<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Pribadi Ihwan Harianto &#124; BLog Pribadi Ihwan &#124; &#187; buku</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/tag/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>Blog Ihwan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 05:26:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>Blog Pribadi Ihwan Harianto | BLog Pribadi Ihwan |</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>Kenapa Aku Memilih Indie?</title>
		<link>http://bloglodak.com/2010/05/kenapa-aku-memilih-indie/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2010/05/kenapa-aku-memilih-indie/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 06:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[PARTISI HATI]]></category>
		<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[karyaku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Blog ini aku tulis untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman tentang pilihanku untuk menerbitkan Partisi Hati secara indie. Awalnya sih pengin sedikit ‘jaim’ dengan bilang pengin nyoba sesuatu yang baru, pengin yang lebih menantang gitu. Tapi kadang juga ngeles dengan bilang: biarlah aku dan Tuhan saja yang tahu alasannya.
Nah, sekarang aku akan beberkan semua kenapa aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog ini aku tulis untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman tentang pilihanku untuk menerbitkan <strong><a href="http://partisihati.multiply.com">Partisi Hati</a></strong> secara indie. Awalnya sih pengin sedikit ‘jaim’ dengan bilang pengin nyoba sesuatu yang baru, pengin yang lebih menantang gitu. Tapi kadang juga ngeles dengan bilang: biarlah aku dan Tuhan saja yang tahu alasannya.<br />
Nah, sekarang aku akan beberkan semua kenapa aku akhirnya membulatkan tekad untuk menerbitkan novel melalui jalur indie.</p>
<p><strong>AKU MASIH INGIN MENULIS</strong></p>
<p>Yupe bener banget, aku masih ingin menulis. Lebih spesifik lagi adalah menulis novel. Jujur aja, aku sudah mengalami beberapa penolakan dari penerbit-penerbit. Ada yang alasannya yang bisa kuterima tapi ada juga yang sedikit membuat ‘sakit hati’ karena aku sudah menuruti keinginan mereka untuk mengedit bahkan merombak total draftku tapi tetep aja nggak diterima. Bahkan aku pernah mengalami draftku hilang entah kemana setelah hampir empat bulan aku mengirimkannya, aku nggak tahu siapa yang salah. Mau komplain ke kantor pos juga udah terlambat banget. Penolakan yang terakhir kemarin nggak seberapa sih, tapi lamanya waktu yang udah aku korbankan untuk menunggu jawaban dari penerbit itu membuatku bener-bener udah nggak tahan lagi.</p>
<p>Aku mikir gini, kalau kelamaan kayak gini aku takutnya bisa putus asa beneran dan akhirnya mogok nggak mau nulis lagi. Oh No, aku nggak mau hal itu terjadi pada diriku. Menulis buatku udah panggilan jiwa dan aku nggak akan menyia-nyiakan karunia yang udah diberikan Allah padaku. Ya udah lah, kalau penerbit-penerbit itu nggak mau nerbitin novelku, aku akan terbitin sendiri!</p>
<p>Dulu saat menerbitkan <a href="http://xerografer.blogspot.com">Xerografer</a>, selain pure ingin nerbitin buku ada ‘motivasi sampingan’ ingin mendapatkan materi yang banyak dari bukuku. Siapa sih yang nggak pengin bukunya best seller?<br />
Alhamdulillah, dari Xerografer aku mendapatkan materi yang bisa dibilang lumayan. Yaa kalau dibandingkan dengan penulis-penulis yang best seller nggak ada apa-apanya sih. Makanya aku mencoba berpikir realistis bahwa aku nggak bisa menggantungkan hidupku sepenuhnya pada menulis. Di Indonesia hanya segelintir penulis aja yang bisa benar-benar hidup dari menulis.</p>
<p>Alhamdulillah lagi, sejak tahun lalu statusku di perpustakaan sudah diakui oleh negara dan hal itu diikutin dengan kesejahteraan yang mulai meningkat. Jika aku telaten dan bekerja dengan baik, aku percaya bisa menggantungkan hidupku pada kerjaanku di perpus ini. So, untuk menulis buku aku anggap sebagai aktualisasi diri. Untuk urusan royaltinya, aku anggap sebagai bonus yang akan mengikuti dengan sendirinya. </p>
<p><strong>AKU KANGEN PEMBACAKU</strong></p>
<p>Aku emang nggak punya fans seperti Dee, Andrea Hirata, Raditya Dika dan penulis ngetop lainnya. Tapi ada orang-orang (pembaca Xerografer) yang concern dan nggak pernah berhenti bertanya kapan aku mengeluarkan buku lagi. Bahkan baru-baru ini ada seorang cewek SMA yang nge-add fesbukku dan dia bilang baru aja meresensi Xerografer untuk tugas di sekolahnya. Waw, itu bener-bener suntikan semangat buatku. Nggak nyangka aja masih ada yang mau baca Xerografer sampai saat ini. Merekalah yang membuatku sampai saat ini masih tetap semangat dan tak pernah berhenti untuk menulis.</p>
<p>Tiga tahun bukan waktu yang pendek untuk menahan kerinduan. Aku kangen untuk menyapa lagi para pembacaku lagi dengan sebuah karya baru. Aku ingin berinteraksi lagi dengan mereka meskipun tidak secara langsung. </p>
<p><strong>JANGAN ADA YANG SIA-SIA DALAM HIDUPKU</strong></p>
<p>Kalimat di atas udah menjadi harga mati buatku, setiap melakukan apapun aku selalu berusaha agar memberi arti bagi orang lain. Aku sudah mencurahkan segenap jiwa, hati dan pikiranku saat menulis novel-novelku. Aku gembira, sedih, tertawa dan menangis bersama tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Nah, aku ingin membagi pengalaman itu bersama orang lain agar apa yang sudah kutulis tidak sia-sia belaka. Karena bagaimana pun juga sebuah karya baru akan berarti bila ada yang membacanya.</p>
<p>Nah, saat ini jalan yang paling cepat dan efisien menurutku adalah dengan menerbitkan secara indie. Aku tahu jalan yang aku ambil ini tidaklah mudah, ada banyak tantangan dan rintangan yang harus aku hadapi agar buku ini sukses. Tapi aku yakin, Allah tidak akan membiarkanku seorang diri di jalan yang sudah Dia tentukan ini. Semoga di jalur indie ini ada pengalaman baru yang aku dapatkan dan bisa membuatku lebih baik lagi. Amin.</p>
<p><strong>NB</strong></p>
<p>Oh iya, aku baru ingat, ternyata aku punya satu fans di akun Goodreadsku. Kalau nggak salah, tiga hari kemarin ada seorang cewek yang nge-add dan meng-klik icon became fans yang ada di bawah fotoku. Tapi anehnya, dia tuh belum pernah baca novelku dan kebanyakan buku-buku yang sudah dia baca adalah novel-novel Islami. Mungkin doi salah nge-klik aja kali ya he he he.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2010/05/kenapa-aku-memilih-indie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>fiksi versus non fiksi</title>
		<link>http://bloglodak.com/2010/05/fiksi-versus-non-fiksi/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2010/05/fiksi-versus-non-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 08:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[non fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya cukup dibuat pusing dengan pencarian buku untuk mata kuliah Sistem Hukum Indonesia yang diwajibkan oleh dosen saya. Ada dua buku yang wajib dimiliki, yang pertama buku Sistem Hukum Indonesia karya Soepomo dan Pengantar Ilmu Hukum karya Kansil.
