<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bloglodak.com &#187; petualangan</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/category/petualangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>i love blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Jul 2010 04:50:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>bloglodak.com</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>coming soon: PARTISI HATI</title>
		<link>http://bloglodak.com/2010/05/coming-soon-partisi-hati/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2010/05/coming-soon-partisi-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 07:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/2010/05/coming-soon-partisi-hati/</guid>
		<description><![CDATA[coming soon in this mei, my second novel: PARTISI HATI
untuk pre order hub: 0857 555 45459
harga Rp.39.000 diskon 10%
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>coming soon in this mei, my second novel: PARTISI HATI<br />
untuk pre order hub: 0857 555 45459<br />
harga Rp.39.000 diskon 10%</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2010/05/coming-soon-partisi-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>One Night at Segara Anakan</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/04/one-night-at-segara-anakan/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/04/one-night-at-segara-anakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 09:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[sempu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[
Perjalanan menjelajahi Pulau Sempu boleh dibilang medannya cukup berat karena begitu turun dari perahu yang menyeberangkan kami dari Sendang Biru, kami disambut dengan lebatnya belantara hutan yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan. Tak cukup hanya itu, jalan setapak yang harus kami lalui keadaannya lumayan becek. Jika tidak berhati-hati melangkah salah-salah bisa jatuh terpeleset. Aku saranin buat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perjalanan menjelajahi Pulau Sempu boleh dibilang medannya cukup berat karena begitu turun dari perahu yang menyeberangkan kami dari Sendang Biru, kami disambut dengan lebatnya belantara hutan yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan. Tak cukup hanya itu, jalan setapak yang harus kami lalui keadaannya lumayan becek. Jika tidak berhati-hati melangkah salah-salah bisa jatuh terpeleset. Aku saranin buat kalian yang mau ke Sempu, jangan pake sandal biasa karena resiko kepeleset makin gede atau kalau nggak gitu sandal kalian bakalan putus dan ujung-ujungnya harus jalan dengan kaki tanpa pelindung alias nyeker. Temenku aja yang pake sandal gunung masih aja kepeleset-peleset, paling aman tuh ya pake sepatu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sepanjang perjalanan menuju Segara Anakan, aku hitung-hitung ada tiga pohon tumbang yang menghalangi jalan kami. Kalau pohonnya hanya segede jambu sih nggak masalah, tinggal lompat aja. Ini nggak, pohonnya tuh besarnya tiga kali badan manusia jadi cukup merepotkan juga untuk melaluinya. Kebetulan saat itu ada rombongan dari Jakarta yang balik dari Segara Anakan, kalau nggak salah mereka dari grup jalan-jalan.multiply.com. Tiap kali berpapasan kami saling sapa dan memberi jalan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Oh iya, mendekati lokasi Segara Anakan ada medan yang cukup berat yaitu berupa sungai kecil yang nggak ada airnya tapi dipenuhi karang-karang yang tajam. Untuk melaluinya kami harus melewati jembatan yang terbuat seadanya dari empat batang pohon berlumpur yang licin banget. Sambil antri melewati jembatan, kami sempat ngobrol sama bapak2 dari dinas pariwisita atau kehutanan aku kurang paham, beliau memuji grup dari Jakarta yang membawa pulang sampah-sampah mereka. Emang sih, kalau lagi di alam bebas gitu seringkali kita berbuat semaunya dan nggak mau repot2. Contohnya habis minum air mineral botolnya dibuang sembarangan, sandal putus ditinggalin gitu aja, nebang-nebang pohon buat api unggun dan masih banyak perbuatan kita yang berpotensi merusak alam. Aku bukannya mau sok-sokan peduli lingkungan sih, hanya pengin berpartisipasi aja menjaga keindahan dan kelestarian alam