<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Pribadi Ihwan Harianto &#124; BLog Pribadi Ihwan &#124; &#187; hidup sehat</title>
	<atom:link href="http://bloglodak.com/tag/hidup-sehat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloglodak.com</link>
	<description>Blog Ihwan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 05:26:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
   <image>
    <title>Blog Pribadi Ihwan Harianto | BLog Pribadi Ihwan |</title>
    <url>http://www.gravatar.com/avatar/9320fcfabbc8172d142bbbd5155275b0?s=48&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536</url>
    <link>http://bloglodak.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>softdrink feat susu</title>
		<link>http://bloglodak.com/2010/02/softdrink-feat-susu/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2010/02/softdrink-feat-susu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 09:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini lagi demen minum softdrink campur sama susu. Awalnya sih ikut-ikutan temen yang suka bikin Mega Mendung, udah pada tahu kan minuman apa yang aku maksud?
Beneran nggak tahu? Duh, kemana aja sih lo selama ini he3
Itu tuh, Co..ups nggak boleh sebutin merk yak? Aah biarin wes. Mega Mendung itu campuran Coca Cola sama susu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini lagi demen minum softdrink campur sama susu. Awalnya sih ikut-ikutan temen yang suka bikin Mega Mendung, udah pada tahu kan minuman apa yang aku maksud?</p>
<p>Beneran nggak tahu? Duh, kemana aja sih lo selama ini he3</p>
<p>Itu tuh, Co..ups nggak boleh sebutin merk yak? Aah biarin wes. Mega Mendung itu campuran Coca Cola sama susu. Tentu saja susu yang dipake adalah susu putih yang kental dan manis. Kalau pake susu coklat ntar bukan Mega Mendung namanya, tapi Mega Mustika ha ha ha itu mah nama penyanyi dangdut era 80an. Trus kenapa kok yang dipake susu kental yang manis? Tentu saja biar rasanya manis he he he jawaban yang ga berkualitas banget.</p>
<p>Cara bikinnya gampang banget. Yang pertama-tama adalah beli dulu Coke sama Susunya. Dianjurkan membeli pake uang ndiri, jangan minjem apalagi ngutil karena itu akan berpengaruh pada hasil akhir.</p>
<p>Yang kedua, ambil gelas ukuran besar dan sendok untuk mengaduk. Tuangin dulu susu ke dalam gelas, untuk takarannya tergantung selera. Tapi kalau punya bakat tulang keropos, mending  dibanyakkin aja susunya. Setelah itu, tuangin Coca-nya dan aduk pelan-pelan biar mencampur dengan sempurna dan busanya nggak sampe meluber keluar gelas.</p>
<p>Aku sendiri nggak tahu kenapa kok dinamain Mega Mendung, padahal kan mendung tuh warnanya abu-abu bukan coklat muda. Mungkin karena tampilan atau hasil akhir dari campuran dua jenis minuman itu yang akhirnya menginspirasi orang untuk memberi nama Mega Mendung. Sayang aku nggak sempat motret, pokoknya kalau campurannya sempurna maka di gelas itu nanti yang bagian bawah nampak campuran Coca dan Susunya yang berwarna coklat muda dan di atasnya ada busa yang banyak mirip awan gitu.</p>
<p>Nah, kemarin aku nyoba berkreasi dengan mengganti Coca sama Fanta warna Pink. Tentu aja, hasilnya nggak ada busa-busanya. Kenapa aku jadi suka sama minuman softdrink campur susu ini? Soalnya selama ini kalau minum softdrink tuh selalu ada sedikit feel guilty gitu sama my body, aku dulu udah pernah nulis di blog (hasil copas sih) kalau minum softdrink tuh sebenarnya nggak menghilangkan rasa haus tapi malah mengurangi jumlah kadar air dalam tubuh kita. Makanya aku udah lama mengurangi konsumsi softdrink, walaupun kadang suka ngiler sih kalau liat orang minum di sampingku. Nah dengan mencampurnya dengan susu, setidaknya kan tubuhku juga dapet efek samping yang positif yaitu dapet asupan kalsium he3.</p>
<p>Kalau MP&#8217;ers sendiri, punya minuman favorit apa? Bagi -bagi di sini dunk, siapa tahu ada yang unik kan bisa dicoba tuh di rumah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2010/02/softdrink-feat-susu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pijat Plus Plus ala Mbah Gondho</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 02:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Mbah Gondho]]></category>
		<category><![CDATA[pijat plus plus]]></category>
		<category><![CDATA[pijat urat]]></category>
		<category><![CDATA[salah urat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Blog ini adalah lanjutan dari blog sebelumnya: Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran yang mendalam…boong banget, padahal hanya perlu waktu setengah jam buatku mutusin untuk memijatkan kakiku yang cedera ke tukang pijat urat. Nggak peduli deh sama sakitnya daripada cederaku ini ntar malah jadi tambah parah.
