<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bloglodak.com &#187; kontemplasi</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/category/kontemplasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>i love blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Jul 2010 04:50:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>bloglodak.com</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>A Tribute to Amin</title>
		<link>http://bloglodak.com/2010/01/a-tribute-to-amin/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2010/01/a-tribute-to-amin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 12:19:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Amin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu kemarin dapat kabar yang cukup mengejutkan buatku, salah seorang guru di SD tempatku sekolah dulu meninggal dunia.  Walaupun yang meninggal bukan guru yang pernah mengajarku dulu, tapi hal itu tetap mengejutkan karena usianya  yang masih tergolong muda. Masih di bawahku malahan.
His name is Amin.  Aku nggak tahu nama lengkapnya siapa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Minggu kemarin dapat kabar yang cukup mengejutkan buatku, salah seorang guru di SD tempatku sekolah dulu meninggal dunia.  Walaupun yang meninggal bukan guru yang pernah mengajarku dulu, tapi hal itu tetap mengejutkan karena usianya  yang masih tergolong muda. Masih di bawahku malahan.</p>
<p>His name is Amin.  Aku nggak tahu nama lengkapnya siapa. Aku emang nggak mengenal dia secara personal, hanya sekedar tahu aja. Kebetulan kalau pas bulan Ramadhan gitu, kami sering tadarus bareng.  Caranya membaca Al-Quran bagus dan tartil, suaranya juga merdu.  Jujur aku suka dengernya walau kadang sering ngantuk kalau nunggu giliran baca soalnya kalau baca tartil gitu suka lama.  Selain kelebihannya dalam membaca Al Quran, aku juga bersimpati pada sikapnya yang lebih dewasa daripada umurnya. Mungkin karena terbawa tuntutan profesinya sebagai guru olahraga kali ya, harus bersikap tegas dan penuh wibawa.</p>
<p>Menurut kabar dari temen yang bisa kupercaya, Amin meninggal karena serangan jantung.  Semua orang nggak menyangka kalau orang semuda Amin bisa terkena pembunuh paling mematikan di Indonesia tersebut.  Apalagi selama ini Amin keliatan segar bugar, bahkan pagi harinya dia masih mengajar olahraga murid-muridnya.<br />
Yaa, kematian memang tidak pandang bulu. Dia bisa datang pada siapa aja, mau tua atau muda, kaya maupun miskin, kalau emang sudah saatnya dipanggil Sang Kuasa nggak akan bisa ditunda barang sedetikpun. Tapi  tetap disayangkan juga, aku yakin kalau orang seperti Amin masih bisa membawa banyak kebaikan jika dia diberi umur yang lebih panjang oleh Allah.  Memang sih ada ungkapan bahwa orang baik itu biasanya wafat lebih cepat, tapi buatku mending para koruptor itu aja yang dipanggil supaya mereka nggak semakin merugikan bangsa dan negara ini.</p>
<p>Yang makin menambah ironi adalah pada bulan Maret tahun ini, Amin rencananya akan menikah dengan tunangannya. Hmm…manusia emang hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan. Semoga gadis itu diberi ketabahan dalam menerima cobaan berat ini.</p>
<p>Aku masih inget, dulu pas aku datang ke sekolah untuk meminta legalisir buat keperluan di kantor, Aminlah yang nganterin map berisi fotocopy ijazahku ke ruang Kepala Sekolah.</p>
<p>“Selamat ya Mas, udah diangkat jadi PNS,” begitu ucapnya saat memberikan map itu padaku.<br />