kita. Coba bayangin, gimana rupa Pulau Sempu lima tahun yang akan datang jika tiap orang yang ke sana pada ninggalin sampah2 mereka, bisa-bisa namanya ganti jadi Pulau Sampah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Akhirnya setelah melalui berbagai rintangan kami sampai juga di Segara Anakan, rasa lelah dan capek yang kami rasakan terbayarkan sudah saat mata kami disuguhi pemadangan yang sangat indah. Di hadapan kami terbentang sebuah laguna berwarna biru kehijauan (atau hijau kebiruan…) dengan karang-karang yang indah, sebagian diantaranya nampak menyembul ke permukaan karena saat itu laut lagi surut. Bukit-bukit yang mengelilingi Segara Anakan ditumbuhi pepohonan yang lebat banget semakin menambah dramatis aja. Trus ya, di bawah kami terasa pasir putih yang begitu lembut di kaki. Subhanallah, nggak berlebihan rasanya jika ada yang bilang Segara Anakan itu The Beach-nya Indonesia. Aku aja masih nggak percaya akhirnya berada di tempat yang sangat indah itu. Tanpa membuang waktu kami segera mendirikan tenda karena hari sudah mulai senja dan keadaan cuaca juga kayaknya mau hujan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Malam harinya, setelah makan dengan ikan bakar yang yummy banget kami berfoto rame-rame. Lalu sebagian jalan-jalan menyusuri pantai, ngobrol ngalur-ngidul yang ujung-ujungnya malah pada bikin bola dari pasir (di Jawa disebut Bandempo) trus diadu. Mas Ridho malam itu keluar sebagai juara bertahan, gimana nggak, lha wong dari SD udah jago bikin Bandempo. Yang kesian tuh Mas Cobain yang terpaksa harus nyebur laut malem-malem karena kalah taruhan. Syukurlah, malam itu aku bisa tidur cukup nyenyak dan nggak digigit nyamuk. Sempet kebangun sebentar sih karena di semak-semak terdengar suara binatang, nggak tahu apaan, tapi setelah itu ngorok lagi. Oh iya, sekitar jam satu dini hari Alam yang hoby mancing akhirnya dapet ikan kakap merah setelah sebelumnya umpannya bolak-balik digondol gitu aja sama ikan-ikan di laut. Aku salut banget sama tuh anak karena berani banget mancing sendirian di tepi lautan yang gelap gulita itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pagi harinya, kami naik ke bukit karang tempat Alam mancing dan nyoba keberuntungan dengan gantian mancing tapi ampe siang nggak ada yang dapet apa-apa, hanya dapet tengsin doang. Kalau di Segara Anakan kita dibikin terkagum-kagum akan keindahan lagunanya, maka di bukit karang ini gantian jantung kita dibikin berdebar-debar menyaksikan Samudera Indonesia yang begitu biru dan luas seperti tak berujung. Udah gitu, bukit tempat kami berdiri tuh curam banget dengan sudut kemiringan hampir 90 derajat. Untuk melihat ke bawah aja, kami sampe harus merangkak di tanah karena takut nanti jatuh ke lautan lepas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kami cabut dari Segara Anakan jam sebelas siang. Walaupun sudah pernah melalui jalan setapak kemarinnya, tapi perjalanan pulang ini buatku agak berat karena sinar matahari udah terik banget. Kaus yang kukenakan aja sampe basah oleh keringatku sendiri dan tenggorokan bawaannya kering mulu. Ironisnya, jalan yang kami lalui masih aja bechek dan tetep nggak ada ojhek yang lewat. Rasanya legaaa bangeeettt ketika akhirnya nyampe di jalan ‘masuk’ yang kemarin kami lalui, berasa lolos dari pulau berhantu gitu. Hmmm&#8230;lebay-nya kumat deh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Walaupun nggak sempet mengeksplore tempat2 yang lain di Pulau Sempu, kayak Karang Bolong, Telaga Lele, Goa Macan dan lain-laine (medoknya kumat) tapi nggak mengurangi kepuasanku berpetualang kali ini. Aku nggak tahu ya, apakah kelak bisa (atau mau…hi hi hi, nggak kuat juga sama capeknya) balik lagi ke Pulau Sempu, kalaupun ternyata hanya bisa sekali aja juga nggak apa-apa. Yang penting udah pernah mendatangi salah satu tempat terindah (menurutku lho ya…) yang ada di muka bumi ini. Gimana, apakah kalian tertarik untuk berpetualang ke Pulau Sempu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">UNTUK FOTO2, silahkan liat <a title="Menjelajahi Pulau Sempu" href="http://nawhi.multiply.com/photos/album/84/Menjelajahi_Pulau_Sempu">DI SINI</a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/04/one-night-at-segara-anakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Long Way to Sempu Island</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/03/long-way-to-sempu-island/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/03/long-way-to-sempu-island/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 13:12:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[sempu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[
