<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bloglodak.com &#187; xerografer</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/category/xerografer/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>i love blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Jul 2010 04:50:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>bloglodak.com</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>belanda-malang via blitar</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 09:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[ 
Setelah dua tahun lamanya hanya bersahabat lewat dunia maya, akhirnya Tuhan mempertemukan Onit dan One. Onit saat ini sedang menjalani kuliah S3-nya di Belanda, sedangkan One tiap hari menggeluti pekerjaannya sebagai penjaga loker di sebuah kampus di Malang. Persabahatan mereka berawal dari sebuah perdebatan tentang selinting tembakau bersama Nena dan Ruly, sepasang fotografer dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="insertedphoto"><img class="alignleft" src="http://images.nawhi.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SJbFewoKCscAABUjtG81/ben-onit-one.jpg?et=6NA8Dip6xXW5A93XLYkKDw&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="228" height="300" /></span><span style="color:#3333ff;"> </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Setelah dua tahun lamanya hanya bersahabat lewat dunia maya, akhirnya Tuhan mempertemukan Onit dan One. Onit saat ini sedang menjalani kuliah S3-nya di Belanda, sedangkan One tiap hari menggeluti pekerjaannya sebagai penjaga loker di sebuah kampus di Malang. Persabahatan mereka berawal dari sebuah perdebatan tentang selinting tembakau bersama Nena dan Ruly, sepasang fotografer dari Jakarta. Siapa sangka, perdebatan ‘sengit’ itu malah kemudian mengakrabkan mereka berempat.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Hari ini, di sebuah kota kecil berhawa sejuk Onit dan One bertemu untuk pertama kalinya. Sebuah senyuman langsung menghiasi wajah tatkala dua sahabat itu bertatap muka di sebuah halte bus. Onit saat itu tak sendirian, dia ditemani Ben, sahabatnya yang lain saat masih di Korea dulu. Begitupun juga dengan One, dia ditemani oleh Naz, tetangga sekaligus sahabatnya di kampung kecil bernama Nagrem.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Setelah beristirahat sejenak di rumah One, mereka berempat lalu menghabiskan waktu bersama dengan mengelilingi kota Malang. Melihat-lihat Masjid Jami’ yang berdiri kokoh di depan alun-alun kota, melewati De Idjen Boulevard, mengenang sebagian sejarah bangsa di Museum Brawijaya dan mengunjungi beberapa tempat lainnya.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Tujuh jam terasa cepat berlalu, mereka berempat pun harus mengakhiri pertemuan itu. Padahal masih banyak tempat yang ingin dikunjungi, masih banyak hal yang ingin dibicarakan, masih…masih dan masih ada yang ingin dilakukan agar pertemuan itu tak lekas berakhir dan lebih berkesan.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Di sebuah gerbong kereta mereka berpisah dan berdoa semoga kelak Tuhan mempertemukan mereka kembali. Saat peluit tanda kereta hendak berangkat akhirnya berbunyi, One dan Naz pun turun dari kereta. Dengan senyum bahagia dan lambaian tangan mereka melepas kepergian kereta yang membawa Onit dan Ben meninggalkan Malang. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">*trus hubungannya kota Blitar apa dunk?</span><br /><span style="color:#3333ff;">** Onit dan Ben emang ada suatu keperluan di Blitar, trus sekalian mampir ke Malang getoo.</span><br /><span style="color:#3333ff;">***foto2na bisa liat di album, <a href="http://nawhi.multiply.com/photos/album/64">cek dis oud..!!</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>keep fighting..!!</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/08/keep-fighting/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/08/keep-fighting/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 06:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Keep Fighting! Itulah kata kunci syuting hari terakhir kali ini (lega banget tapi juga ada rasa kehilangan juga hiks). Kenapa harus keep fighting? Soalnya ada beberapa kerikil yang menyandungi trus scene yang diambil lumayan banyak.
Diawali dari something bad yang terjadi di rumah yang nggak bisa aku ceritain di sini cos emang nggak semua hal harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#3333ff;">Keep Fighting! Itulah kata kunci syuting hari terakhir kali ini (lega banget tapi juga ada rasa kehilangan juga hiks). Kenapa harus keep fighting? Soalnya ada beberapa kerikil yang menyandungi trus scene yang diambil lumayan banyak.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Diawali dari something bad yang terjadi di rumah yang nggak bisa aku ceritain di sini cos emang nggak semua hal harus diceritain kan? Yang pasti sih gara2 something bad itu aku nyaris mbatalin rencana syuting adegan senam bersama di lapangan rektorat. Soalnya something bad itu udah bikin moodku rusak pagi itu dan kalau aku turutin aku bakal datang kesiangan n nggak bisa ikut senam. FYI, di kampus UB emang diadakan senam bersama yang wajib diikuti oleh semua staf kantor pusat. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Tapi aku lalu mikir, anak2 pasti udah bela2in berangkat pagi untuk ngambil adegan senam, masa aku main batalin seenaknya. Benar aja, pas aku tiba di perpus ternyata anak2 udah tiba di lapangan rektorat. Untung something bad itu udah hilang saat di perjalanan berangkat kerja tadi dan mood-ku udah lumayan baikan.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Adegan senam bisa dilalui dengan lancar trus dilanjutin dengan syuting pas aku lagi menata buku (shelving) yang emang udah jadi kewajibanku tiap pagi. Di sini, aku mulai ngerasain betapa ‘capek’nya akting di depan kamera. Gimana nggak? Tiap adegan harus diambil 3 kali dari tiga sudut yang berbeda, depan-belakang-samping. Udah gitu harus sama persis! Tapi rintangan nggak cukup sampai di situ. Aku mengalami kesulitan saat pengambilan gambar sesi wawancara. Biang keroknya adalah suaraku yang nggak begitu keras, berulang kali anak2 menyuruhku menaikkan volume suara. Atau kalau nggak gitu, pas lagi serius2nya pengambilan gambar, eh tiba2 ada suara tak diundang yang terdengar. Akibatnya, adegannya harus diulang berulang kali. Kalaupun scene-nya udah benar masih harus take sekali lagi soalna buat stok katanya, aaargh. Waktu syuting pun jadi agak lama dan aku jadi nggak enak hati sama Dedik cos kelamaan aku tinggal sendirian di loker. Maafin aku ya Ded </span><img style="color:#3333ff;" src="http://images.multiply.com/common/smiles/smile.png" alt="" /></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Syuting terakhir diambil di tempat parkir dan pintuk masuk UB, adegannya adalah aku pas tiba dan pulang di tempat kerja. Nggak ada kendala yang berarti sih, walaupun (teteup) take beberapa kali tapi aku udah kebal. Paling kalau sampai harus ngulang ampe lima kali langsung aku tinggal pulang beneran aja ha ha ha. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Oke its time to say good bye…hiks. Buat anak2 Komunikasi 06-absent dulu ya: Prabu, Oji, Rindra, Sheila, Ratna, Rero, Winda, Hadi, Habib dan Raka. Makasih banget udah sudi menjadikanku profil di features yang kalian buat, semoga kalian nggak nyesel he3. Mohon maaf jika aku nggak bisa memberikan yang terbaik dan ada tutur kata n tingkah laku yang nggak berkenan. Semoga proses editingnya lancar dan hasilnya bagus sehingga bisa memenangkan lomba. Jangan lupa, kasih copy-nya ya he3, trus untuk urusan honor transfer aja ke rekening wakakaka. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">*Tapi kayaknya kita nggak bakalan good bye gitu aja deh, kalian kan belum kelar kuliahnya pasti nanti juga ketemu lagi di perpus :p</span></p>
<p><span style="color:#990000;">foto2na ada </span><a href="http://nawhi.multiply.com/photos/album/63"><span style="font-weight:bold;">di sini</span></a><span style="color:#990000;"> he3.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/08/keep-fighting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syuting hari 2 &amp; 3</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/07/syuting-hari-2-3/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/07/syuting-hari-2-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 15:07:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Syuting hari ke-2 dilakukan di rumahku tercinta yang ada di daerah Mergan. Rombongan anak2 Komunikasi 06 datang ke rumah kira2 pukul 9 pagi. Terdiri dari Ratna (Ass. Sutradara), Rero (editor), Rindra (script writer), Hadi (DOP-director of photograph), Habib (cameraman), Sheila (Korlap) dan Raka (clapper, transport dan perlengkapan), sedangkan Oji sang sutradara, nggak bisa datang karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#3333ff;">Syuting hari ke-2 dilakukan di rumahku tercinta yang ada di daerah Mergan. Rombongan anak2 Komunikasi 06 datang ke rumah kira2 pukul 9 pagi. Terdiri dari Ratna (Ass. Sutradara), Rero (editor), Rindra (script writer), Hadi (DOP-director of photograph), Habib (cameraman), Sheila (Korlap) dan Raka (clapper, transport dan perlengkapan), sedangkan Oji sang sutradara, nggak bisa datang karena lagi pulkam. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Adegan yang diambil hari itu adalah semua aktivitasku selama berada di rumah, mulai dari bangun tidur hingga berangkat kerja. Lalu ditambah dengan kegiatan lainnya seperti membaca, mengetik, interaksiku dengan keluarga dan pulang kerja. Paling nggak banget pas adegan tidur, gimana nggak? Udah urutannya yang pertama (belum ada persiapan mental tuh) trus merupakan hal yang paling privasi lagi. Tapi mau gimana lagi? Udah terlanjur basah, aku pun lalu memperagakan posisi tidur andalan gue: memeluk guling ha ha ha.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Ternyata bikin film itu emang nggak mudah ya, yang namanya mempersiapkan kamera aja dibutuhkan waktu kira2 hingga 20 menitan. Soalnya emang harus dapat angel yang bagus, cahaya yang pas, ditambah lagi peralatannya masih terbatas jadi harus pinter2nya mereka untuk mengakalinya. Trus juga untuk satu scene nggak cukup diambil hanya satu kali, ada aja yang kurang atau salah he3. Entah itu dari aku ataupun krunya, aku sih fine2 aja cos emang kita maunya yang terbaik. Paling banyak sih take sampai tiga kali :p </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Yang lucu pas bibiku dimintai testimoni tentang diriku, karena suaranya kurang keras sampai harus disuruh ngulang berulang kali. Eh nggak tahunya pas mengulanginya malah lupa apa yang tadi diucapkannya, terpaksa deh dikasih tulisan di sebelah kameranya. </span><br /><span style="color:#3333ff;">Syuting baru berakhir pukul 4 sore, Gosh lama banget. Padahal durasi dari features ini sebenarnya hanya 15 menit tapi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya kira2 seminggu. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Hari ke-3 terpaksa aku nggak diambil gambarnya karena aku nggak memakai seragam seperti saat syuting hari pertama. Soalnya ceritanya tuh aku diliput hanya sehari aja, kan aneh kalau pas berangkat dan pulangnya pake seragam eh ketika kerja kok pake pakaian bebas. Rencananya scene-ku tuh nyeritain awal mula kerja di perpus dan tentang novel Xerografer. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Ya udah, giliran teman2 kerjaku yang dimintai testimoni. Jangan bayangin kalau mereka mau gitu aja disyuting, semuanya pada nggak mauu tahu nggak? Ada yang katanya malu dan grogi speak depan kamera, nggak tahu harus komen apa tapi ada yang sok jual muahal :p. Untunglah setelah aku dan kru membujuk, merayu, sedikit maksa (tapi nggak pake ngancam loh) dapat dua testimoni, dari Dedik dan Putro. Nggak tahu deh mereka ngomong apa aja tentang gue, soalnya aku emang nggak boleh tahu, sialan! Awas ya kalau sampe mereka mbongkar2 rahasia gue, bakal aku racunin pake obat cuci perut wakakakaka.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">untuk foto2na bisa liat <a href="http://nawhi.multiply.com/photos/album/62">disini.</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/07/syuting-hari-2-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maen Film Dokumenter</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/07/maen-film-dokumenter/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/07/maen-film-dokumenter/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 15:04:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh, Allah memang benar2 Maha Pemurah dan Pengertian banget pada diriku. Di saat aku sedang mengalami kejenuhan menjalani kehidupanku yang itu-itu mulu, Dia memberiku sebuah ‘hadiah’ yang memberikan suntikan semangat baru dalam hidupku. Ciee…dalem banget she.
Mau tahu nggak? Hadiah apa sih yang katanya sobat2ku keren itu?