“Terimakasih, samean sendiri gimana? Udah terdata juga kan?”<br />
“Sudah kok Mas, doain saya biar cepet nyusul.”</p>
<p>Kalau inget percakapan kami yang hanya sebentar itu aku jadi makin trenyuh. Dia jauh-jauh merantau dari Probolinggo untuk kuliah setelah lulus dari pondok, trus akhirnya diterima mengajar di sekolah tempat dia KKN. Meski hanya sebagai GTT, tapi aku liat dia berdedikasi tinggi pada profesinya.  Aah, lagi-lagi aku merasa hidup ini kadang nggak adil.</p>
<p>Amin, Semoga Allah menerima semua amal ibadah dan kebaikanmu dan mengampuni semua dosa dan kesalahanmu.  Aku yakin kamu sekarang sudah berada di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2010/01/a-tribute-to-amin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kutukan atau Kebetulan Semata</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/10/kutukan-atau-kebetulan-semata/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/10/kutukan-atau-kebetulan-semata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 04:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>
		<category><![CDATA[kd-anang]]></category>
		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Sudah pada tahu dong ya tentang prahara yang menimpa rumah tangga KD dan Anang? Banyak pihak yang menyayangkan perceraian mereka, secara rumah tangga mereka udah berjalan lebih dari 13 tahun dan dikarunai dua orang anak. Trus mereka juga sudah ditasbihkan sebagai duet paling romantis yang belum ada tandingannya. Pokoknya nggak lengkap bin nggak afdol deh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah pada tahu dong ya tentang prahara yang menimpa rumah tangga KD dan Anang? Banyak pihak yang menyayangkan perceraian mereka, secara rumah tangga mereka udah berjalan lebih dari 13 tahun dan dikarunai dua orang anak. Trus mereka juga sudah ditasbihkan sebagai duet paling romantis yang belum ada tandingannya. Pokoknya nggak lengkap bin nggak afdol deh kalau menyebut nama KD tanpa menyebut nama Anang, begitupun juga sebaliknya.</p>
<p>Jangan kuatir, di sini aku bukannya mau membahas lebih jauh tentang perceraian mereka, apakah benar KD selingkuh sama Rahul Lemos? lalu bagaimana pembagian harta gono-gininya? Biarlah itu menjadi tugasnya Feny Rose dan kawan-kawan.</p>
<p> </p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-16" title="anang-kd" src="http://bloglodak.com/wp-content/uploads/2009/10/anang-kd.jpg" alt="anang-kd" width="300" height="225" /></p>
<p> </p>
<p>Tapi yang mau kubahas adalah pernyataan KD di majalah infotainment yang baru menyadari kalau ternyata kisah hidupnya sekarang ini mirip dengan salah satu lagu hitsnya yang berjudul Menghitung Hari. Kurang lebih begini katanya Mbak Yanti: “Dulu lagu ini mengantarkan saya menjadi diva tapi sekarang lagu ini seperti berbalik ‘menyerang’ saya. Ternyata lagu ini ditujukan buat saya sendiri.”</p>
<p>Setelah itu dibahaslah lirik lagu yang dimaksud dan memang benar adanya, liriknya seperti menggambarkan keadaan KD saat ini.</p>
<p>Pergi saja, cintamu pergi<br />
Bilang saja pada semua<br />
Biar semua tahu adanya<br />
Diriku kini sendiri.</p>
<p>Di hampir semua tayangan infotainment, Ananglah yang lebih banyak ‘berkicau’ kesana kemari, seperti ingin menarik simpati dari publik atas nasibnya sebagai suami yang diselingkuhin istrinya. Nggak cukup hanya itu, saat perayaan Idul Fitri kemarin dia sengaja membawa serta wartawan infotainment untuk meliput acara liburannya ke Bali bersama Auriel dan Azril. Seolah ingin menunjukkan pada public kalau anak-anaknya lebih bahagia ikut bersamanya. Sedangkan KD? Dia lebih banyak diam dan menghindari publikasi, bicara hanya sekali aja pas ngumumin perceraian mereka sama wartawan. Dia tidak mau menerima telepon dari siapa pun, bahkan dari sahabat-sahabatnya sekalipun.</p>
