebuah link tentang Alay Generator, dimana kita bisa merubah tulisan kita yang biasa menjadi tulisan Alay. Nah, di situ ada tiga pilihan Alay Style:<br />
1.	Tulisan Disingkat-singkat.<br />
2.	Tulisan Besar Kecil<br />
3.	Tulisan Huruf dan Angka.</p>
<p>Aku langsung ketawa-tawa sendiri dan nggak nyangka gitu bacanya, jadi gaya chattinganku itu termasuk dalam katagori Alay?</p>
<p><strong>Oh My God, drag me to hell aja dah…ha ha ha ha.<br />
</strong></p>
<p>Didorong oleh rasa malu tapi tetep ya masih nggak ikhlas nerima kenyataan itu…halaah lebay banget, akhirnya aku searching everything about Alay. Aku nemuin banyak banget definisi, ciri-ciri sampai kasus Alay paling heboh yang menimpa seorang siswi SMA dari Banyuwangi bernama Ophi A. Bubu. Begitu hebohnya sampai-sampai The Jakarta Post secara khusus membahasnya dalam artikel Messing With Letters.</p>
<p>Di bawah ini adalah salah satu contoh note-nya Ophi:</p>
<p>cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa……(Sayang kamu tau sakitnya&#8230;.)<br />
m_tHa apOn YoH…………… (Minta ampun ya)<br />
qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo……….(Aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu)<br />
bUD….. (But)<br />
cIa” adJA………………… (Sia sia aja)</p>
<p>Walaupun di situ udah diartikan tapi tetap saja aku pribadi sampai pusing dan mengernyitkan dahi membacanya. Entah style penulis mana yang dia ikutin sampai dia bisa buat tulisan serumit itu hi hi hi</p>
<p>Tapi kasian juga tuh anak karena hanya karena pengin mengekspresikan diri dan terlihat keren dia sampai dihujat habis-habisan di dunia maya sama anak-anak Kaskus bahkan sampai minta maaf segala di FB-nya seakan-akan ke-Alay-annya itu sebuah dosa. Coba deh bayangin kalau kita berada di posisinya, pasti akan sangat merasa stress dan tertekan sekali.</p>
<p>Kalau aku sendiri, awal mula menyingkat-nyingkat tulisan karena dulu seringkali nggak mengerti dengan SMS-SMS yang dikirim oleh beberapa teman yang memakai kata-kata singkatan. Dari situ lah, aku akhirnya belajar mengartikan dan kemudian ikut menggunakannya. Tapi waktu itu belum ada istilah Alay jadi ya fine-fine aja toh. Lagian aku nggak sampe yang mencampur adukkan antara huruf besar kecil dan angka. Trus aku juga tahu kapan waktunya menggunakan singkatan, nggak mungkin banget lah aku menulis blog pake tulisan kayak gitu.</p>
<p><strong>Saraap, aku baru ingat!! </strong></p>
<p>Mantan cewekku juga kalau SMS suka pake gaya tulisan Besar-Kecil kayak si Ophi itu. Dulu aku suka heran dan kagum aja ngeliat gimana fasih dan cepetnya dia mengetik di keypad dengan huruf Besar-Kecil kayak gitu. Pernah aku iseng-iseng nyoba tapi langsung nyerah karena nggak telaten dan capek harus berkali-kali mencet tombol perubah jenis huruf tiap kali mengetik. Lagian style kayak gitu kan identik dengan cewek.</p>
<p>So, kesimpulan dari semua yang udah aku sampaikan di atas adalah virus Alay sangat mudah sekali menular, terutama dalam gaya penulisan. Dan kita biasanya nggak sadar atau pura-pura nggak sadar saat mulai terjangkiti virus Alay.</p>
<p>Aku sendiri mulai sekarang sudah berusaha untuk menulis dengan normal kembali saat chatting. Tapi alasannya bukan karena takut dicap Alay tapi agar lawan chatting-ku mengerti dengan apa yang aku tuliskan.</p>
<p>Trus juga yang terpenting ini, janganlah kita mengolok-olok, menghujat, menjelek-jelekkan bahkan sampai mempermalukan Alayers. Karena aku ngeliat selama ini, seringkali orang-orang sok-sokan dan mudah sekali nge-judge orang lain Alay biar terkesan update dan berkelas. Jangan sampai kita menjadi orang yang suka merendahkan orang lain hanya agar dirinya terlihat lebih tinggi dari orang lain. </p>
<p>Kalau kita nggak suka dengan style dan tingkah laku Alay, keberatan atau pusing dengan gaya tulisannya yang ajaib itu, kasih tahu aja dengan cara yang halus dan nggak menyinggung perasaannya. In case, kita kenal secara personal. Kalau enggak mah, ya nggak usah. Toh itu hidup-hidup dia, terserah dia mau mengekspresikan diri kayak apa sejauh nggak mengganggu kita.</p>
<p>Lagian nggak selamanya lho style tulisan Alay itu berdampak negative, dalam hal pembuatan password kekreatifan mencampurkan huruf dan angka sangat diperlukan sekali. Dan seperti yang aku sebutin di awal tulisanku tadi, pihak televisi membutuhkan Alayers untuk meramaikan acara musik mereka. Lambat laun, fenomena Alay ini akan segera tergantikan oleh fenomena baru lainnya. Sebagaimana halnya Lebay tergusur oleh Alay.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/12/ouch-infection-of-the-alay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pijat Plus Plus ala Mbah Gondho</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 02:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Mbah Gondho]]></category>
		<category><![CDATA[pijat plus plus]]></category>
		<category><![CDATA[pijat urat]]></category>
		<category><![CDATA[salah urat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Blog ini adalah lanjutan dari blog sebelumnya: Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran yang mendalam…boong banget, padahal hanya perlu waktu setengah jam buatku mutusin untuk memijatkan kakiku yang cedera ke tukang pijat urat. Nggak peduli deh sama sakitnya daripada cederaku ini ntar malah jadi tambah parah.