Alkisah, halaah, bahasanya kayak dongeng aja. Kemarin pas aku lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#3333ff;">Sungguh, Allah memang benar2 Maha Pemurah dan Pengertian banget pada diriku. Di saat aku sedang mengalami kejenuhan menjalani kehidupanku yang itu-itu mulu, Dia memberiku sebuah ‘hadiah’ yang memberikan suntikan semangat baru dalam hidupku. Ciee…dalem banget she.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Mau tahu nggak? Hadiah apa sih yang katanya sobat2ku keren itu?</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Alkisah, halaah, bahasanya kayak dongeng aja. Kemarin pas aku lagi kerja, menjalankan tugasku di bagian loker, datanglah 3 mahasiswa jurusan Komunikasi yang memintaku untuk menjadi pemain di sebuah film dokumenter yang akan mereka buat. Tentu saja aku kaget dengernya, perasaan aku nggak ikutan casting kok tiba2 diminta main di film mereka, jadi tokoh utama lagi. Glodak!</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Mereka lalu ngejelasin padaku kalau mereka mau ikutan sebuah<span style="font-weight:bold;"> l</span><a href="http://www.tvri.co.id/images/GATRA%20KENCANA.pdf">omba program acara</a> yang diadakan TVRI. Kebetulan mereka membaca profilku yang pernah dimuat di sebuah majalah kampus di UB, nah dari situlah mereka ingin mengangkat kisahku, seorang tukang fotokopi yang nekat menulis sebagian kisah hidupnya dalam sebuah novel. Alasan mereka sih, katanya aku sebagai seorang yang biasa aja tetapi mampu memberi inspirasi bagi yang lain.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Wedew…nggak salah tuh?</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Kalau sebagai orang biasa itu emang bener. Tapi memberi inspirasi bagi yang lain? Aku merasa nggak pantes untuk dikatakan seperti itu.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Jujur saja, saat mendengar tawaran itu, perasaanku campur-aduk. Antara seneng sekaligus takut. Senang atas kepercayaan dan kesempatan yang mereka berikan padaku, tetapi di sisi lain juga takut nggak bisa ngasih yang terbaik buat mereka. Aku kan nggak pernah tampil di depan kamera.</span><br /><span style="color:#3333ff;">Tapi ya udahlah, aku Bismilah aja, akhirnya aku terima tawaran mereka. Ini kan sesuatu yang baru buatku, nggak ada ruginya kan dicoba? Sekalian juga promosi gratis buat Xerografer he3.</span><br /><span style="color:#3333ff;">Lagian aku juga salut dengan keseriusan mereka mau bikin film ini. Mereka sempat menunjukkan script yang udah mereka buat, detail dan lengkap banget pokoknya. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Rencananya sih syutingnya dimulai hari ini, waktunya selama seminggu. Adapun lokasi yang dipakai adalah di perpus tempatku kerja dan rumahku. Wew…moga2 aja syutingnya nggak pake di kamar segala, ntar bisa ketahuan jorkisnya he3. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Minta doanya ya dari MP’ers sekalian agar syutingnya berjalan dengan lancar dan hasilnya bisa maksimal. Semoga filmnya nanti memang benar-benar bisa memberikan inspirasi bagi yang melihatnya, Amin.</span></p>
<p><span style="color:#6600cc;">foto syuting hari pertama sudah bisa liat </span><a href="http://nawhi.multiply.com/photos/album/61">di sini.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/07/maen-film-dokumenter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir Buku di Jember</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/05/banjir-buku-di-jember/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/05/banjir-buku-di-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 09:11:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai dengan rencana, aku berangkat dari rumah ke markasnya GagasMalang sekitar jam 6 lebih dianterin sama kakakku. Agak terburu-buru berangkatnya cos aku sendiri bangun kesiangan dan sama mbak-mbak Gagas disuruh standy by di markas jam setengah tujuh. Travelnya sendiri mau ‘ngangkut’ aku jam 6.45. Sebenarnya aku minta agar travelnya jemput ke rumah tapi nggak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Sesuai dengan rencana, aku berangkat dari rumah ke markasnya GagasMalang sekitar jam 6 lebih dianterin sama kakakku. Agak terburu-buru berangkatnya cos aku sendiri bangun kesiangan dan sama mbak-mbak Gagas disuruh standy by di markas jam setengah tujuh. Travelnya sendiri mau ‘ngangkut’ aku jam 6.45. Sebenarnya aku minta agar travelnya jemput ke rumah tapi nggak bisa karena rumahku nggak dilewati jalurnya travel. Ya udahlah, ngalah dikit nggak apa-apa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Yang bikin agak senewen, si travelnya sendiri malah baru datang jam 7 lebih. Trus aku kan duduknya di depan dan bisa liat2 daftar penumpang, nggak tahunya ada penumpang (namanya Cendana, orang chinese gitu) yang rumahnya tuh nggak jauh dari dari rumahku. Tentu saja aku heran bin nggak terima, kok mereka nggak mau jemput aku? Ketika mobil travel lagi antri bensin dan sopirnya turun, aku lalu nanya2 ama Tante Cendana dan ternyata dia dijemput langsung dari rumahnya. Uugh, dasar sopir rasialis! Pengin gue jitak aja tuh orang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Perjalanan ke Jember ternyata nggak memakan waktu 7 jam seperti yang dikatakan sama pegawai travel yang pernah kutelepon dulu (ehm…lagi-lagi dikibulin sama orang travel), tapi hanya 5 jam. Tapi walaupun hanya 5 jam, cukup manjur bikin bokongku puanas cos kelamaan duduk. Oh iya, boleh dikatakan akulah cowok ciptaan Tuhan yang paling seksi (cuiih) diantara semua penumpang yang ada di dalam mobil travel tersebut. Mau tau sebabnya…? Soalnya penumpang yang lainnya tuh ibu-ibu semua he3. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Sekitar jam dua belasan aku nyampe di Jember dan diturunkan tepat di depan Gedung Soetardjo, tempat berlangsungnya Pesta Buku Murah Jember. Setelah ngobrol2 sebentar sama Mas Tepe dan Mbak Windy yang kebetulan ada di situ, aku lalu dianterin ke hotel sama Dany, sales Kawah Media Malang. Acaraku sendiri jam tujuh malam, sehingga aku masih bisa istirahat dan mempersiapkan diri terlebih dahulu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Walaupun agak telat karena harus makan malam dulu, acaranya boleh dikatakan berjalan dengan lancar dan lumayan sukses. Seperti biasa, di sesi pertama aku mengenalkan dulu Xerografer itu bercerita tentang apa, jangan sampai yang hadir di situ mengira Xero isinya tentang mesin fotokopi terbaru keluaran Xerox. Promo gratis dunk jadinya. Untuk sesi tanya-jawabnya nggak jauh-jauh beda dari talkshow yang pernah kulakukan sebelumnya. Nanyain inspirasi nulisnya darimana, tujuanku menulis novel untuk apa, penulis yang menginspirasi siapa aja. Ada yang mengaku udah baca Xero dan komen panjang lebar tentang Xero tapi ujung-ujungnya cuman nanyain alamat blogku apa. Hari gini nggak tau alamat blogku? Kemana aja sih lo. He he he, becanda kok. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Trus ada juga seorang cewek yang heran dan amit2 jabang bayi (nggak segitunya kali) ketika secara blak-blakan aku bilang kalau aku mengawali hoby menulis dari buku harian. Harap maklum,<span> </span>selama ini diary kan memang identik dengan cewek. Dengan sok bijak aku menjawab ketika kita punya masalah dalam hidup dan nggak punya teman atau malu untuk curhat maka tulislah masalah itu. Memang sih, masalah itu nggak akan selesai dengan hanya menulisnya aja. Tapi setidaknya beban yang kita rasakan bisa sedikit berkurang dan selanjutnya bisa berpikir dengan jernih untuk mencari penyelesainnya. Cieee. Ketahuan, tuh cewek nggak pernah liat A2DC atau Gie. Dua cowok keren (just like me…he3) di film tersebut juga nulis diary kan? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Esoknya, aku balik ke Malang jam 12 siang bareng anak2 Kawah Media. Sebelumnya kami nggak lupa untuk menyempatkan diri cari oleh-oleh khas Jember yaitu Suwar-Suwir dan Brownies Tape. Suwar-Suwir itu bahannya juga dari tape singkong tapi bentuknya pasta, lumayan lah rasanya. Last, satu hal yang aku iri dari Jember adalah jalan rayanya yang lebar-lebar. Nggak kayak Malang, yang katanya kota terbesar ke-2 di Jatim tapi jalan rayanya sempit sehingga sering macet dan nggak memungkinkan untuk dikasih bus kota. Gimana nih Pak Walikota Malang*…? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>*sengaja manas-manasin cos bentar lagi mau ada Pilkada he3.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>*maap postingannya agak telat cos kemarin MP3-nya ketinggalan</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/05/banjir-buku-di-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1000 books for them</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/02/1000-books-for-them/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/02/1000-books-for-them/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 09:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2008/02/18/1000-books-for-them/</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu yang lalu aku pergi ke panti pijat tuna netra Nuansa yang terletak di depan Rumah Sakit Soepraon untuk memijatkan tubuhku yang terasa pegal-pegal semua. Ya iyalah, kalau bukan untuk pijat trus mau ngapain? Masa mau ngeceng?