<p>Oke, sampai di situ aja ngomongin mereka berdua sebelum aku ntar kebablasan jadi wartawan infotainment. Bukan hanya KD aja yang merasa mendapat kutukan dari lagunya sendiri, Reza Artamevia, Irianti Eningpraja, Andika Kangen Band dan The Rain juga merasa mengalami hal yang serupa. Lalu hubungan semuanya itu dengan diriku apa?</p>
<p> </p>
<p>Sabar ya, akan aku jelasin sekarang. Di novel Xerografer ada kisah cinta segitiga antara Budi, Mira dan Nina. Dalam suatu adegan diceritain kalau Budi pergi ke acara Festival Malang Kembali (buat yang belum tahu apa itu FMK, silahkan baca aja novelnya) bersama Ipin dan Reni. Di sana mereka janjian sama Nina, Mira dan Sony. Budi yang sebenarnya menyukai Mira, cemburu berat melihat dia bersama Sony. Akhirnya Budi ‘pelarian’ ke Nina yang memang menyukainya. Aku gambarin si Budi menggandeng tangan Nina dengan mesra di sepanjang acara.</p>
<p>Nah, beberapa waktu yang lalu aku dikenalin sama sobatku, Anam (which is jadi salah satu inspirasiku untuk tokoh Ipin) dengan seorang cewek, sebut aja namanya Tika. Mungkin emang salahku sendiri yang berekspektasi terlalu berlebihan dengan namanya yang terdengar imut dan menarik itu, ketika kami akhirnya ketemuan ternyata dia nggak seperti dalam bayanganku. Tapi karena udah terlanjur ngajak blind date, ya udahlah aku mencoba untuk bersikap gentle dan memperlakukannya dengan baik. Kalian tahu nggak, kemana kami blind date-nya?</p>
<p>Benar sekali tebakan sodara-sodara, kami berdua pergi ke FMK. Dan itu bukan usulku tapi Tika sendiri yang mengajakku ke sana. Karena aku emang belum ke sana, aku sih mau-mau aja. Pas nyampe di sana suasananya ramai oleh para pengunjung, crowded banget lah pokoknya. Awalnya sih kami berjalan beriringan aja, nggak ada sentuhan fisik sama sekali. Trus pas semakin ke tengah otomatis pengunjung juga makin banyak dan berdesak-desakan. Aku mikir, ini kalau nggak hati-hati kami berdua bisa terpisah. Nggak lucu dunk, kalau Tika sampe hilang di tengah-tengah FMK. Akhirnya aku minta ijin untuk menggandeng tangannya, untungnya sih Tika mau. Sumpah, aku sama sekali nggak berniat ambil kesempatan dalam kesempitan, niatku hanya untuk melindunginya saja. Lagian kalau boleh jujur, aku sama sekali nggak menikmati gandengan tangan kami malam itu karena emang aku nggak ada feeling sama Tika. Uppss…sadis banget aku yak. Malahan doi yang nggandengnya tuh erat banget sampe tanganku agak pegel2 gimana gitu setelahnya Di situ aku langsung nyadar, kok kejadiannya mirip ya sama adegannya Budi dan Nina.</p>
<p> </p>
<p>Pasti kalian bilang itu hanya kebetulan semata. Tunggu dulu, masih ada cerita yang lain lagi. Di novel lanjutannya Xero (yang sampe sekarang masih bingung mau aku edit lagi atau kubiarkan saja memfosil di komputerku), aku ceritain si Budi ketemu sama someone yang sangat berarti dari masa lalunya. Nah, si someone dalam novel ini terinspirasi dari someone dalam kehidupan masa laluku. Kami udah luama banget nggak ketemu dan aku nggak tahu lagi gimana kabarnya saat ini</p>