Bagi sebagian besar orang, mungkin memutuskan untuk ikut berpetualang ke alam bebas semudah membalikkan telapak tangan. But its not for me. Bukannya aku nggak suka berpetualang, suka banget malahan, tapi masalahnya aku punya keluarga yang over protectif pada anak-anaknya. Silahkan jika mau mengetawai, ngeledek abis-abisan atau semacamnya, di umurku yang hampir menginjak 30an ini aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-123" title="dsc05339" src="http://ihwan.files.wordpress.com/2009/03/dsc05339.jpg" alt="dsc05339" width="443" height="332" /></p>
<p>Bagi sebagian besar orang, mungkin memutuskan untuk ikut berpetualang ke alam bebas semudah membalikkan telapak tangan. But its not for me. Bukannya aku nggak suka berpetualang, suka banget malahan, tapi masalahnya aku punya keluarga yang over protectif pada anak-anaknya. Silahkan jika mau mengetawai, ngeledek abis-abisan atau semacamnya, di umurku yang hampir menginjak 30an ini aku masih harus ‘ijin’ terlebih dahulu kepada keluarga untuk ikut acara reuni Paskibra SMANDA (nama sekolah sma-ku dulu) di Pulau Sempu tanggal 28-29 Maret 2009. Pulau Sempu sendiri merupakan pulau kecil yang berada di lepas pantai Sendang Biru, sebuah pantai yang ada di daerah Malang Selatan.</p>
<p>Kalau dulu pas masih ABG alasan keluarga melarangku ikutan petualang karena kuatir bakalan terjadi apa-apa sama aku, secara kondisi fisikku yang kerempeng ini. Nah sekarang, ditambahin lagi satu alasannya oleh salah satu bibiku. Beliau bilang gini waktu aku ngomong mau ikutan ke Sempu : “Ibumu tuh sekarang hanya punya kamu, kakak-kakakmu udah pada nikah dan sibuk ngurusin keluarganya. Kalau ada apa-apa sama kamu gimana, kamu nggak kasihan sama ibumu?”  Aku yang tadinya ngotot nggak mau dilarang, jadi kepikiran juga. Kalau aku nekat berangkat dan Ibuku ternyata nggak rela trus terjadi hal-hal yang nggak diinginkan gimana? Secara dulu Ibu pernah ngomong padaku kalau di masa tuanya nanti beliau penginnya ikut sama aku. Bukannya mau nyombong, aku memang anak kesayangan di rumah. Maklumlah, anak bungsu, udah gitu baik hati, suka nabung dan tidak sombong (congkak dikit tapi) ho ho ho.</p>
<p>Sebenarnya agak lucu juga, aku udah pernah ke tempat yang lebih jauh dari Sempu tapi kenapa masih aja dilarang-larang. Aku tahu alasannya (ada2 aja alasannya) karena selama ini aku perginya diajak sama kantor, tempat rekreasinya ‘jelas’ dan semuanya ditanggung sama kantor (baik biaya maupun keselamatan) aka gratisan. Pokoknya modal dengkul doang lah.</p>
<p>Ya udahlah, akhirnya aku merelakan diri untuk nggak ikutan acara itu. Sumpah, dibutuhkan ‘pengorbanan perasaan’ yang lumayan berat, mengingat di Pulau Sempu itu terdapat laguna yang indah banget yang katanya seh nggak jauh beda sama The Beach-nya Leonardo De Capricot. Ditambah lagi mendekati hari H, anak-anak di fesbuk statusnya pada kompakan melakukan persiapan buat ke sana. Gimana nggak makan hati coba? Padahal aku juga udah bela-belain tukeran jadwal lembur sabtu biar bisa ikutan ke Sempu. Aaaah, mboh kah. Pengin misuh2 aja bawaannya.</p>
<p>Untuk menghibur diri, aku lalu iseng-iseng searching segala informasi di internet tentang Pulau Sempu. Pikirku, nggak bisa mendatangi secara langsung tapi lewat foto2 dan cerita di dunia maya nggak apa-apa lah. Kesian banget seeeh gueeee.  Di internet ternyata buanyak banget orang-orang yang menuliskan pengalaman serunya ketika mengunjungi Pulau Sempu, udah gitu disertai foto-foto pemandangan yang indaaah banget. Apalagi foto yang memperlihatkan laguna hijau yang oleh penduduk disebut Segara Anakan. Makin banyak artikel dan foto yang kuliat, aku makin ngileer aja dibuatnya.  Aku mikir2, mana mungkin aku melewatkan gitu aja tempat yang begitu indah yang ada di muka bumi ini ceilaaah. Apalagi mereka yang udah ke Sempu itu tempat tinggalnya jauh2, masa aku yang orang Malang asli malah nggak pernah ke sana. Pokoknya aku harus ke Sempu sekarang atau nggak sama sekali!!!  