<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Pribadi Ihwan Harianto &#124; BLog Pribadi Ihwan &#124; &#187; dunia kerja</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/tag/dunia-kerja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>Blog Ihwan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 05:26:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>Blog Pribadi Ihwan Harianto | BLog Pribadi Ihwan |</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>Pekerjaan Impian</title>
		<link>http://bloglodak.com/2010/07/pekerjaan-impian/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2010/07/pekerjaan-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 04:50:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Tadi Danu (nama samaran) satpam Bank Mandiri yang letaknya satu gedung sama warnet tempatku bekerja nyeletuk gini sebelum pulang: “Enak banget samean Mas, ngenet tapi malah dibayar, nggak kayak aku walaupun pulangnya molor nggak dihitung lembur.”
Aku hanya bisa ketawa spontan sambil bilang: “Ya inilah pekerjaan impian” he he he jahat banget ya aku semakin membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi Danu (nama samaran) satpam Bank Mandiri yang letaknya satu gedung sama warnet tempatku bekerja nyeletuk gini sebelum pulang: “Enak banget samean Mas, ngenet tapi malah dibayar, nggak kayak aku walaupun pulangnya molor nggak dihitung lembur.”<br />
Aku hanya bisa ketawa spontan sambil bilang: “Ya inilah pekerjaan impian” he he he jahat banget ya aku semakin membuat Danu semakin ngiri.</p>
<p>Ucapan Danu tadi membuatku jadi pengin merenung apakah benar ini pekerjaan impianku??<br />
Ya kalau dilihat-lihat sih untuk saat ini tugasku di bagian warnet ini cukup menyenangkan buatku.  Seperti kata Danu tadi, udah ngenetnya gratis eh malah dibayar.<br />
Eiit tunggu dulu, kalau warnetnya lagi rame n banyak yang ngeprint malah seringkali nggak bisa ngenet.  Di saat-saat kayak gitu lah aku baru bener-bener bisa dikatakan kerja.<br />
Kalau pas lagi sepi biasanya aku ya buka MP, FB, Twitter, cek email dan hunting lagu-lagu he he he.  Aku nggak pernah nulis novel di tempat kerjaan soalnya aku termasuk tipe penulis manja, kalau nulis suasananya harus yang mendukung banget.  Di rumah aja kalau ada anggota keluarga yang masuk kamar n ngajakin ngobrol itu udah ganggu banget buatku.</p>
<p>Back to the topic, apakah bener kerjaan sebagai OP warnet ini merupakan pekerjaan impianku? Bukan impian sih tapi sayang juga kalau ditolak he he he.<br />
Banyak sih sebenarnya pekerjaan impianku, salah satunya adalah menjadi penulis yang karyanya dibaca banyak orang dan bisa memberikan inspirasi, Amin.  Dan kayaknya ini yang bisa aku rintis mulai dari sekarang.  Aku tahu jalannya ga mudah dan butuh kerja keras. Mungkin aku harus bikin target tertentu agar impianku bisa terwujud dengan segera.  Misalnya aja sebelum umur 30 harus bisa bikin novel best seller, Amin.</p>
<p>Pengin juga sih jadi presenter acara travelling gitu, bisa keliling dunia gratiisss tapi aku sadar diri kalau aku orangnya ga bisa ngomong depan kamera.  Duluuu pas jaman SMA, penginnya jadi psikolog karena aku seneng banget dengan hal-hal yang berbau psikologi gitu.  Tapi aku juga sadar diri karena nggak punya biaya untuk kuliah jadi ya disingkirin deh pekerjaan impian tersebut.</p>
<p>Sekarang ini aku lagi baca novelnya Syahmedi Dean yang judulnya JPvFK: Jakarta-Paris via French Kiss. Di situ tokoh utamanya (cowok) bekerja sebagai fashion editor di sebuah majalah mode.  Enak banget kayaknya, ditugasin meliput peragaan busana di kota-kota mode dunia, ketemu model-model cantik dan bisa keliling dunia gratis. Kayaknya itu juga  bisa jadi pekerjaan impian</p>