<p>Nah pas awal-awalnya gabung di fesbuk, secara iseng aku mengetik namanya lengkap di kotak search. And you know what? Aku berhasil menemukannya! Tapi sayangnya doi udah luama nggak aktif, terlihat dari waktu last loginnya yang udah sebulanan lebih. Pikirku, kalau orang udah sebulanan nggak buka fesbuknya pasti bikinnya hanya untuk sekadar punya aja. Apalagi dia hanya memasang dua foto aja, nggak ada album atau pun foto-fotonya yang di-tag sama orang lain. Walaupun begitu aku tetep meng-add dia namun nggak berani berharap banyak, mungkin keinginanku untuk bertemu atau sekedar komunikasi lagi dengannya hanya kesampaian di novel aja.</p>
<p>Kira-kira sebulan kemudian ada notifikasi di fesbukku, yang kasih tahu kalau add-ku diterima sama dia. Yang jelas aku seneng banget, apalagi ketika kami akhirnya bisa saling bertukar kabar meski hanya lewat dunia maya. Ramadhan kemarin kami sempat ketemuan pas dia balik bentar ke Malang sebelum akhirnya dia pergi ke luar Jawa sana untuk meniti karier.</p>
<p> </p>
<p>Dari dua peristiwa yang kualami dan di alami oleh para selebritis di atas (jadi nggak enak neh, kok kesannya kayak menyamakan diri dengan mereka gitu hi hi hi), aku di hadapkan pada satu pertanyaan yang juga menghampiri para selebritis itu, apakah benar ini suatu ‘kutukan’ atau kah hanya kebetulan semata?<br />
Reza sendiri berpendapat, kadang lagu yang dibawakan dengan penuh perasaan dan penghayatan ibarat sebuah doa yang ditujukan pada Tuhan. Makanya dia sekarang berusaha menghindari lagu-lagu yang mellow karena nggak mau kena ‘kutukan’ untuk kedua kalinya. Dia sendiri mengibaratkan perceraiannya dengan Adjie Massaid seperti kisah dalam lagu Berharap Tak Berpisah.</p>
<p>Aku sih berusaha bijak aja dalam menyikapi hal ini, jika memang ada kejadian dalam novel-novelku selanjutnya yang menjadi kenyataan itu pasti emang udah digariskan sama yang Di Atas, nggak ada yang namanya kebetulan dalam hidup ini. Kalau kejadian yang baik disyukuri dan kalau buruk dianggap sebagai ujian dari Tuhan. Aku nggak mau aja jadi parno untuk bikin cerita yang sad atau dark, nggak tahu kenapa belakangan keinginan itu begitu kuat dalam diriku. Apakah itu representasi dari kebencian dan kekecewaan yang sempat kualami beberapa waktu yang lalu, aku juga nggak tahu. Kalaupun kejadian buruk itu dalam novel itu akhirnya terjadi, setidaknya aku sudah tahu bagaimana cara mengatasinya dari cerita yang sudah kubuat. Betul nggak?</p>
<p>Inilah perbedaannya menulis novel dengan menulis lagu, kalau di dalam lagu mellow kebanyakan hanya berupa ungkapan kekecewaan dan kesedihan atas masalah yang dihadapi, tapi kalau di dalam novel kita dituntut untuk bisa mencari penyelesaiannya juga sekalian. Tapi tolong jangan salah persepsi dan menarik kesimpulan kalau aku menganggap menulis novel lebih baik dari menulis lagu. Karena tiap karya seni mempunyai tingkat kesulitannya sendiri-sendiri dan cara penyampaian pesan yang berbeda-beda satu sama lain.</p>
<p>*gambar diambil dari <a href="http://www.rujakmanis.com/wp-content/uploads/2009/09/anang-kd.jpg">rujakmanis.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/10/kutukan-atau-kebetulan-semata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iam Introvert&#8230;so what?</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/10/iam-introvert-so-what/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/10/iam-introvert-so-what/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 08:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin aku membaca artikel dari sebuah majalah terbitan ibukota yang membahas tentang sifat pendiam atau dalam dunia psikologi disebut Introvert.