Lalu aku coba ngecek apakah anak-anak pada onlen fesbuknya, ternyata nggak ada satupun yang onlen. Gantian aku liat di grup alumni paski, kali aja ada info tentang kepastian acaranya. Shitt, ternyata juga nggak ada. Aku cek satu persatu profilnya anak-anak paski yang kukenal, mulai dari Fahmi, Novan, Kiki, Deny untuk cari tahu nomer hapenya, nggak adaaa jugaaaa. Makin panik aja aku, mana berangkatnya tuh besok. Untunglah di saat-saat genting itu, aku teringat Rindra (temen sekampusnya Fahmi), aku sms-in dia buat nanyain nopenya Fahmi. Aku nungguin mpe lima belas menit tapi nggak dibales2. Sambil nunggu balasan dari Rindra, aku ngecek lagi daftar temen fesbuk yang onlen. Yess, akhirnya ada juga anak paski yang onlen. Ternyata dia nggak ikutan ke Sempu karena ada acara keluarga, untungnya dia tahu nopenya Fahmi dan Novan.  Segera aku nanyain ke Fahmi di mana tempat ngumpulnya dan jam berapa berangkat ke Sempu. Yang bikin aku kaget adalah jam berangkatnya yang pagi beneeer yaitu pukul 6 pagi trus ke sananya tuh naik motor. Terang aja aku kaget secara aku tuh lelet banget kalau bawa motor, apa nanti malah nggak tambah memperlambat rombongan. Dulu aja pas maen ke Cangar, motorku selalu di belakang sendiri jalannya n sering ketinggalan. Lalu aku juga belum ada persiapan apa-apa, waktu aku sms Fahmi aja aku masih di warnet. Mana sempet beli perbekalan makanan dan sebagenya kalau berangkat sepagi itu. Fahmi lalu ngejelasin kalau berangkat naik motor itu malah lebih cepet, pas mereka survey lapangan aja hanya butuh 2 jam dari Malang-Sendang Biru. Untuk info lebih jelasnya, Fahmi kemudian menyuruhku menghubungi Novan yang bertindak sebagai ketua rombongan.</p>
<p>Sepulang dari warnet, aku langsung bilang sama Ibu dan Bibiku kalau aku mutusin untuk tetep ikut ke Sempu. Mereka tentu aja heran, kemarin bilang nggak jadi ikut eh sekarang datang2 dari warnet langsung berubah pikiran. Kemudian dengan penuh kesabaran plus penuh argumentasi aku jelasin kalau aku bakalan baik2 aja di sana, asal mereka merestui pasti aku selamat sampe tujuan. Sebenarnya sempet ada rencana mau berangkat diam-diam, sekalian aja pagi2 buta cabutnya. Tentu saja itu hanya angan liarku aja, bisa-bisa ibuku shock pas bangun tidur liat kamarku udah kosong melompong nggak ada orangnya he3.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Sesuai dengan jadwal, aku berangkat dari rumah jam 6 pagi dan meluncur ke POM Bensin MOG untuk jemput Novan. Jadi ceritanya, Novan tuh awalnya mau berangkat sendirian naek angkot sementara yang lainnya bawa motor, duh kacian banget sih ketua rombongan kita ini he3. Untunglah, aku nggak jadi bareng Kiki yang renc<img class="alignleft size-full wp-image-125" title="dsc05319" src="http://ihwan.files.wordpress.com/2009/03/dsc05319.jpg" alt="dsc05319" width="194" height="257" />ananya mau nyusul ke Sempu hari minggunya, jadi Novan bisa bonceng sama aku. Setelah Deny sama Alam (temen sekampusnya yang hoby mancing) datang, kami berempat meluncur ke Masjid Raya Gadang. Di sana udah menunggu 4 orang lainnya, yaitu Fahmi, Agus, Dewi dan Wina. Jadi total anggota rombongan ada 8 orang. Sebenarnya ada 3 senior juga yang mau ikut yaitu Mas Onal, Mas Ridho dan Mas Kobin. Tapi mereka berangkatnya agak siangan dan naik angkot.  Sekitar jam delapan kami singgah dulu di rumahnya Deny (dia di Malang ngekos) yang ada di Turen untuk istarahat bentar sambil memperlengkap perbekalan kami.  Perjalanan menuju Sendang Biru lumayan berat dan jauuuh banget, padahal di peta jarak Malang-Sendang Biru tuh nggak sampe lima centimeter <img src='http://bloglodak.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Medannya cukup berat, dengan jalan yang berkelok-kelok, naik turun seperti tiada habisnya. Nggak seperti perjalanan ke Cangar dimana aku bisa menikmati pemadangan pegunungan dan perkebunan yang indah di kanan kirinya, di jalan menuju Sendang Biru ini aku bener2 konsen abis sama jalan dan berusaha ‘memacu’ motorku lebih cepat dari biasanya biar nggak ketinggalan jauh sama yang lain. Walaupun Fahmi sama Novan sengaja memperlambat motornya untuk mengiringi di belakang, tapi aku juga ngg<img class="alignleft size-full wp-image-126" title="dsc05322" src="http://ihwan.files.wordpress.com/2009/03/dsc05322.jpg" alt="dsc05322" width="238" height="178" />ak mau menambah lama perjalanan yang memakan waktu 3 jam lebih itu.</p>