<p>Kalau teman-teman gimana, boleh tahu ga Pekerjaan Impian kalian apa? Apakah sudah tercapai saat ini? Kalau belum, usaha apa sih yang sedang kalian lakukan untuk mewujudkannya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2010/07/pekerjaan-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Right Jobs</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 11:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Jika sedang tidak lembur, hari sabtu adalah hari dimana aku bisa bersantai dan melakukan apa aja yang kusuka sepanjang hari. Nggak ada ceritanya berangkat kerja terburu-buru karena bangun kesiangan, mau bangun jam 8 kek, jam 9 nggak masalah. Paling-paling keluarga aja yang ngomelin: perjaka kok bangunnya molor. Uhm…itu masalah juga sih, aku kan udah kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Jika sedang tidak lembur, hari sabtu adalah hari dimana aku bisa bersantai dan melakukan apa aja yang kusuka sepanjang hari. Nggak ada ceritanya berangkat kerja terburu-buru karena bangun kesiangan, mau bangun jam 8 kek, jam 9 nggak masalah. Paling-paling keluarga aja yang ngomelin: perjaka kok bangunnya molor. Uhm…itu masalah juga sih, aku kan udah kerja keras selama lima hari masa nggak boleh nyane sehari aja.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Standar aja sih kegiatan yang aku lakuin kalau nyante di hari sabtu, habis mandi biasanya liat teve sambil makan. Kalau acaranya bagus biasanya bisa bertahan ampe siang, lalu njemput bibi pulang dari kerja. Habis itu sholat, makan siang trus cetingan atau ngenet pake hape. Aku jarang, atau boleh dibilang hampir nggak pernah tidur siang. Nggak biasa aja, padahal aslinya pengiiin banget bisa ngerasain tidur siang yang nyenyak untuk nebus tidur malam yang sering aku korupsi untuk ngetik.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Tapi kalau lagi ada proyek nulis yang digarap biasanya aku manfaatin hari sabtu itu untuk mengetik seharian. Iam really-really enjoy its. Seringkali waktu berjalan begitu cepat ketika aku tenggelam dalam cerita yang kutulis. Kadang aku berpikir, betapa bahagianya kalau setiap hari bisa kayak gitu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Jujur aja, aku emang udah bosen bin jenuh sama kerjaanku sebagai penjaga loker di perpus tempatku berkerja selama ini. Mungkin orang yang udah kenal lama sama aku, bosen denger keluhanku itu. Habis gimana, udah nggak ada lagi tantangan yang kudapatkan dari kerjaanku itu. Tiap hari ya hanya gitu-gitu mulu, standby di tempat loker menunggu pengunjung yang datang.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Emang salahku sendiri sih yang kurang berani take a risk cari kerjaan yang lain yang lebih baik. Tapi mau gimana lagi, dengan hanya ngandelin ijasah SMA pekerjaan yang bisa kudapatkan tentu terbatas banget. Paling-paling kerjaannya juga nggak jauh beda, kerja pake fisik. Trus kebanyakan sekarang perusahaan nerapin sistem kontrak, kalau di PHK nggak dapet apa-apa.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Sebenarnya aku udah seneng kerja di perpus dan sayang buat ninggalin tapi ya gitu nggak ada perkembangannya. Yang bikin aku nggak bisa cabut lumayan banyak. Pertama dari segi pendapatan, meski nggak besar2 amat tapi rutin. Trus walopun sistem kontrak tapi kalau someday keluar atau di-PHK masih dapet semacam pensiunan. Dan yang paling utama, kesetiaanku bertahan hampir sembilan taun ini nggak sia-sia karena beberapa waktu yang lalu aku lolos seleksi menjadi CPNS. Jadi bego banget kalau sekarang aku ninggalin gitu aja. Karier menulisku juga belum bisa aku jadikan sandaran untuk hidup sepenuhnya. Mana mungkin aku menggantungkan hidup dari royalti yang dikirim enam bulan sekali itu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Mungkin aku kedengarannya nggak bersyukur banget karena di luar sana masih banyak penggangguran, masih banyak orang yang harus kerja mati-matian dengan gaji yang nggak sepadan, masih banyak orang yang juga jenuh sama kerjaannya tapi nggak bisa cari side job atau pelarian kayak aku. Tapi aku juga nggak mungkin lempeng-lempeng aja kayak gini. Di atas sana banyak orang-orang yang jauh lebih sukses dan jujur aja aku iriii banget liatnya. Iri di sini dalam artian yang positif bukan iri-iri sirik tanda tak mampu.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Aku tahu harus do something tapi nggak tahu itu apa. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah tetep menjalani kerjaan di perpus dengan baik dan berharap para atasanku meliat ‘potensi’ yang kumiliki cieee bahasanya narsis banget. Keinginanku nggak muluk-muluk kok, aku ingin mereka ngasih aku kerjaan yang nggak hanya ngandelin fisik.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">Yang pasti aku juga akan tetep akan menulis sampai kapan pun karena aku masih yakin (semoga nggak akan pernah luntur keyakinan itu) bahwa becoming writer is the right jobs for me. Aku mencintai pekerjaan ini, aku merasa lebih hidup dan mempunyai arti karenanya. Ketika ada orang yang tertawa, gembira atau sedih karena membaca tulisanku rasanya sangat…uhm nggak bisa digambarin deh. Dan pastinya nggak bisa digantikan oleh apapun.</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">So…what about you? Apakah pekerjaan yang kalian jalani saat ini is the right jobs atau masih pengin cari yang lain? Terpaksa hanya karena alasan materi ataukah kalian menjalaninya dengan penuh kepuasan batin?</p>