Baru kali ini saya mengalami kesulitan dalam hunting buku. Biasanya bila ada buku menarik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu saya cukup dibuat pusing dengan pencarian buku untuk mata kuliah Sistem Hukum Indonesia yang diwajibkan oleh dosen saya. Ada dua buku yang wajib dimiliki, yang pertama buku Sistem Hukum Indonesia karya Soepomo dan Pengantar Ilmu Hukum karya Kansil.</p>
<p>Baru kali ini saya mengalami kesulitan dalam hunting buku. Biasanya bila ada buku menarik yang saya baca resensinya di internet, saya bisa menemukannya dengan mudah di toko buku langganan saya.</p>
<p>Yang menjadi penyebab utamanya adalah karena dua buku ini termasuk terbitan lama, untuk buku Pengantar Ilmu Hukum saja, terbitan terakhir tahun 1986. Tentu saja saya tidak akan menemukannya di toko-toko buku modern.</p>
<p>Untungnya di Malang ada suatu kawasan penjual buku yang terkenal dengan harganya yang miring. Dahulu sewaktu jaman saya masih sekolah, para penjual buku ini berjualan di Jalan Mojopahit. Namun orang-orang lebih mengenal kawasan ini dengan nama Splendid, jadi kalau ada orang yang bertanya di mana tempat cari buku murah, tinggal sebut nama Splendid saja pasti mengerti semua.</p>
<p>Tidak seperti di toko buku modern yang harganya sudah tercantum di sampulnya dan tidak bisa ditawar lagi, maka di Splendid kita bisa menawar harga buku yang kita inginkan. Tentu saja dibutuhkan seni khusus dan kesabaran untuk mendapatkan harga yang cukup miring. Selain terkenal dengan harganya yang miring, di Splendid kita juga bisa mendapatkan buku, novel dan majalah bekas yang sudah tidak ada lagi di pasaran.</p>
<p>Beberapa tahun yang lalu, saya lupa tepatnya kapan, demi keindahan tata ruang kota, para penjual buku di Splendid di pindahkan ke Jalan Wilis, yang letaknya tidak berada di pusat kota. Namun tidak semuanya pindah ke sana, ada beberapa penjual yang memilih pindah ke daerah depan Stasiun Kota Baru Malang.</p>
<p>Oke, mari kembali ke buku yang sedang saya cari tadi. Di Wilis saya sama sekali tidak menemukan buku SHI, semua penjual buku hanya menggelengkan kepala ketika saya menanyakannya. Untungnya buku PIH-nya ada, saya mendapatkannya dengan harga 25 ribu saja. Pada awalnya sang penjual memberi harga 35 ribu, lalu saya menawarnya 20 ribu tapi tidak diberikan. Kedua teman saya, yang sehari sebelumnya membeli di toko buku diskon membelinya dengan harga 39 ribu. Tentu saja, kedua teman saya langsung nyesel ketika saya beritahukan hal itu, sementara saya tersenyum simpul membaca sms-nya. Oh betapa kejamnya saya tersenyum di atas penderitaan orang lain.</p>
<p>Tentang harga buku yang murah itu, ada hal yang cukup menggelitik saya untuk membahasnya lebih dalam. Buku PIH yang saya beli itu cukup tebal, dari sampul sampai daftar pustaka totalnya 616 halaman. Coba bandingkan dengan novel yang tebalnya hanya 200an halaman, biasanya harganya berkisar antara 20 sampai 30 ribu. Apalagi kalau penulisnya sudah cukup terkenal dan ceritanya bagus, bisa melambung harganya. Sebagai contoh, cerpen Brokeback Mountain terbitan Gramedia harganya 25 ribuan, padahal jumlah halamannya hanya 79 lembar!<br />
Di sinilah tampak bahwa seni, dalam hal ini adalah seni sastra, memang sudah selayaknya dihargai lebih. Saya tidak bermaksud meremehkan para penulis buku non fiksi, khususnya buku pelajaran, malah saya berterimakasih sekali karena berkat mereka lah saya bisa mendapatkan ilmu di bangku sekolah dulu.</p>
<p>Tapi memang ada perbedaan mendasar antara menulis fiksi dan non fiksi. Untuk menulis fiksi modal utama yang dibutuhkan adalah daya imajinasi dan kreasi, di sini penulis dituntut untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Tema mungkin boleh sama, tapi cara penulisan dan penyajiannya haruslah beda. Kalaupun membutuhkan data-data yang real, biasanya hanya sedikit dan hanya sebagai penunjang saja.<br />
Sedangkan untuk non fiksi, modal utamanya adalah data-data real dan teori yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Tidak diperkenankan memakai daya imajinasi sedikitpun karena nanti buku yang dihasilkan akan dijadikan panduan bagi pembacanya.</p>
<p>Penulis non fiksi, dalam memperoleh data atau teori yang akan ditulisnya bisa mendapatkan hal itu dari buku-buku yang ditulis oleh penulis sebelumnya. Asalkan mencantumkan nama buku dan penulis yang dipakai sebagai rujukan, maka penulis buku yang baru ini bisa langsung memakai data dan teori tersebut dalam buku yang sedang dia tulis. Sebagai contoh, dalam buku PIH ada 91 buku rujukan yang dipakai.</p>
<p>Itulah sebabnya kenapa ada buku non fiksi, yang di sampulnya tidak dicantumkan nama penulis, melainkan nama penyusun. Hal itu berarti data atau teori yang dipakai dalam buku tersebut hampir semuanya diambil dari buku-buku yang lain.<br />
Namun sayangnya, ada orang-orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri, dengan bangga mengaku sebagai penulis padahal bukunya hanya berisi data dan teori yang dicomot dari sana-sini. Tentu saja, dia tidak mencantumkan nama buku dan penulis yang sudah ‘diambil’ isinya tersebut.</p>