Nama tukang pijat urat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog ini adalah lanjutan dari blog sebelumnya: <a href="http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/">Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat.</a></p>
<p>Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran yang mendalam…boong banget, padahal hanya perlu waktu setengah jam buatku mutusin untuk memijatkan kakiku yang cedera ke tukang pijat urat. Nggak peduli deh sama sakitnya daripada cederaku ini ntar malah jadi tambah parah.</p>
<p>Nama tukang pijat urat itu adalah Mbah Gondho. Wuiiiih namanya horor banget yak? Ngingetin sama tokoh-tokoh antagonis di sandiwara radio 80an, seperti Mak Lampir, Grandong dan kawan-kawan.<br />
Aku sama Bibi berangkat ke rumahnya Mbah Gondho sehabis Isya, ya sekitar jam tujuhan lah. Kami sempat kesasar karena Bibiku udah agak lupa letak rumahnya.<br />
Ketika sampai di rumahnya kami disambut istrinya Mbah Gondho, orangnya udah paruh baya gitu deh. Kami lalu dipersilahkan duduk sambil menunggu Mbah Gondho yang masih ada di dalam.</p>
<p>Mbah Gondho orangnya berperawakan sedang dengan tubuh lumayan berisi untuk ukuran orang setua beliau. Kulit agak gelap, suaranya dalam dan berwibawa. Nggak tahu kenapa aku serem aja liatnya, mungkin karena terpengaruh sugestiku sendiri.<br />
Beliau lalu menanyakan keluhanku apa, udah berapa lama dideritanya. Aku ceritain deh kronologis kejadiannya, mulai dari A sampe A lagi he he he mbulet dunk ya?<br />
Mbah Gondho lalu memintaku menjulurkan <del datetime="2009-11-15T02:50:21+00:00">lidah</del> kaki kananku, lalu dipegang dan dirabanya kakiku.<br />
“Wah, nanti sakit ini mijatnya…” ujar Mbah Gondho sambil terkekeh-kekeh padaku. Aku mendengarnya langsung down gitu, si Mbah jujur banget sih jadi orang. Kenapa aku nggak dibohongin aja sih biar nggak keder duluan.</p>
<p>Kukira aku bakalan di pijat di dalam kamarnya atau ada tempat khusus tapi ternyata ya di ruang tamu itu. Karena mijatnya nanti sampe di bagian paha juga sementara aku pake pencil jeans which is hanya bisa dinaikkan sampe betis maka aku disuruh ganti dengan sarung.<br />
Dengan hati deg-degan aku duduk berselonjor di kursi panjang, sementara Mbah Gondho berada di ujung kakiku.<br />
“Ini sakit nggak?” tanya Mbah Gondho sambil mijet ujung jari telunjuk kakiku.<br />
“Aah…aah…sakit Mbah…” rintihku. Aku sendiri heran, padahal si Mbah mijetnya nggak keras tapi ujung jariku rasanya kayak dijepit besi gitu.<br />
“Masa sih diginikan aja sakit…?” tanya Mbah Gondho sambil mijat lagi, kali ini gantian jari tengahku.<br />
“Aduh Mbah, sakit beneran…” Si Mbah lagi-lagi hanya terkekeh melihatku meringis kesakitan.<br />
Sumpah, bukannya aku lebay atau apa, aksi Mbah Gondho yang seenaknya mijet-mijet jariku sambil terkekeh-kekeh tanpa peduli rasa sakit yang kurasakan, membuatku serasa ngadepin psycho sejenis Hanibal Lecter.</p>
<p>Pijatan di ujung jari itu hanyalah pemanasan, pijatan selanjutnya adalah menu utama yang mau nggak mau harus aku nikmatin. Rasanya sakit banget ketika Mbah Gondho memijat ruas jari manisku yang cedera itu, kata beliau sih salah satu uratku ada yang salah posisinya, yaitu menumpuk di urat sebelahnya. Whatever lah, yang penting kakiku sembuh dan bisa main capoeira lagi dengan nyaman. Sambil mijatin kakiku, Mbah Gondho ngajakin aku ngobrol. Mungkin tema obrolan disesuaikan sama usia pasiennya kali ya, berhubung aku cowok, masih muda dan cakep tentunya (yang baca nggak boleh protes) maka yang diobrolin ya masalah cewek. Beliau nanya sama aku definisi cewek cantik itu dinilai dari apanya. Berhubung aku manusia biasa, punya dua mata minus dan silinder, aku jawab aja dinilai dari wajahnya. Aku tahu sih, jawabanku tuh dangkal banget bin nggak berkualitas. Tapi masa bodoh deh ya, rasa sakit akibat pijatan Mbah Gondho membuat otakku males berpikir berat-berat. Lain ceritanya kalau aku lagi jadi juri Miss Universe, tentu dengan mantap akan kujawab bahwa seorang cewek cantik itu dinilai dari 3B-nya, yaitu Br**st, B*tt*ck and B*k*n*. Ha ha ha dasar juri nggak bermoral.</p>
<p>Mungkin Mbah Gondho ini nggak mau kalah sama panti-panti pijat yang kasih layanan plus-lus pada konsumennya, maka selain pijatan aku pun dikasih bonus berupa petuah dan nasihat menurut Falsafah Jawa. Mulai dari kasih jawaban yang bener bout definisi cewek cantik, gimana kita harus berbhakti sama orang tua hingga how to be a gentle man. Sayangnya, Mbah Gondho ngomongnya sering pake Bahasa Jawa Krama Inggil yang aluuus banget. Kadang karena nggak ngerti apa maksudnya, aku hanya manggut-manggut aja hi hi hi.</p>
<p>Seperti yang dibilang Mbah Gondho tadi, walaupun yang sakit itu hanya ruas jari manisku aja tapi yang dipijat itu harus keseluruhan karena urat-urat di kaki berhubungan sama urat-urat di atas. Maka dipijatlah aku mulai dari ujung kaki sampai pangkal paha, serius nggak bohong aku! Aku sendiri sebenarnya agak heran, yang biasa kudengar itu kalau pijat urat hanya titik-titik tertentu aja yang dipijat tapi kok ini sampe pangkal paha bagian dalam segala. Kalau pijatan di telapak kaki, betis dan paha bawah sukses bikin aku meringis sampai hampir menangis kesakitan maka pijatan di pangkal paha bagian dalam bikin aku ketawa-tawa kegelian bin keenakan ha ha ha mesum banget.</p>
<p>Habis kaki kanan dipijat, giliran kaki kananku. Karena nggak cedera maka mijatnya nggak banyak-banyak. Lalu naik ke kedua tangan, punggung dan pundak. Waktu di pijat bagian pundak tuh rasanya rileks banget, otot-otot yang tadinya kaku jadi lemes. Oh iya, aku sempet nanya sama Mbah Gondho dari mana beliau belajar mijat urat tapi sayangnya nggak dijawab. Malah dialihkan ke topik yang lain. Mungkin Mbah Gondho takut aku ikutan belajar dan nyaingin dese kali ya bo? (idiiih sok-sok pake dese segala)</p>