Sebagai orang yang merasa dan sering dijulukin Si Pendiam baik sama keluarga, sahabat maupun teman-teman kerja, aku merasa &#8216;lega&#8217; karena dalam artikel itu disebutkan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan sifat pendiam. Namun sering kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin aku membaca artikel dari sebuah majalah terbitan ibukota yang membahas tentang sifat pendiam atau dalam dunia psikologi disebut Introvert.<br />
Sebagai orang yang merasa dan sering dijulukin Si Pendiam baik sama keluarga, sahabat maupun teman-teman kerja, aku merasa &#8216;lega&#8217; karena dalam artikel itu disebutkan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan sifat pendiam. Namun sering kali orang kebanyakan memandangnya sebagai suatu hal yang nggak wajar, aneh dan berbagai pandangan negatif lainnya.</p>
<p>Di dalam Ilmu Psikologi sendiri dikenal konsep Introvert dan Ekstrovert. Perbedaan yang paling menyolok <span style="text-decoration: line-through;">mata</span> dari kedua sifat itu adalah orang Introvert lebih suka menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri dibandingkan dengan orang banyak. Tapi bukan berarti mereka anti sosial lho, mereka juga bisa bersosialisasi namun jika disuruh memilih, maka mereka akan jauh lebih nyaman jika tidak berlama-lama berada di tengah-tengah banyak orang.<br />
Sifat di atas bener-bener gue banget. Pas jaman sekolah dulu, aku lebih suka menghabiskan waktu istirahat dengan membaca buku di perpustakaaan dari pada bercengkrama atau nongkrong-nongkrong nggak jelas di kantin/warung depan sekolah. Kebiasaan ini terus terbawa hingga di lingkungan kerja. Ironisnya pekerjaan yang kugeluti mengharuskanku berhadapan dengan orang banyak dan menuntutku untuk lebih aktif berbicara.</p>
<p>Seringkali aku heran, meskipun sudah beristirahat dengan cukup sehabis pulang kerja namun aku masih saja merasa &#8216;capek&#8217; dan bawaannya pengin berlama-lama di dalam kamar. Nggak jarang orang rumah sampai nanyain apakah aku lagi ada masalah kok sampai nggak keluar-keluar dari kamar. Paling males dan ogah-ogahan jika ada yang menginterupsi waktu sendiriku (me time) itu, entah itu orang rumah yang pengin ngajak ngobrol atau ponakan-ponakan yang suka ngikutin aku mulai dari pintu masuk hingga ke kamar.</p>
<p>Nah aku akhirnya menemukan jawaban kenapa dulu aku sampai kayak gitu, di artikel itu diterangkan bahwa setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kaum Introvert merasa perlu untuk off sejenak dan &#8216;mengisi baterai&#8217; kembali. Bayangin aja, setiap hari selama 8 jam aku &#8216;menghadapi&#8217;ratusan mahasiswa yang datang ke perpus. Saat masih di bagian fotokopian dulu, yang bekerja tuh bukan cuma tangan tapi juga mulut. Mulai dari nanyain buku apa yang mau difokopi hingga fotokopiannya selesai. Yang namanya pengunjung tuh maunya macem-macem, ada yang penginnya cepet, minta hasilnya yang bagus, nggak sabar ngantri dan masih banyak lagi tingkah laku yag seringkali memancing emosi. Jadi wajar rasanya jika sehabis kerja aku pengin menyendiri tanpa diganggu oleh siapapun, termasuk keluargaku sendiri sekalipun.</p>
<p>Tanpa kusadari, situasi kerja seperti itu berdampak positif bagi perkembangan diriku, Sifat pemaluku sedikit demi sedikit berkurang. Aku tidak lagi canggung bila berhadapan dengan orang banyak. Tapi anehnya, sifat pendiamku nggak banyak berkurang. Tapi untungnya aku bukan tipe pendiam akut yang bener-bener irit bicara dan terkesan sombong gitu. Aku masih butuh berkomunikasi dengan orang lain, tapi ya itu tadi, aku lebih nyaman ngobrol model one to one aja. Nggak heran jika saat ngumpul bersama keluarga, teman kerja ataupun dengan teman dari dunia maya, aku lebih banyak diam mendengarkan atau bicara seperlunya saja.</p>
<p>Tapi sekarang, kayaknya aku kena &#8216;karma&#8217; karena sifat pendiamku itu. Di bagianku yang sekarang, yaitu di bagian sirkulasi tepatnya di pintu keluar, job descriptionku hanyalah &#8216;duduk ganteng&#8217; mengawasi mahasiswa yang keluar masuk membawa buku. Jarang banget ngomongnya, paling-paling kalau ada mahasiswa yang nanya ini-itu baru deh mulutku yang bekerja.<br />