Nama tukang pijat urat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog ini adalah lanjutan dari blog sebelumnya: <a href="http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/">Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat.</a></p>
<p>Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran yang mendalam…boong banget, padahal hanya perlu waktu setengah jam buatku mutusin untuk memijatkan kakiku yang cedera ke tukang pijat urat. Nggak peduli deh sama sakitnya daripada cederaku ini ntar malah jadi tambah parah.</p>
<p>Nama tukang pijat urat itu adalah Mbah Gondho. Wuiiiih namanya horor banget yak? Ngingetin sama tokoh-tokoh antagonis di sandiwara radio 80an, seperti Mak Lampir, Grandong dan kawan-kawan.<br />
Aku sama Bibi berangkat ke rumahnya Mbah Gondho sehabis Isya, ya sekitar jam tujuhan lah. Kami sempat kesasar karena Bibiku udah agak lupa letak rumahnya.<br />
Ketika sampai di rumahnya kami disambut istrinya Mbah Gondho, orangnya udah paruh baya gitu deh. Kami lalu dipersilahkan duduk sambil menunggu Mbah Gondho yang masih ada di dalam.</p>
<p>Mbah Gondho orangnya berperawakan sedang dengan tubuh lumayan berisi untuk ukuran orang setua beliau. Kulit agak gelap, suaranya dalam dan berwibawa. Nggak tahu kenapa aku serem aja liatnya, mungkin karena terpengaruh sugestiku sendiri.<br />
Beliau lalu menanyakan keluhanku apa, udah berapa lama dideritanya. Aku ceritain deh kronologis kejadiannya, mulai dari A sampe A lagi he he he mbulet dunk ya?<br />
Mbah Gondho lalu memintaku menjulurkan <del datetime="2009-11-15T02:50:21+00:00">lidah</del> kaki kananku, lalu dipegang dan dirabanya kakiku.<br />
“Wah, nanti sakit ini mijatnya…” ujar Mbah Gondho sambil terkekeh-kekeh padaku. Aku mendengarnya langsung down gitu, si Mbah jujur banget sih jadi orang. Kenapa aku nggak dibohongin aja sih biar nggak keder duluan.</p>
<p>Kukira aku bakalan di pijat di dalam kamarnya atau ada tempat khusus tapi ternyata ya di ruang tamu itu. Karena mijatnya nanti sampe di bagian paha juga sementara aku pake pencil jeans which is hanya bisa dinaikkan sampe betis maka aku disuruh ganti dengan sarung.<br />
Dengan hati deg-degan aku duduk berselonjor di kursi panjang, sementara Mbah Gondho berada di ujung kakiku.<br />
“Ini sakit nggak?” tanya Mbah Gondho sambil mijet ujung jari telunjuk kakiku.<br />
“Aah…aah…sakit Mbah…” rintihku. Aku sendiri heran, padahal si Mbah mijetnya nggak keras tapi ujung jariku rasanya kayak dijepit besi gitu.<br />
“Masa sih diginikan aja sakit…?” tanya Mbah Gondho sambil mijat lagi, kali ini gantian jari tengahku.<br />
“Aduh Mbah, sakit beneran…” Si Mbah lagi-lagi hanya terkekeh melihatku meringis kesakitan.<br />
Sumpah, bukannya aku lebay atau apa, aksi Mbah Gondho yang seenaknya mijet-mijet jariku sambil terkekeh-kekeh tanpa peduli rasa sakit yang kurasakan, membuatku serasa ngadepin psycho sejenis Hanibal Lecter.</p>
<p>Pijatan di ujung jari itu hanyalah pemanasan, pijatan selanjutnya adalah menu utama yang mau nggak mau harus aku nikmatin. Rasanya sakit banget ketika Mbah Gondho memijat ruas jari manisku yang cedera itu, kata beliau sih salah satu uratku ada yang salah posisinya, yaitu menumpuk di urat sebelahnya. Whatever lah, yang penting kakiku sembuh dan bisa main capoeira lagi dengan nyaman. Sambil mijatin kakiku, Mbah Gondho ngajakin aku ngobrol. Mungkin tema obrolan disesuaikan sama usia pasiennya kali ya, berhubung aku cowok, masih muda dan cakep tentunya (yang baca nggak boleh protes) maka yang diobrolin ya masalah cewek. Beliau nanya sama aku definisi cewek cantik itu dinilai dari apanya. Berhubung aku manusia biasa, punya dua mata minus dan silinder, aku jawab aja dinilai dari wajahnya. Aku tahu sih, jawabanku tuh dangkal banget bin nggak berkualitas. Tapi masa bodoh deh ya, rasa sakit akibat pijatan Mbah Gondho membuat otakku males berpikir berat-berat. Lain ceritanya kalau aku lagi jadi juri Miss Universe, tentu dengan mantap akan kujawab bahwa seorang cewek cantik itu dinilai dari 3B-nya, yaitu Br**st, B*tt*ck and B*k*n*. Ha ha ha dasar juri nggak bermoral.</p>
<p>Mungkin Mbah Gondho ini nggak mau kalah sama panti-panti pijat yang kasih layanan plus-lus pada konsumennya, maka selain pijatan aku pun dikasih bonus berupa petuah dan nasihat menurut Falsafah Jawa. Mulai dari kasih jawaban yang bener bout definisi cewek cantik, gimana kita harus berbhakti sama orang tua hingga how to be a gentle man. Sayangnya, Mbah Gondho ngomongnya sering pake Bahasa Jawa Krama Inggil yang aluuus banget. Kadang karena nggak ngerti apa maksudnya, aku hanya manggut-manggut aja hi hi hi.</p>
<p>Seperti yang dibilang Mbah Gondho tadi, walaupun yang sakit itu hanya ruas jari manisku aja tapi yang dipijat itu harus keseluruhan karena urat-urat di kaki berhubungan sama urat-urat di atas. Maka dipijatlah aku mulai dari ujung kaki sampai pangkal paha, serius nggak bohong aku! Aku sendiri sebenarnya agak heran, yang biasa kudengar itu kalau pijat urat hanya titik-titik tertentu aja yang dipijat tapi kok ini sampe pangkal paha bagian dalam segala. Kalau pijatan di telapak kaki, betis dan paha bawah sukses bikin aku meringis sampai hampir menangis kesakitan maka pijatan di pangkal paha bagian dalam bikin aku ketawa-tawa kegelian bin keenakan ha ha ha mesum banget.</p>
<p>Habis kaki kanan dipijat, giliran kaki kananku. Karena nggak cedera maka mijatnya nggak banyak-banyak. Lalu naik ke kedua tangan, punggung dan pundak. Waktu di pijat bagian pundak tuh rasanya rileks banget, otot-otot yang tadinya kaku jadi lemes. Oh iya, aku sempet nanya sama Mbah Gondho dari mana beliau belajar mijat urat tapi sayangnya nggak dijawab. Malah dialihkan ke topik yang lain. Mungkin Mbah Gondho takut aku ikutan belajar dan nyaingin dese kali ya bo? (idiiih sok-sok pake dese segala)</p>