<p>Akhir dari tulisan ini, saya menghargai hasil karya baik itu fiksi maupun non fiksi. Tidak ada maksud sama sekali untuk menganggap enteng apalagi meremehkan penulis non fiksi. Baik itu menulis fiksi maupun non fiksi mempunyai kesulitan yang berbeda-beda, saya sedikit banyak sudah membuktikannya. Tapi memang sedikit lebih mudah menulis non fiksi, seperti contohnya menulis blog ini. Saya tinggal menulis apa yang saya alami, dengan memberinya sedikit bumbu biar enak dibaca, minimal buat diri sendiri lah he he he</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2010/05/fiksi-versus-non-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyelami Dunia Gambir (Pintu Terlarang)</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/menyelami-dunia-gambir-pintu-terlarang/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/menyelami-dunia-gambir-pintu-terlarang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 12:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[personality]]></category>
		<category><![CDATA[schizophrenia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[
Sebenarnya aku sudah lama tertarik pengin melihat film dan membaca novelnya sekaligus. Yang pertama bikin tertarik sih karena filmnya disutradarai Joko Anwar, siapa sih yang nggak kenal dia. Kemampuannya sebagai seorang sutradara nggak perlu diragukan lagi, aktingnya juga oke (di film Babi Buta yang Ingin Terbang) trus..masih inget dong ya dengan aksi gilanya bertelenji ria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://bloglodak.com/wp-content/uploads/2009/11/akoer_pintu-terlarang.gif" alt="akoer_pintu-terlarang" title="akoer_pintu-terlarang" width="125" height="180" class="alignright size-full wp-image-300" /></p>
<p>Sebenarnya aku sudah lama tertarik pengin melihat film dan membaca novelnya sekaligus. Yang pertama bikin tertarik sih karena filmnya disutradarai Joko Anwar, siapa sih yang nggak kenal dia. Kemampuannya sebagai seorang sutradara nggak perlu diragukan lagi, aktingnya juga oke (di film Babi Buta yang Ingin Terbang) trus..masih inget dong ya dengan aksi gilanya bertelenji ria dia Circle K. Trus yang kedua, pemeran utamanya adalah pasangan Fachri Albar dan Marsha Timoty. Suka aja liatnya, sama-sama cakep dan serasi. Otomatis saat membaca novel ini aku membayangkan mereka berdua.</p>
<p>Oke, mari kita mulai memasuki sketsa yang pertama, yaitu dunia Gambir. Gambir adalah seorang pematung yang baru saja mengadakan pameran perdananya yang bertajuk Maternal Moods. Pameran Gambir sukses besar, patung-patung wanita hamil ciptaannya mendapat apresiasi yang tinggi dan dibeli dengan harga yang mahal. Kesuksesan Gambir tak lepas dari dukungan dan sumber inspirasi sang istri, Talyda. Talyda sendiri seorang wanita cantik, cerdas dan perfeksionis, dia mewarisi sebuah perusahaan periklanan Admagic dari mendiang papanya. Sayangnya ada yang kurang dari rumah tangga Gambir-Talyda, yaitu belum hadirnya seorang anak. Talyda memang tidak ingin mempunyai anak, karena baginya mengandung dan merawat bayi hanya akan menyusahkan dan menghalangi laju karirnya. Padahal ibu Gambir sudah lama ingin menimang cucu darinya.</p>
<p>Di sketsa kehidupan kedua, ada seorang anak umur sembilan tahun yang menjadi korban domestic violence yang dilakukan kedua orang tua kandungnya sendiri. Tiap akhir pekan dia selalu mendapat penyiksaan baik fisik maupun mental.</p>
<p>Sketsa yang terakhir menghadirkan Pusparanti, wartawati majalah Em, sebuah majalah terbitan ibukota yang mempunyai oplah cukup tinggi. Dia sedang melakukan penelitian tentang seorang lelaki yang di masa kecilnya menjadi korban domestic violence juga. Jalinan asmaranya dengan Dion, seorang fotografer yang duda beranak satu tak mendapat persetujuan dari ibu tercintanya.</p>
<p>Ketiga sketsa ini dihadirkan secara bergantian, yang paling menarik adalah sketsa Gambir karena terasa lebih hidup dan menantang, apalagi di sana terkuak apa gerangan yang membuat patung-patung buatan Gambir nampak hidup dan bernyawa. Aku agak malas jika gilirannya sketsa si anak umur sembilan tahun, soalnya nggak habis pikir aja kok ada sih orang tua yang sekejam itu sama anak kandungnya. Sketsa Ranti, pada awalnya terasa datar dan sedikit membosankan tapi memberikan twist yang cukup mengejutkan di akhir cerita.</p>
<p>Dari semua novel Sekar Ayu Asmara yang pernah kubaca, kayaknya ini yang paling bagus. Beliau tetap dengan ciri khasnya tersendiri, yaitu menggarap tema penyakit-peyakit jiwa yang sangat menarik namun agak kurang komersil. Gaya penulisannya yang puitis dan suka memakai kata-kata yang tak lazim digunakan tidak terlalu banyak di sini. Yang paling menonjol adalah pengulangan beberapa paragraf yang secara tidak langsung seperti memberikan sugesti pada pembacanya. Sugesti yang paling ngena adalah miliknya Talyda: Kesempurnaan bukanlah bintang yang niscaya gemintang di pundak malam. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan.</p>
<p>Hmmm…jadi makin pengin neh liat filmnya, pasti nggak kalah menarik. Tadi sempet gugling resensinya, tentu aja ada perbedaan jalan cerita karena memang Sekar Ayu Asmara sendiri memberikan kebebasan sepenuhnya pada Joko Anwar dalam menginterprestasikan novelnya ke dalam film.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/menyelami-dunia-gambir-pintu-terlarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jatuh Cinta Lagi</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/jatuh-cinta-lagi/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/jatuh-cinta-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 10:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[
Buku ini berisi tentang cerita di balik lirik lagu-lagu yang ditulis Wieke Gur. Wieke Gur, siapa tuh? Juju saja, sebagai generasi muda nan imud (hoeks cuiih) aku sama sekali belum pernah denger yang namanya Wieke Gur. Lagu-lagunya pun aku juga nggak pernah denger.