Sumpah, kadang kalau lagi bosan gitu perasaan &#8216;merasa sendiri di tengah keramaian&#8217; itu bener-bener menyiksa. Makanya jangan heran jika setiap hari aku nggak pernah absent dari yang namanya onlen di berbagai jejaring sosial yang ada di internet. Mulai dari Multiply, Facebook hingga Twitter. Walaupun hanya dalam bentuk interaksi dunia maya, tapi hal itu cukup ampuh untuk melewatkan waktu kerjaku yang terasa lama dan membosankan.</p>
<p>So, aku minta maaf ya buat temen-temen yang mungkin merasa &#8216;terganggu&#8217; dengan update-an status, quicknote dan twit-ku yang hampir tiap menit itu ha ha ha. Mohon dimaklumi karena ternyata orang pendiam pun bisa mati gaya juga dengan kesendiriannya.</p>
<p>*buat yang pengin merubah sifat Introvert-nya menjadi Ekstrovert bisa liat tipsnya <a title="Intro_Ekstro" href="http://webkonseling.blogspot.com/2009/05/introvert-vs-ekstrovert.html" target="_blank">di sini.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/10/iam-introvert-so-what/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perhatian Kecil Yang Terlewatkan</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/09/perhatian-kecil-yang-terlewatkan/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/09/perhatian-kecil-yang-terlewatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 08:25:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari minggu, adik sepupuku yang tinggal di daerah Belimbing selalu main ke rumah yang kutinggali (aku nggak menyebutnya sebagai rumahku lho) di Mergan. Kebetulan emang rumah di Mergan itu rumah keluarga besar sehingga selalu jadi jujukan (tujuan) utama anggota keluarga yang lainnya. Nama adikku itu Fitri, dia sekarang duduk di kelas 1 SD. Wajahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Setiap hari minggu, adik sepupuku yang tinggal di daerah Belimbing selalu main ke rumah yang kutinggali (aku nggak menyebutnya sebagai rumahku lho) di Mergan. Kebetulan emang rumah di Mergan itu rumah keluarga besar sehingga selalu jadi jujukan (tujuan) utama anggota keluarga yang lainnya. Nama adikku itu Fitri, dia sekarang duduk di kelas 1 SD. Wajahnya agak-agak oriental gitu sehingga seringkali orang lain menyangka dia itu masih ada keturunan Thiong Hoa. Nggak tau deh, bibiku dulu ngidam apa pas ngandung dia.</p>
<p>Belakangan ini Kakakku yang pertama sedang membangun rumah dan aku tiap minggu selalu membantunya. Nah, si Fitri minggu itu juga lagi main ke Mergan. Karena emang niatnya nguli maka aku nggak bawa hape hari itu, biasanya sih yang namanya hape nggak pernah ketinggalan kalo lagi keluar rumah. Aku lebih milih ketinggalan dompet daripada ketinggalan hape, beneran deh he3.</p>
<p>Nah, selepas nguli dari pagi mpe sore aku segera ngambil hapeku untuk ngecek-ngecek apa ada sms or telepon masuk, dan tentu saja nggak ketinggalan cek status di fesbuk. Aku agak mengernyitkan dahi ketika melihat inbox yang penuh dengan sms dari Fitri. Tentu saja aku heran, ngapain dia kirim2 sms lha wong dia juga lagi di sini. Isinya sih hal-hal yang sepele, biasalah anak kecil yang lagi maruk-maruknya sama hape, nanyain lagi ngapain lha, udah tidur apa belum…Glek…kok kayak nanyain pacar aja yak?</p>
<p>Aku makin heran aja saat mengecek sent itemku, di sana banyak sms-sms yang terkirim ke hapenya Fitri. Yang bikin heran tentu saja karena aku nggak merasa ngirim sms-sms itu. Dasar anak-anak kurang kerjaan, batinku saat itu. Pasti si Fitri mainan sms sama Bela atau Rahma (dua ponakanku, kebetulan usia mereka nggak beda jauh sama Fitri).</p>
<p>Heran deh, anak-anak sekecil itu kok cepet banget ya belajar mengoperasikan hape. Bahkan orangtuanya aja mpe kalah. Dulu sering banget kalau pas lagi kerja, mendadak ada telepon dari orang rumah. Tentu saja, agak-agak parno gitu ya, kirain ada apa-apa. Eh nggak tahunya, ponakan-ponakanku itu yang nelpon!!</p>