<p>Pemijatan baru berakhir sekitar pukul setengah sembilan, gilaaa pijat urat sampe satu setengah jam sendiri. Padahal aku dulu pernah pijat di tuna netra hanya sekitar satu jam. Karena Mbah Gondho ini termasuk pemijat indie alias nggak ikutan di panti-panti maka untuk tarifnya terserah kita mau bayar berapa. Yaa yang sepantasnya lah, kita harus bisa menyesuaikan sendiri sama tingkat keparahan sakit yang kita derita Kalau emang ngerasa puas nggak ada salahnya kasih bonus dan dipromoin ke temen. Itung-itung membalas budi sama orang yang sudah menolong kita sembuh dari sakit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Best Plends Wedding</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/07/my-best-plends-wedding/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/07/my-best-plends-wedding/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 09:37:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[sobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2009/07/17/my-best-plends-wedding/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi tradisi di Perpus tempatku kerja jika ada salah seorang yang menikah maka bakal dikerjain habis-habisan lewat kado yang diberikan. Parah banget deh pokoknya, biasanya ide-ide gila langsung bermunculan, terutama dari orang-orang yang dulu udah pernah dikerjain. Bisa dibilang pengin balas dendam geto. Jika diumpamakan jumlah barang dalam kado itu ada 10 buah, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menjadi tradisi di Perpus tempatku kerja jika ada salah seorang yang menikah maka bakal dikerjain habis-habisan lewat kado yang diberikan. Parah banget deh pokoknya, biasanya ide-ide gila langsung bermunculan, terutama dari orang-orang yang dulu udah pernah dikerjain. Bisa dibilang pengin balas dendam geto. Jika diumpamakan jumlah barang dalam kado itu ada 10 buah, maka hanya SATU atau DUA barang yang bener-bener bermanfaat positif, TIGA barang buat konyol-konyolan dan sisanya bener-bener barang yang nggak GUNA bin NGACO bangeed.</p>
<p><img src="http://ihwan.files.wordpress.com/2009/07/dsc02829.jpg?w=225" alt="DSC02829" title="DSC02829" width="225" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-156" /></p>
<p>Sebagai contoh, Nova yang menikah dua bulan yang lalu dapet barang bermanfaat berupa Selimut. Trus yang konyol-konyol kayak Kondom, Obat Kuat, Betadine, Tissue. Dan sisanya adalah barang-barang yang berkaitan dengan pekerjaannya. Berhubung Nova kerjanya di bagian loker maka dimasukkanlah puluhan kunci-kunci loker yang udah rusak beserta gantungannya sekalian, kardus hapenya yang emang sengaja ditaruh di kantor, kertas-kertas bekas fotokopian. Yang paling parah adalah sebuah krat beserta ke 24 botol kosongnya! Secara si Nova yang megang penjualan softdrink di Perpus wkwkwkwk. Saat Nova masuk dia cerita kalau keluarganya menyangka kado yang besar kardusnya itu isinya televisi atau apa kek, eh nggak tahunya sebuah krat botol!</p>
<p>Nah, kali ini yang mendapat giliran untuk dikerjain adalah si Putro yang menikah tanggal 16 Juli kemarin. Tentu saja Nova yang paling semangat menyiapkan kado ‘kutukan’ tersebut, secara dia masih gress menjadi korban keusilan anak-anak. Aku sendiri jauh-jauh hari sudah memutar otak untuk bikin something yang ‘berkesan’ buat Putro. Hubunganku sama Putro emang lumayan deket, kami biasa saling curhat masalah pribadi kami. Sialnya, menjelang H-3 aku belum juga menemukan ide yang brilian.</p>
<p>Dari rapat dadakan yang dipenuhi dengan ‘konspirasi’ dan ambisi balas dendam antara Nova, Dedi dan aku, maka tersusunlah list barang2 yang akan kami beli. Aku juga sempet minta saran2 dari temen Fesbuk dan MP, pokoknya semua bala bantuan dikerahkan deh. Barang-barang itu antara lain adalah Seperangkat Sprei, Kondom, Betadine, Tissue, Air Minum, Obat Kuat dan Boxer yang dilubangi tepat di bagian depannya (thanx Arief atas sumbangan idenya). Trus karena si Putro hobby melihara burung maka dikasih bonus berupa makanan burung mulai dari ulat, jangkrik mpe pelet2nya sekalian. Biarin deh Inda (istrinya Putro) nanti jerit-jerit ketakutan saat membuka kadonya, ntar pasti dikira keluarganya lagi diapa-apain geto sama si Putro he3.</p>
<p>Sedangkan khusus dariku, secara si Putro tuh narsis banget maka muncullah sebuah ide untuk mbikinin dia poster yang ‘berkesan’ buat mereka berdua. Kebetulan aku punya foto-foto Putro dan Inda sejak mereka jadian hingga sekarang. Untunglah, Villain Side-ku langsung bangkit (ciee…ciee…) dan muncullah ide poster yang aku yakin bakal ‘berguna’ banget untuk Putro dan Inda. Posternya itu judulnya Panduan Malam Pencoblosan, nendang banget nggak tuh!.</p>
<p>Nggak tahu kenapa, pembelian kado buat Putro kali ini banyak banget rintangannya. Dimulai dari susahnya nyari temen buat beli-beli kado itu. Gintoro bersikukuh nggak mau nemenin sampe bikin aku kecewa ma dia. Masa dia nggak mau berpartisipasi untuk kasih surprise buat temen kerjanya sendiri? Belakangan baru aku tahu alasan yang sebenarnya, dia takut nanti dibalas lebih kejam lagi sama Putro. Didik lagi repot masang jaringan sama anak2 PKL. Anak-anak fotokopi nggak bisa ninggalin fotopian karena si Nur lagi prajabatan di Surabaya. Dedi sendiri kebagian tugas beli makanan2 burung dan Nova bagian membungkus kado. Sumpah, aku sampe bete dan senewen sendiri.</p>
<p><img src="http://ihwan.files.wordpress.com/2009/07/dsc06635.jpg?w=300" alt="DSC06635" title="DSC06635" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-158" /></p>
<p>Untunglah, Dedi mau joinan belinya. Namun rencana langsung berubah seketika karena Nova dimintai tolong Pak Udin untuk mbayarin pajak motor beliau. Ya udah, mending sekalian aja belinya sama Nova. Masalah nggak berhenti sampe di situ aja, kami baru bisa berangkat jam 11 karena Pak Udin nggak kunjung bikinin surat kuasa untuk Nova buat mbayar pajak. Trus pas lagi di tengah perjalanan, Nova dikasih tahu orang kantor kalau SK CPNS-nya mau turun dan diharuskan ngumpul di Kantor Rektorat jam 1 siang. Sialan, waktu kami bener-bener terbatas. Pencetakan poster juga ngalamin sedikit masalah, aku penginnya nyetak di kertas biasa aja biar murah tapi dengan hasil tetep bagus he3. Tapi si Mbak-Mbak Digital Printing (pura-pura) nggak mudeng dengan kertas yang kumaksud dan nawarin kertas Synthetic yang harganya mahal gilaa. Karena waktunya mepet, akhirnya aku oke aja deh yang penting cepet jadi! Eh, nggak tahunya pas aku ngambil tuh poster ternyata ada cacatnya, ada fotonya Putro dan Inda yang wajahnya item geto. Tentu aja aku komplain dunk, udah bayar2 mahal juga. Dalam otakku hanya ada 2 opsi, tuh poster dicetak ulang atau kasih potongan harga. Ternyata opsi pertama yang dikasih. Nggak hanya itu, poster yang cacat itu dikasihkan juga. Yippiie, nyetak dua poster dengan satu harga dunk he3.</p>
<p>Kejadian lucu selalu aja terjadi pas pembelian kondom. Kalo dulu sih masih malu-malu gimana geto tapi sekarang mah masih teteup he3. Kami waktu itu belinya di sebuah apotek depannya SMP 6, sialnya kondom2nya tuh nggak dipajang di display kayak apotek deketnya Hero dulu, tapi ‘dipajang’ di sebuah kotak kaca di meja kasir. Bagusss! Wah nggak bisa milih-milih dunk batinku, malah awalnya aku pengin si Nova nyoba dulu sekalian wkwkwkwk.<br />
Nova sendiri langsung cuci tangan, payah banget deh. Kan dia yang udah merid masa masih malu beli kondom. Ya udah lah, aku dengan pedenya (nekat juga) ngomong sama Ibu Kasirnya.<br />