Sebenarnya kalau lagi capek atau pegal2, aku lebih memilih untuk memijat sendiri karena rasanya risih membiarkan orang lain ‘menggerayangi’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Seminggu yang lalu aku pergi ke panti pijat tuna netra Nuansa yang terletak di depan Rumah Sakit Soepraon untuk memijatkan tubuhku yang terasa pegal-pegal semua. Ya iyalah, kalau bukan untuk pijat trus mau ngapain? Masa mau ngeceng?</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Sebenarnya kalau lagi capek atau pegal2, aku lebih memilih untuk memijat sendiri karena rasanya risih membiarkan orang lain ‘menggerayangi’ tubuhku yang kerempeng ini. Tapi berhubung yang pegal tuh seluruh badan maka akupun menyerah dan mutusin pergi ke Nuansa. Dulu udah pernah satu kali pijat di sana tapi anehnya ada beberapa bagian yang semula nggak pegal malah jadi pegal setelah dipijat. Mungkin karena dulu masih pertama kali ya atau mijatnya terlalu keras. Yang merekomendasikan untuk pijat di Nuansa adalah bibiku, beliau lumayan sering pijat di sana dan katanya enak pijatannya. </span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Yang memijatku kali ini namanya Andreas (keren banget namanya bo). Setiap pemijat emang biasa ngajak kenalan dulu sebelum ‘beraksi’, mungkin maksudnya jika kita cocok dengan pijatannya dan lain kali datang lagi bisa langsung request untuk dipijat sama dia. </span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Sambil mulai memijat kaki kiriku, Andreas ngajak aku ngobrol ngalor-ngidul. Ternyata dia dulu sering main ke Radio MFM yang ada di Perpus tempatku kerja. Cuman tuh radio sekarang udah nggak ada lagi, nggak tahu kenapa. Agak tengsin juga sama si Andreas karena seumur-umur aku tuh nggak pernah main ke MFM, padahal tinggal masuk dan melangkahkan kaki aja. Yaa…harap maklum, gue kan aslinya pemalu Glodak!</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Kalau dibandingkan dengan pemijatku yang dulu, sebenarnya pijatan Andreas kurang enak he3 soalnya dia baru lulus dari tahun kemarin. Pantesan aja dia sering nampak kecapean saat memijatku, mungkin karena belum terbiasa. Aku agak nggak enak hati dan kasihan setiap kali dia berhenti dan menyeka keringat di dahinya. </span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Aku nggak bisa ngebayangin kalau berada di posisi Andreas, menjalani hidup di dalam kegelapan tanpa bisa menikmati keindahan alam semesta dan seisinya. Apalagi dengan keterbatasannya itu dia tidak mempunyai banyak pilihan di dalam memilih pekerjaan. Mungkin kalau boleh memilih, Andreas atau para pemijat di Nuansa yang lainnya ingin bekerja pada bidang lain yang mereka sukai.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Mimijat bukanlah pekerjaan yang ringan, coba bayangkan selama satu setengah jam mereka harus memijat dari ujung kaki hingga kepala. Tak peduli meski jari-jemari atau tangan mereka sendiri sedang capek atau pegal, yang paling penting adalah konsumen puas dengan pijatan mereka.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Kenyataan itu membuatku bertanya pada diriku sendiri, sudahkah aku mensyukuri nikmat kedua mata ini..? Dan apakah yang bisa kulakukan untuk sekedar membantu saudaraku yang tunanetra tersebut…?</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Hari Sabtu kemarin aku pergi ke Toga Mas (sebuah toko buku yang terkenal dengan diskonnya) untuk sekedar refreshing dan cari2 buku baru. Ketika menghampiri rak yang menyediakan buku2 baru, perhatianku tertuju pada sebuah novel songlit (song literatur) terbitan Gagas dengan judul Sebelum Cahaya. Novel ini ditulis oleh Karla M Nashar berdasarkan lagunya Letto yang liriknya menyentuh itu. Untungnya ada satu novel yang tidak dibungkus plastik sehingga aku bisa membaca sedikit isinya, salah satu tokoh utama di dalam novel tersebut diceritakan mengalami kecelakaan hingga harus kehilangan penglihatannya. Ketika membuka bagian belakang, aku membaca sebuah pengumuman yang mengajak pembaca untuk bergabung di dalam Gerakan 1000 Buku. Gerakan ini diadakan oleh Mitra Netra untuk membantu saudara kita yang tuna netra agar bisa ikut menikmati buku2 seperti halnya orang yang bisa melihat. Untuk keterangan selanjutnya bisa MP’ers baca <a href="http://www.mitranetra.or.id/ebook/"><b>di sini</b>.</a></span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Dalam hati aku langsung menduga kalau ini pasti jawaban dari Allah atas pertanyaanku saat dipijat oleh Andreas dulu. Sebagai seorang penulis, Glodak! yang bisa kulakukan tentu adalah menghibur mereka melalui karyaku. Sebetulnya aku dulu pernah membaca Gerakan ini di sebuah majalah tapi nggak tahu gimana caranya untuk ikut berpartisipasi. Aku lalu mengingat-ingat salah satu alamat email yang disediakan Mitra Netra untuk mengirimkan soft copy novel yang akan diterjemahkan ke dalam huruf Braile.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Buat MP’ers, baik itu yang penulis atau bukan, mari kita bergabung dalam Gerakan 1000 buku ini. Caranya sangat mudah sekali, kita tinggal mengetik kembali novel2 koleksi kita dan mengirimkannya ke Mitra Netra. Dont worry, jari kita ga bakalan keriting kok (di-rebonding kali) karena mengetik satu buku penuh. Lagian apalah artinya bila dibandingkan dengan kegelapan yang harus dialami oleh saudara kita seumur hidupnya itu? Yakinlah bahwa jerih payah kita tidak akan sia-sia karena setiap huruf yang kita ketikkan ibarat setitik cahaya yang sangat berarti bagi mereka.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/02/1000-books-for-them/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>selesai tapi belum finish&#8230;?</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/01/selesai-tapi-belum-finish/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/01/selesai-tapi-belum-finish/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 03:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2008/01/06/selesai-tapi-belum-finish/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, setelah melalui puluhan malam sendirian dengan mata agak sepet dan pantat panas karena kelamaan duduk akhirnya novel ke-2 SELESAI.Tadi malem pengeditannya udah hampir 75 persen, ada dua jalan cerita yang berubah dari rencana sebelumnya. Setelah pengeditan selesai maka &#8216;tugas&#8217; berikutnya adalah mencari proof reader. Ini hukumnya Wajib cos melalui proof reader kita bisa mengetahui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Alhamdulillah, setelah melalui puluhan malam sendirian dengan mata agak sepet dan pantat panas karena kelamaan duduk akhirnya novel ke-2 SELESAI.