<p style="text-indent:1.06cm;margin-bottom:0;" align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/02/the-right-jobs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sok ngatur</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/01/sok-ngatur/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/01/sok-ngatur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 10:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>
		<category><![CDATA[sobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[


Kayaknya udah umum ya bila kita nanya pada seeorang tentang apa sih gunanya peraturan, pasti akan dijawab kalau peraturan itu gunanya ya untuk dilanggar. Jangan terburu-buru nyalahin jika banyak yang jawab gitu soalnya sudah banyak contoh di dunia ini dimana pihak yang berwenang membuat peraturan malah melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. Nggak usah jauh-jauh, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Kayaknya udah umum ya bila kita nanya pada seeorang tentang apa sih gunanya peraturan, pasti akan dijawab kalau peraturan itu gunanya ya untuk dilanggar. Jangan terburu-buru nyalahin jika banyak yang jawab gitu soalnya sudah banyak contoh di dunia ini dimana pihak yang berwenang membuat peraturan malah melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. Nggak usah jauh-jauh, di negeri tercinta kita ini aja udah banyak contohnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Tapi lebih parah lagi kalau ada orang yang sebenarnya nggak punya wewenang untuk buat peraturan tapi malah sok ngatur-ngatur segala. Aku lagi nulisin (bukan ngomongin lho ya) salah satu temen di kerjaan yang punya sifat kayak gitu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Pernah nih ya, aku lagi ngobrol sama temen2 di bagianku kerja, biasalah kalau topiknya lagi lucu-lucunya gitu suka ketawa lepas bahkan kadang ampe ngakak. Nah temnku yang Sok Ngatur ini begitu denger suara ketawa kami langsung melihat kami dengan pandangan yang kalau diterjemahin tuh artinya: <strong>GUYON AJA SIH LO! </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Iiih nggak banget deh. Kayak dia nggak pernah guyon aja sama temen2 di bagiannya sana. Malahan lebih parahan dia kali ketawanya. Nih orang sifatnya bener-bener “gajah di pelupuk mata tak tampak tapi semut di seberang lautan tampak”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Bukan hanya itu aja sih, banyak hal lainnya yang kadang bikin kami kresz gara-gara sikapnya yang sok ngatur dan sok benar itu. Aku sih nggak keberatan kalau ada yang mengingatkan kalau tingkah lakuku ada yang salah tapi caranya itu lho yang nggak banget. Maksudku tuh ya kita kan sama-sama bawahan jadi gayanya nggak usah lebay gitu kalee. Dah berasa jadi koordinator aja deh lo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Aku sama salah satu temenku jadi gatel buat ngebahas si Sok Ngatur ini. Kok bisa sih ada orang kayak dia? Kalau menurutku ya, nih orang emang punya ambisi buat menguasai orang-orang di sekitarnya. Dia pengin semua tunduk sama perintah dan keinginannya. Padahal mana ada sih orang yang mau diperlakukan kayak gitu? Bawahan aja kadang bisa ngelawan sama majikan, apalagi ini sama temen sebaya. Gue makan nggak minta sama elo, ngapain gue harus nurut sama elo!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Trus di mana sih mukanya saat dia melarang kami melakukan something padahal di lain waktu dia juga melakukan hal yang serupa. Orang-orang kayak gini nih masih satu spesies sama para pemimpin kita saat ini yang mewajibkan warganya menaati peraturan tapi dia belakang layar mereka langgar sendiri peraturan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Why should I welcome your domination?</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#339966;"><strong>(TaTu-Perfect Enemy)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#339966;"><strong><br />