<p>Sesampainya di Sendang Biru kami segera melapor ke pos penjagaan, membayar ongkos masuk masing2 orang, berhubung kami kamping dikenai biaya sebesar 4000 rupiah. Lalu ishoma sambil menunggu rombongan Mas Onal datang. Pukul setengah satu, Mas Onal kirim sms dan minta dijemput di TPI (Tempat Pelelangan/Pasar Ikan&#8230;nggak tau betul apa nggak kepanjangannya itu). Di sana Mas Onal membelikan rombongan ikan tongkol laut sebanyak 5 kg untuk dimakan di Pulau Sempu. Biar nanti nggak ribet2 amat, ikannya kami bakarkan di warung ikan bakar jadi nanti pas mau makan tinggal memanasinya saja. Setelah semuanya sudah makan siang dan siap baik fisik dan mental (ciee bahasanya) kami pun berangkat menuju Pulau Sempu jam setengah tiga sore. Oh iya, motor2 sudah kami titipkan pada penduduk yang membuka jasa penitipan kendaraan. Untuk motor tarifnya 5000 rupiah, nggak tau kalau mobil berapa. Sedangkan tarif menyeberang dari Sendang Biru ke Pulau Sempu sebesar 100 ribu rupiah untuk pulang jemput, jadi besok pas kita mau balik tinggal kirim sms ke pak nelayannya. Yang aku baca di internet sih perjalannya hanya lima menit doang, tapi kami kok sampe 20 menitan yak? Apa jalurnya udah berubah he3.</p>
<p>Pengin tahu gimana, gimana serunya pengalaman kamping di Segara Anakan? Sabar dulu yaa, masih dalam tahap recovery body neh jadi otak belum bisa maksimal buat nulis banyak2 he he he.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/03/long-way-to-sempu-island/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malang  Surabaya So Tired</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/malang-surabaya-so-tired/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/malang-surabaya-so-tired/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 09:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/05/malang-surabaya-so-tired/</guid>
		<description><![CDATA[
talkshow n bedah buku Xerografer
3 desember 2007 @ Gedung Pemuda Surbaya



Bedah buku kali ini benar-benar perjuangan banget buatku, baik itu fisik dan mental, Glodak! Itu semua disebabkan oleh kenekatanku untuk menempuh perjalanan Malang-Surabaya dengan naik motor. Padahal selama ini rute perjalanan yang tiap hari kutempuh hanyalah dari rumah-perpus tempatku kerja, mungkin sekitar 5 kilometeran lah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="bodytext">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>talkshow n bedah buku Xerografer<br />
3 desember 2007 @ Gedung Pemuda Surbaya</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span><br />
</span></font>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Bedah buku kali ini benar-benar perjuangan banget buatku, baik itu fisik dan mental, Glodak! Itu semua disebabkan oleh kenekatanku untuk menempuh perjalanan Malang-Surabaya dengan naik motor. Padahal selama ini rute perjalanan yang tiap hari kutempuh hanyalah dari rumah-perpus tempatku kerja, mungkin sekitar 5 kilometeran lah. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Awalnya sih aku penginnya menempuh perjalanan yang aman-aman aja dengan bus tapi orang yang kuminta untuk menemaniku ke Surabaya yaitu kakakku-namanya Zainal tapi akrab dipanggil Mas Jinul-menyarankan untuk naik motor dengan beberapa pertimbangan. Yang pertama untuk menghindari macet di Porong, trus juga agar mobilitas di Surabaya nanti lebih mudah. Kalau harus naik bus kota agak ribet katanya. Akupun tetap bersikeras kalau fisikku nanti tidak kuat menempuh pejalanan PP Malang-Surabaya dengan motor tapi Mas Jinul juga nggak kalah ngototnya bilang kalau perjalanannya nggak seberat yang kubayangkan. Toh nanti nyetirnya bisa gantian katanya. Ya udah wis aku nurut aja, secara Mas Jinul udah terbiasa ke Surabaya naik motor aku percaya aja.