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Tadi malem pengeditannya udah hampir 75 persen, ada dua jalan cerita yang berubah dari rencana sebelumnya. </span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Setelah pengeditan selesai maka &#8216;tugas&#8217; berikutnya adalah mencari proof reader. Ini hukumnya Wajib cos melalui proof reader kita bisa mengetahui bagaimana reaksi pembaca nantinya saat novel kita dikeluarkan. Selain itu juga bisa memberikan saran dan masukan.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Sebenarnya aku udah punya proofreaders dari novel pertama dulu tapi jumlahnya masih kurang. Kriteria yang aku inginkan dari proofreader-ku nanti ga muluk2 sih, cukup dua aja:</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">1.Yang pasti harus suka baca dong ya, ga mungkin aku maksa orang yang sama sekali ga suka baca untuk jadi proofreader.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">2. Aku ga terlalu kenal ama mereka supaya nanti bisa lebih obyektif gitu ngasih penilaian.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Proofreader-ku yang sekarang sih udah kenal baik ama aku, tapi mereka tetep bisa obyektif sih. Draft novelku kemarin malah &#8216;dibantai&#8217; habis2an ama mereka.</span></p>
<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Kemarin udah dapet 4 orang yang mau jadi proofreader, tapi cewek semuaa he he he Jadi sekarang lagi cari proofreader cowok, tapi kalo emang dapetnya cewek lagi juga ga apa-apa sih.</span></p>
<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Selain nyari proofreader, aku juga lagi merayu beberapa orang untuk bersedia ngasih endorsement. Alhamdulillah, udah dapet satu orang (seneng banget pas dia bilang: OKE di sms waktu itu). Aku berharap endorsment setidaknya nanti bisa meluluhkan hati penerbit dan kalo nanti udah diluncurkan juga bisa lebih memikat para pembaca untuk membelinya. Amin.</span></p>
<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Oh iya, aku baru tahu kalo MP Indonesia juga mau menerbitkan buku tentang Multiply. Kabar ini cukup bikin aku agak kaget mengingat di novelku nanti juga bakalan mbahas tentang MP. Aku ikut senang tapi rada nyesel gitu kok ga tahu dari dulu, kan aku juga pengin berpartisipasi. Rencananya sih buku itu dikeluarin tanggal 14 Februari 2008.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Di satu sisi ini kayak &#8216;kecolongan&#8217; start buatku takutnya nanti para pembaca udah ga minat lagi pas baca novelku. Tapi di sisi lain juga ada baiknya, setidaknya novelku nanti ga  &#8217;saingan&#8217; gitu ama buku MP.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Oke deh, gitu aja dulu. Minta doanya agar novel kedua ini melenggang dengan mulus ke penerbitan dan menyusul Xerografer, Amin.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/01/selesai-tapi-belum-finish/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Farewell Fotokopi</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/farewell-fotokopi/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/farewell-fotokopi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 04:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/28/farewell-fotokopi/</guid>
		<description><![CDATA[
Hari ini adalah hari terakhirku di bagian fotokopi sebab mulai tahun depan aku dipindahkan ke bagian loker. Kenangan saat pertama kali aku menyentuh mesin fotokopi seperti hadir kembali lagi di depan mataku. Dulu tak pernah terbayangkan sedikitpun kalau kelak aku akan menjadi seorang tukang fotokopi. Ya iyalah, mana ada sih anak yang punya cita-cita sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="bodytext">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Hari ini adalah hari terakhirku di bagian fotokopi sebab mulai tahun depan aku dipindahkan ke bagian loker. Kenangan saat pertama kali aku menyentuh mesin fotokopi seperti hadir kembali lagi di depan mataku. Dulu tak pernah terbayangkan sedikitpun kalau kelak aku akan menjadi seorang tukang fotokopi. Ya iyalah, mana ada sih anak yang punya cita-cita sebagai tukang fotokopi? Bahkan meski kelak nama tukang fotokopi diganti menjadi xerografer sekalipun, aku yakin profesi itu nggak akan muncul di benak seorang anak saat ditanya apa cita-citanya kalau besar nanti. Kebetulan bulan-bulan ini ada siswi2 SMEA yang melakukan PKL di perpus. Nah, seminggu yang lalu salah seorang dari mereka ditugaskan magang di bagian fotokopi. Duh, keliatan banget dari air mukanya saat pertama kali datang, kalau dia tuh nggak rela dunia-akhirat jika magang di fotokopian ha ha ha.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Jujur, pertama kali pegang mesin fotokopi dulu aku sempat grogi karena ternyata mesin fotokopi nggak sekedar pencet-pencet tombol doang. Masih ingat ketika Mas Andik, seniorku dulu (sekarang udah pindah ke Surabaya) mengajariku mengoperasikan mesin itu. Dengan sabar dia mengajariku bagaimana memprogram mesin dengan making areas, memilih kertas hingga membersihkan bagian-bagian mesin. Di hari pertama aku bekerja lumayan banyak hasil fotokopian yang salah, kira-kira…lha kok jadi kayak nulis novel Xerografer gini seeeh?</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Sekitar tiga bulan setelah bekerja, aku membaca sebuah pengumuman beasiswa di sebuah koran yang diadakan Universitas Hangtuah Surabaya. Waktu itu aku tertarik banget untuk mencobanya apalagi nilai rata2 NEM-ku memenuhi syarat yang diajukan. Secara dulu pengin banget ngelanjutin kuliah jadi kesempatan beasiswa itu seperti anugerah dari Allah. Tapi nggak tahu kenapa, ketika sampai di rumah aku pikirkan lagi niatku itu. Aku melihat pengumuman itu lagi, kubaca nama-nama jurusannya. Melihat sebagian bidang ilmunya yang berhubungan dengan dunia kelautan aku jadi pesimis apa aku nanti bisa berhasil. Selain itu juga aku masih nggak tega ninggalin Malang, dulu aja pernah ada kesempatan kerja di Bandung tapi nggak aku ambil. Aku termasuk orang yang mengidap homesickness jadi aku takut kalau nanti aku nggak kerasan di Surabaya. Ya udah, aku nggak ambil kesempatan emas itu. Dan aku tetap bertahan di kerjaanku sebagai tukang fotokopi.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Aku nggak pernah menyesali keputusanku itu karena aku yakin bahwa apapun yang terjadi memang sudah ditentukan oleh Allah. Biarpun aku ngebet pengin masuk ke Hangtuah tapi kalau emang itu bukan jalanku pasti juga tidak akan berhasil. Syukurlah karena ternyata Allah menggantinya dengan sebuah anugerah yang indah, mimpiku untuk menerbitkan novel dikabulkan oleh-Nya. Aku nggak tahu jika seumpamanya aku kuliah apakah aku tetap bisa menulis novel. Bisa jadi bukan aku yang menulis Xerografer, orang lain atau teman kerjaku mungkin. Yang unik adalah ketika aku menulis Xerografer, teman-teman SMA-ku juga sedang sibuk menulis skripsi. Jadi aku anggap itu sudah impaslah.