“Bu, beli kondomnya yang ini…,” ucapku dengan sopan sambil menunjuk kondom yang bungkusnya warna merah. Udah nggak mikir merk, jenis apalagi rasanya deh. Pertimbanganku milih merah karena merah itu kesannya hot dan penuh gairah wkwkwkwk.<br />
“Silahkan ambil…,” kata si Ibu tanpa ada inisiatif untuk membukakan kotak kaca tersebut padahal jelas-jelas pintu kacanya tuh menghadap ke beliau.<br />
Kemudian kuputar kotak itu dan aku berusaha mbuka kotak itu tapi ternyata nggak bisa.<br />
“Bu, ini gimana mbukanya. Saya nggak bisa…”<br />
Si Ibu-Ibu Kasir itu akhirnya mau membukakan kotak tersebut. Kukira dia juga bakalan ngambilin tuh kondom, eh ternyata enggaaak. Aku jadi heran sendiri dan pengin ketawa aja, nih Ibu kenapa sih. Harusnya kan sebagai penjual beliau lebih bisa maximal pelayanannya dan nggak perlu ‘gengsi’ gitu ya pegang2 kondom. Mungkin beliau mikir, tuh kondom mau aku pake buat ML ma pacarku atau cewek bispak kali ya? Sehingga beliau nggak mau ‘kecipratan’ dosa hanya karena ngambilin tuh kondom. Kok jadi aku yang negatif thinking gini. Aaah sutralah, mungkin tuh Ibu alergi sama barang2 berbahan dasar karet. Atau jangan-jangan, wajahku ada tampang-tampang mesumnya wkwkwkwk.</p>
<p>Kira-kira pukul satu kurang sepuluh menit aku dan Nova udah dalam perjalanan pulang di jalan Ijen, eh nggak tahunya roda depan motornya Nova bocor. Mana kami nggak tahu tempat tambal yang terdekat di situ. Ya udah, nggak ada pilihan lain. Aku akhirnya turun sementara Nova mbawa motornya pelan-pelan sambil nyari penambalan ban. Bayangin ya, di siang bolong yang teriknya minta ampun itu aku harus jalan mulai dari SMP Lab sampe Unibraw, satu kilometer lebih mungkin jauhnya. Mana aku pake seragam kerja dan bawa-bawa plastik belanjaan gitu, untung nggak ada razia PNS yang hobi nyuri2 waktu buat shopping. Aku sampai mikir, ini sebenarnya yang banyak dosanya siapa sih. Apa mungkin Tuhan nggak ngiijin aku sama Nova ngerjain Putro atau karena dosanya Putro udah kebanyakan karena selalu jadi koordinator kado ‘kutukan’ sejak dulu.</p>
<p>Kesialan nggak berhenti sampai di situ, esoknya saat mau berangkat ke nikahannya Putro, mobil dinas yang kami pake bannya agak kempes. Trus pas pulangnya mogok dua kali, pertama di gang rumahnya Inda trus yang kedua di Simpang Balapan. Astaghfirullahaladzim…jangan-jangan Putro lupa nggak bayar penghulunya kali yak kok kami berturut-turut kena sial gini?<br />
Yang paling ngasal tuh Pak Cholis, masa beliau nuduh aku biang keroknya. Katanya semua kesialan itu terjadi karena aku nggak rela bin nggak ikhlas ditinggal kawin sama Putro. Maksud Loh…? Aaarghh…parah-parah, bener-bener biang gossip!!.</p>
<p>Hmm…kayaknya aku udah kebanyakan neh ceritanya. Oke deh, aku finishing aja sebelum kalian semua ngelemparin aku pake mouse. Lepas dari semua cerita konyol dan kesialan yang terjadi, dari lubuk hatiku yang terdalam kuucapkan: Selamat Menempuh Hidup Baru buat Putro dan Inda. Semoga kalian bisa membentuk Keluarga SaMaRa (Sakinah Mawaddah wa Rahmah) dan segera dikaruniai anak2 yang sholeh dan sholehah*.Amin. Kalaupun ada hal yang ingin aku protes hanya ada satu hal, yaitu Kenapa sih Tro pas kami datang, kamu keburu lepas kostum akad nikahmu?! Aku kan jadi nggak bisa nyolong bunga melati di kerismu&#8230;!!</p>
<p>*psi: kalo gitu kondomnya nggak usah dipake, kasihkan aku aja wkwkwkwk.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/07/my-best-plends-wedding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>one word about me</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/01/one-word-about-me/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/01/one-word-about-me/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 08:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[ Beberapa waktu yang lalu aku dapet sms dari temen (cewek) yang masih kelas 3 sma gitu, biasa lah anak2 ABG kayak gitu suka kirim sms2 yang isinya tuh iseng mulu malahan kadang nggak penting banget.Paling sering dapet sms berantai yang seumpama nggak diterusin bakalan kena akibat yang buruk. Paling parah tuh ya dapet sms [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#3366ff;"> Beberapa waktu yang lalu aku dapet sms dari temen (cewek) yang masih kelas 3 sma gitu, biasa lah anak2 ABG kayak gitu suka kirim sms2 yang isinya tuh iseng mulu malahan kadang nggak penting banget.</span><br /><span style="color:#3366ff;">Paling sering dapet sms berantai yang seumpama nggak diterusin bakalan kena akibat yang buruk. Paling parah tuh ya dapet sms yang isinya gini : I Love Allah. Yang mana bila aku nggak nerusin tuh sms ke sepuluh orang temenku, aku bakalan kena azab Illahi. Oh my Gosh, ada-ada aja. Aku kemudian mikir kalo seumpama orang yang nerima sms itu pulsa abis trus juga lagi bokek abis dan dia termakan dengan isi sms tersebut. apa nggak stress disumpahin kayak gitu.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Nah, sms yang kemarin tuh isinya masih agak mendingan. Aku disuruh menggambarkan tentang si pengirim sms hanya dengan satu kata. Trus aku juga disuruh nyebarin ke 10 orang temenku, untungnya kali ini nggak ada kutukannya.</span><br /><span style="color:#3366ff;">Aku sempat mikir2, kira2 kata apa yang pas buat menggambarkan tuh cewek. Akhirnya setelah minta petunjuk sama Mama Loreng (sapa lagi ntuh) aku balas smsnya dengan jawaban: Friendly.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Walopun nggak ada kutukannya tapi aku tertarik juga untuk menyebarkan tuh sms. Yaa, aku kan juga pengin tahu gimana teman2 dan orang dekatku menilaiku selama ini.</span><br /><span style="color:#3366ff;">Setelah menunggu dengan hati berdebar-debar (belum makan soalnya), akhirnya satu persatu teman2ku membalas smsku.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Si cewek yang tadi nularin aku, mbalesnya: CERDAS. </span><br /><span style="color:#3366ff;">Nggak percuma selama ini aku minum obat cacing, manjur juga ternyata.</span></p>
<p><a href="http://nawhi.multiply.com/journal/item/ninanutter.multiply.com">Nina </a><span style="color:#3366ff;">bilang aku ini: PENDIAM.</span><br /><span style="color:#3366ff;">Kalo lagi tidur emang Pendiam Nin, coba aja kamu liat aku kalo lagi kena PMS.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Trus cewek sma lainnya balesnya: FRIENDLY</span><br /><span style="color:#3366ff;">Kalo lagi ada maunya emang friendly he he he</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Temen kerjaku yang udah merit bilang aku ini: GATEL</span><br /><span style="color:#3366ff;">Wew&#8230;gatel gimana maksudnyee? Perasaan dulu yang flirting itu elo, bukan gue wakakaka.</span></p>