Di sampul belakangnya ditulis bahwa Wieke Gur sudah berkiprah di dunia musik, dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://bloglodak.com/wp-content/uploads/2009/11/jatuh2.jpg" alt="jatuh2" title="jatuh2" width="200" height="305" class="alignright size-full wp-image-291" /></p>
<p>Buku ini berisi tentang cerita di balik lirik lagu-lagu yang ditulis Wieke Gur. Wieke Gur, siapa tuh? Juju saja, sebagai generasi muda nan imud (hoeks cuiih) aku sama sekali belum pernah denger yang namanya Wieke Gur. Lagu-lagunya pun aku juga nggak pernah denger.</p>
<p>Di sampul belakangnya ditulis bahwa Wieke Gur sudah berkiprah di dunia musik, dalam hal ini penulisan lirik, selama lebih dari 20 tahun dan membuat beberapa lagu menjadi abadi. Weks, kemana aja gue selama ini? Sebagai orang yang mengaku cinta musik (tapi ironisnya nggak bisa main satu pun alat musik) tentu saja aku jadi merasa penasaran dan pengin tahu isi buku ini.</p>
<p>Ternyata oh ternyata, Wieke Gur merupakan partner kolaborasi dari Elfa Secioria dalam menciptakan lagu. Bang Elfa yang menciptakan musiknya sedangkan Mbak Wieke yang menulis liriknya.</p>
<p>Di dalam buku behind the song ini diulas sekitar 54 lagu, baik itu dari cerita-cerita yang melatar belakanginya maupun tujuan lagu itu diciptakan. Kebanyakan merupakan hasil pengamatan sang penulis atas peristiwa-peristiwa yang dia temui di luar sana, jarang banget yang merupakan pengalaman pribadi sang penulis. Sebagian lagu-lagu di buku ini sengaja diciptakan untuk diikutkan dalam festival musik di luar negeri dan hasilnya tidak mengecewakan, sebagian besar berhasil menjadi jawara dan mengharumkan nama bangsa Indonesia.</p>
<p>Emang keliatan banget ya perbedaan antara lagu-lagu jaman dulu dan sekarang, terutama pada lirik-liriknya. Lagu jaman dulu liriknya cenderung puitis dan agak mikir untuk mencerna arti di balik lagu tersebut. Nggak kayak lagu jaman sekarang yang blak-blakan, lugas dan langsung to the point. Yang norak dan malu-maluin liriknya nggak masuk hitungan ya he3. Dari semua lagu Wieke Gur yang banyak itu, hanya ada dua yang kukenali yaitu lagu Raihlah Kemenangan dan Pesta.</p>
<p>Dilihat dari rentang waktu lagu-lagunya, buku ini cocok banget buat generasi era 80-90an yang pastinya familiar dengan lagu-lagu ciptaan Wieke Gur. Yaa, semacam nostagila masa-masa remaja lah. Tapi juga nggak menutup kemungkinan bagi generasi muda untuk menikmatinya sekaligus sebagai media bagi yang ingin belajar menulis lirik lagu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/jatuh-cinta-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berlayar di atas Perahu Kertas</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/10/berlayar-di-atas-perahu-kertas/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/10/berlayar-di-atas-perahu-kertas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 06:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[
Perahu Kertas bercerita tentang kisah cinta dua Agen Neptunus bernama Kugy dan Keenan. Kugy, seorang cewek cantik, mungil, berdaya imajinasi tingkat tinggi namun berantakan. Keenan, seorang cowok indo, tampan, cerdas dan dengan keajaiban tangannya mampu menciptakan lukisan-lukisan yang magis.
Kugy sejak kecil mempunyai cita-cita menjadi seorang Juru Dongeng, semua hal dia lakukan demi mewujudkanya. Keenan sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Perahu Kertas bercerita tentang kisah cinta dua Agen Neptunus bernama Kugy dan Keenan. Kugy, seorang cewek cantik, mungil, berdaya imajinasi tingkat tinggi namun berantakan. Keenan, seorang cowok indo, tampan, cerdas dan dengan keajaiban tangannya mampu menciptakan lukisan-lukisan yang magis.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Kugy sejak kecil mempunyai cita-cita menjadi seorang Juru Dongeng, semua hal dia lakukan demi mewujudkanya. Keenan sendiri mewarisi bakat melukis dari ibunya dan kelak ingin menyerahkan hidup sepenuhnya untuk melukis. Namun sayang jalan menuju cita-cita itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Kugy berusaha realistis jika profesi Juru Dongeng belum mampu dijadikan sebagai sandaran hidup, sedangkan Keenan harus menghadapi pertentangan dari Papanya yang seolah ingin memusnahkan bakat di dalam dirinya tersebut. Haruskah mereka mengorbankan cita-cita bahkan jati diri mereka sendiri?</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Mereka berdua akhirnya saling membantu dan menguatkan hingga tanpa mereka sadari tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka berdua. Namun sayang Kugy telah memiliki Ojos, sehingga dengan terpaksa keduanya memendam rasa cinta itu.<img class="size-full wp-image-8 alignright" title="11134-perahu_kertas" src="http://bloglodak.com/wp-content/uploads/2009/10/11134-perahu_kertas.jpg" alt="11134-perahu_kertas" width="264" height="264" /></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Meski Dee memulai kisah Kugy dan Keenan dari usia mereka ketika masih baru saja lulus SMA, namun sejak awal aku yakin bahwa novel Dee nggak akan jatuh menjadi novel percintaan remaja yang mendayu-dayu dan lebay. Perahu Kertas memang bukan kisah cinta yang biasa, di dalamnya kita akan dibuat tersenyum hingga tertawa oleh humor yang nggak murahan. Senang hingga gembira banget dengan hal-hal kecil yang nampak sederhana dan sepele sekali. Terharu hingga meneteskan air mata demi menyaksikan kesedihan dan pengorbanan para tokohnya demi orang-orang yang mereka cintai. Hebatnya lagi, Dee tidak membutuhkan kisah yang tragis dan dramatis untuk melakukan semua itu.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Menaiki Perahu Kertas kita akan mendapatkan banyak pelajaran hidup. Bahwa terkadang kita harus rela menjadi seseorang yang bukan diri kita dulu, untuk akhirnya menjadi diri kita yang asli. Ungkapan ini begitu mengena buat diriku pribadi karena sesuai dengan apa yang pernah kualami. Apa yang dirasakan Kugy juga aku rasakan, bahwa sampai sekarang aku masih belum bisa menggantungkan hidupku sepenuhnya pada menulis. Untungnya aku bekerja pada bidang yang masih berkaitan dengan dunia buku sehingga aku tidak putus sepenuhnya dari dunia tulis-menulis hanya demi mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Mulai lebay deh bahasanya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Pelajaran yang lainnya dan lagi-lagi sangat mengena buatku pribadi adalah Cinta Itu Melepaskan Bukan Mengekang. Meski pada akhirnya Kugy dan Keenan mengetahui bahwa mereka saling mencintai namun mereka memilih untuk saling melepaskan karena tak ingin menyakiti hati pasangan masing-masing.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Setelah membaca novel ini, aku makin bersyukur karena kemarin-kemarin tidak sampai melakukan hal yang bisa menyakiti orang pernah aku sayangi dikarenakan rasa terlukaku yang bermutasi menjadi kebencian. Memang sih, itu bukanlah sesuatu hal yang mudah, melepaskan begitu saja orang yang kita cintai untuk orang lain.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Namun yakinlah bahwa Hati tidak pernah memilih namun dipilih. Karena jika kita memilih maka kita tidak akan pernah tulus mencinta. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/10/berlayar-di-atas-perahu-kertas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rectoverso</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/03/rectoverso/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/03/rectoverso/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 02:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[












Category:
Books


Genre:
Literature &#38; Fiction


Author:
Dewi Dee Lestari



Salah satu alasan kenapa aku sangat mengidolakan Dee dan menjadikannya guru menulisku (walaupun nggak secara langsung) adalah cara Dee bercerita yang unik, simple dan to the point. Dee tahu benar bagaimana cara mengaduk-aduk emosi pembaca tanpa harus jatuh ke dalam cerita yang bertele-tele dan cenderung lebay dalam penceritaan.