</strong></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/01/sok-ngatur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>belanda-malang via blitar</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 09:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[ 
Setelah dua tahun lamanya hanya bersahabat lewat dunia maya, akhirnya Tuhan mempertemukan Onit dan One. Onit saat ini sedang menjalani kuliah S3-nya di Belanda, sedangkan One tiap hari menggeluti pekerjaannya sebagai penjaga loker di sebuah kampus di Malang. Persabahatan mereka berawal dari sebuah perdebatan tentang selinting tembakau bersama Nena dan Ruly, sepasang fotografer dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="insertedphoto"><img class="alignleft" src="http://images.nawhi.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SJbFewoKCscAABUjtG81/ben-onit-one.jpg?et=6NA8Dip6xXW5A93XLYkKDw&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="228" height="300" /></span><span style="color:#3333ff;"> </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Setelah dua tahun lamanya hanya bersahabat lewat dunia maya, akhirnya Tuhan mempertemukan Onit dan One. Onit saat ini sedang menjalani kuliah S3-nya di Belanda, sedangkan One tiap hari menggeluti pekerjaannya sebagai penjaga loker di sebuah kampus di Malang. Persabahatan mereka berawal dari sebuah perdebatan tentang selinting tembakau bersama Nena dan Ruly, sepasang fotografer dari Jakarta. Siapa sangka, perdebatan ‘sengit’ itu malah kemudian mengakrabkan mereka berempat.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Hari ini, di sebuah kota kecil berhawa sejuk Onit dan One bertemu untuk pertama kalinya. Sebuah senyuman langsung menghiasi wajah tatkala dua sahabat itu bertatap muka di sebuah halte bus. Onit saat itu tak sendirian, dia ditemani Ben, sahabatnya yang lain saat masih di Korea dulu. Begitupun juga dengan One, dia ditemani oleh Naz, tetangga sekaligus sahabatnya di kampung kecil bernama Nagrem.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Setelah beristirahat sejenak di rumah One, mereka berempat lalu menghabiskan waktu bersama dengan mengelilingi kota Malang. Melihat-lihat Masjid Jami’ yang berdiri kokoh di depan alun-alun kota, melewati De Idjen Boulevard, mengenang sebagian sejarah bangsa di Museum Brawijaya dan mengunjungi beberapa tempat lainnya.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Tujuh jam terasa cepat berlalu, mereka berempat pun harus mengakhiri pertemuan itu. Padahal masih banyak tempat yang ingin dikunjungi, masih banyak hal yang ingin dibicarakan, masih…masih dan masih ada yang ingin dilakukan agar pertemuan itu tak lekas berakhir dan lebih berkesan.</span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">Di sebuah gerbong kereta mereka berpisah dan berdoa semoga kelak Tuhan mempertemukan mereka kembali. Saat peluit tanda kereta hendak berangkat akhirnya berbunyi, One dan Naz pun turun dari kereta. Dengan senyum bahagia dan lambaian tangan mereka melepas kepergian kereta yang membawa Onit dan Ben meninggalkan Malang. </span></p>
<p><span style="color:#3333ff;">*trus hubungannya kota Blitar apa dunk?</span><br /><span style="color:#3333ff;">** Onit dan Ben emang ada suatu keperluan di Blitar, trus sekalian mampir ke Malang getoo.</span><br /><span style="color:#3333ff;">***foto2na bisa liat di album, <a href="http://nawhi.multiply.com/photos/album/64">cek dis oud..!!</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/08/belanda-malang-via-blitar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>De Loker Boy</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/01/de-loker-boy/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/01/de-loker-boy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 09:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2008/01/14/de-loker-boy/</guid>
		<description><![CDATA[Nggak terasa udah hampir 2 minggu aku di bagian loker. Awalnya sih boring banget karena aku kerjanya hanya duduk2 doang sambil ngasihkan kunci loker kepada pengunjung perpus. Sebelumnya akan aku kasih sedikit gambaran bagaimana cara kerjaku, Glodak! Emang penting banget ya?