<p><a href="http://nawhi.multiply.com/journal/item/masfathin.multiply.com">Fathin </a><span style="color:#3366ff;">malah hanya jawab: AKU. Jadi katanya kita berdua tuh banyak kesamaan sifat gitu. Jangan2 kami ini saudara kembar yang terpisahkan sejak lahir wakakaka.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Lalu </span><a href="http://profiles.friendster.com/28552288">Rindra </a><span style="color:#3366ff;">dengan entengnya balas: JAYUS. Malahan setelah aku konfirmasi dia menambahkan satu kata lagi: JAYUS ABIES.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Mas Ranu cuma jawab: ANU&#8230;.maksudnya apaa neh broo?</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Cuman tujuh orang yang mbales, sisanya entah karena sms ku nggak nyampek, males mbales (ngga punya pulsa kali yak) atau bisa juga saking kagumnya sama aku sampai nggak bisa menggambarkan diriku walau hanya dengan satu kata. Narsisnya kumat dah.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Kalo temen2 MP&#8217;ers mau kasih pendapat juga nggak apa2 tentang diriku.</span><br /><span style="color:#3366ff;">Inget cukup SATU kata aja (tapi harus ada penjelasannya he3)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/01/one-word-about-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>what is your OST today?</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/05/what-is-your-ost-today/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/05/what-is-your-ost-today/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 09:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[
Kali ini aku nggak ngajak kalian buat mbahas OST film favorit , melainkan sontrek kehidupan kita masing-masing. Maksudnya tuh lagu yang saat ini sesuai banget dengan suasana hati kalian. Penginnya tuh dengerin terus tuh lagu. Lagunya diputer bolak-balik, ampe MP3nya ngambek karena bosen disuruh muterin tuh lagu mulu. Atau kalau nggak gitu, dibela-belain request ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="item_body" class="bodytext">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;color:#3366ff;"><span style="font-size:small;"><span lang="EN-US">Kali ini aku nggak ngajak kalian buat mbahas OST film favorit , melainkan sontrek kehidupan kita masing-masing. Maksudnya tuh lagu yang saat ini sesuai banget dengan suasana hati kalian. Penginnya tuh dengerin terus tuh lagu. Lagunya diputer bolak-balik, ampe MP3nya ngambek karena bosen disuruh muterin tuh lagu mulu. Atau kalau nggak gitu, dibela-belain request ke radio. Liat video klipnya di teve (kalau bisa) jadi pengin ngegantiin model video klipnya atau vokalisnya sekalian karena saking nyatunya ama tuh lagu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;color:#3366ff;"><span style="font-size:small;"><span lang="EN-US">Dulu aku pernah jadikan lagunya KD yang <strong>Iam Sorry Godbye</strong> (oh my God, bisa2nya aku nulis hal ini di blog) sebagai sontrek karena kebetulan lagi punya problem yang mirip2 dikit ama isi lagunya. Sebenarnya sih waktu itu aku nggak pengin mundur dari kehidupan doi (lagaknya) tapi karena…lha kok jadi curhat? Back to the topic aja ya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;color:#3366ff;"><span style="font-size:small;"><span lang="EN-US">Tuh lagu aku puter bolak-balik di MP3-ku, trus kalau nggak sengaja denger di radio mendadak jadi mellow gitu. Cuiih, malu-maluin banget pokoknya.<span> </span>Trus pernah juga sontrekan (duh bahasanya nggak sesuai banget ama EYD) lagu Peterpan: <strong>Membebaniku</strong>, maklum waktu itu lagi ngadepin masalah yang beraat dan serius gitu. Ehm lagu apalagi yaa…?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;color:#3366ff;"><span style="font-size:small;"><span lang="EN-US">Oh iya, ketika menulis sebuah novel pun aku juga punya sontrek tersendiri. Tujuannya agar lebih bisa masuk ke dalam cerita yang sedang kutulis. Kebetulan waktu nulis Xero dulu nggak ada sontreknya, maklum ngetiknya kan di rental jadi lagunya terserah yang punya rental. Aku pernah nulis sad novel (ga tahu deh kapan aku edit lagi, masih butek nih) dengan sontrek 2DSD, lagi-lagi lagunya Peterpan. Aku emang ngefans banget ama tuh grup band. Lirik lagunya pas banget dengan jalan cerita di dalam novelku tapi lucunya <strong>sampe sekarang aku nggak tahu kepanjangan 2DSD itu apa</strong>. Ada yang tahu nggak..? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;color:#3366ff;"><span style="font-size:small;"><span lang="EN-US">Untuk (calon) novel ke-2, sontreknya ada beberapa lagu: Jangan Lupakan (Nidji), Sunny hi hi hi (BCL) Perfect Enemy dan Friend or Foe (Tatu), Gundhul2 Pacul (lagu daerah Jawa). Kalau yang udah tersedia di kompi sih tinggal puter tapi yang belum ada, terpaksa dinyanyikan sendiri. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;color:#3366ff;"><span style="font-size:small;"><span lang="EN-US">Kalau sekarang, sontrek yang paling pas buatku adalah lagunya PADI:<strong> Menanti Sebuah Jawaban.</strong> Biasa aja bacanya, nggak usah sok penasaran gitu karena bukan jawaban dari seorang CEWEK yang sedang kunanti. Melainkan jawaban dari penerbit…!! Sebenarnya sih udah gatel pengin tanya tapi berhubung belum sampe 3 bulan, jadi harus sabar menanti. Mana udah beberapa penulis yang ngeluarin buku baru, bikin iri aja tiap kali liat buku mereka dipajang di rak-rak buku. Duh kapan giliranku? Belum lagi ada beberapa orang yang sudah nanyain kapan novel keduaku terbit cieee, hmm…bikin kege-eran aja deh. Makanya, aku minta doanya ya dari kalian semua agar novel ke-2ku goal taun ini, Amin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;color:#3366ff;"><span style="font-size:small;"><span lang="EN-US"><br />
</span></span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/05/what-is-your-ost-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dapet semuanya kecuali yang bawah</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/01/dapet-semuanya-kecuali-yang-bawah/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/01/dapet-semuanya-kecuali-yang-bawah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 09:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[TC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2008/01/16/dapet-semuanya-kecuali-yang-bawah/</guid>
		<description><![CDATA[
Sebelumnya aku minta maaf bila isi blogku nanti membuat orang-orang dari suku tertentu tersinggung bacanya. Sungguh, sama sekali nggak ada niatan untuk melecehkan atau merendahkan. Aku hanya ingin berbagi cerita lucu aja sama para pembaca blogku. 