<p>Mana kalo ngomong itu keras banget n nyerocos aja kayak sepur, “Ini Mas Ihwan ya? Lagi ngapain sampeyan? Ini Mas Ihwan ya? Ini aku, Rahma/Fitri/Bela.”</p>
<p>Nggak peduli aku nanyain ada apa nelpon2, tetep aja mereka nyerocos dengan pertanyaan-pertanyaannya itu. Dari pada aku gila sendiri dengerin mereka, biasanya aku langsung tutup teleponnya. Lagian sayang banget pulsanya tersedot percuma.</p>
<p>Oke back to sent item yang ada di hapeku. Aku baca satu persatu sms-sms yang saling berbalasan itu. Makin lama aku makin menemukan kejanggalan, kok di sent item itu kesannya aku yang nulis tuh sms yak? Ngerti nggak kalian maksudku…?</p>
<p>Jadi gini, Fitri tuh seolah-olah lagi sms-an sama aku. OMG…apa yang terjadi pada adikku yak? Aku jadi teringat cerita di novel Joker, di sana ada seorang cewek yang diam-diam suka sama tokoh utamanya tapi malu untuk mengungkapkannya. Akhirnya dia milih jalan ekstrim, dia pura-pura minjem hape tuh cowok dan ngirim sms ke hapenya sendiri yang mana isinya tuh si cowok nembak si cewek. Trus cewek itu nunjuk-nunjukin sms itu ke semua temannya sehingga mereka menyangka si cowok itulah yang mengejar-ngejar si cewek. Agak-agak phsyco kan?</p>
<p>Aku yang tadinya agak-agak kesel mendadak jadi terenyuh gitu. Duh, kakak macam apa aku ini kok kurang perhatian gitu sama adik sendiri. Sampe-sampe Fitri ‘memanipulasi’ sms-sms dari hapeku agar kebutuhannya akan perhatian seorang kakak terpenuhi. Aku jadi nyadar dengan kondisi Fitri yang anak tunggal itu, mungkin selama ini dia merasa kesepian dan butuh seorang teman.</p>
<p>Kejadian itu akhirnya membuatku berusaha merubah sikapku yang mungkin selama ini kurang perhatian sama orang-orang terdekatku, dalam hal ini adalah keluarga. Aku memulainya dari Fitri, sekarang sebisa mungkin kalau malam hari aku nanyain dia udah belajar apa belum, kalau ada PR yang dia nggak bisa aku bantu ngerjain walau hanya lewat sms. Sesekali juga ngajakin bercanda dan ngajarin bahasa-bahasa sms yang singkat2 itu, biar agak cepet kalau sms-smsan. Kesian kan kalau masih kecil kayak gitu tangannya udah keriting karena sering sms-an.</p>
<p>Mungkin kita sering abai, lupa atau nggak sempet memberikan perhatian-perhatian kecil pada keluarga kita, meski itu hanya lewat sms. Coba kalau sama pacar, beuuh pagi-siang-sore-malam nggak ada hentinya kirim2 sms. Mungkin bagi kita hal itu biasa aja, tapi bagi keluarga kita bisa jadi sangat berarti sekali. Alangkah bahagianya seorang Ibu ketika sedang sibuk mengerjakan tugas rumah tangga atau seorang Ayah yang sedang  kerja keras membanting tulang, mendadak mendapat sms dari anaknya:  Ibu/Ayah, sudah makan apa belum?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/09/perhatian-kecil-yang-terlewatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Right Jobs</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 11:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Jika sedang tidak lembur, hari sabtu adalah hari dimana aku bisa bersantai dan melakukan apa aja yang kusuka sepanjang hari. Nggak ada ceritanya berangkat kerja terburu-buru karena bangun kesiangan, mau bangun jam 8 kek, jam 9 nggak masalah. Paling-paling keluarga aja yang ngomelin: perjaka kok bangunnya molor. Uhm…itu masalah juga sih, aku kan udah kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Jika sedang tidak lembur, hari sabtu adalah hari dimana aku bisa bersantai dan melakukan apa aja yang kusuka sepanjang hari. Nggak ada ceritanya berangkat kerja terburu-buru karena bangun kesiangan, mau bangun jam 8 kek, jam 9 nggak masalah. Paling-paling keluarga aja yang ngomelin: perjaka kok bangunnya molor. Uhm…itu masalah juga sih, aku kan udah kerja keras selama lima hari masa nggak boleh nyane sehari aja.