Nah, di dalam Rectoverso [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="height:24px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="474">
<tbody>
<tr>
<td class="icon" width="16"><img title="Review" src="http://images.multiply.com/multiply/icons/clean/24x24/reviews.png" alt="Review" width="24" height="24" /><img title="Review" src="http://images.multiply.com/multiply/icons/clean/24x24/reviews.png" alt="Review" width="24" height="24" /><img title="Review" src="http://images.multiply.com/multiply/icons/clean/24x24/reviews.png" alt="Review" width="24" height="24" /><img title="Review" src="http://images.multiply.com/multiply/icons/clean/24x24/reviews.png" alt="Review" width="24" height="24" /><img title="Review" src="http://images.multiply.com/multiply/icons/clean/24x24/reviews.png" alt="Review" width="24" height="24" /></td>
<td class="cattitle"></td>
<td class="itemsubsub"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><img style="position:relative;float:right;margin-left:5px;" src="http://images.nawhi.multiply.com/image/2/photos/upload/300x300/SbsNuwoKCscAAA@6RjI1/dee-rectoverso-sentuh-hati-dari-dua-sisi.jpg?et=Gdx26jPxeRpvtcqcVlKG4w&amp;nmid=218701089" border="0" alt="" width="300" height="296" /></p>
<table style="font-weight:bold;margin-bottom:5px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="70">Category:</td>
<td>Books</td>
</tr>
<tr>
<td width="90">Genre:</td>
<td>Literature &amp; Fiction</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Author:</td>
<td>Dewi Dee Lestari</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Salah satu alasan kenapa aku sangat mengidolakan Dee dan menjadikannya guru menulisku (walaupun nggak secara langsung) adalah cara Dee bercerita yang unik, simple dan to the point. Dee tahu benar bagaimana cara mengaduk-aduk emosi pembaca tanpa harus jatuh ke dalam cerita yang bertele-tele dan cenderung lebay dalam penceritaan.</p>
<p>Nah, di dalam Rectoverso inilah Dee membuktikan lagi kehebatannya itu. Sebelas kisah yang disajikan dalam buku berkemasan luks ini boleh dibilang temanya sederhana, bahkan mungkin sudah sering diangkat oleh penulis lain. Namun cara Dee mengemas dan menyajikannya beda banget, liat saja cerita tentang kedahsyatan cinta seseorang yang terbelakang secara mental dalam Malaikat Juga Tahu, cinta yang terpendam dalam Cicak di Dinding, perpisahan dalam Aku Ada, Peluk dan Firasat, wanita karier yang kehilangan quality time dengan keluarganya dalam Tidur.</p>
<p>Dari semua kisah itu yang menjadi favoritku adalah Curhat Buat Sahabat soalnya nasib sang tokoh dalam cerita itu agak-agak mirip denganku he3. Aku suka banget kalimat penutupnya: “Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.” Ciee curhat colongan neh ceritanya.</p>
<p>Buat pembaca yang menyenangi deskripsi yang begitu detail dan panjang mungkin akan kecewa karena cerpen-cerpen dalam Rectoverso ini ceritanya singkat-singkat, bahkan ada yang hanya dua halaman saja. Jujur , awalnya aku sempat ‘ngambek’ karena ada salah satu cerita yang menurutku bisa lebih di-explore tapi Dee hanya menuliskannya ‘gitu aja’. Sehingga aku nggak dapet feel-nya. Tapi aku lalu sadar bahwa gaya bercerita Dee memang seperti itu. Nggak ada deh, dalam novel-novel Dee, seorang tokoh digambarkan menangis termehek-mehek saat dilanda kesedihan, atau deskripsi tentang suatu tempat yang begitu panjang lebar seperti dalam novel-novel penulis lain (dan menurutku itu malah jadi membosankan.) Dalam salah satu blognya, Dee pernah mengatakan gini: We’re writers, but don’t write’em all down. Trust our readers’ ability to imagine things. And give them some inspiring and convincing description, bukan sekadar deskripsi harfiah akibat malas mikir. Setuju banget tuh!</p>
<p>Dari segi kemasan, Rectoverso tampil begitu lux dan nge-pop banget. Kertasnya aja sama kayak kertas-kertas di buku dongeng terjemahan. Udah gitu, di setiap cerpen disertai foto dan gambar yang mendukung jalan cerita. Bahkan beberapa malah ada yang satu halaman full tuh berupa foto atau gambar. Sumpah, aku iri banget tau nggak sih. Aku berharap someday bukuku ada yang bisa kayak gitu, amiiin.</p>
<p>For the last, dengan sebelas cerita yang singkat namun penuh makna dan kemasannya yang lux itu (ada bonus stikernya lagi), menurutku worth it lah dengan harganya yang buatku cukup menguras kantong agak dalam he3. Konsekuensinya, dengan berat hati aku katakan pada temen-temenku di dunia nyata, kalau aku nggak bakalan minjemin neh novel. Bukannya pelit sih, agak trauma aja soalnya dua novelku baru aja ilang dan aku lupa siapa yang terakhir kali minjem.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/03/rectoverso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bintang Bunting</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/02/bintang-bunting/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/02/bintang-bunting/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 11:56:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[



Category:
Books


Genre:
Mystery &#38; Thrillers


Author:
Valiant Budi



Adalah Audine, seorang wanita yang tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan di dalam hidupnya. Akibatnya dia selalu merasa bingung dan tertekan, apalagi gara-gara kelainannya itu dia sampai harus kehilangan pekerjaannya. Bahkan belakangan ini kehidupan rumah tangganya bersama Adam juga mulai mengalami goncangan. Untunglah ada Raeli, sahabat yang selalu setia mendengarkan curhatannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="position:relative;float:right;margin-left:5px;" src="http://images.nawhi.multiply.com/image/2/photos/upload/300x300/SYQfhwoKCscAAAIQxyM1/bintang-bunting.jpg?et=IFmAWezIt1Axc9WUzjmgEg&amp;nmid=187202517" border="0" alt="" width="204" height="300" /></p>
<table style="font-weight:bold;margin-bottom:5px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="70">Category:</td>
<td>Books</td>
</tr>
<tr>
<td width="90">Genre:</td>
<td>Mystery &amp; Thrillers</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Author:</td>