<p>Pemijatan baru berakhir sekitar pukul setengah sembilan, gilaaa pijat urat sampe satu setengah jam sendiri. Padahal aku dulu pernah pijat di tuna netra hanya sekitar satu jam. Karena Mbah Gondho ini termasuk pemijat indie alias nggak ikutan di panti-panti maka untuk tarifnya terserah kita mau bayar berapa. Yaa yang sepantasnya lah, kita harus bisa menyesuaikan sendiri sama tingkat keparahan sakit yang kita derita Kalau emang ngerasa puas nggak ada salahnya kasih bonus dan dipromoin ke temen. Itung-itung membalas budi sama orang yang sudah menolong kita sembuh dari sakit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/pijat-plus-plus-ala-mbah-gondho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Salah Landing Jadi Salah Urat</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[capoeira]]></category>
		<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[pijat urat]]></category>
		<category><![CDATA[salah urat]]></category>
		<category><![CDATA[senzala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Saat latihan capoeira sebulan yang lalu, aku mengalami sedikit cedera kaki ketika latihan Jumping. Latihan ini dilakukan berpasangan dimana kami harus bergantian melompati satu sama lain. Untuk yang beginner cukup melompat setinggi pinggang aja, jadi teman yang dilompati membungkuk membelakangi kita. Sedangkan yang medium dan expert harus melompat setinggi badan pasangannya. Karena aku udah 6 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat latihan capoeira sebulan yang lalu, aku mengalami sedikit cedera kaki ketika latihan Jumping. Latihan ini dilakukan berpasangan dimana kami harus bergantian melompati satu sama lain. Untuk yang beginner cukup melompat setinggi pinggang aja, jadi teman yang dilompati membungkuk membelakangi kita. Sedangkan yang medium dan expert harus melompat setinggi badan pasangannya. Karena aku udah 6 bulan latihan maka aku harus melakukan latihan Jumping yang kedua. Dulu aku sudah pernah mencobanya tapi gagal soalnya mentalku belum siap alias nggak berani he3. Ketika sudah sampai di dekat temanku, bukannya langsung melompat eh malah kakiku langsung ngerem cakram.</p>
<p>Nah, berhubung sore itu ada junior-junior malu dong ya kalau sampai nggak bisa melakukannya. Maka aku pun berusaha mengsugesti diriku sendiri bahwa aku pasti bisa melompati temenku. Kebetulan aku berpasangan sama Nazhary, tinggi badannya sama dengan sekitar 160 cm.</p>
<p>Kalo nggak salah waktu itu Nazhary duluan  yang melompati aku tapi nggak bisa. Kayak aku dulu, rupanya dia belum siap atau nggak yakin bisa melompatiku. Pas giliranku, sengaja aku cari tempat ancang-ancang yang agak jauh supaya bisa mendapatkan tenaga tolakan yang besar sehingga bisa melompat setinggi mungkin.</p>
<p>Aku lihat Nazhary yang berdiri membelakangiku dengan pandangan penuh focus. Kuulang-ulangi sugesti di dalam diriku bahwa aku pasti bisa melompati badan Nazhary.  Bisa bisa bisaaa…!!</p>
<p>Aku mulai berlari kea rah Nazhary, semakin lama semakin cepat dan ketika sudah mendekatinya kutumpukan kedua tanganku di pundak Nazhary dan langsung kuangkat kedua kakiku saat itu juga. Ajaib! Tiba-tiba saja aku merasa kayak ada yang mendorong badanku ke atas, kayak memantul gitu. Rasanya bener-bener lepas banget ketika badanku melayang di atas kepala Nazhary. Berasa kayak harimau yang melompat hendak menerkam mangsanya, halaah lebay.</p>
<p>Yess!! Pekikku dalam hati begitu kedua kakiku menginjak tanha lagi. Iam really-really feel great dan masih nggak percaya kalau aku ternyata bisa melompat setinggi itu. </p>
<p>Pas aku mengulanginya untuk kedua kali aku bisa melakukannya lagi, Nazhary yang tadinya nggak bisa ikut termotivasi dan akhirnya bisa juga melakukannya. Namun sayangnya pas ketiga kalinya aku melakukan kesalahan saat landing, kaki kananku terpeleset oleh rerumputan yang basah oleh hujan.  Akibatnya kaki kananku tertarik ke belakang dengan jari manis yang tertekuk.  Rasanya sih nggak begitu sakit waktu itu makanya aku hanya menganggapnya sepele.</p>
<p>Kesleo di kaki kananku itu hanya aku obatin dengan mengoleskan salep penghilang rasa nyeri, terutama di ruas jari manis karena di bagian itulah yang paling nyeri. Kalau dipakai buat jalan atau tertekuk gitu rasanya sakit.  Aku baru tahu ternyata mata kakiku sampe menghitam gara-gara salah landing itu, tapi anehnya malah nggak sakit. Aku masih punya kok fotonya, ntar deh aku pasang sekalian he3.</p>
<p>Sebulan sudah berlalu, tapi sakit di ruas jari manis kakiku nggak kunjung sembuh.  Apalagi kalau sehabis latihan gitu sakitnya nambah dan kalau raba-raba telapak kakiku kayak agak bengkak di ruas jari manisnya.  Aku mulai mikir (lha sebelumnya nggak mikir dunk) cedera ini nggak bisa dibiarin neh. </p>
<p>Ketika aku ceritain cederaku ke Budi, temen kerjaku, dia bilang mungkin tulang jari manisku itu kurang bener letaknya gara-gara salah landing itu. Lalu dia memintaku untuk duduk dengan kaki terbujur lurus dan kemudian dengan sotoy-nya dia manarik jari manisku.  Pas ditarik sih rasanya biasa aja tapi efeknya setelah itu malah jadi makin parah.  Nggak cuma tambah nyeri pas dipakai jalan tapi juga panas. Wah, malpraktik neh ceritanya.</p>
<p>Pas di rumah aku coba merendam kakiku itu dengan air hangat (cenderung panas sih) untuk meredakan nyerinya, siapa tahu manjur. Bibiku yang tahu hal itu menyarankan aku untuk pijat urat, kebetulan beliau dulu pernah ngalamin cedera yang sama kayak aku. Tapi beliau juga bilang kalau pijat urat itu agak sakit, beliau aja pas dipijat dulu katanya sampai kesakitan banget. Mendengar hal itu aku jadi agak keder.  Juju aja, aku tuh termasuk orang yang kurang tahan sama rasa sakit.</p>
<p>“Gimana neh pijat apa enggak ya?”, batinku dalam hati. </p>
<p>“Kalau nggak dipijat ntar nggak sembuh-sembuh…”</p>
<p>Hmmm….</p>
<p>Nantikan lanjutannya di blog berikutnya, okey?</p>