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Kami berangkat dari rumah pukul setengah sebelas siang. Ada rasa tertantang juga saat mengemudikan motor karena ini adalah pertama kalinya aku menempuh perjalanan jauh dengan naik motor. Dengan semangat Valentino Rossi kukemudikan motor membelah jalan raya kota Malang. Ketika kami sampai di Singosari, Mas Jinul mengambil alih kemudi karena kayaknya dia nggak telaten or ga sabar dengan kecepatan motorku yang mentok di kilometer 60. Benar aja, begitu Mas Jinul pegang kemudi, motor melaju lebih kencang dengan kecepatan antara 80-100 km di spidometer.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Menempuh perjalanan dengan motor memang banyak tantangannya, kita bisa merasakan langsung atmosfer yang ada di jalan raya. Mulai dari teriknya sinar matahari, hembusan angin yang kencang saat ngebut, bunyi klakson truk yang suka bikin kaget hingga guyuran air hujan. Kelebihannya adalah bisa berhenti kapanpun dan di manapun kita mau. Kebelet pipis or bensin habis tinggal cari pom bensin, minuman habis tinggal beli di toko pinggiran jalan atau seperti kami, ketika lewat Porong bisa berhenti sejenak untuk liat-liat Lumpur Lapindo. Ironis sekali, bencana alam terkadang malah menjadi ‘wisata gratisan’ bagi orang yang tidak ikut terkena dampaknya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Sekitar jam satu siang kami berhenti di sebuah masjid di Sidoarjo, namanya Masjid Besar Al Karomah. Untungnya ada rumah makan tak jauh dari masjid sehingga kami bisa ngisi perut sekalian. Rumah makannya bernama Sederhana, namun sayangnya harga makanannya tidak sesederhana namanya. Sehabis makan kamipun sholat dan istirahat sebentar. Rupanya masjid ini memang menjadi tempat jujukan para pelancong untuk ishoma, ketika kami datang sudah banyak orang-orang yang tiduran di teras masjid. Lagi enak-enaknya tidur, hujan turun secara tiba-tiba dengan derasnya. Kata penjual buah yang juga berteduh di masjid, ini adalah hujan pertama yang turun di Sidoarjo. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Dengan sabar aku menunggu hujan reda tapi yang terjadi malah sebaliknya, hujan makin gila-gilaan derasnya bahkan disertai dengan petir dan angin kencang segala. Rasanya pengin ‘nangis’ ketika jam menunjukkan pukul setengah tiga tapi hujan belum juga reda. Padahal jadwal acaraku tuh jam setengah empat, mana mungkin bisa sampai tepat waktu di Surabaya. Aku lalu mengirim sms ke Mas Rudy-Kacab Agro Surabaya-untuk kasih tahu kalau aku datangnya telat.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Sehabis sholat ashar kamipun nekat melanjutkan perjalanan karena Mas TP yang merupakan panitia Soerabaya Book Festival (SBF) menelpon dan menanyakan keberadaanku. Untungnya sebelum berangkat Mas Jinul berinisiatif membelikanku sandal. Thanks broo, nggak kebayang deh kalau aku nanti harus tampil dengan sepatu basah oleh air hujan. Dengan memakai jas hujan kamipun berangkat menuju Surabaya, untunglah tak beberapa lama hujan mulai reda. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Tapi sialnya, ketika sudah sampai di Surabaya langit nampak hitam oleh kabut dan tak lama hujan turun lagi dengan derasnya. Sumpah, ini adalah perjalanan terseru yang pernah kualami. Guyuran air hujan seakan nggak ada habis-habisnya disertai angin yang kencang, belum lagi motor dan mobil yang nggak kalah gilanya untuk saling mendahului. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Untunglah kami sampai dengan selamat sampai di Gedung Pemuda, tempat diadakannya SBF. Meski sudah pakai jas hujan, kaos yang kupakai tetap basah. Kalau celananya sih nggak basah karena tadi sudah kulipat hingga ke lutut. Aku memilih berteduh di bangunan-ga tahu namanya apa-yang ada di depan Gedung Pemuda agar bisa ganti pakaian dulu. Aku celingukan kesana-kemari tapi nggak menemukan toilet atau tempat yang bisa kupakai buat ganti kaos. Akhirnya aku nekat, setelah kulihat nggak ada orang di situ, aku copot kaos dan memakai baju yang sudah kusiapkan dari rumah. Karena jalan menuju Gedung Pemuda banjir terpaksa aku nggak pakai dulu sepatuku dan berlari menembus hujan yang belum reda juga. Karena pakaiannya basah, Mas Jinul memilih untuk menunggu di bangunan tempat kami berteduh tadi. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Setelah memakai sepatu, akupun masuk ke area SBF dengan serileks mungkin seolah-olah aku nyampe ke situ dengan memakai BMW, Glodak! Segera aku mencari orang yang namanya Mas Rudy or Mas TP, untunglah aku bertanya pada orang yang tepat yang dengan baik hati mengantarkanku ke stan Buka Buku Production-penyelenggara SBF. Saat aku nyampai di sana, Mas TP sedang duduk dengan memegang novelku. Aku menyapanya dengan ramah dan meminta maaf karena terlambat satu jam dari jadwal. Kamipun lalu ngobrol santai dan mbahas konsep acaranya. Ternyata nama TP itu kependekan dari namanya yaitu Tri Prasetyo. Mas TP ini adalah General Manager dari Buka Buku Production.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Aku agak pesimis apakah bedah bukunya bisa sukses karena kulihat pengunjung pamerannya sedikit. Tepat setengah lima acara dimulai dan berkat cuap-cuap Mbak Dini-host SBF-beberapa orang tertarik untuk mengikuti bedah bukuku. Kalo nggak salah, sekitar sepuluh orang yang hadir di situ. Ya udah wis nggak apa-apa, the show must go on. Dengan dimoderatori Mas TP sendiri, acara dapat berlangsung lancar dan mengalir. Seperti bedah buku pada umumnya, setelah acara pembahasan novel selesai lalu dilanjutkan dengan tanya-jawab dengan penonton. Nggak disangka-sangka yang mengajukan pertanyaan pertama adalah salah satu rekan di Multiply yaitu Lalu aka Lafata. Dia ini MP’ers Malang juga dulunya tapi sekarang lagi kuliah di Unair ngambil jurusan Fisip. Jujur saja, kehadiran Lalu secara tidak langsung telah memberiku support. Aku jadi merasa nggak ‘sendirian’ karena setidaknya ada yang kukenal meski itu hanya lewat internet. Thanks ya broor. Walaupun penontonnya sedikit tapi hampir semuanya mengajukan pertanyaan dan itu cukup membuatku senang karena itu artinya mereka tertarik dan pengin tahu lebih banyak tentang Xero. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Setelah acara usai, aku sempatin ngobrol2 sama Lalu. Sekitar jam enam lebih sepuluh aku pamitan pulang sama Mas TP. Aku feel guilty juga saat melihat Mas Jinul yang menungguku di luar dengan pakaian yang basah. Kasihan banget karena dia sampai bela-belain nggak masuk kerja demi menemaniku bedah buku. Walaupun kami sering berbeda pendapat dan kadang ampe berantem tapi di saat-saat penting seperti ini dia menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya sebagai seorang kakak pada adiknya. Thanks a lot broor.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Untuk menebus rasa bersalahku, maka ketika sudah sampai di pinggiran Surabaya aku gantikan Mas Jinul mengemudikan motor. Kutarik gas sekencang mungkin agar kami nggak malam-malam banget sampai di Malang. Hujan seakan tiada henti menguji, saat kami melintas di Sidoarjo hujan turun lagi. Agar tidak bosan menempuh perjalanan yang jauh, aku pun dengerin lagu melalui flashdisk. Mungkin karena terlalu berambisi untuk bisa pulang cepat, beberapa kali aku nekat menyalip truk-truk yang berjalan dengan kencangnya itu. Mas Jinul nggak bosen-bosennya memperingatkanku agar tidak terburu-buru dan lebih berhati-hati. Perjalanan yang kami tempuh seakan nggak ada akhirnya, aku melihat jalan di depanku seperti tak berujung. Entah tak terhitung berapa kali aku bertanya pada diriku sendiri, ini kapan nyampainya sih…?!</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Alhamdulillah, jam setengah sepuluh kami tiba di rumah dengan selamat. Tubuhku sudah amat sangat lelah, kakiku kedinginan karena sepatuku basah oleh air hujan, jari-jemariku rasanya seperti kaku karena terlalu lama mencengkram gas, jas hujan yang kukenakan juga kotor apalagi motorku. Aku belum pernah melihat motorku sekotor itu. Setelah sekian lama aku mengalami insomnia-akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak malam itu.</span></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/malang-surabaya-so-tired/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(hampir) Mati Tenggelam</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/01/hampir-mati-tenggelam/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/01/hampir-mati-tenggelam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jan 2007 12:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[agamis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/01/06/hampir-mati-tenggelam/</guid>
		<description><![CDATA[Idul Adha kemarin aku ngalamin suatu kejadian yang mendebarkan. Suatu kejadian yang hampir merenggut nyawaku.