Tiap pengunjung yang mau masuk ke perpus harus menitipkan tasnya di loker yang udah disediakan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Nggak terasa udah hampir 2 minggu aku di bagian loker. Awalnya sih boring banget karena aku kerjanya hanya duduk2 doang sambil ngasihkan kunci loker kepada pengunjung perpus. Sebelumnya akan aku kasih sedikit gambaran bagaimana cara kerjaku, Glodak! Emang penting banget ya?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Tiap pengunjung yang mau masuk ke perpus harus menitipkan tasnya di loker yang udah disediakan. Cukup dengan menyerahkan ID (bisa KTP, SIM, atau Kartu ATM beserta PIN-nya he3) mereka akan kuberi kunci loker dan setelah itu silahkan menaruh barangnya pada loker yang sesuai dengan nomer kuncinya. <b>Di sini aku hanya butuh kecepatan tangan dalam memberikan kunci soalnya beberapa (hampir semua sih) pengunjung ada yang ga sabaran kalo minta kunci, entah itu karena kebelet boker atau apa aku nggak tahu, yang pasti mereka maunya yang cepet! </b></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Tapi adakalanya ada pengunjung yang manja, masa hanya karena pegangan pintu lokernya hilang mereka minta tuker. Padahal kalau mereka mau sedikit usaha, tuh loker masih bisa kok ditarik pintunya. Ada juga yang agak2 bego, dikasih loker A eh yang dibuka malah loker B. Trus udah gitu langsung komplen: “Mas, gimana sih lokernya nggak bisa dibuka?”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Sebagai petugas perpus yang baik hati dan pengertian, Glodak! Akupun segera turun tangan membukakan lokernya. Dan setelah kuhampiri ternyata dianya yang salah milih loker. Dan aku hanya bisa ngomong dalam hati : <b>Ya iyalah, gimana bisa mbuka kalau lo salah milih lokernya :p</b></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Di saat mereka mengembalikan kunci loker, lagi-lagi kami petugas loker harus ‘dituntut’ kerja yang cepet plus jeli mencari-cari nomer lokernya. Walaupun kami udah menyusun nomer lokernya dengan urut tapi kalau lagi ramai bingung juga lah, apalagi diriku yang masih amatir ini. Untungnya sampai saat ini belum pernah kejadian salah ngasih ID atau barang hilang di loker, jangan sampai deh. Bisa berabe nanti urusannya. Yang pasti kami udah berusaha profesional kalo kerja, Glodak! Dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk para pengunjung perpus.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Kebosanan baru terasa banget kalau pengunjungnya sepi sehingga kami jadinya hanya bisa <b><i>duduk ganteng</i></b> (petugasnya kan cowok semua) kayak orang nggak berguna gitu. Untuk membunuh kebosanan biasanya aku ngobrol2 ama Tora (nama sengaja kusamarkan demi menjaga image tuh anak, Glodak!), rekan kerjaku di bagian loker. Entah itu ngomongin anaknya yang umur 3 tahun(umurnya Tora setahun di bawahku tapi udah nikah duluan, Shit..!), tapi paling sering sih kita ngomentarin pengunjung2 cewek yang menarik perhatian. Secara Tora udah nikah jadi seringkali omongannya menjurus ke hal2 yang porno, misalnya dia pernah ngasih tahu aku <b>ciri2 cewek yang udah ga VIRGIN lagi itu gimana</b> ha ha ha. Benar2 sableng tuh anak, tapi nggak apa2lah hitung nambah ‘ilmu’ buatku. Walaupun aku sendiri masih meragukan kebenaran informasinya itu. Hayoo, mau ditulis di sini nggak…? Jangan deh, ntar aku bakalan dihujat sama Organisasi Feminisme. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Kalau udah bosen ngobrol biasanya aku corat-coret di notes, entah itu nggambar (paling sering sih nggambar cewek) atau mikirin ide2 buat novel selanjutnya. Dua hal yang nggak bisa aku lakukan saat masih di fotokopian dulu he he he. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Adapun kekurangannya di bagian loker, sampai saat ini hanya ada dua (semoga nggak nambah lagi). Yang pertama, <b>sebagai petugas loker otomatis kami harus sudah stand by sebelum perpus dibuka</b>. Akibatnya aku harus berangkat lebih pagi (ketahuan deh ngaretnya) dan nggak bisa shelving (menata buku2 di rak) pada pagi hari. Trus juga nggak bisa baca2 koran sebelum kerja. Yang kedua, <b>kalau ke belakang harus cepet2 cos letaknya sekarang jauuh</b>. Semua temen2 kayaknya udah hafal ama kebiasaanku yang sering (atau malah suka?) ke belakang itu. Jangan mikir yang enggak2, aku emang beneran kebelet heh! Sebenarnya sih di ruang label merah juga ada toilet yang lebih deket dari tempat loker tapi nggak tahu kenapa aku lebih suka ke toilet yang ada di kantin. <b>Mungkin karena udah ‘jodoh’ kali ya? Halaah!</b></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:12pt;font-family:Verdana;color:#3333ff;"><font size="2"><span>Dan sepertinya aku mulai keenakan kerja di bagian loker soalnya kemarin pas dapet jatah lembur di fotokopian agak2 males gitu. Mungkin karena udah terbiasa <b><i>duduk ganteng</i></b> kali ya, jadinya males harus kembali menghadapi buku2 yang banyak he he he. Padahal ini baru dua minggu, gimana nanti kalau udah enam bulan? Bukannya aku bermaksud jadi <b>kacang yang lupa ama kulitnya</b> sih, tapi seperti yang kutulis di novel dulu kalau kerja sebagai seorang xerografer tuh emang nggak enteng (gimana ngak berat ngangkat2 mesin fotokopi!), jadi wajarlah kalau sekarang aku agak2 ‘terbuai’ dengan kesantaian sebagai <b>De Loker Boy. Glodak!</b></span></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/01/de-loker-boy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>selesai tapi belum finish&#8230;?</title>
		<link>http://bloglodak.com/2008/01/selesai-tapi-belum-finish/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2008/01/selesai-tapi-belum-finish/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 03:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kata]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2008/01/06/selesai-tapi-belum-finish/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, setelah melalui puluhan malam sendirian dengan mata agak sepet dan pantat panas karena kelamaan duduk akhirnya novel ke-2 SELESAI.Tadi malem pengeditannya udah hampir 75 persen, ada dua jalan cerita yang berubah dari rencana sebelumnya. Setelah pengeditan selesai maka &#8216;tugas&#8217; berikutnya adalah mencari proof reader. Ini hukumnya Wajib cos melalui proof reader kita bisa mengetahui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Alhamdulillah, setelah melalui puluhan malam sendirian dengan mata agak sepet dan pantat panas karena kelamaan duduk akhirnya novel ke-2 SELESAI.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Tadi malem pengeditannya udah hampir 75 persen, ada dua jalan cerita yang berubah dari rencana sebelumnya. </span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Setelah pengeditan selesai maka &#8216;tugas&#8217; berikutnya adalah mencari proof reader. Ini hukumnya Wajib cos melalui proof reader kita bisa mengetahui bagaimana reaksi pembaca nantinya saat novel kita dikeluarkan. Selain itu juga bisa memberikan saran dan masukan.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Sebenarnya aku udah punya proofreaders dari novel pertama dulu tapi jumlahnya masih kurang. Kriteria yang aku inginkan dari proofreader-ku nanti ga muluk2 sih, cukup dua aja:</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">1.Yang pasti harus suka baca dong ya, ga mungkin aku maksa orang yang sama sekali ga suka baca untuk jadi proofreader.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">2. Aku ga terlalu kenal ama mereka supaya nanti bisa lebih obyektif gitu ngasih penilaian.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Proofreader-ku yang sekarang sih udah kenal baik ama aku, tapi mereka tetep bisa obyektif sih. Draft novelku kemarin malah &#8216;dibantai&#8217; habis2an ama mereka.</span></p>