<p>*sengaja dibikin bersambung karena dulu ada yang ngeluh blogku kepanjangan ceritanya, jadi nggak ada maksud untuk menyaingi sinetron stripping yang semakin menggila di teve-teve kita itu <img src='http://bloglodak.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/akibat-salah-landing-jadi-salah-urat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pindah Hati Ke Lensa Kontak</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/pindah-hati-ke-lensa-kontak/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/pindah-hati-ke-lensa-kontak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 06:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[lensa kontak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/2009/11/pindah-hati-ke-lensa-kontak/</guid>
		<description><![CDATA[
Sudah semingguan ini aku memakai lensa kontak untuk menggantikan kacamata yang sudah nggak nyaman dipakai, yang sebelah kanan sudah banyak tergores mikanya. Kebetulan aku pakai yang frame less tapi hanya bagian bawahnya saja.
Jujur ya, motivasi utamaku pindah hati ke lensa kontak adalah untuk memperbaiki penampilan, ha ha ha jujur banget gue jadi orang. Habis gimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://bloglodak.com/wp-content/uploads/2009/11/before_after2-300x200.jpg" alt="before_after" title="before_after" width="300" height="200" class="aligncenter size-medium wp-image-268" /></p>
<p>Sudah semingguan ini aku memakai lensa kontak untuk menggantikan kacamata yang sudah nggak nyaman dipakai, yang sebelah kanan sudah banyak tergores mikanya. Kebetulan aku pakai yang frame less tapi hanya bagian bawahnya saja.</p>
<p>Jujur ya, motivasi utamaku pindah hati ke lensa kontak adalah untuk memperbaiki penampilan, ha ha ha jujur banget gue jadi orang. Habis gimana ya? Kalau aku liat-liat pas lagi ngaca ataupun hasil foto-foto narsis, kayaknya lebih oke nggak pakai kacamata deh.<br />
Trus juga setelah aku bandingin foto jaman dulu sebelum pake kacamata sama sekarang, mataku jadi makin belok dan berkantung gitu. Duh, kok gue jadi terdengar seperti wanita umur 30an yang krisis pede yak? wkwkwkwk</p>
<p>Ada beberapa temen yang juga kasih masukan soal kebiasaanku yang suka mendongak kalau pas jalan atau ngomong sama orang, kesannya kayak orang bloon gitu. Kayaknya sih kebiasaan itu emang dimiliki hampir semua orang yang pake kacamata deh.</p>
<p>Berbekal tiga alasan itu, aku pun memantapkan diri untuk ganti pake lensa kontak. Perkara motivasi ini emang penting banget ya, soalnya memakai lensa kontak itu butuh kedisiplinan yang tinggi. Kita harus telaten menjaga kebersihan lensa kontak, baik sebelum maupun sesudah memakainya. Sebelum memegang lensa kontak, jari kita harus bener-bener steril dan kering. Apalagi pada awal awal pemakaian, biasanya agak kesulitan untuk memasang atau melepas lensa kontak dari mata kita. Ucapan Donna Harun bahwa kalau mau cakep itu harus mau ribet emang benar adanya!</p>
<p>Sebelum membeli lensa kontak tentunya mata kita harus diperiksa lagi, siapa tahu minus sudah berubah. Dan ternyata minus mataku emang nambah lagi, termasuk silindernya juga. Pantesan beberapa hari sebelumnya mataku tuh terasa pedih dan berair mulu gitu tapi anehnya nggak disertai kemerahan di mata.<br />
Aku emang punya kebiasaan buruk yang udah  kuduga menjadi penyebab utama pertambahan minus dan silinderku itu, yaitu ngenet pake hape sebelum tidur. Yang menjadi masalah adalah pake hapenya tanpa penerangan sama sekali, aku emang biasa tidur dengan lampu dimatikan sih. Kata Mas Penjaga Optiknya, radiasi yang dipancarkan dari layer hape tuh emang nggak bagus buat mata, apalagi kalau make hapenya di gelap-gelapan kayak aku.</p>
<p>Oh iya, asal kalian tahu lensa kontakku ini warnanya cokelat lho! Ha ha ha kalian pasti shock bacanya. Pikirku sih, sudah kepalang basah maka nyebur aja sekalian. Malahan si Mas Penjaga Optik nawarin pake yang warna biru, aje gileee lo! Gue masih tahu diri kaleee, masa kulit sawo matang gini nekat pake matanya bule.</p>
<p>Tanggapan orang-orang sekitar bout gantinya aku pake lensa kontak tentu aja beragam, ada yang pro dan kontra. Dari pihak yang mendukung bilang aku keliatan beda gitu deh, Glodak! Ada yang ngomentarin warnanya yang katanya bikin mataku kayak matanya ular, nggak apa-apa deh daripada mata buaya darat. Temenku di dunia maya, Echan, shock gitu pas tahu aku pake lensa kontak soalnya diantara temen2 cowok yang dia punya, hanya gue aja yang pake gituan. Apalagi ini warnanya cokelat, salut dia sama aku karena dia sendiri pake yang nggak berwarna.<br />
Yang agak-agak kontra sih pamanku, beliau bilang aku “Kakean Polah” atau kalau ditranslate ke bahasa Indonesia artinya tuh: Kebanyaken Tingkah alias aneh-aneh aja. Baru nyadar rupanya kalau keponakannya yang satu ini kadang emang suka aneh-aneh tingkah lakunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/pindah-hati-ke-lensa-kontak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dikeroyok Sakit Pinggang dan Gabagen</title>
		<link>http://bloglodak.com/2009/11/dikeroyok-sakit-pinggang-dan-gabagen/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2009/11/dikeroyok-sakit-pinggang-dan-gabagen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 09:37:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[gabagen_campak]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[sakit pinggang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloglodak.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu kondisi badanku sempat ngedrop, yang diawali dengan pinggang yang sedikit sakit. Keadaan ini cukup mengangguku mengingat pekerjaanku yang lebih banyak duduk dan sedikit sekali bergerak. Rasanya tuh panas dan agak nyeri gitu kalau dipake duduk dalam waktu yang agak lama, makanya aku sesekali berdiri atau mampir-mampir ke meja temenku untuk sekedar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu kondisi badanku sempat ngedrop, yang diawali dengan pinggang yang sedikit sakit. Keadaan ini cukup mengangguku mengingat pekerjaanku yang lebih banyak duduk dan sedikit sekali bergerak. Rasanya tuh panas dan agak nyeri gitu kalau dipake duduk dalam waktu yang agak lama, makanya aku sesekali berdiri atau mampir-mampir ke meja temenku untuk sekedar menghilangkan rasa panas dan nyeri tersebut.</p>