Sepulang kerja kemarin aku pergi ke tukang cukur langganan (baru tiga kali sih potong rambut di sana, udah termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="bodytext">
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><span style="color:#ff6600;">Sebelumnya aku minta maaf bila isi blogku nanti membuat orang-orang dari suku tertentu tersinggung bacanya. Sungguh, sama sekali nggak ada niatan untuk melecehkan atau merendahkan. Aku hanya ingin berbagi cerita lucu aja sama para pembaca blogku.</span> </font></p>
<p><font size="2"><br />
</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Sepulang kerja kemarin aku pergi ke tukang cukur langganan (baru tiga kali sih potong rambut di sana, udah termasuk pelanggan belum ya?) karena rambutku sudah waktunya dirapikan. Berhubung rambutku ikal jadinya kalau panjang dikit tuh makin keliatan mbrekele gitu. Ketika aku sampai di sana, nggak ada orang sama sekali. Yang ada malah suara tape yang diputar keras-keras (lagunya dangdut lagi) sehingga baru di ketukan pintu yang ketiga, si tukang cukur keluar dari dalam.</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku agak heran karena yang keluar bukan orang yang biasa motong rambutku tapi seorang cowok yang kira2 berumur dua puluhan. Mungkin dia pegawai baru, moga-moga aja potongan rambutnya nanti bagus. Sambil asyik dengan hapenya dia lalu mempersilahkanku duduk di kursi dan menanyakan potongan rambut yang kumau. Dari penampilan fisik dan logat bicaranya kayaknya dia ini orang Madura.</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"> </font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><b>Tukang Cukur (TC): Potong model apa, Mas?</b></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku: Seset, Mas. (Potongan seset itu hanya menipiskan volume rambut sedangkan panjangnya sama sekali nggak berubah)</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><b>TC: Semuanya….? (Maksudnya yang dipotong seset itu rambut bagian depan aja, samping aja atau seluruh rambut di kepala.)</b></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku: Iya semuanya tapi yang bagian belakang agak dipendekkin.</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><b>TC: Jangan Mas, lebih keren kalau dibiarin panjang.</b></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku hanya mbatin, terserah gue dunk. Rambut2 gue juga.</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku: Nggak lah, pendek aja. Kayak rambutnya sampeyan. (Lha, yang Madura ini aku apa dia kok malah aku yang duluan manggil dia sampeyan)</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><b>TC: Ooh, ini saya potong sendiri Mas. Jelek ini.</b></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku: Oh ya, bagus kok Mas. (tulus nih mujinya)</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"> </font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Enak banget ya jadi TC, kalau rambut udah panjang tinggal menghadap ke kaca dan sreet-sreet, langsung rapi deh rambutnya. Aku pun jadi nggak kuatir lagi, motong rambutnya sendiri aja bisa serapi itu pasti nanti juga bagus kalau motong rambutku. TC kemudian mulai beraksi, dengan lincahnya dia menggunting rambutku. Sambil memotong rambut dia ngajak ngobrol ngalor-ngidul. Oh iya, dia tetep ngomong pakai bahasa Indonesia karena dia baru tiga bulan di Malang dan belum bisa ngomong dalam bahasa Jawa. Tapi dari obrolan kami itu kesannya malah aku yang ‘diinterogasi’ sama TC cos dia banyak nanya2 tentang diriku. Mulai dari kerjaanku apa, gaji tiap bulan itu berapa. Bahkan dia nanyain aku udah punya pacar apa belum. Aku sempat curiga dibuatnya, jangan2 nih cowok naksir gue lagih ha ha ha</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Ketika dengan enteng kujawab kalau aku belum punya pacar, TC kayak nggak percaya gitu. Mungkin batinnya, cowok secakep gue kok belum punya pacar ya. Glodak!</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"> </font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku: Belum nambah maksudnya. (ralatku kemudian dengan gaya sok cool, jangan sampai aku keliatan jablay banget di hadapan TC!)</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><b>TC: Ooo, emang sih Mas kalau punya pacar banyak itu enak. Kalau yang satu lagi ngambek, kita tinggal ngapelin yang satunya lagi he he he.</b></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku hanya manggut2 dengernya. Bego banget sih nih orang, gampang banget dikibulin.</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku: Sampeyan sendiri udah punya pacar belum?</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><b>TC: Belum Mas. Sebenarnya cewek di sini cantik-cantik tapi aku sendiri yang nggak suka ama mereka. (Nah, lho jangan-jangan dia ini emang gay)</b></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku: Nggak suka gimana? Kamu nggak suka ama cewek gitu? (tanyaku dengan iseng)</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><b>TC: Bukan gitu Mas (dia ngomongnya tetap dengan ramah, untung aja nggak tersinggung). Kalau kita suka ama cewek di sini kan harus pedekate dulu, entah itu sebulan dua bulan. Nah kalau ama cewek di Madura sana enggak, walopun baru kenal satu malam tapi kalau udah sama-sama suka, kita bisa dapet <i>semuanya</i> dari tuh cewek. (walopun TC ini asli Madura tapi gaya bicaranya gaul juga lho)</b></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Aku: Dapet semuanyaaa…? (tanyaku dengan mimik muka nggak percaya bin kepengin gitu)</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><b>TC: Iya, kita bisa dapet <i>semuanya</i> kecuali <i>yang bawah</i> he he he (mesum mode on)</b></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"> </font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">TC pun lalu menjelaskan kalau di Madura sana para cowoknya biasa hunting cewek di acara dangdutan. Seumpanya ada cewek yang disukai, mereka akan pedekate dan jika ceweknya juga suka mereka bisa dengan mudahnya mengajak tuh cewek having fun. Biasanya si cowok akan mengajak si cewek untuk mojok berdua, entah itu ke sawah atau terserah kemana yang penting nggak ada orang yang liat. Seperti yang dibilang si TC tadi, dalam sesi mojok berdua itu <b>si cowok akan mendapatkan <i>semuanya</i> dari si cewek kecuali <i>yang bawah</i></b>, kalian udah ngerti kan maksudnya? Jadi ini semacam One Night Stand ala Madura kali ya? Cuman ini nggak sampai eM-eL gitu!