 Ceritanya berawal dari acara penyembelihan hewan qurban di kampungku. Nah, aku ama teman2 Remas dapet tugas mencuci organ dalam kambing (usus, lambung, hati dsb) ke sungai Metro. Sejak dulu kami memang selalu kebagian tugas itu, walopun agak menjijikan karena harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="3"><span style="font-family:courier new,courier;">Idul Adha kemarin aku ngalamin suatu kejadian yang mendebarkan.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Suatu kejadian yang hampir merenggut nyawaku.</span></p>
<p> <span style="font-family:courier new,courier;">Ceritanya berawal dari acara penyembelihan hewan qurban di kampungku.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Nah, aku ama teman2 Remas dapet tugas mencuci organ dalam kambing (usus, lambung, hati dsb) ke sungai Metro. Sejak dulu kami memang selalu kebagian tugas itu, walopun agak menjijikan karena harus berurusan ama kotorannya kambing tapi kami enjoy aja melakukannya.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Namanya juga anak muda, di sela-sela pencucian itu kami bercanda satu sama lain.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Mulai dari main cipratan air, main dorong-dorongan hingga penceburan ke dalam sungai.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Awalnya semua nampak senang dan penuh canda, baju yang kami pakaipun basah oleh air sungai.</span></p>
<p> <span style="font-family:courier new,courier;">Sampai kemudian&#8230;.aku diceburkan ke dalam sungai oleh Hermawan n Anas.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Padahal aku udah bersikeras kalo aku nggak bisa renang, eh dia kira aku bercanda.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Satu, dua kali aku berhasil melarikan diri. Tapi yang ketiga kalinya&#8230;</span></p>
<p> <span style="font-family:courier new,courier;">Sumpah, aku kaget banget sewaktu tubuhku jatuh ke dalam sungai.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Untungnya aku sempat menari tangan Anas dan dia ikut kecebur juga.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Aku berusaha menggapai pinggir sungai namun arus sungai yang cukup deras membuatku semakin ke tengah. Dan yang lebih membuatku panik adalah, kakiku tidak juga menjejak ke dasar sungai.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Aku menggerak-gerakan tangan agar tetap mengambang. Namun yang terjadi malah sebaliknya, bahkan air sungai mulai masuk ke dalam mulutku.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Akupun berteriak minta tolong pada teman2ku. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak tenggelam, termasuk berpegangan pada Anas. Aku meraih pundaknya, tangannya&#8230;.dan tanpa sadar aku membahayakan nyawanya juga.</span></p>
<p> <span style="font-family:courier new,courier;">Ya Alloh&#8230;.Ya Alloh&#8230;.batinku saat itu.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Apakah aku akan mati di sungai ini&#8230;.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Cuma sampai di sinikah umurku&#8230;.</span></p>
<p> <span style="font-family:courier new,courier;">Untuk terakhir kalinya aku bisa melihat teman2ku di pinggir sungai</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">dan setelah itu aku tenggelam ke dalam sungai</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Aku benar2 tidak bisa bernafas dan semakin banyak air yang kutelan.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Rasanya aku nggak berdaya dan hanya bisa pasrah</span></p>
<p> <span style="font-family:courier new,courier;">Tiba-tiba ada yang meraih tubuhku, aku tidak tahu siapa itu</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Tapi yang aku tahu, dia membawaku semakin ke tengah.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Aku tidak bisa menolaknya, meski aku tahu itu akan membuatku semakin tenggelam.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Tangankupun menggapai ke sana ke mari dan&#8230;.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Sadarlah aku kalau orang itu adalah Hermawan dan dia membawaku ke pinggir sungai yang lain</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Aku berusaha memanjat ke atas, namun air sungai membuatku terpeleset.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Kupegang apa saja yang ada di depanku dan akhirnya aku berhasil meraih sejumput rumput yang tumbuh di pinggir sungai.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Subhanalloh, rumput yang cuma sejumput itulah yang membuatku mampu bertahan hingga anak2 mengangkatku.</span></p>
<p> <span style="font-family:courier new,courier;">Begitu sampai di atas, aku langsung muntah-muntah. Entah berapa liter air sungai yang masuk ke mulutku, namun yang pasti sebagian makanan ikut temuntahkan juga dari perutku. Sesekali aku juga terbatuk-batuk.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Nafasku masih ngos-ngosan dan tubuhku terasa payah sekali.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Walaupun sudah muntah lumayan banyak namun perutku masih terasa kembung. </span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Teman2 menyuruhku tetap berbaring agar air di perutku keluar semua.</span></p>
<p> <span style="font-family:courier new,courier;">Aku benar2 bersyukur karena aku nggak sampai hanyut terbawa arus sungai.</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Mungkin nyawaku tidak akan tertolong lagi </span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Dan aku tidak akan bisa menyongsong tahun baru</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Meninggalkan semua orang yang kucintai</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Alhamdulillah, Alloh masih memberi umur panjang</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Terimakasih Ya Alloh karena Engkau masih memberiku kesempatan kedua</span><br /> <span style="font-family:courier new,courier;">Semoga aku bisa mengambil hikmahnya, Amin.</span></p>
<p> </font></p>
<p style="clear:both;"><!-- --></p>
<p class="taglinks">
<a href="http://nawhi.multiply.com/tag/its%20about%20me" rel="tag"> </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/01/hampir-mati-tenggelam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