<p>Aku sih udah tahu penyebabnya karena dulu juga pernah mengalaminya, dua kali kalo nggak salah. Yupe bener sekali, kurangnya konsumsi air putih lah yang menjadi biang kerok sakit pinggangku itu. Supaya nggak berkepanjangan dan takutnya menghantam ke ginjal (moga-moga sih enggak ya) aku segera minum obat khusus sakit pinggang yang selama ini udah terbukti khasiatnya (marketing banget bahasanya). Selain itu tentunya juga menambah konsumsi air putih, nggak masalah deh walopun efek sampingnya adalah aku jadi sering ke belakang. Yang penting kan sembuh, tul nggak?</p>
<p>Belum sembuh bener sakit pinggangku, eh tahu-tahu badanku kena demam.  Mau nggak mau aku terpaksa ijin nggak masuk kerja…ha ha ha gaya banget ngomongnya, kayak pegawai teladan aja padahal di kantor memegang ranking nomer dua sebagai pegawai yang sering (bukan suka lho ya) datang mepet jam masuk kantor.</p>
<p>Meski sudah habis satu strip obat flu namun demamku tetep nggak mau minggat dari badanku, malahan muncul ruam (kemerahan di kulit) yang agak gatal, awalnya sih hanya di wajah trus lama-kelamaan menyebar ke seluruh tubuh.  Orang rumah langsung nge-judge kalau aku sakit Gabagen aka Campak, atau istilah medisnya tuh Morbili.  Tentu saja aku heran karena selama ini Gabagen tuh identik dengan penyakitnya anak kecil, lha kok aku bisa kena ya?</p>
<p>Akhirnya aku nyerah dan pergi ke dokter deket rumah, namanya Dokter Husnul.  Ternyata emang bener aku terkena Gabagen. Menurut Dokter Husnul, Gabagen bukan hanya diderita anak kecil, orang dewasa juga bisa kena penyakit itu. Campak menular melalui melalui droplet dan kontak, yakni karena menghirup percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita morbili/campak.<br />
Artinya, seseorang dapat tertular Campak bila menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan atau di mana saja.  Aku sempat nebak-nebak, kira-kira aku ketularan Campak di mana ya? Waktuku kan lebih banyak aku habisin di tempat kerja, pasti ketularan dari salah satu mahasiswa yang datang ke perpus.  Awas ya, tunggu pembalasanku he3</p>
<p>Selain minum obat dari dokter, atas saran Rini, aku juga minum degan (kelapa muda) hijau agar ruam di badanku keluar semua . Trus sama orang rumah aku juga dibelikan  jamu kunir madu. Aku  sih nurut aja, yang penting sakit Gabagennya lekas sembuh.</p>
<p>Nggak enak banget soalnya sakit Gabagen itu, badan rasanya gatal dan gerah tapi badan kita sama sekali nggak boleh kena air. Karena kalau terkena air maka ruam-ruam yang udah keluar itu bakalan ‘masuk’ lagi sehingga Gabagennya nggak sembuh-sembuh.  Jadi selama dua hari nggak masuk kerja itu, aku sama sekali nggak mandi. Huuuh, gerah abies deh rasanya. Tapi nggak sampe bau kambing lho soalnya kan untuk menghilangkan gatelnya itu aku menaburi badanku dengan bedak.</p>
<p>Ya udah gitu aja sih, sharingku tentang dropnya badanku kemarin.  Hikmah yang bisa diambil, rajin-rajin minum air putih biar nggak sampai kena sakit pinggang lagi. Trus juga jaga kondisi badan dan cukup istirahat biar kondisi badan tetap fit sehingga nggak gampang drop n ketularan virus.</p>
<p>info lengkap tentang Gabagen bisa dilihat di <a href="http://ampun-aux.blogspot.com/2009/04/campak.html">sini.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2009/11/dikeroyok-sakit-pinggang-dan-gabagen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>tea&#8230;? no thanks</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/12/tea-no-thanks/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/12/tea-no-thanks/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 10:42:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatku]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/12/11/tea-no-thanks/</guid>
		<description><![CDATA[Ceritanya hari minggu kemarin aku baru aja konsultasi gizi gitu loh. Whua ha ha ha, niat banget ya aku pengin naikin berat badan ampe dibela-belain konsul gizi ke dokter segala. Nggak-nggak, aku nggak seniat itu kok. Kebetulan pas acara Lustrum ke-9 Unibraw kemarin ada konsultasi gizi gratisan yang diadakan Mahasiswa Studi Ilmu Gizi di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ceritanya hari minggu kemarin aku baru aja konsultasi gizi gitu loh. Whua ha ha ha, niat banget ya aku pengin naikin berat badan ampe dibela-belain konsul gizi ke dokter segala. Nggak-nggak, aku nggak seniat itu kok. Kebetulan pas acara Lustrum ke-9 Unibraw kemarin ada konsultasi gizi gratisan yang diadakan Mahasiswa Studi Ilmu Gizi di depan perpus. Awalnya sih aku ogah ikutan cos malu dan takut nanti divonis malnutrisi atau cacingan ama mahasiswa2 itu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Tapi setelah liat si Putro konsul aku jadi tertarik untuk ikutan. Setelah mendaftarkan diri, tinggi dan berat badan diukur plus lingkar perut juga. Menurut pemeriksaan berat badan idealku tuh 54 kg, tapi berat badanku sekarang hanya 46 kg. Berarti masih harus nambah 8 kg lagi, haloo apa ada yang mau nyumbangin daging buatku?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Setelah pemeriksaan fisik tibalah pada sesi konsultasi, kebetulan yang nangani aku seorang cewek. Kita sebut aja dia Aisyah, karena dia pake jilbab he he.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: keluhannya apa, Mas?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ihwan: ehm….(agak malu2), saya kesulitan menambah berat badan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: (mandengin aku dengan tatapan penuh keprihatinan) kegiatannya apa aja selama ini?