<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Kemarin udah dapet 4 orang yang mau jadi proofreader, tapi cewek semuaa he he he Jadi sekarang lagi cari proofreader cowok, tapi kalo emang dapetnya cewek lagi juga ga apa-apa sih.</span></p>
<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Selain nyari proofreader, aku juga lagi merayu beberapa orang untuk bersedia ngasih endorsement. Alhamdulillah, udah dapet satu orang (seneng banget pas dia bilang: OKE di sms waktu itu). Aku berharap endorsment setidaknya nanti bisa meluluhkan hati penerbit dan kalo nanti udah diluncurkan juga bisa lebih memikat para pembaca untuk membelinya. Amin.</span></p>
<p><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Oh iya, aku baru tahu kalo MP Indonesia juga mau menerbitkan buku tentang Multiply. Kabar ini cukup bikin aku agak kaget mengingat di novelku nanti juga bakalan mbahas tentang MP. Aku ikut senang tapi rada nyesel gitu kok ga tahu dari dulu, kan aku juga pengin berpartisipasi. Rencananya sih buku itu dikeluarin tanggal 14 Februari 2008.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Di satu sisi ini kayak &#8216;kecolongan&#8217; start buatku takutnya nanti para pembaca udah ga minat lagi pas baca novelku. Tapi di sisi lain juga ada baiknya, setidaknya novelku nanti ga  &#8217;saingan&#8217; gitu ama buku MP.</span><br /><span style="font-family:lucida sans unicode,lucida;color:#3333ff;">Oke deh, gitu aja dulu. Minta doanya agar novel kedua ini melenggang dengan mulus ke penerbitan dan menyusul Xerografer, Amin.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2008/01/selesai-tapi-belum-finish/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Farewell Fotokopi</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/farewell-fotokopi/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/farewell-fotokopi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 04:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[xerografer]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/28/farewell-fotokopi/</guid>
		<description><![CDATA[
Hari ini adalah hari terakhirku di bagian fotokopi sebab mulai tahun depan aku dipindahkan ke bagian loker. Kenangan saat pertama kali aku menyentuh mesin fotokopi seperti hadir kembali lagi di depan mataku. Dulu tak pernah terbayangkan sedikitpun kalau kelak aku akan menjadi seorang tukang fotokopi. Ya iyalah, mana ada sih anak yang punya cita-cita sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="bodytext">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Hari ini adalah hari terakhirku di bagian fotokopi sebab mulai tahun depan aku dipindahkan ke bagian loker. Kenangan saat pertama kali aku menyentuh mesin fotokopi seperti hadir kembali lagi di depan mataku. Dulu tak pernah terbayangkan sedikitpun kalau kelak aku akan menjadi seorang tukang fotokopi. Ya iyalah, mana ada sih anak yang punya cita-cita sebagai tukang fotokopi? Bahkan meski kelak nama tukang fotokopi diganti menjadi xerografer sekalipun, aku yakin profesi itu nggak akan muncul di benak seorang anak saat ditanya apa cita-citanya kalau besar nanti. Kebetulan bulan-bulan ini ada siswi2 SMEA yang melakukan PKL di perpus. Nah, seminggu yang lalu salah seorang dari mereka ditugaskan magang di bagian fotokopi. Duh, keliatan banget dari air mukanya saat pertama kali datang, kalau dia tuh nggak rela dunia-akhirat jika magang di fotokopian ha ha ha.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Jujur, pertama kali pegang mesin fotokopi dulu aku sempat grogi karena ternyata mesin fotokopi nggak sekedar pencet-pencet tombol doang. Masih ingat ketika Mas Andik, seniorku dulu (sekarang udah pindah ke Surabaya) mengajariku mengoperasikan mesin itu. Dengan sabar dia mengajariku bagaimana memprogram mesin dengan making areas, memilih kertas hingga membersihkan bagian-bagian mesin. Di hari pertama aku bekerja lumayan banyak hasil fotokopian yang salah, kira-kira…lha kok jadi kayak nulis novel Xerografer gini seeeh?