</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">TC bahkan berani mengklaim bahwa seumpamanya aku pernah sekali ngerasain nonton dangdutan di Madura pasti bakalan ketagihan dan pengin balik lagi ke sana. Mendengar cerita TC aku jadi kepikiran untuk mengajukan usul pada BigBoss agar tujuan rekreasi tahun ini ke Madura saja, he he he. Nggak ding! Dari cerita TC aku jadi semakin yakin bahwa yang namanya <b>pergaulan bebas itu emang bukan lagi monopoli anak muda di Jakarta</b>, jadi fenomena itu sebenarnya juga sudah menyebar ke daerah-daerah. Aku ngomong gini bukannya mau sok suci atau apa, aku hanya menulis berdasarkan realita yang memang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, Glodak! </font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"> </font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Di akhir pembicaraan (yang nggak aku sangka-sangka bakalan dapet cerita seruu dari seorang cowok asli Madura) TC sempat-sempatnya nitip pesan <b>kalau seumpamanya aku punya kenalan janda muda agar dikenalin juga sama dia.</b> Katanya sih teman-temannya di Madura sana suka banget ama janda muda, lagi-lagi alasannya karena biasanya mereka bisa mendapatkan semuanya dari si janda muda. (dan yang pasti lebih pengalaman kali ya). Sebenarnya sih aku punya kenalan artis janda muda (dulu sempat kenalan di angkot) tetapi aku kuatir kalau nanti TC nekat pedekate ama tuh janda, bakalan digorok ama yang <i>punya</i>. Ada yang tahu siapa janda muda yang kumaksud…? <b>Itu tuh yang barusan launching album dan di salah satu lagu andalannya pake acara mendesah-desah lirih gitu: ih..ih..ih…</b>(ponakanku aja ikut ketawa dengernya).</font></p>
<p><font size="2"><br />
</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2">Ehm…by the way, aku agak kuatir nih dengan kejadian2 yang belakangan ini kualami. Kenapa semua menjurus ke hal-hal yang berbau esek-esek ya? Di tempat kerja aku punya teman kerja yang udah nikah dan kalau liat cewek kinclong pasti ujung2nya ngobrolin about sex. Di tempat cukur rambut malah dapet curhat colongan tentang gaya pacaran anak Madura yang lumayan bebas. Kalau terus-terusan kayak gini, bisa-bisa otakku ketularan ngeres nih (bukannya udah ngeres dari sononya..?) dan ujung-ujungnya jadi terinspirasi bikin cerita stensilan he he he. Just kidding!</font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><font size="2"><br />
</font></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/01/dapet-semuanya-kecuali-yang-bawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>last day in 2007</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/last-day-in-2007/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/last-day-in-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 03:57:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[moment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/31/last-day-in-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan utama keluar rumah sih mau servis motor soalnya udah agak ga enak rasanya. Sebenarnya jadwal servis masih bulan depan tapi aku putusin tetap servis aja cos takut ada apa2 sama motornya. Selain itu juga pengin nyari2 bahan buat novel, soalnya yang kemarin tuh aku ga lengkap nge-save-nya.
Nggak tahunya pas sampai di dealer, antrinya tuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">Tujuan utama keluar rumah sih mau servis motor soalnya udah agak ga enak rasanya. Sebenarnya jadwal servis masih bulan depan tapi aku putusin tetap servis aja cos takut ada apa2 sama motornya. Selain itu juga pengin nyari2 bahan buat novel, soalnya yang kemarin tuh aku ga lengkap nge-save-nya.</span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">Nggak tahunya pas sampai di dealer, antrinya tuh buanyaaak banget. aku lalu tanya sama mbak petugasnya, kira2 jam berapa nih giliranku nanti?</span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">Doi (cakep sih orangnya, makanya kita panggil &#8220;Doi&#8221;.oke?) bilang kalo tiap motor tuh butuh waktu 30 menit untuk servisnya. Akupun lalu menghitung kartu servis yang ditata di atas meja. <span style="font-weight:bold;">Anjriiit, jumlahnya tuh sepuluh lebih. Berarti aku harus nunggu minimal 5 jam baru motorku bisa diservis?</span> Lha, bisa basi aku nungguin di dealer.</span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">Lalu aku nanya, kalo antri buat besok gimana?</span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">&#8220;Bisa aja, tapi kan besok kami libur tahun baru&#8230;&#8221; jawab doi dengan suara merdunya.</span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">&#8220;Oh iya-iya, ya udah wis aku nunggu aja. Aku tinggal ngenet dulu ya mbak..?&#8221;</span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">&#8220;Okeh..!!&#8221;</span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#ff6666;">&#8220;Mau ikutan ngenet&#8230;?&#8221; batinku dalam hati.</span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">Untung di deket dealer ada warnet, jadi aku ga perlu cabut jauh2. </span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;">motornya aku tinggal aja di dealer. </span><br />
<span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Akhirnya, di sinilah aku sekarang. Duduk ganteng (kalo cewek kan manis he he) di depan kompi sambil sesekali senyum2 sendiri membaca komen2 di MP dan WP.</span></p>
<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Oh iya, sekalian mau ngucapin:</p>
<p></span></p>
<div style="text-align:center;color:#ff6600;"><font size="3"><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;font-weight:bold;">SELAMAT TAHUN BARU 2008 </span></font></div>
<div style="text-align:center;color:#ff6600;"><font size="3"><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;font-weight:bold;">BUAT KALIAN SEMUA YAAA</span><br />
<span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;font-weight:bold;">SEMOGA SEGALA CITA2 DAN ASA YANG BELUM KESAMPAIAN </span></font></div>
<div style="text-align:center;color:#ff6600;"><font size="3"><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;font-weight:bold;">BISA TERWUJUD TAHUN DEPAN, AMIN.</span></font></div>
<div style="text-align:center;color:#ff6600;"></div>
<div style="text-align:center;color:#ff6600;"></div>
<div style="text-align:center;color:#ff6600;"></div>
<div style="text-align:center;color:#ff6600;"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/last-day-in-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kutukan Cacing Kremi</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/kutukan-cacing-kremi/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/kutukan-cacing-kremi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 11:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/27/kutukan-cacing-kremi/</guid>
		<description><![CDATA[
Kemarin malam draft novel kedua udah nyampe halaman 170. Yess, Alhamdulillah sudah melewati jumlah halaman Xerografer. Targetku sih novel kedua ini kalau bisa mencapai 200 halaman. 