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Kini saatnya mengucapkan perpisahan, kepada Mas Ipin (koordinator fotokopi), mesin Canon NP650 II (bukan Xerox lho), kertas-kertas dan staples. Begitu banyak kenangan yang kualami di sana, mulai dari capek setengah mati melayani pelanggan, memfotokopi buku2 setebal bantal, lembur hingga tengah malam. Bahkan aku pernah memfotokopi dengan jari telunjuk berdarah-darah (ini beneran) hingga mengotori buku yang sedang kufotokopi. Itu semua tidak akan pernah kulupakan hingga akhir hayatku nanti, Glodak! Maafkan, jika hanya sebuah novel yang bisa kupersembahkan untuk mengenang kebersamaan kita selama ini, hiks hiks. Tetapi jangan khawatir, kita masih bisa ketemu lagi kan? Kalau saat istirahat aku akan sempatkan mampir. Apalagi jika nanti ada lembur fotokopi, pasti aku orang pertama yang dicalling-secara rumahku paling deket ama perpus. Kayaknya aku harus mulai mencari rumah yang agak jauh dari tempat kerjaku…*just kidding.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Mungkin yang membuatku agak enggan adalah bagian baru yang akan kutempati. Walaupun secara fisik job description yang kujalani berubah namun sccara kualitas aku merasa stag alias jalan di tempat. Atau mungkin juga menurun, secara kalau jaga loker itu hanya tangan saja yang bekerja. Bukannya aku gengsi atau apa untuk menjaga loker. Aku hanya berharap ada sebuah peningkatan dari pekerjaan yang kulakukan, aku ingin bukan hanya ototku saja yang dinilai tapi juga kemampuanku dalam berpikir. Atau mungkin, lagi-lagi ini adalah jalan dari Allah. Bisa jadi Allah memberiku pekerjaan yang berhubungan dengan fisik doang agar aku bisa menggunakan pikiranku secara maksimal untuk menulis novel. Yaaa, untuk saat ini kesimpulan itu yang bisa kuambil. Setidaknya agar aku nanti enjoy menjalani pekerjaanku di bagian loker.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3"><br />
</font></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/farewell-fotokopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malang  Surabaya So Tired</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/malang-surabaya-so-tired/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/malang-surabaya-so-tired/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 09:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/05/malang-surabaya-so-tired/</guid>
		<description><![CDATA[
talkshow n bedah buku Xerografer
3 desember 2007 @ Gedung Pemuda Surbaya



Bedah buku kali ini benar-benar perjuangan banget buatku, baik itu fisik dan mental, Glodak! Itu semua disebabkan oleh kenekatanku untuk menempuh perjalanan Malang-Surabaya dengan naik motor. Padahal selama ini rute perjalanan yang tiap hari kutempuh hanyalah dari rumah-perpus tempatku kerja, mungkin sekitar 5 kilometeran lah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="bodytext">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>talkshow n bedah buku Xerografer<br />
3 desember 2007 @ Gedung Pemuda Surbaya</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span><br />
</span></font>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Bedah buku kali ini benar-benar perjuangan banget buatku, baik itu fisik dan mental, Glodak! Itu semua disebabkan oleh kenekatanku untuk menempuh perjalanan Malang-Surabaya dengan naik motor. Padahal selama ini rute perjalanan yang tiap hari kutempuh hanyalah dari rumah-perpus tempatku kerja, mungkin sekitar 5 kilometeran lah. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Awalnya sih aku penginnya menempuh perjalanan yang aman-aman aja dengan bus tapi orang yang kuminta untuk menemaniku ke Surabaya yaitu kakakku-namanya Zainal tapi akrab dipanggil Mas Jinul-menyarankan untuk naik motor dengan beberapa pertimbangan. Yang pertama untuk menghindari macet di Porong, trus juga agar mobilitas di Surabaya nanti lebih mudah. Kalau harus naik bus kota agak ribet katanya. Akupun tetap bersikeras kalau fisikku nanti tidak kuat menempuh pejalanan PP Malang-Surabaya dengan motor tapi Mas Jinul juga nggak kalah ngototnya bilang kalau perjalanannya nggak seberat yang kubayangkan. Toh nanti nyetirnya bisa gantian katanya. Ya udah wis aku nurut aja, secara Mas Jinul udah terbiasa ke Surabaya naik motor aku percaya aja.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Kami berangkat dari rumah pukul setengah sebelas siang. Ada rasa tertantang juga saat mengemudikan motor karena ini adalah pertama kalinya aku menempuh perjalanan jauh dengan naik motor. Dengan semangat Valentino Rossi kukemudikan motor membelah jalan raya kota Malang. Ketika kami sampai di Singosari, Mas Jinul mengambil alih kemudi karena kayaknya dia nggak telaten or ga sabar dengan kecepatan motorku yang mentok di kilometer 60. Benar aja, begitu Mas Jinul pegang kemudi, motor melaju lebih kencang dengan kecepatan antara 80-100 km di spidometer.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Menempuh perjalanan dengan motor memang banyak tantangannya, kita bisa merasakan langsung atmosfer yang ada di jalan raya. Mulai dari teriknya sinar matahari, hembusan angin yang kencang saat ngebut, bunyi klakson truk yang suka bikin kaget hingga guyuran air hujan. Kelebihannya adalah bisa berhenti kapanpun dan di manapun kita mau. Kebelet pipis or bensin habis tinggal cari pom bensin, minuman habis tinggal beli di toko pinggiran jalan atau seperti kami, ketika lewat Porong bisa berhenti sejenak untuk liat-liat Lumpur Lapindo. Ironis sekali, bencana alam terkadang malah menjadi ‘wisata gratisan’ bagi orang yang tidak ikut terkena dampaknya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Sekitar jam satu siang kami berhenti di sebuah masjid di Sidoarjo, namanya Masjid Besar Al Karomah. Untungnya ada rumah makan tak jauh dari masjid sehingga kami bisa ngisi perut sekalian. Rumah makannya bernama Sederhana, namun sayangnya harga makanannya tidak sesederhana namanya. Sehabis makan kamipun sholat dan istirahat sebentar. Rupanya masjid ini memang menjadi tempat jujukan para pelancong untuk ishoma, ketika kami datang sudah banyak orang-orang yang tiduran di teras masjid. Lagi enak-enaknya tidur, hujan turun secara tiba-tiba dengan derasnya. Kata penjual buah yang juga berteduh di masjid, ini adalah hujan pertama yang turun di Sidoarjo. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Dengan sabar aku menunggu hujan reda tapi yang terjadi malah sebaliknya, hujan makin gila-gilaan derasnya bahkan disertai dengan petir dan angin kencang segala. Rasanya pengin ‘nangis’ ketika jam menunjukkan pukul setengah tiga tapi hujan belum juga reda. Padahal jadwal acaraku tuh jam setengah empat, mana mungkin bisa sampai tepat waktu di Surabaya. Aku lalu mengirim sms ke Mas Rudy-Kacab Agro Surabaya-untuk kasih tahu kalau aku datangnya telat.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Sehabis sholat ashar kamipun nekat melanjutkan perjalanan karena Mas TP yang merupakan panitia Soerabaya Book Festival (SBF) menelpon dan menanyakan keberadaanku. Untungnya sebelum berangkat Mas Jinul berinisiatif membelikanku sandal. Thanks broo, nggak kebayang deh kalau aku nanti harus tampil dengan sepatu basah oleh air hujan. Dengan memakai jas hujan kamipun berangkat menuju Surabaya, untunglah tak beberapa lama hujan mulai reda. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Tapi sialnya, ketika sudah sampai di Surabaya langit nampak hitam oleh kabut dan tak lama hujan turun lagi dengan derasnya. Sumpah, ini adalah perjalanan terseru yang pernah kualami. Guyuran air hujan seakan nggak ada habis-habisnya disertai angin yang kencang, belum lagi motor dan mobil yang nggak kalah gilanya untuk saling mendahului. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Untunglah kami sampai dengan selamat sampai di Gedung Pemuda, tempat diadakannya SBF. Meski sudah pakai jas hujan, kaos yang kupakai tetap basah. Kalau celananya sih nggak basah karena tadi sudah kulipat hingga ke lutut. Aku memilih berteduh di bangunan-ga tahu namanya apa-yang ada di depan Gedung Pemuda agar bisa ganti pakaian dulu. Aku celingukan kesana-kemari tapi nggak menemukan toilet atau tempat yang bisa kupakai buat ganti kaos. Akhirnya aku nekat, setelah kulihat nggak ada orang di situ, aku copot kaos dan memakai baju yang sudah kusiapkan dari rumah. Karena jalan menuju Gedung Pemuda banjir terpaksa aku nggak pakai dulu sepatuku dan berlari menembus hujan yang belum reda juga. Karena pakaiannya basah, Mas Jinul memilih untuk menunggu di bangunan tempat kami berteduh tadi. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Setelah memakai sepatu, akupun masuk ke area SBF dengan serileks mungkin seolah-olah aku nyampe ke situ dengan memakai BMW, Glodak! Segera aku mencari orang yang namanya Mas Rudy or Mas TP, untunglah aku bertanya pada orang yang tepat yang dengan baik hati mengantarkanku ke stan Buka Buku Production-penyelenggara SBF. Saat aku nyampai di sana, Mas TP sedang duduk dengan memegang novelku. Aku menyapanya dengan ramah dan meminta maaf karena terlambat satu jam dari jadwal. Kamipun lalu ngobrol santai dan mbahas konsep acaranya. Ternyata nama TP itu kependekan dari namanya yaitu Tri Prasetyo. Mas TP ini adalah General Manager dari Buka Buku Production.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Aku agak pesimis apakah bedah bukunya bisa sukses karena kulihat pengunjung pamerannya sedikit. Tepat setengah lima acara dimulai dan berkat cuap-cuap Mbak Dini-host SBF-beberapa orang tertarik untuk mengikuti bedah bukuku. Kalo nggak salah, sekitar sepuluh orang yang hadir di situ. Ya udah wis nggak apa-apa, the show must go on. Dengan dimoderatori Mas TP sendiri, acara dapat berlangsung lancar dan mengalir. Seperti bedah buku pada umumnya, setelah acara pembahasan novel selesai lalu dilanjutkan dengan tanya-jawab dengan penonton. Nggak disangka-sangka yang mengajukan pertanyaan pertama adalah salah satu rekan di Multiply yaitu Lalu aka Lafata. Dia ini MP’ers Malang juga dulunya tapi sekarang lagi kuliah di Unair ngambil jurusan Fisip. Jujur saja, kehadiran Lalu secara tidak langsung telah memberiku support. Aku jadi merasa nggak ‘sendirian’ karena setidaknya ada yang kukenal meski itu hanya lewat internet. Thanks ya broor. Walaupun penontonnya sedikit tapi hampir semuanya mengajukan pertanyaan dan itu cukup membuatku senang karena itu artinya mereka tertarik dan pengin tahu lebih banyak tentang Xero. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Setelah acara usai, aku sempatin ngobrol2 sama Lalu. Sekitar jam enam lebih sepuluh aku pamitan pulang sama Mas TP. Aku feel guilty juga saat melihat Mas Jinul yang menungguku di luar dengan pakaian yang basah. Kasihan banget karena dia sampai bela-belain nggak masuk kerja demi menemaniku bedah buku. Walaupun kami sering berbeda pendapat dan kadang ampe berantem tapi di saat-saat penting seperti ini dia menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya sebagai seorang kakak pada adiknya. Thanks a lot broor.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Untuk menebus rasa bersalahku, maka ketika sudah sampai di pinggiran Surabaya aku gantikan Mas Jinul mengemudikan motor. Kutarik gas sekencang mungkin agar kami nggak malam-malam banget sampai di Malang. Hujan seakan tiada henti menguji, saat kami melintas di Sidoarjo hujan turun lagi. Agar tidak bosan menempuh perjalanan yang jauh, aku pun dengerin lagu melalui flashdisk. Mungkin karena terlalu berambisi untuk bisa pulang cepat, beberapa kali aku nekat menyalip truk-truk yang berjalan dengan kencangnya itu. Mas Jinul nggak bosen-bosennya memperingatkanku agar tidak terburu-buru dan lebih berhati-hati. Perjalanan yang kami tempuh seakan nggak ada akhirnya, aku melihat jalan di depanku seperti tak berujung. Entah tak terhitung berapa kali aku bertanya pada diriku sendiri, ini kapan nyampainya sih…?!</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Alhamdulillah, jam setengah sepuluh kami tiba di rumah dengan selamat. Tubuhku sudah amat sangat lelah, kakiku kedinginan karena sepatuku basah oleh air hujan, jari-jemariku rasanya seperti kaku karena terlalu lama mencengkram gas, jas hujan yang kukenakan juga kotor apalagi motorku. Aku belum pernah melihat motorku sekotor itu. Setelah sekian lama aku mengalami insomnia-akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak malam itu.</span></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/malang-surabaya-so-tired/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepanggung ama Raditya Dika</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/sepanggung-ama-raditya-dika/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/sepanggung-ama-raditya-dika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 09:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/02/sepanggung-ama-raditya-dika/</guid>
		<description><![CDATA[29-11-07
Rencana duetku ama Mbak Windy tanggal 30 ternyata nggak jadi, aku nggak tahu alasannya apa. Sempat kecewa juga sih cos di blog sebelumnya udah aku singgung2 tentang rencana itu, mau ditaruh di mana mukaku kalau nanti ada yang nanya. Akhirnya aku take it easy aja, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.