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ihwan: saya kerja di perpus, bla bla bla.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: kalau makan berapa entong?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ihwan: (aku sempat binun, pertanyaannya kok aneh2 gini) satu ampe dua entong.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Lalu Aisyah nanyain menu makananku apa aja, suka sayur dan buah2an apa enggak? Akupun menjawab dengan jujur dan apa adanya. Trus dia nanyain apa aja kegiatanku di rumah apa aja. Kujawab kalau kegiatanku di rumah tuh hanya ngetik tapi sering ampe tengah malam.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: ngetik apa, Mas?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ihwan: ngetik novel.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: sudah pernah diterbitkan?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ihwan: sudah, bulan kemarin terbitnya. (kesempatan nih buat promo, batinku)</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: Oh ya, judulnya apa? (si mbak merubah gaya duduknya, kayaknya dia mulai tertarik, Glodak)</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ihwan: Xerografer.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: tentang apa Mas ceritanya…?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Akhirnya konsultasi gizi itupun melenceng menjadi promo novel dadakan. Aku cerita panjang lebar tentang Xerografer dan gantian dia yang nanya2in aku. Sempat binun juga, tadi ceritanya aku mau konsul kok sekarang malah aku yang ngomong ampe berbusa. Untunglah Aisyah lekas ‘sadar’ dan kembali menjalankan tugasnya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: selama ini minum teh atau kopi, Mas? </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ihwan: teh.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: berapa kali sehari minumnya?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Ihwan: tiga kali, pagi dan sore minum di rumah. siangnya di tempat kerja.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-family:trebuchet ms;color:#cc6600;"><font size="3"><span>Aisyah: Ooh, itu dia yang bikin Mas kesulitan menaikkan berat badan. Di dalam teh itu mengandung tanin, zat yang mengurangi penyerapan gizi pada makanan. (aku hanya mbatin, berarti benar dugaanku selama ini). Mulai sekarang dibatasi minum tehnya, cukup sekali aja. Makannya juga harus lebih banyak, ditingkatkan jadi dua setengah entong. Trus diselingi dengan ngemil, entah itu snack atau gorengan. Lalu juga jangan terlalu banyak pikiran, mungkin Mas Ihwan terlalu serius ngetiknya.</span></font></p>
<p><font size="3"><span style="font-family:trebuchet ms;">kesimpulan dari konsul gizi gratisan tersebut adalah:</span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">1. Jauh2 deh ama yang namanya teh, apalagi TEH HIJAU</span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">2. Aku harus lebih RAKUS kalo makan&#8230;!!</span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">3. Kalo ngetik novel harus lebih nyantai&#8230;ehm&#8230;.masih dipertimbangkan&#8230;</span></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/12/tea-no-thanks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mau nambal gigi, malah dicabut</title>
		<link>http://bloglodak.com/2007/01/mau-nambal-gigi-malah-dicabut/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2007/01/mau-nambal-gigi-malah-dicabut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jan 2007 02:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[moment]]></category>
		<category><![CDATA[freaky]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2007/01/09/mau-nambal-gigi-malah-dicabut/</guid>
		<description><![CDATA[kemarin pagi 
sebelum sikat gigi, berkumur-kumur dulu
klotak&#8230;ada sesuatu yang terlepas di dalam mulutku
aku keluarin dan ternyata tambalan gigiku lepas
emang sih, udah goyang2 tambalannya
kadang suka aku mainin pake lidah
 
untung aja pas tambalannya lepas nggak sakit
nanti malem ke dokter aja 
 
kemarin malam
sampai di dokter habis magrib
untung antriannya nggak banyak
 
agak deg-degan nih
kebayang dulu pas pertama tambal gigi
kaget banget [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>kemarin pagi </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>sebelum sikat gigi, berkumur-kumur dulu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>klotak&#8230;ada sesuatu yang terlepas di dalam mulutku</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>aku keluarin dan ternyata tambalan gigiku lepas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>emang sih, udah goyang2 tambalannya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>kadang suka aku mainin pake lidah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>untung aja pas tambalannya lepas nggak sakit</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>nanti malem ke dokter aja </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>kemarin malam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>sampai di dokter habis magrib</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>untung antriannya nggak banyak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>agak deg-degan nih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>kebayang dulu pas pertama tambal gigi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>kaget banget waktu gigi diboor</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>rasanya kayak ada gempa lokal di mulut</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>akhirnya giliranku tiba</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>dengan tersenyum dokter bertanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>tambalan saya lepas Dok, jawabku</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>dokter menyuruhku