Bukannya aku terobesi ama jumlah halaman hanya saja aku pengin menampung aspirasi dari pembaca dan teman2, Glodak!

Katanya sih novelku terlalu kurus kayak orangnya hiks
Bahkan Fathin bilang kalo harga novelku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="bodytext">
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Kemarin malam draft novel kedua udah nyampe halaman 170. Yess, Alhamdulillah sudah melewati jumlah halaman Xerografer. Targetku sih novel kedua ini kalau bisa mencapai 200 halaman. </span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Bukannya aku terobesi ama jumlah halaman hanya saja aku pengin menampung aspirasi dari pembaca dan teman2, Glodak!<br />
</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Katanya sih novelku terlalu kurus kayak orangnya hiks<br />
Bahkan Fathin bilang kalo harga novelku nggak sebanding ama tebal halamannya, atau bahasa kasarnya <b>kemahalan gitu loh! </b>Oh My God, masa seeh?</span>
</p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Aku pernah sih ke toko buku di Malang, sekedar pengin ngecek2 gitu. Kebetulan di samping novelku ada novel dari penerbit lain, tebal halamannya kalo ga salah 200 lebih. Iseng2 aku liat harganya, <span> </span>weeks ternyata lebih murah dari novelku.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Rada-rada kege-eran gitu deh setelahnya, berarti novelku punya nilai jual yang tinggi dunk sehingga Gagas berani jual dengan harga segitu. Untuk membuktikan apakah aku cuman ge-er doang, mari kita tunggu hasil laporan penjualan yang akan diberikan Gagas bulan depan. Ayo dunk ayoo dunk buat yang belum beli Xero, cepetan beli (duh ampe ngemis2 gini sih) jangan pinjem doang.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Bukannya aku sok kepedean ya nuduh para pembaca hanya minjem doang tapi aku udah punya beberapa bukti, Glodak!</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Beberapa orang yang kukasih novel gretongan secara jujur dan tanpa rasa bersalah ngaku kalau udah minjemin tuh novel ke beberapa orang. Trus di Perpus tempatku kerja tuh kebetulan punya 10 eks. </span><span>Xerografer. Dan beberapa kali aku cek di catalog online (duh segitunya) lumayan banyak sih yang minjem. Antara seneng dan rada2 nyesel gitu deh.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Senengnya karena ternyata Xero banyak yang suka, Glodak! Trus rada2 nyesel cos kenapa dulu aku ngebiarin Perpus beli banyak banget. Padahal dulu seneng banget gitu saat Bigboss pesen 10 eksp. Aku baru nyadar kalau sekarang menjadi bumerang bagiku. Coba kalo dikalkulasi, misalnya per buku tuh dipinjem ama 5 orang lah. Berarti Xero udah dibaca ama 50 orang tapi cuman pinjem doang. Kurang ajaaar!</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Tapi ga apa-apalah aku ikhlasin, itung2 buat perkenalan. Mungkin untuk novel kedua nanti (doain lekas selesai ya n bisa terbit juga tentunya) aku hanya akan ngijinin Perpus beli 5 buku aja hi hi hi</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Makanya nggak salah deh kalau ada ungkapan: <b>musisi benci ama pembajak sedangkan penulis benci ama peminjam!</b></span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Tenang-tenang penulis nggak se-ekstrim itu kok. Kalau aku sih nggak ampe tingkat benci2 rindu gitu ya. Cukup kasih kutukan aja <b>semoga orang2 yang hanya pinjem novelku doang itu kena cacing kremi &#8230;!!</b></span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span> </span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/kutukan-cacing-kremi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kaktusku yang malang</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/38/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/38/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 10:10:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[freaky]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/11/38/</guid>
		<description><![CDATA[
Malam itu aku baru saja pulang dari lembur dan setibanya di rumah langsung masuk kamar. Kurebahkan tubuhku di atas kasur untuk menghilangkan sedikit rasa capek di tubuhku. Aku memandang sekilas ke kompi di sebelah kanan tempat tidur dan kulihat sesuatu yang beda di antara monitor dan CPU.  Pohon kaktus yang biasanya berdiri dengan kokoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://bloglodak.com/2007/12/38/attachment/39/" rel="attachment wp-att-39" title="dscf0021.jpg"><img src="http://ihwan.files.wordpress.com/2007/12/dscf0021.thumbnail.jpg" alt="dscf0021.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>M</span><span>ala</span><span>m</span><span> itu aku baru saja</span><span> pulang dari lembur dan setibanya di rumah </span><span>langsung m</span><span>asuk kam</span><span>ar. Kurebahkan tubuhku di atas kasur untuk menghilangkan sedikit rasa cape</span><span>k di tubuhku. </span><span>Aku memandang sekilas ke kompi di sebelah ka</span><span>nan tempat tidur dan kulihat sesuatu yang beda di antara monitor dan CPU.<span>  </span>Pohon kaktus yang biasanya b</span><span>erdiri </span><span>dengan kokoh dengan duri-durinya yang tajam itu kini terkulai lemas. Segera kua</span><span>mbil</span><span> tuh ka</span><span>ktus</span><span> dan ter</span><span>nyata batangnya udah lunak seperti membusuk gitu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dulu aku p</span><span>e</span><span>rnah baca di </span><span>m</span><span>ajalah kompi yang bilang kalau pohon k</span><span>a</span><span>ktus bisa mengurangi peng</span><span>aruh rad</span><span>iasi pad</span><span>a kompi. Maka tanpa pikir panjang akupun membeli kaktus di penjual tanaman hias ya</span><span>ng nggak jauh dari rum</span><span>ah. </span><span>Di majalah nggak disebutin di mana kita harus mel</span><span>etakk</span><span>an kaktus tersebut, maka biar ‘adil’ aku letakkan kaktus di antara monitor dan CPU. Kebetulan CPU-nya aku taruh di atas sejajar ama monitor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sesuai ama pesan sang penjual tanaman, kaktus </span><span>cukup disiram 2 minggu sekali. Awalnya sih aku memang teratur nyiramnya tapi seiring berjalannya waktu terkadang aku lupa menyiramnya. Padahal hari minggu kemarin kaktusnya masih tegak berdiri, eh kok sekarang jadi loyo gitu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sebenarnya sih aku agak binun, kalau emang kaktusnya kekurangan air harusnya kan jadi kering bukannya membusuk seperti itu. Tapi aku udah keburu menyiramnya dengan air, nggak tahu deh apakah ‘pertolongan pertama’ yang kuberikan itu benar apa enggak?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kebingunganku terjawab sudah saat kakakku bilang kalau tetangga di depan rumah tuh kalau nyiram kaktusnya 3 bulan sekali. Haaah….jadi yang selama ini kulakukan salah dong kalo gitu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sialan tuh ya penjual tanaman, ngasih info yang ‘menyesatkan’ pada pembeli. Sekarang aku lagi menunggu apakah kaktusnya bakalan bisa hidup lagi atau enggak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/38/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