<td>Valiant Budi</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div id="item_body" class="bodytext">Adalah Audine, seorang wanita yang tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan di dalam hidupnya. Akibatnya dia selalu merasa bingung dan tertekan, apalagi gara-gara kelainannya itu dia sampai harus kehilangan pekerjaannya. Bahkan belakangan ini kehidupan rumah tangganya bersama Adam juga mulai mengalami goncangan. Untunglah ada Raeli, sahabat yang selalu setia mendengarkan curhatannya dan Mada, seorang peramal yang membantunya mengatasi kelainannya tersebut.<br />
Untuk bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan, Audine akhirnya membuat satu garis penanda manakala mengalami kejadian-kejadian yang aneh.<br />
Seiring dengan kejadian-kejadian aneh yang dialamai Audine, garis penanda itu membentuk gambar sebuah bintang. Bintang demi bintang tergambar namun Audine masih saja belum mampu keluar dari masalahnya. Hingga akhirnya gambar bintang itu menunjukkan suatu kenyataan yang sangat menyakitkan.</p>
<p>Valiant masih menunjukkan kepiawaiannya membuat cerita yang mampu mengecoh pembaca melalui novel keduanya ini. Jalinan cerita di dalam BB (uhm…baru nyadar singkatan BB ini juga pernah dibahas sang penulis di salah satu blognya, tapi beda topik) cukup membuatku penasaran sehingga lembar demi lembar kulalui tanpa terasa membosankan. Valiant bisa mengemas tema yang sebenarnya sudah ‘basi’ menjadi sebuah cerita lebih segar dan menarik.<br />
Yaah, walaupun efeknya masih agak kalah dengan Joker karena kehadiran tokoh Raeli beserta ceritanya sendiri yang agak ‘menggeser’ kedudukan Audine sebagai tokoh utama di dalam BB. Cerita tentang seluk-beluk pekerjaan Raeli di salonnya dan diskusi tentang kematian sebenarnya cukup menarik tetapi porsinya yang terlalu banyak bisa membuat pembaca bertanya-tanya, sebenarnya fokus ceritanya tuh siapa?</p>
<p>Yang masih menjadi tanda tanya buatku (juga buat Audine sendiri) kenapa si Mada ampe bela-belain menjadi per**** hanya demi seorang…ups keceplosan, ntar malah jadi spoiler. Apakah karena cinta (nafsu juga kali ya he he he) atau hanya iseng belaka? Mungkin yang bisa menjawabnya hanya si Mada sendiri aka sang penulisnya he he he.</p>
<p>*bagian paling menarik buatku adalah ketika Audine melakukan aksi balas dendamnya, nggak tahu kenapa aku tuh suka banget kalau liat cewek2 berantem dan nunjukkin sisi liarnya.</p>
<p>**lagi-lagi sang fotografer Joseph (tokoh di novel Joker) muncul dan mengambil peran yang nggak bisa diremehin meski kehadirannya hanya sebentar.</p>
<p>*** sok tau gue aja nih, ada beberapa info personal yang berkaitan dengan penulis yang dimasukkan dalam karakter tokoh2nya. misal : Audine yang punya obsesi tinggal di Istanbul, Raeli yang punya kebiasaan mencuci tangan sebanyak 7 kali&#8230;</p>
<p>gambar cover diambil dari : bintangbunting.blogspot.com</p></div>
<div class="bodytext"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/02/bintang-bunting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>belanda-malang via blitar</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 09:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[ 
Setelah dua tahun lamanya hanya bersahabat lewat dunia maya, akhirnya Tuhan mempertemukan Onit dan One. Onit saat ini sedang menjalani kuliah S3-nya di Belanda, sedangkan One tiap hari menggeluti pekerjaannya sebagai penjaga loker di sebuah kampus di Malang. Persabahatan mereka berawal dari sebuah perdebatan tentang selinting tembakau bersama Nena dan Ruly, sepasang fotografer dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="insertedphoto"><img class="alignleft" src="http://images.nawhi.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SJbFewoKCscAABUjtG81/ben-onit-one.jpg?et=6NA8Dip6xXW5A93XLYkKDw&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="228" height="300" /></span><span style="color:#3333ff;"> </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Setelah dua tahun lamanya hanya bersahabat lewat dunia maya, akhirnya Tuhan mempertemukan Onit dan One. Onit saat ini sedang menjalani kuliah S3-nya di Belanda, sedangkan One tiap hari menggeluti pekerjaannya sebagai penjaga loker di sebuah kampus di Malang. Persabahatan mereka berawal dari sebuah perdebatan tentang selinting tembakau bersama Nena dan Ruly, sepasang fotografer dari Jakarta. Siapa sangka, perdebatan ‘sengit’ itu malah kemudian mengakrabkan mereka berempat.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Hari ini, di sebuah kota kecil berhawa sejuk Onit dan One bertemu untuk pertama kalinya. Sebuah senyuman langsung menghiasi wajah tatkala dua sahabat itu bertatap muka di sebuah halte bus. Onit saat itu tak sendirian, dia ditemani Ben, sahabatnya yang lain saat masih di Korea dulu. Begitupun juga dengan One, dia ditemani oleh Naz, tetangga sekaligus sahabatnya di kampung kecil bernama Nagrem.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Setelah beristirahat sejenak di rumah One, mereka berempat lalu menghabiskan waktu bersama dengan mengelilingi kota Malang. Melihat-lihat Masjid Jami’ yang berdiri kokoh di depan alun-alun kota, melewati De Idjen Boulevard, mengenang sebagian sejarah bangsa di Museum Brawijaya dan mengunjungi beberapa tempat lainnya.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Tujuh jam terasa cepat berlalu, mereka berempat pun harus mengakhiri pertemuan itu. Padahal masih banyak tempat yang ingin dikunjungi, masih banyak hal yang ingin dibicarakan, masih…masih dan masih ada yang ingin dilakukan agar pertemuan itu tak lekas berakhir dan lebih berkesan.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Di sebuah gerbong kereta mereka berpisah dan berdoa semoga kelak Tuhan mempertemukan mereka kembali. Saat peluit tanda kereta hendak berangkat akhirnya berbunyi, One dan Naz pun turun dari kereta. Dengan senyum bahagia dan lambaian tangan mereka melepas kepergian kereta yang membawa Onit dan Ben meninggalkan Malang. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">*trus hubungannya kota Blitar apa dunk?</span><br /><span style="color:#3333ff;">** Onit dan Ben emang ada suatu keperluan di Blitar, trus sekalian mampir ke Malang getoo.