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Standar aja sih kegiatan yang aku lakuin kalau nyante di hari sabtu, habis mandi biasanya liat teve sambil makan. Kalau acaranya bagus biasanya bisa bertahan ampe siang, lalu njemput bibi pulang dari kerja. Habis itu sholat, makan siang trus cetingan atau ngenet pake hape. Aku jarang, atau boleh dibilang hampir nggak pernah tidur siang. Nggak biasa aja, padahal aslinya pengiiin banget bisa ngerasain tidur siang yang nyenyak untuk nebus tidur malam yang sering aku korupsi untuk ngetik.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Tapi kalau lagi ada proyek nulis yang digarap biasanya aku manfaatin hari sabtu itu untuk mengetik seharian. Iam really-really enjoy its. Seringkali waktu berjalan begitu cepat ketika aku tenggelam dalam cerita yang kutulis. Kadang aku berpikir, betapa bahagianya kalau setiap hari bisa kayak gitu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Jujur aja, aku emang udah bosen bin jenuh sama kerjaanku sebagai penjaga loker di perpus tempatku berkerja selama ini. Mungkin orang yang udah kenal lama sama aku, bosen denger keluhanku itu. Habis gimana, udah nggak ada lagi tantangan yang kudapatkan dari kerjaanku itu. Tiap hari ya hanya gitu-gitu mulu, standby di tempat loker menunggu pengunjung yang datang.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Emang salahku sendiri sih yang kurang berani take a risk cari kerjaan yang lain yang lebih baik. Tapi mau gimana lagi, dengan hanya ngandelin ijasah SMA pekerjaan yang bisa kudapatkan tentu terbatas banget. Paling-paling kerjaannya juga nggak jauh beda, kerja pake fisik. Trus kebanyakan sekarang perusahaan nerapin sistem kontrak, kalau di PHK nggak dapet apa-apa.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Sebenarnya aku udah seneng kerja di perpus dan sayang buat ninggalin tapi ya gitu nggak ada perkembangannya. Yang bikin aku nggak bisa cabut lumayan banyak. Pertama dari segi pendapatan, meski nggak besar2 amat tapi rutin. Trus walopun sistem kontrak tapi kalau someday keluar atau di-PHK masih dapet semacam pensiunan. Dan yang paling utama, kesetiaanku bertahan hampir sembilan taun ini nggak sia-sia karena beberapa waktu yang lalu aku lolos seleksi menjadi CPNS. Jadi bego banget kalau sekarang aku ninggalin gitu aja. Karier menulisku juga belum bisa aku jadikan sandaran untuk hidup sepenuhnya. Mana mungkin aku menggantungkan hidup dari royalti yang dikirim enam bulan sekali itu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Mungkin aku kedengarannya nggak bersyukur banget karena di luar sana masih banyak penggangguran, masih banyak orang yang harus kerja mati-matian dengan gaji yang nggak sepadan, masih banyak orang yang juga jenuh sama kerjaannya tapi nggak bisa cari side job atau pelarian kayak aku. Tapi aku juga nggak mungkin lempeng-lempeng aja kayak gini. Di atas sana banyak orang-orang yang jauh lebih sukses dan jujur aja aku iriii banget liatnya. Iri di sini dalam artian yang positif bukan iri-iri sirik tanda tak mampu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Aku tahu harus do something tapi nggak tahu itu apa. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah tetep menjalani kerjaan di perpus dengan baik dan berharap para atasanku meliat ‘potensi’ yang kumiliki cieee bahasanya narsis banget. Keinginanku nggak muluk-muluk kok, aku ingin mereka ngasih aku kerjaan yang nggak hanya ngandelin fisik.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Yang pasti aku juga akan tetep akan menulis sampai kapan pun karena aku masih yakin (semoga nggak akan pernah luntur keyakinan itu) bahwa becoming writer is the right jobs for me. Aku mencintai pekerjaan ini, aku merasa lebih hidup dan mempunyai arti karenanya. Ketika ada orang yang tertawa, gembira atau sedih karena membaca tulisanku rasanya sangat…uhm nggak bisa digambarin deh. Dan pastinya nggak bisa digantikan oleh apapun.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">So…what about you? Apakah pekerjaan yang kalian jalani saat ini is the right jobs atau masih pengin cari yang lain? Terpaksa hanya karena alasan materi ataukah kalian menjalaninya dengan penuh kepuasan batin?</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