</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Sekitar tiga bulan setelah bekerja, aku membaca sebuah pengumuman beasiswa di sebuah koran yang diadakan Universitas Hangtuah Surabaya. Waktu itu aku tertarik banget untuk mencobanya apalagi nilai rata2 NEM-ku memenuhi syarat yang diajukan. Secara dulu pengin banget ngelanjutin kuliah jadi kesempatan beasiswa itu seperti anugerah dari Allah. Tapi nggak tahu kenapa, ketika sampai di rumah aku pikirkan lagi niatku itu. Aku melihat pengumuman itu lagi, kubaca nama-nama jurusannya. Melihat sebagian bidang ilmunya yang berhubungan dengan dunia kelautan aku jadi pesimis apa aku nanti bisa berhasil. Selain itu juga aku masih nggak tega ninggalin Malang, dulu aja pernah ada kesempatan kerja di Bandung tapi nggak aku ambil. Aku termasuk orang yang mengidap homesickness jadi aku takut kalau nanti aku nggak kerasan di Surabaya. Ya udah, aku nggak ambil kesempatan emas itu. Dan aku tetap bertahan di kerjaanku sebagai tukang fotokopi.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Aku nggak pernah menyesali keputusanku itu karena aku yakin bahwa apapun yang terjadi memang sudah ditentukan oleh Allah. Biarpun aku ngebet pengin masuk ke Hangtuah tapi kalau emang itu bukan jalanku pasti juga tidak akan berhasil. Syukurlah karena ternyata Allah menggantinya dengan sebuah anugerah yang indah, mimpiku untuk menerbitkan novel dikabulkan oleh-Nya. Aku nggak tahu jika seumpamanya aku kuliah apakah aku tetap bisa menulis novel. Bisa jadi bukan aku yang menulis Xerografer, orang lain atau teman kerjaku mungkin. Yang unik adalah ketika aku menulis Xerografer, teman-teman SMA-ku juga sedang sibuk menulis skripsi. Jadi aku anggap itu sudah impaslah.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Kini saatnya mengucapkan perpisahan, kepada Mas Ipin (koordinator fotokopi), mesin Canon NP650 II (bukan Xerox lho), kertas-kertas dan staples. Begitu banyak kenangan yang kualami di sana, mulai dari capek setengah mati melayani pelanggan, memfotokopi buku2 setebal bantal, lembur hingga tengah malam. Bahkan aku pernah memfotokopi dengan jari telunjuk berdarah-darah (ini beneran) hingga mengotori buku yang sedang kufotokopi. Itu semua tidak akan pernah kulupakan hingga akhir hayatku nanti, Glodak! Maafkan, jika hanya sebuah novel yang bisa kupersembahkan untuk mengenang kebersamaan kita selama ini, hiks hiks. Tetapi jangan khawatir, kita masih bisa ketemu lagi kan? Kalau saat istirahat aku akan sempatkan mampir. Apalagi jika nanti ada lembur fotokopi, pasti aku orang pertama yang dicalling-secara rumahku paling deket ama perpus. Kayaknya aku harus mulai mencari rumah yang agak jauh dari tempat kerjaku…*just kidding.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3">Mungkin yang membuatku agak enggan adalah bagian baru yang akan kutempati. Walaupun secara fisik job description yang kujalani berubah namun sccara kualitas aku merasa stag alias jalan di tempat. Atau mungkin juga menurun, secara kalau jaga loker itu hanya tangan saja yang bekerja. Bukannya aku gengsi atau apa untuk menjaga loker. Aku hanya berharap ada sebuah peningkatan dari pekerjaan yang kulakukan, aku ingin bukan hanya ototku saja yang dinilai tapi juga kemampuanku dalam berpikir. Atau mungkin, lagi-lagi ini adalah jalan dari Allah. Bisa jadi Allah memberiku pekerjaan yang berhubungan dengan fisik doang agar aku bisa menggunakan pikiranku secara maksimal untuk menulis novel. Yaaa, untuk saat ini kesimpulan itu yang bisa kuambil. Setidaknya agar aku nanti enjoy menjalani pekerjaanku di bagian loker.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"><font size="3"><br />
</font></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/farewell-fotokopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