</span><br /><span style="color:#3333ff;">***foto2na bisa liat di album, <a href="http://nawhi.multiply.com/photos/album/64">cek dis oud..!!</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir Buku di Jember</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/05/banjir-buku-di-jember/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/05/banjir-buku-di-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 09:11:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai dengan rencana, aku berangkat dari rumah ke markasnya GagasMalang sekitar jam 6 lebih dianterin sama kakakku. Agak terburu-buru berangkatnya cos aku sendiri bangun kesiangan dan sama mbak-mbak Gagas disuruh standy by di markas jam setengah tujuh. Travelnya sendiri mau ‘ngangkut’ aku jam 6.45. Sebenarnya aku minta agar travelnya jemput ke rumah tapi nggak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Sesuai dengan rencana, aku berangkat dari rumah ke markasnya GagasMalang sekitar jam 6 lebih dianterin sama kakakku. Agak terburu-buru berangkatnya cos aku sendiri bangun kesiangan dan sama mbak-mbak Gagas disuruh standy by di markas jam setengah tujuh. Travelnya sendiri mau ‘ngangkut’ aku jam 6.45. Sebenarnya aku minta agar travelnya jemput ke rumah tapi nggak bisa karena rumahku nggak dilewati jalurnya travel. Ya udahlah, ngalah dikit nggak apa-apa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Yang bikin agak senewen, si travelnya sendiri malah baru datang jam 7 lebih. Trus aku kan duduknya di depan dan bisa liat2 daftar penumpang, nggak tahunya ada penumpang (namanya Cendana, orang chinese gitu) yang rumahnya tuh nggak jauh dari dari rumahku. Tentu saja aku heran bin nggak terima, kok mereka nggak mau jemput aku? Ketika mobil travel lagi antri bensin dan sopirnya turun, aku lalu nanya2 ama Tante Cendana dan ternyata dia dijemput langsung dari rumahnya. Uugh, dasar sopir rasialis! Pengin gue jitak aja tuh orang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Perjalanan ke Jember ternyata nggak memakan waktu 7 jam seperti yang dikatakan sama pegawai travel yang pernah kutelepon dulu (ehm…lagi-lagi dikibulin sama orang travel), tapi hanya 5 jam. Tapi walaupun hanya 5 jam, cukup manjur bikin bokongku puanas cos kelamaan duduk. Oh iya, boleh dikatakan akulah cowok ciptaan Tuhan yang paling seksi (cuiih) diantara semua penumpang yang ada di dalam mobil travel tersebut. Mau tau sebabnya…? Soalnya penumpang yang lainnya tuh ibu-ibu semua he3. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Sekitar jam dua belasan aku nyampe di Jember dan diturunkan tepat di depan Gedung Soetardjo, tempat berlangsungnya Pesta Buku Murah Jember. Setelah ngobrol2 sebentar sama Mas Tepe dan Mbak Windy yang kebetulan ada di situ, aku lalu dianterin ke hotel sama Dany, sales Kawah Media Malang. Acaraku sendiri jam tujuh malam, sehingga aku masih bisa istirahat dan mempersiapkan diri terlebih dahulu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Walaupun agak telat karena harus makan malam dulu, acaranya boleh dikatakan berjalan dengan lancar dan lumayan sukses. Seperti biasa, di sesi pertama aku mengenalkan dulu Xerografer itu bercerita tentang apa, jangan sampai yang hadir di situ mengira Xero isinya tentang mesin fotokopi terbaru keluaran Xerox. Promo gratis dunk jadinya. Untuk sesi tanya-jawabnya nggak jauh-jauh beda dari talkshow yang pernah kulakukan sebelumnya. Nanyain inspirasi nulisnya darimana, tujuanku menulis novel untuk apa, penulis yang menginspirasi siapa aja. Ada yang mengaku udah baca Xero dan komen panjang lebar tentang Xero tapi ujung-ujungnya cuman nanyain alamat blogku apa. Hari gini nggak tau alamat blogku? Kemana aja sih lo. He he he, becanda kok. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Trus ada juga seorang cewek yang heran dan amit2 jabang bayi (nggak segitunya kali) ketika secara blak-blakan aku bilang kalau aku mengawali hoby menulis dari buku harian. Harap maklum,<span> </span>selama ini diary kan memang identik dengan cewek. Dengan sok bijak aku menjawab ketika kita punya masalah dalam hidup dan nggak punya teman atau malu untuk curhat maka tulislah masalah itu. Memang sih, masalah itu nggak akan selesai dengan hanya menulisnya aja. Tapi setidaknya beban yang kita rasakan bisa sedikit berkurang dan selanjutnya bisa berpikir dengan jernih untuk mencari penyelesainnya. Cieee. Ketahuan, tuh cewek nggak pernah liat A2DC atau Gie. Dua cowok keren (just like me…he3) di film tersebut juga nulis diary kan? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>Esoknya, aku balik ke Malang jam 12 siang bareng anak2 Kawah Media. Sebelumnya kami nggak lupa untuk menyempatkan diri cari oleh-oleh khas Jember yaitu Suwar-Suwir dan Brownies Tape. Suwar-Suwir itu bahannya juga dari tape singkong tapi bentuknya pasta, lumayan lah rasanya. Last, satu hal yang aku iri dari Jember adalah jalan rayanya yang lebar-lebar. Nggak kayak Malang, yang katanya kota terbesar ke-2 di Jatim tapi jalan rayanya sempit sehingga sering macet dan nggak memungkinkan untuk dikasih bus kota. Gimana nih Pak Walikota Malang*…? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>*sengaja manas-manasin cos bentar lagi mau ada Pilkada he3.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><span style="font-size:small;"><span>*maap postingannya agak telat cos kemarin MP3-nya ketinggalan</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/05/banjir-buku-di-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1000 books for them</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/02/1000-books-for-them/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/02/1000-books-for-them/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 09:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2008/02/18/1000-books-for-them/</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu yang lalu aku pergi ke panti pijat tuna netra Nuansa yang terletak di depan Rumah Sakit Soepraon untuk memijatkan tubuhku yang terasa pegal-pegal semua. Ya iyalah, kalau bukan untuk pijat trus mau ngapain? Masa mau ngeceng?