berbaring</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>buka mulutnya Mas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>kubuka mulutku lebar-lebar (untung udah sikat gigi)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>wah&#8230;gigi yang dalem udah rusak tuh</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>mentalku langsung jatuh ke lantai dengernya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>yang lobang itu dicabut dulu ya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>baru nanti nambal yang satunya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>lho Dok, nambal dulu aja</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>nanti yang itu dicabut belakangan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>akhirnya negosiasi dimenangin dokter</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>kata dokter sumber virus harus dihilangkan dulu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>aku hanya bisa pasrah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>set-mental langsung dirubah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>dari persiapan tambal ke cabut gigi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>belum selesai set ulang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>dokter udah nyuntik gusiku</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>keluar dengan pipi mati rasa n bibir berasa jontor</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>nunggu dengan deg-degan selama 15 menit</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>akhirnya tiba giliranku</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>kubuka mulut lebar-lebar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>dokter mulai beraksi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>duh dok, pelan-pelan dunk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>ini cabut gigi bukan cabut singkong</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>untung aja selamet</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>pulang dengan perasaan ’kehilangan’</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>pagi ini</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>gusi masih agak ngilu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>terhibur dengan  ngeblog</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2007/01/mau-nambal-gigi-malah-dicabut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rokok</title>
		<link>http://bloglodak.com/2006/11/rokok/</link>
		<comments>http://bloglodak.com/2006/11/rokok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Nov 2006 13:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[karyaku]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihwan.wordpress.com/2006/11/01/rokok/</guid>
		<description><![CDATA[Aku heran sama perokok-perokok itu. Apa sih yang mereka dapatkan dari duo cengkeh dan tembakau itu. Setahuku hanya kepulan asap pembawa penyakit saja yang mereka peroleh. Tapi herannya para perokok itu begitu menikmatinya. Seperti di kampungku, mulai dari yang masih bau kencur sampai yang sudah bau tanah pada kecanduan sama yang namanya rokok. Dan mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="3"><span style="color:#ffcc00;">Aku heran sama perokok-perokok itu. Apa sih yang mereka dapatkan dari duo cengkeh dan tembakau itu. Setahuku hanya kepulan asap pembawa penyakit saja yang mereka peroleh. Tapi herannya para perokok itu begitu menikmatinya. Seperti di kampungku, mulai dari yang masih bau kencur sampai yang sudah bau tanah pada kecanduan sama yang namanya rokok. Dan mereka juga tidak punya rasa sungkan sedikitpun untuk merokok di tempat umum. Mereka sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya. </span><img src="http://www.cheesebuerger.de/images/smilie/figuren/c075.gif" style="color:#ffcc00;" /><br /></font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Terkadang aku merasa dunia ini tidak adil. Mereka yang enak-enakan merokok hanya kebagian 25 persen dari segala resiko penyakit yang timbul karena benda sialan itu. Sedangkan kami para perokok pasif, yang tidak tahu apa-apa malah dapat “jatah” lebih banyak dari mereka. Sudah terganggu oleh asapnya, ikut kena penyakitnya pula. Mungkin ini yang membuat jumlah perokok aktif semakin bertambah saja dari hari ke hari.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Mungkin kamu heran, kenapa aku begitu sentimen sama rokok. Coba bayangkan, di kampung, di angkot, di jalan, di semua tempat yang aku datangi tak ada yang namanya bebas dari asap rokok. Paling parah di tempatku bekerja, hampir semua pegawai (yang laki-laki tentunya) di sana merokok. Tak terkecuali Mas Anton, atasan kami.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Padahal salah satu alasanku dulu senang kerja di warnet adalah bisa terbebas dari asap rokok, di samping bisa mengakses internet gratis tiap hari. Entah mendapat “wangsit” darimana, kira-kira mulai sebulan yang lalu Mas Anton membuat aturan baru dengan memberi kebebasan kepada para pengguna yang ingin browsing sambil merokok. Awalnya sih cuma di lantai tiga, tapi sejak tiga hari yang lalu suda merembet ke lantai dua.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Ded, besok kamu masuk pagi atau malam?” tanyaku pada Dedi ketika hendak bersiap pulang. Kami memang biasanya suka tukar-menukar shift.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Malam,” jawabnya pendek tanpa menoleh padaku. Dia sedang asyik chatting.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Tukar sama punyaku ya, besok aku masuk pagi.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Sorry, aku nggak bisa. Besok aku mau nganterin pacarku ke rumah pamannya.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Tolong dong, aku malas kalau harus jaga di lantai dua.