Walaupun nggak jadi ikutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="justify">29-11-07</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Rencana duetku ama Mbak Windy tanggal 30 ternyata nggak jadi, aku nggak tahu alasannya apa. Sempat kecewa juga sih cos di blog sebelumnya udah aku singgung2 tentang rencana itu, mau ditaruh di mana mukaku kalau nanti ada yang nanya. Akhirnya aku <em>take it easy</em> aja, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Walaupun nggak jadi ikutan acara-nya Gagas, aku putusin untuk datang di salah satu acara mereka soalnya pengin ketemu langsung ama Mbak Windy, Mas Ino (Christian Simamora) dan tebak siapa? <strong>Raditya Dika..!</strong> Ketahuan deh ya kalau diem-diem ngefans ama tuh Kambing Jantan.</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Akhirnya sehabis magrib aku meluncur ke Gramed Matos untuk liat bedah buku Radikus. Pas tiba di sana ternyata udah banyak fans-nya Radit, kebanyakan cewek gitu deh. Sekitar setengah jam kemudian barulah rombongan Gagas datang dan semua cewek2 pada screaming pas liat si Radit. Acarapun dibuka ama Mbak Windy, sedangkan aku nyamperin Arif (AgroMalang)-rupanya mereka agak telat karena habis makan malam.</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Bedah buku versi Radit berbeda dengan bedah buku pada umumnya. Kalau biasanya penulis berdialog dan mbahas novelnya dengan didampingi moderator, pada malam hari itu Radit tampil sebagai stand up comedian. Jadi dia benar2 ngebanyol dan menceritakan kembali cerita2 yang ada di dalam novelnya. Selama hampir satu jam dia ngomong terus tanpa ada jeda sedikitpun, aku sampai heran tuh orang apa nggak kering tenggorokannya?</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Malam itu aku nggak bisa ngobrol banyak ama Mbak Windy cos dia sibuk ngeliatin jalannya acara sedangkan Mas Ino lagi asyik cari2 buku. Jadi kita hanya kenalan dan ngobrol2 ringan. Tapi Mbak Windy sempat minta aku untuk datang besoknya di Perpus Umum cos acaranya bukan bedah buku melainkan mbahas penulisan.</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Habis bedah buku dilanjutin dengan book sign, karena begitu banyaknya penonton sehingga sangat repot mengaturnya. Semua ingin didahulukan tanpa ada yang mau mengalah. Akupun mikir, wah ini bakalan lama nih. Mana aku tadi janji ngajarin adikku ngerjain PR lagi. Akhirnya aku putusin untuk pulang dulu aja, toh besok masih ketemu lagi di perpus. Karena Arif n Mbak Windy masih sibuk ngatur para pengunjung, aku hanya pamitan ama Mas Ino.</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">30-11-07</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Aku datang telat karena masih ada sedikit kerjaan yang belum aku rampungkan di tempat kerjaku, sementara Arif udah miscall dan bilang kalo acaranya tuh udah dimulai. Setelah kerjaan kelar aku minta ijin keluar dan meluncur ke perpus umum. Setibanya di sana acara emang udah dimulai, aku liat Mbak Windy, Mas Ino dan Radit udah ada di stage. Akupun nyari tempat duduk kosong, niatanku emang cuman jadi penonton aja sih. Tiba-tiba Arif yang lagi ada di depan manggil2 dan aku samperin dia. Arif langsung nawarin aku untuk ikut tampil juga. Tentu saja aku nggak mau cos nggak siap dan grogi liat begitu banyaknya penonton. Nggak tahunya Mbak Windy mengetahui kedatanganku dan langsung minta aku untuk naik. Para penonton pun menoleh ke arahku, untungnya mereka nggak nyorakin aku. Akhirnya dengan terpaksa, Glodak! aku maju dan naik ke stage. Mungkin dalam hati para penonton pada bertanya2, siapa sih lo..? datang2 kok langsung naik ke panggung.</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Nggak bisa aku ungkapin gimana perasaanku pas duduk bersama 3 penulis senior itu, antara nggak nyangka, seneng, grogi, pokoknya campur aduk deh. Acaranya ternyata lama juga sekitar 2 jam. Baru kali ini aku ngikutin acara talkshow dimana pengisi acaranya ada yang duduk dengan kaki di atas kursi (jigang kalau orang jawa bilang), guyon seenaknya, malah ada yang pamitan ke toilet (termasuk aku he3). Pokoknya konyol dan seru abies. Berbagai pertanyaan diajukan oleh penonton dan kita berempat giliran menjawabnya. Kalau mereka bertiga sih bisa jawab dengan panjang lebar, sedangkan aku masih sering belopotan ngomongnya. Gilanya, para penonton kayaknya pada pengin ngajuin pertanyaan semua sementara kita berempat udah pada ndower bibirnya karena kebanyakan ngomong. But overall, its really enjoyed and adicted you know?</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Sehabis acara, kami berempat ngumpul di ruang kepala perpus. Akhirnya aku bisa ngobrol dan sharing ama mereka bertiga. Aku banyak dapet masukan tentang penulisan novel, terutama dari Mas Ino. Dia juga nyaranin aku untuk me-maintanance pembaca yang selama ini udah ngasih respon buat Xerografer, keep contact n give the best for them. Kalau ama Radit, aku nanyain berapa lama waktu yang dia perlukan untuk nulis novel. Dia bilang hanya 2 bulan, tapi ceritanya emang udah matang di dalam otaknya bertahun2. Jadi wajar kalau dia bisa ngetik secepat itu. Trus aku juga nanya apa sih rahasianya kok dia bisa tampil maksimal, pede dan ngocol di stage, Radit bilang kalau sejak awal ketika dia mutusin untuk menjadi penulis komedi, dia langsung belajar n latihan tentang stand up comedian dari dvd2. Dalam hati aku berucap, nih orang emang benar2 total dalam berkarir jadi wajar kalau sekarang Radit bisa ngetop dan sukses seperti ini.</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Kebanyakan dari kita saat melihat kesuksesan seseorang pasti hanya berucap: wah, enak ya dia jadi orang sukses dan ngetop. Kita mungkin nggak pernah tahu bahwa di balik itu semua, mereka mengalami banyak sekali kegagalan dan memberikan pengorbanan yang begitu besar untuk mencapai kesuksesan tersebut.</p>
<p style="text-indent:0.25in;margin-bottom:0;" align="justify">Di sela-sela obrolan nggak lupa juga kita foto2 (sayang aku ga punya kamera jadi nanti fotonya liat aja di MP-nya Arif), tukeran no hape, trus minta tandatangan ama Radit dan Mas Ino (aku juga punya novel2nya bo). Sayang sekali obrolan kami harus disudahi, mereka mau cabut ke Radio Elfara untuk talkshow sementara aku harus balik ke perpus. Kami pun berpisah dan janjian ketemu lagi di Festival Buku Murah di Surabaya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sekedar info ga penting:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Mas Ino manggil 	Radit dengan sebutan Bingki alias Kambing Selingki. Nggak tahu deh 	artinya apa. Kambing selingkuh kali ya?</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ternyata Radit tuh 	seorang ‘roker sejati’, dia nggak pernah menuliskan hal ini 	dalam novelnya. Sehabis acara dia langsung nyalain rokok dan 	menghisapnya dengan penuh kenikmatan. Rupanya selama 2 jam tadi, dia 	nahan diri banget untuk ga merokok.</p>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/sepanggung-ama-raditya-dika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