Sebenarnya kalau lagi capek atau pegal2, aku lebih memilih untuk memijat sendiri karena rasanya risih membiarkan orang lain ‘menggerayangi’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Seminggu yang lalu aku pergi ke panti pijat tuna netra Nuansa yang terletak di depan Rumah Sakit Soepraon untuk memijatkan tubuhku yang terasa pegal-pegal semua. Ya iyalah, kalau bukan untuk pijat trus mau ngapain? Masa mau ngeceng?</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Sebenarnya kalau lagi capek atau pegal2, aku lebih memilih untuk memijat sendiri karena rasanya risih membiarkan orang lain ‘menggerayangi’ tubuhku yang kerempeng ini. Tapi berhubung yang pegal tuh seluruh badan maka akupun menyerah dan mutusin pergi ke Nuansa. Dulu udah pernah satu kali pijat di sana tapi anehnya ada beberapa bagian yang semula nggak pegal malah jadi pegal setelah dipijat. Mungkin karena dulu masih pertama kali ya atau mijatnya terlalu keras. Yang merekomendasikan untuk pijat di Nuansa adalah bibiku, beliau lumayan sering pijat di sana dan katanya enak pijatannya. </span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Yang memijatku kali ini namanya Andreas (keren banget namanya bo). Setiap pemijat emang biasa ngajak kenalan dulu sebelum ‘beraksi’, mungkin maksudnya jika kita cocok dengan pijatannya dan lain kali datang lagi bisa langsung request untuk dipijat sama dia. </span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Sambil mulai memijat kaki kiriku, Andreas ngajak aku ngobrol ngalor-ngidul. Ternyata dia dulu sering main ke Radio MFM yang ada di Perpus tempatku kerja. Cuman tuh radio sekarang udah nggak ada lagi, nggak tahu kenapa. Agak tengsin juga sama si Andreas karena seumur-umur aku tuh nggak pernah main ke MFM, padahal tinggal masuk dan melangkahkan kaki aja. Yaa…harap maklum, gue kan aslinya pemalu Glodak!</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Kalau dibandingkan dengan pemijatku yang dulu, sebenarnya pijatan Andreas kurang enak he3 soalnya dia baru lulus dari tahun kemarin. Pantesan aja dia sering nampak kecapean saat memijatku, mungkin karena belum terbiasa. Aku agak nggak enak hati dan kasihan setiap kali dia berhenti dan menyeka keringat di dahinya. </span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Aku nggak bisa ngebayangin kalau berada di posisi Andreas, menjalani hidup di dalam kegelapan tanpa bisa menikmati keindahan alam semesta dan seisinya. Apalagi dengan keterbatasannya itu dia tidak mempunyai banyak pilihan di dalam memilih pekerjaan. Mungkin kalau boleh memilih, Andreas atau para pemijat di Nuansa yang lainnya ingin bekerja pada bidang lain yang mereka sukai.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Mimijat bukanlah pekerjaan yang ringan, coba bayangkan selama satu setengah jam mereka harus memijat dari ujung kaki hingga kepala. Tak peduli meski jari-jemari atau tangan mereka sendiri sedang capek atau pegal, yang paling penting adalah konsumen puas dengan pijatan mereka.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Kenyataan itu membuatku bertanya pada diriku sendiri, sudahkah aku mensyukuri nikmat kedua mata ini..? Dan apakah yang bisa kulakukan untuk sekedar membantu saudaraku yang tunanetra tersebut…?</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Hari Sabtu kemarin aku pergi ke Toga Mas (sebuah toko buku yang terkenal dengan diskonnya) untuk sekedar refreshing dan cari2 buku baru. Ketika menghampiri rak yang menyediakan buku2 baru, perhatianku tertuju pada sebuah novel songlit (song literatur) terbitan Gagas dengan judul Sebelum Cahaya. Novel ini ditulis oleh Karla M Nashar berdasarkan lagunya Letto yang liriknya menyentuh itu. Untungnya ada satu novel yang tidak dibungkus plastik sehingga aku bisa membaca sedikit isinya, salah satu tokoh utama di dalam novel tersebut diceritakan mengalami kecelakaan hingga harus kehilangan penglihatannya. Ketika membuka bagian belakang, aku membaca sebuah pengumuman yang mengajak pembaca untuk bergabung di dalam Gerakan 1000 Buku. Gerakan ini diadakan oleh Mitra Netra untuk membantu saudara kita yang tuna netra agar bisa ikut menikmati buku2 seperti halnya orang yang bisa melihat. Untuk keterangan selanjutnya bisa MP’ers baca <a href="http://www.mitranetra.or.id/ebook/"><b>di sini</b>.</a></span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Dalam hati aku langsung menduga kalau ini pasti jawaban dari Allah atas pertanyaanku saat dipijat oleh Andreas dulu. Sebagai seorang penulis, Glodak! yang bisa kulakukan tentu adalah menghibur mereka melalui karyaku. Sebetulnya aku dulu pernah membaca Gerakan ini di sebuah majalah tapi nggak tahu gimana caranya untuk ikut berpartisipasi. Aku lalu mengingat-ingat salah satu alamat email yang disediakan Mitra Netra untuk mengirimkan soft copy novel yang akan diterjemahkan ke dalam huruf Braile.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal"><span>Buat MP’ers, baik itu yang penulis atau bukan, mari kita bergabung dalam Gerakan 1000 buku ini. Caranya sangat mudah sekali, kita tinggal mengetik kembali novel2 koleksi kita dan mengirimkannya ke Mitra Netra. Dont worry, jari kita ga bakalan keriting kok (di-rebonding kali) karena mengetik satu buku penuh. Lagian apalah artinya bila dibandingkan dengan kegelapan yang harus dialami oleh saudara kita seumur hidupnya itu? Yakinlah bahwa jerih payah kita tidak akan sia-sia karena setiap huruf yang kita ketikkan ibarat setitik cahaya yang sangat berarti bagi mereka.</span></p>
<p style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/02/1000-books-for-them/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