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Kenapa? Di sana kan nggak boleh merokok.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Siapa bilang? Mulai senin kemarin sudah bebas merokok. Udah ruangannya sempit, penuh asap rokok lagi. Mana harus ngambilin asbak yang penuh abu. Huh…jorok banget.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Yo wis, dijalani saja. Lagian kamu itu jadi cowok kok sok anti rokok gitu sih?” tanya Dedi sambil tersenyum mengejek.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Ya iyalah, rokok kan nggak baik buat kesehatan,” jawabku basi.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Semua juga tahu, Man.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Kalau sudah tahu kenapa kamu nggak berhenti merokok?” aku ganti bertanya.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Kamu bisa bertanya seperti itu karena kamu nggak merokok. Coba deh sekali-kali merokok, kamu pasti tahu jawabannya.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Alaah…nggak usah merokok, aku juga sudah tahu jawabannya. Karena kalian itu bodoh, mau-maunya disuruh “membakar” uang. Sudah uangnya jadi abu, eh malah dapat penyakit.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Eeh…hati-hati ya kalau ngomong. Sebagai perokok sejati aku merasa tersinggung nih dengarnya!” tukas Dedi sambil pura-pura mengancamku. “Merokok tuh banyak manfaatnya tahu. Salah satunya bisa menenangkan pikiran, apalagi kalau lagi stress atau ada masalah. Kalau udah merokok tuh, rasanya rileks. Trus juga, kalau lagi musim hujan gini bisa menghangatkan badan. Yang paling simpel tuh, kalau habis makan rasanya nggak afdol kalau nggak merokok. Ibaratnya kayak orang habis buang air besar tapi nggak <em>cawik</em>.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Ngawur, kalau itu namanya jorok tahu!” kataku seraya meninju lengannya.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Ada apa ini kok pakai tinju-tinjuan segala?” tiba-tiba saja Mas Anton muncul di depan kami. Tumben, jam segini belum pulang.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Tidak ada apa-apa kok Mas, cuma bercanda,” jawabku sambil mengelus-elus lengan Dedi.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Ya sudah, aku kira kalian rebutan cewek.”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Kok belum pulang Mas?” tanya Dedi sambil menyingkirkan tanganku dari lengannya.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Iya, aku tadi masih posting. Ya udah, aku pulang dulu,”<span> </span>pamitnya kemudian.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Silahkan Mas,” balas kami berdua bersamaan.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Bosku itu memang bloggermania, tiap hari ada aja yang diposting. Waktu aku lihat-lihat ternyata banyak juga lho yang ngunjungi dan ngasih coment.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Baru beberapa langkah dari pintu keluar, tiba-tiba saja Mas Anton terhuyung-huyung sambil memegangi dadanya. Untung, aku dan Dedi dengan sigap menyusul keluar. Kalau tidak, mungkin dia sudah jatuh duluan.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Kami berdua lalu segera membawanya ke rumah sakit. Ternyata Mas Anton terkena serangan jantung. Mbak Lia, isterinya yang datang belakangan nampak sangat terkejut dan menangis tersedu-sedu di sampingnya. Tapi bukan itu pointnya, point terpenting adalah serangan jantung itu disebabkan oleh tingginya kadar nikotin di dalam tubuh Mas Anton.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Gimana, masih mau bilang kalo merokok itu banyak manfaatnya?” tanyaku pada Dedi saat pulang dari rumah sakit.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Dedi tak menjawab, dia hanya tersenyum kecut padaku.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Tak lama, ada angkot yang lewat dan kami menyetopnya. Saat kami naik, ternyata mikrolet itu dipenuhi oleh ibu-ibu paroh baya dengan seragam kuning menyala. Ada juga yang masih muda, mungkin seumuran denganku. Dari kaos yang mereka kenakan plus bau tembakau yang menyengat di dalam mikrolet, pasti mereka ini buruh pabrik rokok.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Aku dan Dedi terpaksa duduk di pinggir pintu, merangkap jadi kernet.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Minggu-minggu ini kok sepi ya?” ucap salah satu dari mereka.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Iya, masa minggu kemarin aku hanya dapat dua puluh lima ribu,” sahut yang lainnya menanggapi.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Sama kayak aku. Kalau begini terus, bisa-bisa hari raya nanti THR-nya menurun,” tambah ibu yang di sampingku tak mau kalah. Aku dan Dedi hanya tersenyum-senyum mendengarnya. </font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Rokok juga bawa rejeki lho Man,” ujar Dedi yang sepertinya dapat kartu As untuk mengalahkan argumenku yang tadi.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Iya-iya tahu,” balasku tak mau kalah. “Udah nyampai tuh, kamu nggak turun?” tambahku saat angkot yang kami naiki hampir sampai di warnet.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Kiri, Pak!” seru Dedi kemudian. “Kamu nggak ikut balik?”</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffcc00;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">“Ngapain, mending tidur di rumah,” jawabku cuek.</font></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#cc9933;line-height:200%;font-family:arial,helvetica;text-align:justify;"><font size="3">Setelah angkot berhenti, Dedipun kemudian turun. Meninggalkan aku bersama ibu-ibu yang menggantungkan hidupnya pada sebatang rokok. </font><img src="http://www.cheesebuerger.de/images/smilie/figuren/c045.gif" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloglodak.com/2006/11/rokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
